Hari H

1612 Words
Hari H Sejak jam 4 subuh aku sudah terbangun, tidur sendirian dikamar pengantin membuatku merasa tak kaaruan. Malam ini tidurku sedikit sekali, hanya beberapa jam saja, mungkin karena jantung yang terus berdegup kencang menuju proses ijab qabul hari ini. Aku segera mandi dan bersiap, mengeringkan rambut dan sholat Subuh. Tak lama setelah sholat subuh mbak Wina datang, piñata rias kepercayaan WO tante Evi, dia datang tidak sendirian, membawa sekaligus 3 orang asistennya. Ia mulai membersihkan wajahku, dan memoles-moleskan bedak ke wajahku. Setelah riasan hampir selesai ia memintaku berganti pakaian pernikahan. Kebaya putih yang dengan permata-permata hidup sungguh membuat siapapun yang mengenakan baju itu seperti seorang ratu. “Korsetnya berapa?” tanya sang asisten “Satu aja, pengantin hari ini langsing” jawab mbak Wina Sang asisten membantuku berpakaian menarik-narik rok dan kebaya. “Jilbabnya diulur ya” pesanku kepada mbak Wina “Siap say” Mama masuk ke kamar “Masyaa Allah cantiknya anak mama” sambil menciumku “Udah mbak? Itu penghulu dan mempelai pria sudah sampai” “Iya sedikit lagi” sambil merapikan mahkkota diatas kepalaku “Nah cantik” katanya Aku berdiri, berjalan pelan turun kelantai bawah diantar oleh mama dan tante disisi kiri dan kanan lalu banyak sekali orang dibelakangku mengekor. Aku tertunduk malu, kalau ditanya bagaimana perasaanku saat itu mungkin akan kujawab tak akan bisa diungkapkan dengan kata-kata. Karena itulah yang sebenarnya, bahagia, deg-degan, malu takut dan masih banyak lagi. Proses ijab qabul dimulai suara berat papa dengan logat minang kental mulai keluar “Aku nikahkan engkau dengan putiku Aisyah khumaira Rahman dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan seperangkat perhiasan emas tunai” Dijawab dengan lembut, jelas dan dengan sekali nafas oleh abang “Aku terima nikah dan kawinnya Aisyah Khumairah Rahman dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan seperangkat perhiasan emas dibayar tunai” “Bagaimana saksi? Sah? Tanya penghulu yang juga teman baik papa itu “Sah, sah” jawab keduanya “Alhamdulillah” Prosesi selanjutny berubah haru kami yang berjalan dan berdiri setelah proses penandatanganan dokumen dari KUA dan mendapat buku nikah, menyalami semua orang diruangan tersebut. Tampak deraian air mata dari mama dan papa juga umi dan abi. Setelah proses itu makanan dihidangkan. Aku dan suamiku naik ke kamar untuk berfoto bersama. Awalnya masih canggung untuk berpegangan tangan ataupun berpelukan, tetapi sang fotographer dan juru rekam seperti bekerja sama sangat gigih menghilangkan rasa kikuk kami, mungkin mereka sudah biasa mendapati pasangan seperti kami berdua. Setelah proses selesai waktunya kami mengganti pakaian untuk duduk dipelaminan. “Abangnya kalau mau ganti celana, tutup aja dulu pintunya kalau nanti sudah selesai untuk bajunya biar kami bantu pakaikan” pinta bang wina kepada suamiku Abang mengangguk, mempersilahkan semua orang untuk keluar dari kamar. Ia menutup pintu kayu bercat putih itu lalu menguncinya. Tersisalah hanya kami berdua dikamar pengantin indah itu. Aku dan suamiku. Ia berjalan pelan mendekatiku, aku tersipu tertunduk malu. Tubuh kami dekat, dekat sekali. Ia mengangkat daguku yang tertunduk, aku kikuk tak tahu harus berbuat apa-apa. Buru-buru kuambil tangan kanan itu lalu menciumnya. Tangannya memberontak pelan, tak kutahan sedikitpun. Tangan kirinya memegang lengan kananku pelan sambil mendekat selangkah lagi. Tangan kanannya lagi-lagi menaikkan daguku, mata kami bertemu “Abang udah janji kan kado hari ini abang yang memberikan langsung?” dengan penuh keyakinan abang bertanya. Aku menjawab dengan anggukan pelan. “Bismillah” ucap abang pelan, lalu wajah abang mendekati wajahku dekat sekali sampai bibir kami bertemu. Ia mengecup bibirku pelan. Kami berdua tersenyum, kecupan suamiku seolah meruntuhkan tembok pemisah antara kami berdua. Tembok keraguan karena malu. Abang buru-buru mengganti celananya, benar saja baru saja resleting celana abang dinaikkan mbak Wina sudah mengetuk pintu “Mas, mas, sudah belum? “Iya sudah” abang membuka pintu 2 orang asisten mbak Wina membantu abang berpakaian sedangkan mbak Wina dan seorang asistennya sibuk membuka jilbabku dan memperbaiki riasanku yang sudah terkena air mata. Aku mengganti baju, menggunakan gaun pernikahan dipadukan dengan sunting adat minang permintaan khusus dari papa. Ibu mertuakupun tampak cantik sekali dengan kostum seirama dengan mama. Menggunakan jilbab panjang yang dililit seperut dengan cadar talinya, tampak peñata rias berhasil merias mata ibu mertuaku menjadikan ia tampak lebih muda. Kami turun dri kamar, naik ke pelaminan bertema modern klasik itu dan menyapa serta bersalaman dengan tamu undangan. Suasana menjadi semakin indah dengan iringan alunan suara indah dari tim nasyid Syakilla. *** Adzan Isya sudah berkumandandang, sholat isya telah dilaksanakan. “Tak lama lagi abang pulang dari masjid” aku bergumam. Malam ini malam pengantin kami, abang pulang dengan membawa pulang tas ransel berisi pakaian ganti yang baru ia jemput dari kamarnya. “Dek, ini mau taruh dimana?” tanya abang menunjuk kea rah tas ransel miliknya “Sini biar Isyah” jawabku sambil merapikan kado yang masih berserakan “Tidak usah, biar abang aja. Taruh dilemari kosong ini boleh?” menunjuk ke 1 bagian lemari yang memang sudah aku kosongkan untuk pakaian abang “Iya” jawabku Abang kemudian mengeluarkan pakaian dari ranselnya, dia mulai menyusun kedalam lemari itu. “Dek ini apa? Kenapa tidak jadi?” dia bertanya kepadaku seraya menuliskan amplop berwarna pink bertuliskan untuk suamiku tersayang kemudian ditambah dibawahnya dengan huruf kapital MAAF BANG SURATNYA NGGAK JADI UNTUK ABANG. Aku terdiam, bingung dan tersenyum. Kusamperi suamiku nan tampan “Oh, ini surat yang adek tulis saat abang baru mengkhitbah adek, kemudian diurungkan setelah abang minta bertemu tepat 3 hari setelah prosesi lamaran. Kalau mau boleh kok abang baca, udah ketahuan juga” aku tertawa pelan Ia membaca surat itu dengan seksama, mengangguk-angguk kemudian tersenyum diakhirnya. “Gimana?” tanyaku “Gimana apanya?” jawab abang “Harus?” abang mengernyitakan dahi, aku mengangguk “Pertanyaan pertama, hmm sejak malam itu, sejak pertama kali kita bertemu yang jalannya sudah Allah rancang, jujur abang sudah merasa banhwa abang jatuh cinta. Abang jatuh cinta dan berniat untuk segera meminangmu dek, namun Allah berkehendak lain, abang harus menunggu sampai kamu pulang dari acara jalan-jalanmu ke Bandung bersama keluarga. Untuk pertanyaan kedua jawabannya adalah abang tak akan bertanya, sebab apa? Sebab setiap manusia memiliki masa lalu masing-masing. Ketika Allah sudah mentakdirkan kita berdua berjodoh lalu apalagi yang harus kita pertanyakan? Bukankah pilihan Allah adalah yang terbaik? Bukankah sudah Allah tegaskan bahwa jodoh orang baik itu pasti orang baik? Untuk permintaan ketiga biar ini yang menjelaskan.” Suamiku mengakhiri pembicaraan sambil menyerahkan sebuah amplop berwarna pink persis seperti amplop miliku. “Apa ini bang?” tanyaku setengah terbata “Buka aja” “Qadarullah amplopnya sama ya” “Iya, abang beli di toko bawah” aku dan abang tertawa pelan. Aku membuka amplop tersebut, tenyata isinya adalah sepucuk surat cinta dan beberapa lembar brosur perjalanan untuk berbulan madu. Aku membaca surat itu dengan seksama, Untuk Istriku tercinta Malam ini mataku tak bisa terpejam, tanganku dingin dan basah dan dadaku bergemuruh tegang. Kuintip jendela kamarmu, ternyata sudah gelap. Sepertinya kau sudah tidur nyenyak. Aku ingin kau membaca surat ini sebagai istriku yang sah, tepatnya besok pagi sekitar jam delapan. Sebelumnya abang haturkan Alhamdulillahirobbil ‘alamin, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam yang telah mentakdirkan kita berdua berjodoh. Tak terbendung lagi bagaimana perasaan abang saat melihat kau mengangguk tanda menerima khitbah dari abang. Abang jatuh hati padamu dek, jatuh cinta pada pandangan pertama. Setelah itu ingin abang segera mempersuntingmu dik, sungguh. Abang memang tak pandai menulis surat cinta dik, hehe maafkan abang ya sayang. Oh, iya abang dengar dari bang Hendri, kau suka menulis puisi ya? Baiklah mungkin puisi cinta dari abang akan lebih baik daripada surat ini ya. Bismillah Aisyah Pertama kali melihatmu ada perasaan berbeda Awalnya aku tak tahu itu perasaan apa Sampai kemudian aku membaca buku Kemesraan Nabi bersama Istri Oh, ternyata aku sedang jatuh cinta Padamu, dek Aisyah Aku tertawa pelan. “Kenapa dek? Terlalu bagus ya?” tanya suamiku. Aku menggeleng pelan. Ia memaksaku menjawab “Hayo kenapa? Kenapa tertawa tadi?” aku menggeleng sambil tertawa menutup mulutku. “Abang gelitik kalau nggak mau jujur ya?” lalu tangan abang mulai menggelitik pinggangku sampai aku terpingkal. Kami bergelut saling gelitik dan tertawa bersama. Malam ini malam pengantinku, kami saling bermain dan bercanda, menatap romantis penuh cinta dan kasih sayang. Malam ini adalah awal, malam permulaan pengabdian diriku sebagai istri sah suamiku. Kami melaksanakan kewajiban dengan khusyuk dan mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wataala. *** Lima minggu setelah pernikahan, tepatnya setelah pulang dari jalan-jalan ke Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Malaysia dan Singapura. “Baang” teriakku memanggil suamiku dari dapur “Sebentar” jawab suamiku yang sedang repot mengangkat papan reklame “Aya naon atuh neng geulis” jawab abang sambil mencubit daguku dan menirukan gaya bahasa tukang batagor yang sadang berbicara dengan istrinya di Bandung kala itu. “Maaf ya bang! Ikan yang abang suruh goreng tadi gosong semua, cabenya juga gosong. Adek tadi masak sambil nyuci jadi kelupaan” kataku sedih Abang melongok keatas kompor, melihat ikan n***o dan sambal kering yang tergeletak “Ya udah, nanti kita makan nasi bungkus aja, mungkin karena masih capek pulang jalan-jalan jadilah gosong semua” “Baang” panggilku mesra. Lagi! “Opo dek” mengeluarkan bahasa jawa medok seperti orang Jogjakarta “Jangan marah ya” kataku sedikit merayu “Kenapa?” abang penasaran “Gamis putih abang kelunturan, sekarang warnanya jadi putih pink” aku mengadu menunduk “Heeemmm” abang menghela nafas panjang “Abang marah ya? Tanyaku pelan “Enggak. Abang gak marah. Ya udah kamu tidur aja dulu ya. Istirahat. Mungkin kecapekan jadi gak fokus. Abang kerja lagi ya.” abang berjalan pelan meninggalkanku “Abaaaaang” panggiku manja sekali lagi. Abang menoleh “Ape lagiiiiiiii?” jawabnya dengan nada opah di serial anak-anak Upin dan Ipin yang berasal dari Malaysia. Aku tersenyum. Lalu kujawab “Adek telat.” TAMAT
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD