Pernikahan

3220 Words
Selepas kepergian Billy hujan turun lebat sekali, rahmat Allah yang lagi-lagi dikaruniakan kepadaku sebagai penyejuk jiwa dan hati yang sempat panas karena kedatangan tamu tak diundang tadi. Malam yang paling tidak disukai oleh kaum muda-mudi yang sedang memadu kasih di malam minggu. Cuaca dingin sekali, kuambil air wudhu untuk melaksanakan sholat sunnah setelah wudhu 2 rakaat dan witir 3 rakaat. Kemudian terhanyut dalam doa panjangku sampai terisak dan kelelahan membuatku ingin bersegera menyelesaikan ibadahku kemudian berbaring sambil membaca sebuah buku, atau dua buah kalau mataku masih sanggup. Selesai ibadah aku mengunci pintu kamarku, naik ke pembaringan, rebahan dengan membawa beberapa buah buku bersamaku. Tak lupa aku membaca ayat kursi, tiga qul, dan doa sebelum tidur untuk berjaga-jaga jikalau saja aku tertidur selagi membaca buku. Ditambah doa sebelum membaca buku yang diajarkan oleh bang Hen kepadaku sebelum memulai. Tidurku yang pulas dikejutkan dengan suara azan yang merdu pada lafaz “Ash Shalaatu Khoirum Minan Naum”, aku tersentak kemudian bangun sambil melafaskan doa “Alhamdulillahiladzi ahyana ba’dama amatana wailaihin nushur”. Aku mengusap-ngusap wajahku kemudian meregangkan sedikit otot-otot tangan, jari dan leherku kemudian masuk ke kamar mandi, membersihkan diri juga berwudhu untuk kemudian bersegera melaksanakan sholat subuh. Hujan belum juga berhenti, cuaca yang dingin membuatku hanyut dalam ibadahku. Aku sholat dengan khusyuk sekali dengan hanya mengharapkan pahala dari yang maha pencipta saja. Momen sujud terakhir aku manfaatkan sekali untuk memohon hanya karunia hanya dari allah saja, ‘karunia jodoh yang soleh’. Hanya itu yang aku inginkan. Sambil terisak tangis aku memohon kepada Allah di dalam hati; ‘ Ya Allah rabb semesta alam. Tiada pujian yang paling tinggi yang patut dipuji selain Engkau. Tiada sanjungan yang paling patut disanjung diseluruh semesta selain Engkau. Pemilik seluruk semesta alam, awal dan akhir dari ada menjadi tiada. Yang rhmatnya tercurah kepada hambanya yang memohon belas kasih sayang. Yang pintunya selalu terbuka jika sang hamba mau mengetuk. Rabb yang paling penyayang meski sang hamba masih dalam kemaksiatan, Rabb yang hanya Engkaulah yang patut memberikan jalan dari seorang hamba pendosa menuju pintu taubat. Allah yang sangat bangga dengan ditinggikannya kalimat Tauhid dibuminya. Allah yang tidak pernah pilih kasih dalam mencintai setiap mahluknya bahkan semut dibawah batu sekalipun. Allah yang telah mengangkat penanya dalam menjalankan takdir seorang keturunan Adam. Allah Tuhanku yang tiada sekutu dan tandingan yang aku sembah selain dirimu. Ya Rabbku Tuhanku sebelum aku mengungkapkan ini kepadamu pasti Engkau sudah mengetahuinya karena sejatinya akulah hambamu dan k au yang menciptakanku. Tapi hal ini akan aku mintakan kepadamu meski dengan malu-malu. Ya rabb aku ingin Jodoh. Aku menginginkan jodoh seorang laki-laki sholeh yang mampu membimbingku di dunia untuk meraih jannah tertinggiMu. Aku menginginkan seorang laki-laki sholeh yang memiliki cita-cita tertinggi untuk berkumpul bersamaku dan anak-anak kami di jannahMu. Aku menginginkan seorang laki-laki yang sama-sama mengharapkan dapat melihat indahnya wajahmu di jannahMu nanti seperti kami sekarang melihat indahnya purnama yang Engkau sajikan. Aku ingin. Aku ingin menikah dengan seorang laki-laki soleh. Alangkah tamaknya aku jika menginginkan laki-laki sekelas Rasulullah Salallahu alaihiwassallam. Karena akupun bukan wanita sekelas Khadijah Radiallahu anhum pun Aisyah binti Abu Bakar. Tidak. Demi namu Mu aku tidak pernah menginginkan itu. Aku hanya menginginkan lelaki sholeh ya Rabb. Lelaki akhir zaman yang tidak tergiur dengan dunia semata. Lelaki yang dengannya aku merasa aman melebihi perasaan amanku dibawah tangan ayahku. Lelaki yang dengannya kami dapat menciptakan generasi bertauhid dan mencintaMu. Lelaki yang menjadikan aku ratu dalam kehidupannya setelah ibundanya terkasih. Ya rabb aku imgin menikah. Aku ingin menikah. Allahumma zawwijni bi rojullin shollih” “Allahumma inni audzubika min azabal qubr wa azabannar, Allahumma inni audzubika minfitnatil mahya wal mamah wa audzubika min fitnatil masihid dajjal” “Allahumma zawijjni bi rojullin sholih” “Allahumma zawijjni bi rojullin sholih” “Allahumma zawijjni bi rojullin sholih” “Allahumma zawijjni bi rojullin sholih” “Allahumma zawijjni bi rojullin sholih” “Allahumma zawijjni bi rojullin sholih” “Allahumma zawijjni bi rojullin sholih” Entah berapa kali aku mengulang doa yang terakhir tersebut sampai akhirnya mengakhirkan sholatku kemudian salam. Selepas sholat tak lupa aku mendoakan kedua orang tuaku dan keluargaku. Setelah selesai, kuambil mushaf merah kesukaanku dan kulanjutkan bacaan qur’anku sampai sekitar jam 06.00 pagi. Hujan sepertinya masih betah mengguyur desaku. Rahmat Allah yang satu ini amat senang menaungi desa kecil kami yang asri sejak semalam. Melihat hujan yang tak kunjuung berhenti tak mengurungkan niatku untuk mandi pagi karena memang sudah kebiasaanku mandi di pagi hari. Setelah mandi dan bersiap diri aku turun kebawah membantu uni Ida pembantu kami. Kulihat mama sudah mengeluarkan ayam beku dari kulkas beserta cabe dan bahan-bahan lainnya. Uni ida juga sudah sibuk mencuci piring dan mulai melakukan persiapan masak. Dirumahku tidak ada sarapan seperti dirumah orang kota apalagi orang barat. Tidak ada roti yang di toast atau keju dan susu. Kebiasaan papa dari dulu sebagai orang minang asli adalah sarapan dengan makan lontong tunjang, lontong sayur atau nasi uduk juga nasi dan lauk yang dimasak pagi hari. Meski terkadang aku sering melewatkan sarapan dengan hanya meminum susu dan memakan sebutir telur atau sepotong roti saja karena yang kurasakan sejak sd jika aku makan nasi di pagi hari maka aku akan merasa sangat cepat mengantuk. Hari ini mama masak ayam kecap dengan tumis kangkung dan sambal bawang kesukaan papa, dia makan lahap sekali. Sementara aku rasanya sudah kenyang melihat papa yang makan dengan lahap. Tak apa fikirku, papa butuh energi lebih untuk bekerja keras mengurusi dua toko sekaligus setiap harinya. Sibuk didapur membantu uni Ida membersihkan kulkas membuatku lupa waktu tak terasa jarum jam sudah menunjukan pukul setengah sepuluh pagi. Aku berlari kekamarku, membersihkan diri kemudian mengganti baju. Hari ini aku mulai memberanikan diri menggunakan gamis hitam yang sebelumnya tak pernah aku kenakan. Gamis yang kubeli lengkap dengan cadar bandana. melihat cadar yang indah tersebut aku tersenyum dan mulai mencobanya, kulihat diriku di cermin setelah memakainya, sungguh kecantikanku seperti menjadi dua kali lipat dari sebelumnya. Saat sedang mencobanya tiba-tiba mama masuk kekamar, menarik cadar dari wajahku “Kamu mau pake ini? Enggak boleh! Mama enggak setuju! Kalau kamu mau pake pakaian seperti ini silahkan, kamu pakai maskerpun enggak mama larang. Tapi ini? Dengan ini kamu makin dibilang orang aliran sesat, dengan ini kamu tambah dibilang teroris. Mau kamu?” “Bu haji sebelah rumah pakai cadar, suaminya alim, dia juga bukan teroris. Malahan dia baik sering menyantuni anak yatim” “Tapi kamu lihat kan dia tidak pernah keluar rumah” “Mama keluar juga Cuma kepasar, selebihnya mama dirumah dan di toko” “Kamu, bantah aja omongan orang tua. Sini cadar-cadar kamu, biar mama bakar sekalian semuanya!” “Jangan ma!” sambil merampas paksa bandana hitam yang menjuntai dari tangan mama “ Iya, Isyah enggak akan pake, biar isyah aja yang simpen ya” rayuku. Lalu mama pergi meninggalkan kamarku Adikku datang menggodaku, dia masuk kekamar dan mengambil cadar yang sudah kuletakkan keatas meja didepan cermin, dia memakainya dan mengambil sebuah penggaris panjang yang berada dibagian toples tempat pena-penaku tersusun rapi. Dia lalu memainkan penggaris itu sambil berkata “Zorro, manusia bertopeng!” aku memukulnya dan mencubit pinggangnya. Kutarik cadarku dari wajahnya. Dia tertawa terpingkal-pingkal karena sakit dan kegelian. Dia berlari menuju kamarnya sambil tertawa. Dari kamar aku dengar hujan turun semakin lebat bahkan lebih lebat dari semalam. Saat kuintip di jendela koridor ujung kearah jalan raya ternyata benar hujan turun dengan sangat lebat. Aku turun kebawah menuju kamar bang Hen dengan sedikit berlari, ternyata tak kujumpai seorangpun dibawah. Hanya ada uni Ida yang masih sibuk dengan cucian dan setrikaan. Aku bertanya ke uni Ida kemana semua orang, dijawab mama lagi di toko, papa dan bang Hen sudah pergi sejak tadi tak tau kemana. Aku mengirim pesan wa ke bang Hen “Bang dimana? Taklim kan?” “Inshaa Allah, tunggu urusan kelar.” “Kapan? Lagi dimana?” “Sebentar lagi, lagi dirumah pak kades” “Urusan apa?” “Urusan orang tua hahaha” Melihat jawaban terakhirnya aku tak lagi membalas pesannya. Aku naik ke atas menunggu dikamar sambil melihat-lihat hp ku. Aku sudah merasa gelisah sekali. 10.30 bang hen belum juga pulang, aku mengirim pesan lagi ke bang hen “Sudah telat sekali. Kapan pulangnya?” “Sebentar lagi” “Sudah dimana?” “Sudah dirumah!” “Rumah siapa?” “Rumah pak Rahman” Sedikit kesal aku ke bang Hen karena sikapnya yang selalu seperti itu. Ia memang suka bercanda dan bermain-main, bahkan terkadang suka lupa tempat. Tapi itulah ciri khasnya mungkin kalo sehari saja dia tidak tertawa atau menyapaku, malah aku yang pusing. Aku bersiap, memasukan mushaf, buku catatan, pena, hp, dompet, kaos kaki bersih cadangan juga masker hitam di dalam tasku. Kebawah dan menemui bang hen yang berada di garasi sedang mencuci kakinya di keran. “Yuk bang berangkat” “Sebentar” “Kenapa?” “Nih!” sambil menunjuk kearah kakinya yang penuh lumpur yang terkena ke celananya. Bang hen perlu untuk mngganti pakainnya kemudian baru kami bisa pergi. Saat itu hujan sudah mulai reda. Setelah menunggu beberapa saat bang hen akhirnya keluar dan kami langsung berangkat. Aku datang telat sekali. Sudah jam 11.12 baru sampai ke masjid, dibelakangku kulihat juga ada seorang gadis yang juga telat. Ia datang sendirian menggunakan motor lengkap dengan jas hujannya. Sengaja aku perlambat langkah kakiku untuk masuk berbarengan dengannya agar aku merasa tidak terlalu malu didalam nanti karena datang terlkambat. Di teras masjid kami bersalaman sambil mengucap salam sambil mencium pipi kiri kanan. Lalu kami masuk mengeluarkan buku catatan masing-masing dan mencatat seadanya. Tak lama sampai waktunya sesi pertanyaan. Disini kami berkenalan “Mbak namanya siapa? Tanyaku” “Aulia mbak, mbak sendiri?” “Aku Aisyah. Mbak umurnya berapa?” “Aku masih SMA mbak, jangan panggil mbak ih” “Mashaa Allah masih muda sekali. Sejak kapan ikut taklim disini?” “Sejak SD Aul sudah sering ikut taklim seperti ini mbak, dulu sebelum ibu sama bapak meninggal” “Inalillahi wa inna ilaihi rojiun, terus sekarang Aul tinggal sama siapa?” “Sama kakak mbak, dia sudah menikah dan sudah punya anak. Mereka juga rutin ikut taklim disini, cuma sekarang mereka lagi ke kota ada uusan jadi Aul nginep dirumahnya bibi yang jaraknya 5 menit dari sini, makanya Aul kesini pakai motor” “Rumahnya jauh?” “Rumah siapa mbak?” “Rumah kakak Aul yang biasa Aul tinggal” “Oh, itu rumahnya bapak mbak, deket kok persis disebelah rumah mbak Airin” “Mashaa Allah. Kok mbak baru liat aul ya?” “Aul sudah sering liat mbak, cuman mbaknya pendiem jadi Aul malu buat nyapa duluan” “Wah, apaan sih. Mbak kali yang malu karena ilmu mbak yang masih belum ada apa-apanya disini, jadi makanya mbak diem. Khusyuk mendengar aja. Aul, mbak Airin mana ya?” “Loh mbak gak tau?” “Tau apa?” “Mbak Airin kan hari ini menikah” “Hah menikah?” “iya mbak” “ Pantes didepan rumahnya ada tenda, mbak kira tadi ada syukuran, karena hujan jadi tak sempat baca. kok mbak baru tau ya?” “Minggu kemaren kan diumumkan, mbak gak datang apa?” “Datang ul, cuma perasaan minggu kemaren kan pada sibuk kumpulin biodata?” “Mungkin mbak enggak denger kali yak karena terlalu sibuk sama biodata hehe. Jadi tuh tadi pagi Akadnya, nah sekarang walimatul ‘ursynya” “Aul pergi?” “Udah tadi pagi, makanya telat taklim, nanti selepas sholat jamaah taklim semua mau pergi kesana, mbak ikut kan” “Mau kalo diundang” “Ya diundanglah mbak, kan berlaku untuk semua jamaah. Oh iya tadi Aul videoin pas prosesi akad mbak mau liat?” “Mau” lalu aku dan melihat video yang ditunjukan aul, terlihat disana kamar pengantin mbak airin yang indah sekali, bahkan lebih indah dari kamar yang sempat aku impikan dahulu. Terdengar olehku suara suami mbak airin saat proses pengucapan ijab sementara divideo terlihat mbak airin yang cantik dengan gaun pengantin putih lengkap dengan mmahkota kecil diatas kepalanya dengan riasan mata yang menawan juga cadar putih bermanik yang sangat indah. Saat semua orang mengucapkan sah tampak kelegaan diwajah mbak Airin diikuti nafas yang keluar dari kerongkongannya mengucapkan Alhamdulillah yang memuji hanya karena karunia Allah saja hal ini bisa terjadi. Suasana pecah dengan tangis bahagia beberapa akhwat diruangan mbak Airin seraya mereka berpelukan mesra penuh cinta kasih karena Allah. “Lalu apa yang terjadi selanjutnya?” tanyaku “Kemudian Mbak airin keluar dari kamar untuk menandatangani sejumlah dokumen pernikahan dan mendapat buku nikah yang sah dari KUA. Bersalaman dan mencium tangan suaminya dengan khusyuk baru kemudian bersalaman dengan keluarga besarnya lalu mbak Airin kembali lagi ke kamar sementara suaminya dan semua keluarga besarnya makan bersama sebelum akhirnya mereka benar-benar berpisah untuk duduk dipelaminan yang berbeda” “Maksudnya pelaminannya dipisah?” “Iya mbak” Mendengar informasi seperti ini dari aul membuatku semakin ingin cepat pergi kesana bertemu mbak airin dan melihat semuanya. Melihat mbak airin yang sangat cantik dengan cadar dan gaun pengantinnya. Melihat pernikahan terpisah yang benar-benar belum pernah aku datangi sebelumnya. Obrolan kami dihentikan dengan lantunan azan, aku dan Aul bersiap memasukan buku-buku dan mushaf kami ke dalam tas masing-masing sejurus kemudian mengambil masker kami untuk kami kenakan saat berjalan keluar masjid menuju tempat mengambil wudhu. *** Taklim telah usai, aku dan semua orang berdiri bersiap untuk pergi ke pesta pernikahan mbak Airin. Hujan juga sudah berhenti total, sekarang awan teduh menaungi masjid dan desa itu. Sejuk sekali rasanya, tidak panas menyengat maupun dingin menggigit terasa. Aku dan Aul berjalan berdampingan sementara ummahat lain berjalan bergandengan mesra dengan suami masing-masing menuju rumah mbak Airin. Tak jarang sesekali mereka bercanda dengan anak-anak mereka saat perjalanan yang semakin menyilaukan mataku dan membangkitkan kecemburuanku akan memiliki keluarga yang harmonis. Mendekati rumah mbak Airin aku baru sadar ternyata para ummahat itu membawa kado untuk mbak airin dengan sampul kado yang lucu-lucu. Kadonyapun unik-unik. Ada yang terlihat besar dan berat sekali sampai harus dibawa sang suami, ada yang kurus memanjang. Ada yang tipis tapi besar, entah apa-apa isinya. Kemudian aku bilang ke Aul bahwa aku tidak bawa kado dan berniat memberikan uang saja sebagai pengganti kado, tapi aku tak punya amplop. Lalu, aul mengusulkan untuk ikut kerumahnya dan kemudian mengambil amplop yang biasa ia simpan dikamarnya. Aku mengiyakan keinginan Aul dan mengikutinya kerumahnya. Karena kejadian tersebut kami menjadi orang terakhir yang masuk ke rumah mbak Airin, setelah mengisi buku tamu aku menaruh amplop ku ke kotak yang disediakan kemudian langsung masuk kerumahnya mbak Airin. Masih Nampak oleh kami beberapa orang ummahat beriringan ingin mengucapkan selamat dan mendoakan sang pengantin. Aku berada diurutan paling terakhir dari mereka. Akhirnya tiba giliranku bersalaman, mencium serta memeluk mbak Airin “Selamat ya mbak, sakinah, mawaddah, warahmah semoga pernikahannya selalu berada dibawah naungan berkah dan limpahan rahmat dari Allah” bisikku dipelukannya Kemudian mbak airin menangius di pelukanku sambil mengucap “Jazakillahu khoiran ya dek, tetap sepeti ini ya, tetap istiqomah di jalan sunnah. Semoga Allah pertemukan kita di Jannah”. Air mataku perlahan meleleh dari bawah kelopak mata besarku, “Iya mbak. Doain Isyah terus ya mbak agar dipermudah dalam memperlajari Dienul Islam yang benar” “Insyaa Allah dek, insyaa Allah”. Lalu kami sama-sama tersenyum dan mbak Airin mempersilahkanku untuk makan bersama dengan yang lainnya. Aul yang menungguku dari tadi sudah tak sabar ingin makan, sepertinya ia sudah lapar sekali. Aku pun sebenarnya juga lapar karena dari pagi belum makan. Kami mengambil makanan yang disediakan dimeja prancisan kemudian masuk kembali kedalam rumah mbak Airin, tepatnya diruang tengah rumah yang tidak ada seorangpun disana melainkan hanya ummahat dan atau keluarga inti mbak Airin yang perempuan saja. Semua ummahat makan dengan lahapnya dan membuka cadar-cadar mereka tanpa sungkan karena memang ruangan sudah disterilkan dari laki-laki. Sambil makan aku membuka obrolan ke aul “Nanti setelah menikah mbak Airin masih disini ul?” “Nanti itu setelah menikah mbak Airin bilang ia akan diboyong suaminya ke Bogor, karena suaminya bekerja disana. nanti selepas acara disini ada syukuran yang diadakan dirumah suaminya yang ada di kota kemudian sabtunya langsung terbang ke Jakarta” “Oh ya?” “Iya mbak” “Ooh pantes mbak airin menghadiahi ku buku itu rupanya ia ingin pergi jauh dan mungkin masih lama bisa bertemu lagi denganku” kataku dalam hati “Mbak, Aul pengen deh kayak mbak Airin, aul pengen kalo udah lulus nanti lngsung nikah kayak mbak Airin, gak pake macem-macem kayak pacaran yang haram. Liat mbak Airin enak yah, proses nikahnya cepet. Suaminya hari ini cuti kerja 3 hari langsung terbang kemari. Sampe dikota besoknya dia ajak ayahnya untuk nazhor mbak Airin terus pergi ke masjid sebentar untuk sholat sunnah minta petunjuk pemantapan hati dari Allah, setelah cukup dia kembali lagi kerumah mbak Airin dan langsung mengkhitbah. Satu bulan kemudian mereka menikah, cepet kan” “Masyaa Allah, indah ya Aul” “Banget mbak, padahal dulu mbak Airin sempet sedih berkali-kali loh mbak” “Sedih kenapa?” “Dia sudah 4x di nazhor oleh lelaki selama dua tahun ini tapi setelah melihatnya laki-laki itu mundur” “Kenapa? Mbak airin kan cantik” “Entahlah mbak aul gak tahu, tapi kan kriteria laki-laki itu kan beda-beda. Sebagian dari mereka ada yang melihat wajah dulu, jika tertarik maka akan dilanjutkan jika tidak tertarik mereka gak lanjutkan. Itu yang paling baik menurut mereka, jadi yang ditolak oleh mereka disini itu wajahnya bukan agamanya” “Aul pinter ih,” “Ah mbak Aul kalo yang itu emang agak pinter mbak, coba mbak tanya fiqih yang lain? Beh kelabakan Aul” Hahaha kami tertawa bersama “Terus ini nazhor ke 5 ya?” “Iya mbak, ini nazhor ke 5 dan Alhamdulillh sangat mulus dan dipermudah oleh Allah karena buah kesabaran mbak Airin. Tau gak mbak, pernah ya aul baca kisah pernikahan itu yang ikhwan dan akhwat sama-sama belum pernah melihat wajah masing-masing sampai akhirnya benar-benar sah tetapi sampai heri ini mereka tetap harmonis, karena kata mereka yang menumbuhkan cinta dihati mereka itu Allah jadi mereka yakin aja sama yang sudah menjadi takdir Allah” “Ada yang kayak gitu aul?” “Ada mbak, jadi mereka tinggal di daerah yang berbeda gitu di pulau Jawa, lalu melalui ustad mereka saling tukar biodata. Yang ikhwan mengirim biodata dengan foto sebelum hijrah sementara yang akhwat ngirim foto SD mbak” “Masyaa Allah, enak ya ul kalo bisa dapet suami soleh” “Iya mbak aul juga pengen, pengeeen banget” Obrolan kami terhenti saat secarik kertas masuk keruangan itu lalu diambil oleh seorang ummahat dan dibacakannya dengan keras. Pengumuman-pengumuman “ummu Khadijah kita pulang sekarang” By Abu Khadijah Begitu isi tulisan dalam secarik kertas tersebut yang dibacakan persis seperti seorang kepala sekolah sedang memberikan pengumuman. Sontak ibu-ibu disana tertawa pelan dan aku pun juga ikut tertawa. “Nah, yang sudah mendapat tiket harap segera pulang” kata ummahat yang lain menimpali. Kemudian ummu Khadijah pamit pulang bersalaman dengan semua orang diruangan itu termasuk aku. Ia pulang duluan. Tak lama berangsur-angsur semua orang pergi meninggalkan rumah mbak Airin, dengan diriku didalamnya. Aku berjalan keluar bersama Aul menuju ke pelataran masjid karena Aul ingin mengambil motornya dan aku yang ingin ke mobil untuk kemudian pulang kerumah. Tak lama menunggu, bang Hen keluar dari gerbang ikhwan kemudian mempercepat langkah kakinya menuju mobil karena mungkin sudah ada feeling bahwa aku sudah menunggu. Kami pulang kerumah. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD