3. Persahabatan

936 Words
•• Gara-gara Jovanka! Cih! Ngapain dia main kasih nomor ponselku sama orang asing? Jadinya si Vino itu sok-sokan perhatian gitu. Nge-tweet, nge-stalk ig-ku bahkan pagi ini, dia nelpon aku! "Gie, kenapa sih diperpanjang? Gue kan udah minta maaf..." cicitnya. Dua tangannya bertautan. "Lo kayak baru temenan sama gue aja. Dia orang asing, Jo! Kalo dia jahat, gimana? Teroris? Anggota ISIS? Pemberontak dari sayap kiri? Psikopat? g***o? Pembunuh bayaran? Huh?" cecarku lebay. Jovanka geleng-geleng kepala kayak yang baru minum ekstasi. "Hhh, lo mah nggak pernah denger dulu cerita kita sih. Vino itu seorang dokter muda, dia kesini lagi ikut seminar. Paham lo?" bantah Jovanka. "Dokter? Palingan yang suka jual organ-organ tubuh gitu kan? Kita kan nggak tau beneran apa nggak dia dokter." sanggahku tak mau kalah. "Yaelah nih anak dibilangin juga. Dia liatin ID-nya kok. Dia dokter di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta!" timpal Yuki. Aku mencibir. Terserah! Bodo! "Tapi inget, lo pada jangan pernah bahkan sekali pun  ngelintas dibenak kalian, buat comblangin gue sama dia! Ngarti lo?!" tandasku. "Iyaaa....nggak bakalan. Gue takut dipancung!" seloroh Yuki. "Kalo gue takut jatah s**u Felly lo cut. Ogah gue!" timpal Jovanka. "Eh iya, bukannya lo telpon Mama, tanyain kabar Felly, sono!" ingatku. "Udin semalem. Baek-baek aja tuh anak. Mama minta oleh-oleh krim anti aging gitu. Beliin ya Gie?" Jovanka kalo lagi ada maunya nyender gelendotan gitu di lenganku. "Yeuu, ada maunya aja." cebikku. Jovanka cuma terkikik. "Bapaknya nggak pernah nongol lagi kan? Awas aja kalo kamu masih ngeladenin dia!" "Nggak tuh. Takut dia sama lo..."  sahut Jovanka. Bibirnya mengerucut. "Kamu tau kan alasannya apa, aku sampe harus tegas kayak gini?" tatapku. "Iya, gue tau Gie." "Good mom," ucapku sambil menepuk bahunya. Lalu pergi ke balkon. Aku nangis disana. Aku nggak mau Jovanka tau aku nangis gini. Jovanka, temanku masa SMA. Teman sebangku, teman sepenanggungan, sependeritaan. Dia gadis blasteran, karena bapaknya seorang Rusia. Tapi sayang, bapaknya nggak mau ngakuin dia anaknya. Karena dulu, mama Jo hamil diluar nikah. Pria Rusia itu angkat kaki dari Indonesia dan nggak pernah kembali. Hidup Jovanka sudah cukup miris. Ditambah kehidupan cintanya yang tak beruntung. Nasib mempermainkannya lagi. Dia jatuh cinta pada Gusti, cowo berdarah Bali. Tapi apa yang terjadi pada mamanya, terjadi pula pada dirinya. Gusti ninggalin dia begitu tau Jovanka hamil. Mana saat itu kami sedang ujian pula. Aku marah dan melabrak Gusti di kostannya. "Setan alas! Setan belau! Babi buta lo!" aku menerjangnya, menaiki tubuhnya sambil menodongkan sebilah pisau diceruk lehernya. "Lo mau lari, heh? Nggak tanggung jawab! Pengen enaknya aja!" seruku. Gusti terbeliak,"G-Gie...sa-ssabar... Gu-gue mau tanggung jawab kok. Tapi kita lagi ujian kan? Pisaunya, Gie....please, gue nggak mau mati sekarang." Aku masih melekatkan pisau itu diceruk lehernya. "Janji lo nggak bakal lari lagi! Kalo lo lari, gue cari walau ke ujung neraka juga!!" Sreett! Aku menyayat pipi mulus cowo itu. Dia meringis. Darah segar merembes dari pipinya itu. Biar tahu rasa! "Ini buat panjer lo bikin temen gue susah. Ngarti lo?! Lo macem-macem, ABIS!!" Aku turun dari tubuhnya. "Gie! Gue cintanya sama lo!" seru Gusti sesaat aku turun. "b*****t!!" BUGH!! Kutendang cowo nggak tau diri itu hingga terjungkal. "Pengkhianat modelan lo bukan level gue!" kataku sebelum pergi. "Gue bukan cewek murahan yang langsung iyain saat lo bilang cinta. Gue sesali pertemuan lo sama Jo. Kalo bukan demi bayi itu, gue lebih milih Jo ninggalin lo." imbuhku. Akhirnya....Gusti mau menikahi Jovanka. Tapi disini aku merasa bersalah. Tak seharusnya aku meminta Gusti bertanggung-jawab. Toh dia ternyata tambah gila! Kehidupan rumah tangga yang di dalamnya cuma dua remaja yang masih labil dalam segalanya. Gusti pulang cuma mabuk-mabukan, judi, main trek-trekan. Hal ini hampir membuat Jovanka depresi. Apalagi setelah kelahiran Felly. Jovanka yang menggantikan posisi kepala rumah tangga, dia yang cari nafkah. Sialnya! Hal itu dimanfaatin Gusti. Dengan dalih cinta dan tipu daya Gusti, Jovanka 'disihir' manut apa pun permintaan suami dableknya itu. Sampai Jovanka bekerja sebagai PSK demi kebutuhan hidup. Gila!! "Gue cinta mati sama Gusti, Gie!" rengeknya waktu itu. Aku menyarankan dia kerja dipabrik Papi. "Gie, Gusti janji kok...dia nggak bakal ninggalin gue." "a*u! Bucin lo! Omongan dia taik semua, tau nggak?!" "Hasil nge-s*x lo sama para bangke tua itu, dia pake buat nyawer jalang-jalang penyakitan! Tau nggak sih lo?! Gue nggak mau lo diginiin, Jo! Sadar dong! Wake-up girl! Gue masih bisa ngasih makan lo berdua, bertiga malah sama Mama. Please, get out from this shitt-hell!!" Jovanka belum percaya sama kebenaran yang aku katakan padanya. Dia butuh bukti katanya. Susah ngomong sama yang bucin modelan Jovanka. Well, akhirnya kubawa dia ke rumah b******n itu. Dan.... Terpampanglah kebenaran itu! Dimana Gusti tengah dipuja dua jalang diranjangnya. Bener-bener... "GUS!!" "Jo?!" dia langsung turun. Apalagi begitu melihatku ada disana juga. Segera ia membenahi baju-baju yang berserakan. "A...a-aku...i-ini, mmm-mereka teman-temanku, euh...klienku." cicitnya terbata. Aku mengerling tak suka. Jovanka menatap tajam, buku-buku tangannya memutih. Menahan gejolak lava amarah yang siap meluap kapan saja. Aku menghampiri Gusti dan langsung menamparnya bertubi. Bercak darah disudut bibirnya. "b******k! Sampai kapan pun lo nggak akan pernah berubah! Cih!" tanganku sudah menerjang lehernya. Kucekik dengan sekuat tenaga. "Gie! Jangan kotori tanganmu dengan melakukan hal yang terlalu mudah untuknya!" Jovanka mendekat. "Dia hyena penyakitan, Jo! Nggak pantes hidup!" "AAAKKKHHHHH!!" KREKK! "AAAAHHHHHH! GIE! AMPUUUNNN!!" Kupatahkan kakinya. Jovanka juga tampak kaget. "Semoga lo selalu inget dosa-dosa lo tiap lo melangkah. Gue bisa aja bunuh lo, tapi gue inget anak lo, Felly, sebejat apapun lo, Felly berhak tau bapaknya! Gue bakal bunuh lo kalo lo coba macem-macem sama Felly atau Jo. Berhenti jadi sampah parasit di hidup Jo. Camkan itu!!" Jovanka cuma diam menatap nanar Gusti. Sudah hilang rasa dia. Jadi...sampai kapanpun Jovanka akan selalu terkait dan ada dibawah lindunganku. Dia akan melakukan apa aja untuk membalas apa yang pernah aku lakukan untuknya. Padahal aku tak pernah meminta apapun sebagai balasan. Pure, karena persahabatan..... ### Hi, readers! Eotte? Nge-feel nggak? Preman cewe emang si Gie ya, guys? Btw, kutunggu vote & comment-nya dongs! So, Gomaweo & Saranghae... tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD