Gang Berdarah

3857 Words
Malam ini malam sabtu, suasana kampung lebih riuh dari biasanya. Mungkin, karena ada pesta di dekat alun-alun desa yang hanya berjarak sekitar seratus meteran saja dari rumah. Riuh dan bising itu diramaikan pula dengan gerimis sejak senja. Yang menikah anaknya salah satu perangkat desa kalau tidak salah, gadis belia berusia 18 tahun yang baru tamat SMA dan menikahi seorang duda pewaris kebun sawit yang lumayan banyak jumlah hektarnya. Banyak muda-mudi lalu lalang dari dan menuju kesana, entah sekedar menonton atau ada tujuan lain. Kalau dulu aku diajak kesana, mungkin aku mau saja. Tapi, sekarang sudah berbeda, mendengar dentuman musik itu saja sudah membuat hatiku marah serasa ingin datang kesana lalu mencabut aliran listrik ke kabel speakernya. Lagian teman sebayaku juga sudah tidak ada lagi, hanya Nina satu-satunya temanku yang seumuran, sedang ia sekarang sudah berada dikota untuk urusan pekerjaanya. Malam ini mama menyuruhku mengantarkan rendang buatanya kerumah nina, “sudah janji” katanya karena itu adalah rendang resep asli keluarga Nina yang baru ibunya ajarkan ke mama. Awalnya aku sempat menolak tapi mama terus memaksa sehingga dengan sangat terpaksa aku berangkat. Sesampai diluar tak kulihat satupun motor yang tertinggal, 1 motor dibawa papa ke alun-alun mungkin untuk bercengkrama bersama bapak-bapak desa, 1 motor dibawa adikku entah kemana. Sedangkan 1 lagi motor bang Hendri dibawa oleh karyawan toko papa yang kata mama sedang pergi ke toko satu lagi ntuk mengambil kertas struk yang sudah habis. Dengan sangat terpaksa aku pergi berjalan kaki, jaraknya lumayan jauh. Luas rumahku adalah 20x60 meter. Bayangkan saja aku harus berjalan masuk kedalam gang sekitar 50 meter, itu baru rumahku saja, belum lagi dua buah bangunan sebelum rumah nina yang sekarang digunakan sebagai gudang sebagian pedagang-pedangang di pasar Senin dan Kamis. Panjangnya juga lumayan sekitar 30 meter satu rumah. Lengkap dengan penerangan yang sama sekali tidak ada. Lalu di depan gudang itu hanya tanah kosong yang belum digarap sementara disebelah rumah Nina sampai sejauh mata memandang itu adalah kebun kelapa milik kedua orang tua Nina yang biasanya dipanen beberapa kali setiap bulannya. Pelan-pelan aku berjalan membawa kotak berisi rendang tersebut ke rumah orang tua Nina menggunakan senter dari hp androidku. Sampai disana ibu Nina menyambut hangat, lalu ia menawarkan untuk mengantarkanku pulang tetapi karena aku ketahui bahwa ia juga sedang sendirian dirumahnya dan kondisi sedang hujan aku menolak permintaanya. Lalu dengan berani aku balik sendirian menuju rumahku. Jalanan gang sangat sepi meski suara dangdut dengan jelas terdengar ditelingaku. Wajahku menengadah ke atas tampak lampu yang terang dari sebuah kamar diseberang kamarku menyala dengan seseorang yang terlihat mondar-mandir disana. Tak jelas juga itu siapa, apakah ia laki-laki atau perempuan. Yang kutau itu adalah ruko ‘Pak Haji abu Ahmad’ begitu orang biasa menyebutnya. Orang yang belakangan aku ketahui satu tempat taklim denganku. Ia pemilik bengkel sekaligus penyedia onderdil motor dan mobil satu-satunya di desa kami. Perjalananku biasa saja sampai ketika mendekati gudang tanganku tiba-tiba ditarik oleh seseorang dengan seseorang lain menarik jilbabku kearah halaman gudang . Terasa sesak sekali di leherku saat ia menarik jilbab persis dibelakang leherku, aku melawan berbalik dan meronta. Kulihat keduanya tapi tak kuketahui siapa orangnya, orang yang memegang tanganku menggunakan penutup wajah hitam di wajahnya sedang yang satunya lagi menutup diri menggunakan masker biasa kedokteran dan masih menggunakan helm merek KYT miliknya. Aku meronta dan melawan sekencangnya, kutarik tanganku dari tangannya tetapi ia malah lebih sangar lagi, ia melotot mennampakkan biji matanya yang merah seperti orang sedang mabuk. Dan iya aku juga mencium bau pahit selain bau rokok, mungkin benar mereka berdua sedang mabuk. Ia memelukku dengan kedua tangannya yang menjijikan, aku meronta melawan seraya berteriak “TOOOLOOONGGGGG” dengan sangat keras, lantang, dan ketakutan. Tak pernah kukeluarkan suara seperti ini sebelumnya suara yang spontan keluar bagai petir yang menyambar. Namun, petir itu bagai petir yang meledak di tengah samudra yang tidak ada manusia disana. Kuping-kuping manusia saat itu sudah dipenuhi dengan dendangan lagu dangdut yang melalaikan hati dan memekakkan telinga. Mendengarku teriak lelaki yang tadi menarik jilbabku sampai terasa sakit dibagian leherku mengambil helm sejenis yang ia pakai kemudian mengayunkannya kemukaku. Terasa dingin seketika bibirku saat darah mengalir entah dari asal yang aku sendiri belum tahu. Aku terkulai lemah, kepalaku pusing dan aku terjatuh ke rumput hijau itu. Tubuhku yang lemah kemudian diseret kearah yang lebih gelap lagi. Pria itu, pria amoral yang sangat keji itu memandangku dengan sorot mata yang begitu binal dan mengerikan. Mataku masih bisa melihat apa yang terjadi meski samar, tetapi tangan, kaki dan bibirku begitu tak berdaya untuk digerakan. Demi Allah jika masih ada sedikit saja kekuatan di tanganku dan digenggamanku ada sebilah pisau sudah kutusakkan keperut laki-laki biadab itu. Aku merasakannya, merasakan laki-laki itu mulai merangkak seperti bayi keatasku. Bayi yang mengejar air susu ibunya. Aku benar-benar ketakutan, aku berharap bang Hen atau papa atau siapapun bahkan seekor ayam jantanpun Allah kirimkan untukku sebagai bantuan. Aku berada dititik nadir kehidupanku, ketakutanku akan ‘diperkosa’ oleh laki-laki itu benar-benar membuatku menjadi seperti hilang akal. Tapi aku belum gila, aku masih bisa sadar. Aku merasakan dia perlahan menurunkan tubuhnya ke atas tubuhku, badannya yang busuk itu menindihku tanpa bisa aku menolaknya. Kulihat ia mulai membuka wajahnya, perlahan tapi pasti penutup wajah itu turun kearah lehernya. Aku seperti mengenali wajah itu, ya itu dia. Dia ternyata orang yang aku kenal, dia pun sering berbelanja ke toko kami, dia warga desa ini juga. Meski keluarga kami kurang akrab, tapi kami saling tau sama lain. Di adalah anaknya si Upik, wanita pengumpat yang pernah beradu mulut dengan mama. Umurnya skitar 2 atau 3 tahun dibawahku. Namanya Adit. Adit tersenyum melihat wajahku yang berdarah-darah, persis seperti seorang psikopat di film Hollywood yang dahulu pernah kutonton. Dia mendekatkan muka sampahnya kearah mukaku, hidung kami bersentuhan, sejurus kemudian ia langsung menyentuh bibirku dengan bibirnya. Kepalaku mengelak tapi ia luruskan kembali dengan tangannya yang kekar. Kali ini dia benar-benar diluar kendali, dia melihat bibirku seolah-olah bibirku ini es krim yang siap dilumat. Belum sampai ia melakukan hal keji itu tiba-tiba temannya yang juga gila seperti dirinya yang daritadi hanya menonton saja perbuatan nista yang diberlakukan terhadapku dari atas motornya terjungkal kebelakang dengan motor yang juga jatuh, dengan didahului suara helm yang beradu. Dari mata redup ini aku melihat sosok laki-laki yang datang, menggunakan celana diatas mata kaki dan kaos hitam serta peci sejenis afghan. Ia mengayunkan helm kekepala pria yang duduk diatas motor sambil menendang motor tersebut, hingga ia terjungkal. Lalu dengan helm yang sama ia menghentakkannya kearah dada Adit yang sedang berdiri meninggalkan tubuhku, tetapi ditangkisnya dengan tangannya yang terlihat membuat tangannya kesakitan, mungkin patah. Terlihat teman Adit sudah berada dijalan gang, dengan keadaan motor sejenis matic yang sudah dalam posisi menyala. Lelaki itu kemudian berteriak, “Rampok rampok rampok” dengan suara khas nge-bass pria yang sangat lantang sehingga memenuhi celah kedua bangunan gedung. Terlihat di sudut mataku bahwa motor tersebut sudah lari jauh meninggalkn kami. Aku merasakan tubuhku diangkat kemudian berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Lalu aku tak tau apa-apa lagi. *** Aku bangun dan tersadar, kutoleh jam dinding dikamarku menunjukan pukul 10.00 malam, aku linglung dan bingung terhadap apa yang terjadi sampai kutanyakan kepada mama yang saat itu menemaniku dikamar yang tertutup itu. Kata mama tadi aku pingsan,sambil menangis tersedu-sedu. Sediih sekali tangisannya, berulang-ulang ia menciumi tanganku dan mengucapkan permohonan maaf. Aku masih tak tau apa yang terjadi, aku bangun dan berdiri melihat kearah cermin, terdapat perban dibagian batang hidungku. “Apa yang terjadi?” Pikirku. Lalu aku ingat. Aku ingat semuanya sampai tak ada sebutir beraspun yang aku lupa, aku ingat tangan kasar itu, aku ingat nafas tersengal-engal itu, aku ingat tatapan mata psikopat itu, aku ingat bau pahit dan busuk itu, aku ingat semua, semuanya. Lalu aku berdiri dan tersungkur ke lantai dengan menangis sejadi-jadinya. Aku mengamuk seperti orang gila sambil berteriak-teriak. Mama yang bingung lalu berlari kebawah memanggil papa dan bang Hen. Aku menangis dan menangis, seperti banjir bandang yang meluluhantakkan hutan. Aku meranung-raung keras sekali, sekeras aku menangis sekeras itu pulah Allah menurunkan rahmat hujannya lagi malam ini. Papa mengangkat tubuhku dari lantai keatas kasur, aku sesenggukan, aku menaiki kasur dan diselimuti oleh bang Hen. Aku benar-benar ketakutan. Mamaku mengambil air dari meja, kemudian meminta papa meminumkanku beberapa butir obat, tak berselang lama kemudian aku tertidur. *** Sudah tiga hari aku seperti ini, aku tak bisa makan apapun kecuali hanya minum. Tak pernah aku terbangun kecuali untuk menangis sesenggukan lalu kemudian tertidur setelah meminum beberapa pil yang disuapkan mama kemulutku. Yang kuingat disetiap aku terbangun aku melihat mama masih ditempatnya, diatas sajadahnya dengan mukenahnya. Aku merasa seperti orang gila, aku lupa sholat dan semuanya. Yang ada hanya jeritan ketakutan kemudian kaku tak berdaya seperti mayat hidup. Aku, mama, papa, bang Hen dan adikku berangkat menaiki mobil yang tak aku ketahui tujuannya. Sepanjang jalan aku hanya menatap nanar kearah kaca mobil dengan fikiran kosong. Mobil berhenti yang artinya kami telah tiba ditempat tujuan. Aku turun dan mengenali dengan persis tempat itu, ‘ini rumah tante Marina’ gumamku. Lalu aku dibawa kekamar oleh mama dan tante dan ditidurkan dikamar tempat biasa aku menginap. Aku tiduran dikasur , melayang entah apa yang aku fikirkan. Kosong seperti anak usia 4tahun yang senang berlarian ditaman hijau penuh balon warna warni. Lalu tante masuk kekamar, menutup pintu dan menguncinya. Ia menawariku jus mangga kesukaanku, aku meminumnya setengah gelas kemudian dia duduk persis berdampingan denganku dipinggir kasur. Aku tersadar saat melihat wajah teduhnya, aku mengadukan semuanya kepadanya “Isyah salah apa tante? Kenapa bisa seperti ini?” “Kamu tidak salah apa-apa nak” “Isyah tidak sanggup tante, kenapa tidak mama hujamkan saja pisau ke jantung Isyah supaya Isyah mati dan terlepas semua beban ini?” “Istigfar nak kamu tidak boleh berbicara seperti itu” “Isyah gak bisa hidup menanggung beban ini tante, Isyah gak kuat. Bantu Isyah tante Isyah mohon. Cekek saja leher Isyah sekarang tante supaya Isyah mati dan bersegera bertemu Allah untuk mengadukan semuanya Isyah enggak salah tante sungguh” sambil mengarahkan kedua tangan tante kearah leherku “Sabar sayang ingat firman Allah bahwa Allah tidak akan menimpakkan masalah kepada hambanya kecuali ia tau hambanya mampu dengan itu semua” “Tapi Isayh gak kuat tante, siapa lagi yang mau sama Isyah? Isyah sudah ternoda! Isyah benar-benar akan menjadi perawan tua!” “Ternoda apa sayang? Kamu masih suci.” “Tidak tante, Isyah ingat betul saat itu laki-laki bejat itu sudah menindih tubuh isyah. Isyah sudah diperkosa tante” “Tidak nak, demi Allah kamu masih suci. Tidak ada seorangpun yang sudah merusak kehormatan kamu. Allah menjaga solehah tante, ia mengirimkan hambanya yang luar biasa tepat pada waktunya. Dia yang telah menyelamatkan kamu sebelum hal-hal yang tidak-tidak terjadi nak” “Benarkah tante?” Lalu aku mengingatnya, bagian terakhir yang hilang dari ingatanku selama beberapa hari ini. Aku ingat bahwa disaat-saat terakhir kehormatanklu akan direnggut laki-laki itu datang menyelamatkanku. Sebelum akhirnya aku benar-benar pingsan. Lelaki yang kakinya mirip dengan bang Hendri. “Hah? Laki-laki tante? Benar! Laki-laki itu! Aku mengingatnya! Alhamdulillah ya Allah Alhamdulillah. Tiada pujian yang patut dihaturkan selain kepadamu ya Rabb. Sungguh pujian tertinggi hanya milikmu ya Rabb. Rabb ku Tuhanku yang tidak akan pernah aku tandingkan dengan sesuatu apapun. Rabbku yang maha pemurah lagi maha penyayang, yang aku cintai melebihi apapun diseluruh hidupku. Yang perintahnya aku taati yang Rasulnya aku contoh. Terimakasih ya Rabb terima kasih. Allahuakbar! Allahuakbar!” aku melakukan semuanya, berteriak mengucapkan puji-pujian itu sambil tak henti-hentinya mengulangi sujud syukurku kelantai kamar. Tante ikut bersimpuh dilantai bersamaku. Mulai saat ini aku sudah mulai tersenyum, tante menuntun tubuhku yang seolah kekuatannya sudah kembali untuk duduk tegap di kasur itu. Tante mulai berbicara serius terhadapku “ Isyah sudah sholat?” “Sholat? Astagfirullah tante. Terakhir Isyah sholat itu adalah sholat Isya sebelum kejadian buruk itu terjadi. Bagaimana init tante? Apakah Allah akan menerima Taubat Isyah karena meninggalkan sholat selama beberapa hari ini?” “Insyaa Allah sayang, kamu kan dalam keadaan sakit. Insyaa Allah Allah mau memaafkanmu. Yang penting kamu jujur dan bersungguh-sungguh dalam bertaubat. Kamu juga harus meng qada shalat yang sudah kamu tinggalkan” “Iya tante. Isyah akan sholat sesegera mungkin” “Sayang, kamu sudah tidak marah kan sama mama mu?” “Tidak tante, Demi Allah tidak. Isyah sudah ikhlas. Ini semua sudah taqdir, ketetapan yang sudah Allah buat untuk isyah. Isyah ikhlas. Pena sudah diangkat. Catatan juga sudah kering. Isyah sudah tak bisa berbuat apapun lagi tante. Yang lalu biarlah berlalu. Isyah tak mau jadi anak durhaka tante. Isyah ingat semasa sakit kemaren mama tidak pernah meninggalkan Isyah barang sedetik saja. Mama selalu membalut diri dengan mukenahnya, dengan mushaf yang terbuka. Isyah juga ingat mata mama yang selalu bengkak saat isyah menatap wajahnya. Mama pasti sangat menyesal atas kejadian malam itu tante.” “Masya Allah.” Tante memelukku erat “tante bangga padamu nak, semoga Allah segerahkan jodohmu dengan laki-laki terbaik ya sayang, laki-laki soleh penuh ketakwaan. Yang mencintai Allah dan Rasulnya melebihi kecintaanya terhadap dunia, yang taat kepada ibunya adalah utama. Yang tiada yang lebih dicintai sepenuh hati, dan jiwa setelahnya selain kamu sayang” “Allahumma Aamiin” “Laki-laki itu? Kamu tidak penasaran sayang?” “Iya tante, siapa dia?” “Dia anaknya pak Haji!” “Yang mana tante?” “Anaknya yang bungsu, jadi malam itu dia sedang berada dikamarnya yang tepat berseberangan dengan kamarmu. Lalu ia yang sedang membaca buku mendengar teriakan minta tolong, ia melongok dari jendelanya melihat wajahmu sedang dihantam oleh sebuah helm yang keras, dengan sekuat tenaga ia berlari turun untuk menyelamatkanmu, tetapi karena rumahnya yang besar ia membutuhkan waktu untuk sampai ketempat tujuan. Lalu ia memukuli mereka berdua dengan helm yang tergeletak ditepian jalan. Mereka kabur dan sekarang sedang dicari polisi. Sampai saat ini tidak ada yang mengetahui siapa pelaku tersebut. Lalu ia menggendongmu sambil berteriak ‘rampok’, Hendri berlari keluar melihatmu digendong laki-laki tersebut kemudian memintamu dari tangannya. Kamu kenal sama orangnya? Apa kamu ingat dengannya?” “Biarlah tante, Isyah malu. Benar-benar malu. Dia sudah melihat tubuh Isyah sedang dijamah lelaki biadab itu. Biarlah Isyah tak bertemu dengannya , mungkin nanti setahun lagi jika sudah siap Isyah akan mengucapkan jazakallahu khoiran secara langsung padanya. Sekarang isyah hanya bisa mendoakan kebaikannya saja” “Baiklah nak, tante paham. Soal 2 pecundang itu? Isyah ingat?” “Itu Adit tante, anaknya Upik. Isyah benar-benar ingat wajahnya. itu Adit tante, Adit.” “Satu lagi?” “Satu lagi Isyah tak tau tante, dia tidak pernah membuka maskernya” Kemudian suara azan dzuhur mulai terdengar, bersahut-sahutan dari satu masjid ke masjid yang lain. “Alhamdulillah sudah adzan. Ayo kita kebawah, kita sholat berjamaah saja” Aku mengangguk. Tante membantuku bersiap, menghapus sisa-sia air mata di wajahku dan menepuk-nepukkan kedua tangannya ke pipiku. Mungkin agar lebih segar. Tante juga membantuku merapihkan jilbab dan pakaianku. Kami berdua turun kebawah, menemui keluargaku yang mungkin sedari tadi sudah harap-harap cemas serta bertanya-tanya apa yang sesungguhnya terjadi padaku. Mengapa tante lama sekali turun dari kamarku. Wajahku mulai merona lagi, pucat diwajahku serta bengkak di kedua mataku sudah mulai hilang kalah oleh senyumku saat menuruni tangga. Mama dan papa berlari memelukku, senang melihat anaknya sudah pulih kembali. Mama menangis pilu sambil berkali-kali mencium dan memelukku. Kulihat air mata juga menetes diwajah papa yang kusadari sudah tak muda seperti ketika pertama kali aku memasuki jenjang taman kanak-kanak. Terlihat juga mata om dan bang Hendri yang berkaca-kaca. Tante memerintahkan semua laki-laki untuk bersegera ke masjid melaksanakan sholat zuhur dimasjid, dengan om yang masih menggunakan pakaian dinasnya. Mungkin ia izin sebentar demi diriku. Lalu aku, mama dan tante melaksanakan sholat zuhur berjamaah dengan tante sebagai imamnya. *** Selesai sholat kami makan bersama, semua masakan dibeli karena tak ada yang sempat memasak. Suasana terasa hangat saat tiba-tiba om mengeluarkan fotoku yang tersenyum lebar dengan gigi ompong menganga. Aku yang mengenakan topi pantai bercelana jeans panjang dan dan kaos pink lengkap dengan lengan mengembang berpose centil dipinggiran pantai. Aku sudah tidak ingat lagi, mungkin saat itu usiaku 4 atau 5 tahun. Aku merebutnya dari tangan om, kemudian gambar itu aku duduki. Semua orang tertawa melihat polahku, aku memukul lengan om entah beberapa kali, bang Hen mengejekku “ ompoong” katanya. Lalu semua tertawa terbahak-bahak. Aku tersenyum sambil menutupi wajahku karena malu. *** Satu bulan berlalu aku dan mama sudah siap menjalankan aktiffitas kami seperti biasanya di desa lagi. Sudah satu bulan tinggal dirumah om dan tante rasanya sudah cukup bagi kami berdua. Menjalankan serangkaian jadwal padat merayap, selama satu bulan ini aku harus bertemu dengan dokter psikolog ku rutin dua kali dalam seminggu, kemudian mengikuti acara-acara pengajian yang selalu tante dan om datangi setiap hari ahad, belum dauroh-dauroh dan tabligh akbar. Semua kegiatan kerohanian tersebut membantuku mempercepat kesembuhanku dari trauma buruk gang berdarah itu. Papa, bang Hen dan adikku datang lebih awal. Sabtu sore mereka bertiga sudah datang untuk menjemput kami berdua. Toko papa tutup lebih awal dan libur pada hari minggu khusus karena ingin menjemputku. Malam ini kami semua pergi makan diluar bersama-sama. Setelah puas makan kami semua menghabiskan waktu di Mall, mama tante dan aku pergi ke Matahari untuk melihat-lihat pakaian sedangkan yang laki-laki semuanya pergi ke arena bermain timezone. lelah bermain dan mencari pakaian kami semua keluar dari Mall menuju ke parkiran mobil, di perjalanan papa, bang Hen dan om bertemu dengan pemuda tampan sekali. Mereka bersalaman, berpelukan dan asyik mengobrol. Mama, tante, aku, adikku dan ketiga anak tante yang berjalan lambat ketinggalan oleh mereka. Tampak akrab aku dengan wajah itu, tapi kemudian aku abaikan. Sekelebat kulihat tante menunjuk bibirnya dengan jari telunjuknya seperti isyarat “shuut” atau diam kearah mama. Tak nyambung dengan hal itu aku iam saja. Aku mengabaikan mereka karena agak sibuk mengangkat gamis coklatku kepanjangan dan belum sempat aku potong. Keesokan paginya selepas sholat subuh kami semua pergi jalan-jalan pagi. Semua laki-laki sudah siap dengan training dan sepatunya. Kulihat gamis-gamis bersihku yang tergantung rapi dilemari. Kuambil gamis panjang model klok berwarna peach dan jilbab berwarna senada sepanjang betisku. Aku mengenakannya dengan kaus kaki dan masker kedokteran. Mama dan tante juga menggunakan gamis dengan jilbab seperut. Sesampai di pantai semua orang sibuk bermain masing-masing. Terlihat om dan tante mengajak ketiga anaknya bermain dengan ombak di pinggiran, bang Hen, papa dan adikku juga sudah berlari dan menghilang entah kemana. Aku dan mama berjalan-jalan dipinggiran pantai dengan mama yang sedikit sibuk mengambil gambar diriku dan keluarga tanteku. Dia sesekali juga selfie atau mengambil gambar pemandangan pantai di pagi hari. Aku merasa mendapat energy baru pagi ini, aku lebih siap menghadapi dunia. Tak lagi pernah kuhiraukan kata orang tentang diriku, seperti yang kita ketahui rumor selalu menyebar dengan cepat didesaku. Mungkin mereka sudah berfikir bahwa Aisyah sudah diperkosa kemudian menjadi gila. Mungkin juga masih ada orang waras yang membelaku disana. Aku tak pernah memikirkan tentang perkataan orang lagi karena sungguh bukan mereka yang memeberiku makan, bukan karena mereka aku hidup dan bukan untuk mereka aku mati. Terserah mereka mau berkata apa, yang terpenting hanyalah aku dan Rabbku. Sudah lama bermain kami semua keluar dari bibir pantai, mencari sarapan pagi. Kami semua masuk dan duduk ke sebuah kedai bubur pinggir jalan bertenda biru di dekat parkiran. Terlihat bang Hen sedikit menjauh mengangkat telpon, tak lama ia kedatangan seorang teman. Mereka bersalaman dan mengobrol hangat. Aku memperhatikan mereka berdua, kulihat jelas wajah laki-laki itu, benar! Dia adalah lelaki semalam yang tak sengaja bertemu dengan bang Hen di parkiran Mall. Aku memperhatikan mereka yang sedang mengobrol, tak disangka laki-laki itu melirik ke arahku. Merasa malu aku memutar badan untuk tak melihatnya lagi. Bang hen mendekatiku, mengambil dua buah kursi kosong disebelahku, dia membawanya kebelakang seraya memesan dua buah mangkok bubur. Mereka berdua duduk dibelakangku yang berjarak hanya sekitar 2 meter saja. Aku yang berusaha menepis keingintahuanku tentang lelaki itu meneruskan makanku sampai selesai. Jam sudah menunjukan pukul 08.30 pagi. Kami semua pulang kembali kerumah. Tepat setengah sepuluh pagi semua sudah bersiap, keluar untuk pergi taklim yang biasa aku dan mama rutinkan selama tinggal serumah dengan tante. Sesamp[ai di masjid tujuan sudah banyak yang berkumpul disana, kegiatan berlangsung seperti biasanya sampai pada ketika sholat dzuhur berjamaah selesai dilaksanakan. Di jam seperti ini biasanya semua orang sudah bersedia mengemas barang untuk pulang, tetapi hari ini berbeda. Semua orang diminta tetap dimasjid karena aka nada hajatan. Alhamdulillah anak ketiga ustad Umar telah lahir dengan sehat dan selamat, sang ustad mengajak seluruh jemaah untuk menyantap hidangan potongan daging kambing aqiqah atas nama putra ketiganya. Hidangan yang sudah dikotak-kotak dengan rapih tersebut dibagikan dan kemudian disantap bersama-sama. Selesai makan dan saling bahu-membahu membersihkan sampah semua orang beranjak pergi. Aku dan mama menuju mobil kami menunggu sang sopir alim kami ‘bang Hen’. Agak lama aku yang menunggu kepanasan meneduh dibawah pohon sendirian karena mama tiba-tiba ingin ke wc sedang papa dan adikku entah dimana dari tadi aku belum melihat mereka berdua. Dari kejauhan aku melihat bang Hemdri mengobrol akrab dengan seorang pria yang tampak sedikit lebih tinggi darinya. Semakin mendekat aku tampak mengenalinya, ternyata benar itu adalah dia. Lelaki yang sudah Allah takdirkan bertemu denganku untuk ketiga kalinya. Aku membalikkan tubuhku, berpura-pura tidak melihat saat mereka semakin mendekat menghampiri. Aku berjalan ke arah pintu mobil diseberang saat bang hen menekan tombol membuka pintu kunci mobil avanza veloz putih milik papa. Pria itu tampak berjalan berseberangan dengan bang, masuk ke sebuah mobil pick up yang tampak agak usah kelamaan tidak dicuci. Tak lama papa, adikku dan mama menyusul dan menaikki mobil. Mobil bergerak menuju rumah. *** Jam tangan papa sudah menunjukkan pukul 19.00, “Ayo ma kita pulang” ajak papa kepada mama saat kami sedang bersantai diruangan tv menurunkan nasi diperut selepas makan malam. Sebenarnya kata-kata papa barusan bermakna ganda, karena selain mengajak mama dia juga mengajak aku adikku juga bang hen untuk pulang dan juga itu berarti ya memang sudah harus pulang. Mama yang mengerti beranjak keatas disusul olehku, kami membawa barang-barang kami selama tinggal dirumah tante yang sudah sejak Ashar mama siapkan. Sesampai dibawah barang dimasukan ke mobil oleh adikku. Kami berpamitan. Tante memberikanku sebuah hadiah yang sudah ia bungkus rapi. Hadiah berukuran besar sebesar gallon air mineral dan juga berat. Aku menolaknya, “Enggak usah repot-repot tante” kataku. Tante merapatkan jari telunjuk kearah bibirnya memintaku jangan mengucapkan hal demikian. Ia memelukku erat mencium kedua pipiku berulang, “Insyaa Allah sebentar lagi” katanya kepadaku. Aku yang tidak mengerti hanya tersenyum setengah bingung, tetapi karena suasana sedang tidak pas, jadilah otakku tidak fokus dalam menanggapi perkataan tante. Semua sudah selesai berpamitan, hadiah dari tante sudah diletakkan dibangku paling belakang mobil bersama dengan adik tercintaku. Mobil berjalan sekitar 15 menit, adikku mulai merengek ke mama, meminta kado dipindahkan ke bangku kedua karena ia mengantuk dan ingin tiduran katanya. Lalu benar, mama mengiyakan permintaan adik manjaku. Mobil berhenti disebuah gerai penjualan ayam goreng ternama Labbaik. Membeli 5 potong dada ayam lengkap dengan nasi dan nuggetnya. Tak butuh waktu lama ia segera kembali dari gerai junk food itu, “Amunisi kalau tengah malam lapar” katanya kepada semua orang dimobil. Aku menoleh kebelakang, ternyata benar adikku sudah tertidur. Mungkin kecapekan karena sibuk seharian. Aku yang awalnya menikmati perjalanan dengan iringan nasyid Arab pelan yang aku tidak ketahui apa judulnya akhirnya kalaah dengan kantukku. Tanganku yang awalnya menikmati dinginnya kaca jendela bagian dalam mobil perlahan turun dan terkulai. Aku tertidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD