Pertemuan

1029 Words
Sesaat setelah telepon mereka berakhir. Adele mengshare lokasi di mana mereka harus bertemu. Dika langsung menyambar handuk yang tersampir di kursi. Sepuluh menit kemudian ia sudah rapi, lalu pergi berkendara roda dua, melesat membelah angin kota Bandung. Mereka bertemu di sebuah kafe di daerah Dago atas, cuaca Bandung sore itu begitu syahdu. Adele terlihat cantik dengan balutan dress bermotif bunga. Perutnya belum kelihatan seperti orang yang tengah berbadan dua. Wajahnya disapu make-up tipis dan terkesan natural. Hati Dika diburu debar yang aneh lagi. Sejak pengakuan Adele tadi di telepon, citra Adele yang angkuh dan slengean sedikit berubah. Apa? Dia mencintainya? Yang benar saja? Ledek Dika dalam hati. Meski, debur di hatinya tidak mau juga pergi. Ia mengingat kembali perlakuan Adele padanya, tak ada sedikit pun gelagat Adele mencintainya. Perlakukan Adele padanya malah membuat Dika sedikit membencinya, toh selama ini Dika merasa Adele tak lebih menganggapnya hanya seorang pelayan, itu bisa Dika rasakan dari bagaimana cara Adele memperlakukannya. Adele lagi-lagi tengah menatap Dika di saat laki-laki itu tengah sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya. Dika selalu tampan di mata Adele. Apalagi kali ini ia mengenakan kemeja putih dengan setelan jeans belel. Sikapnya yang apa adanya telah membuat Adele mabuk kepayang. Tiba-tiba Adele teringat seseorang yang sekarang begitu dibencinya. Seseorang yang telah merenggut kehormatannya. "Maafkan aku!" Kali ini Adele terdengar sungguh-sungguh dan tulus. Dika balas menatapnya. Jika dia mencintaiku, kenapa dia menyerahkan dirinya untuk orang lain? Ah, Dika kembali tak percaya omongan Adele. Gombal, bisik hati Dika berusaha mengusir perasaan aneh yang mulai merasuki hati dan pikiran. "Laki-laki itu menjebakku!" Lagi-lagi Adele seolah tahu ke mana arah pikiran Dika. Bahunya mulai berguncang lembut. Adele benar-benar menangis. Tapi, Dika tak terenyuh sedikit pun mungkin akibat rasa waspada yang begitu tinggi. Baginya type Adele sering manipulatif. Tak ada yang sungguh-sungguh terjadi semua bisa jadi drama. "Malam itu, aku ke diskotek dengan teman-teman gengku waktu di SMA. Sepulang dari sana. Tiba-tiba aku tersadar sudah di kamar kosan laki-laki itu. Ada yang memasukkan sesuatu ke dalam minumanku. Aku tak pernah semabuk itu dan lupa diri!" Kali ini Dika melihat Adele tertunduk dan menangis. Baru kali ini Dika melihatnya seperti perempuan yang lemah. Tapi, tetap Dika merasa Adele tengah bersandiwara. Sementara Adele merasa kepiluan tengah menyergapnya, laki-laki yang menghamilinya adalah laki-laki yang dikenalkan tiara, temannya waktu SMA. Awalnya dia tak mengenal laki-laki itu sama sekali. "Lalu kenapa kamu tak minta pertanggung jawaban dari laki-laki itu, atau kalau kamu mau, bisa kan kamu laporkan dia ke polisi?" tanya Dika heran. Adele menatapnya lagi penuh luka. Anak-anak rambutnya dipermainkan angin. Dika terus menatap Adele seperti mata elang yang tengah mengawasi mangsanya. Tubuhnya bersandar pada tiang kanopi yang dihiasi bunga rambat berwarna senada dengan gaunnya. Dika yang terus memperhatikan Adele sejak tadi. Kali ini, tak bisa membantah penglihatannya, Adele terlihat begitu manis. "Kamu tahu kan ayahku siapa? Itu akan menjadi skandal yang memalukan. Aku akan menjatuhkan reputasi Ayah. Aku tidak mau itu terjadi ... yang terpenting karena aku hanya mencintaimu, Dik ...!" Lagi-lagi jawaban Adele tak masuk akal. Dika terperangah lalu tersenyum kecut. "Ah, aku tidak percaya. Karena kamu sudah menawarkan pernikahan sebagai sebuah bisnis. Maka aku akan menerimanya sebagai sebuah bisnis pula." Dika memotong perkataan Adele. Takut pesona Adele menyeretnya lebih jauh lagi. Giliran Adele yang kini seolah terkejut. "Kamu mau menikahiku?" tanya Adele dengan gembira, dia menghiraukan nada yang terasa ganjil didengar. Sebuah bisnis? Adele tak peduli, yang terpenting Dika mau menerima permintaannya. "Eits, tentu dengan perjanjian dan tawaran yang sempat kamu katakan di telepon." Dika mencoba mengingatkan, Adele terlihat begitu sumringah. Dia tak peduli dengan semua yang diingatkan Dika. Sejak kecil dia sudah bergelimang harta kalau seandainya harus kehilangan sebagian kecil dari miliknya demi Dika, bukan sebuah masalah besar. "Hanya sampai anak itu lahir, dua bulan setelahnya, kita harus bercerai,” kata Dika lagi mengingatkan. "Ok, ok. Kita buat perjanjian pra nikah. Nanti, pengacara aku yang akan mengurus semua itu." Lagi-lagi Adele tampak begitu tenang dan bahagia menerima keputusan Dika. Dia seolah memang tidak peduli pada laki-laki yang telah menghamilinya. Hatinya diserbu rasa bahagia, bagaimanapun Adele memang mencintai Dika semenjak pandangan pertama. Dia sering memperlakukan Dika dengan semena-mena, sekadar mencari perhatiannya. Dia iseng saja, ingin dilayani Dika terus. Biar jika dia berada di kafe itu, seenggaknya seluruh perhatian tercurah hanya untuknya. Bukan saja paras tampan dan tubuh tegapnya yang menarik perhatian Adele, Dika di mata Adele adalah laki-laki yang lembut dan santun. Sementara Dika, sudah tak peduli lagi pada perasaannya. Semula ia merasa terhina. Tapi, setelah dipikir-pikir, ia akan butuh banyak uang untuk menyelesaikan skripsi dan persiapan wisuda, terutama ia teringat mamahnya. Mamah banyak berhutang pada awal-awal Dika masuk kuliah. Toh, kesempatan terkadang tak datang dua kali. Apa pun akan Dika lakukan untuk mendapatkan uang demi pendidikan dan membayar hutang Mamah. Dilihatnya wajah Adele yang tiba-tiba ceria. Seketika, terlintas wajah mamahnya. Dia pasti akan kecewa sekali. Mamah yang sering mengingatkan Dika tentang norma agama dan nilai kebaikan hidup. Dika bukan tak peduli pada perasaan Mamah. Ia hanya menganggap pernikahannya dengan Adele adalah sebuah bisnis yang menggiurkan. Ia percaya meski mamahnya akan kecewa. Namun, pada akhirnya kalau dijelaskan Mamah akan mengerti juga. Semua tak lepas dari uang. “Terima kasih, Dika, untuk kesediaan kamu menerimaku. Saat nanti kalau ketemu ayahku. Untuk meredam kemarahannya lebih baik kamu diam. Sisanya biar aku yang menyelesaikan. Semarah-marahnya dia padaku. Ada hal yang paling dia takutkan yaitu kehilangan aku.” Dika terdiam, sebenarnya sedang mencerna perkataan Adele. Harusnya Adele bisa bersyukur terlahir dari keluarga yang kaya, berkah yang tidak bisa didapatkan semua orang. Seperti dirinya, untuk sekolah saja Dika harus banting tulang mendapatkan uang. “Tentu, kalau aku jadi ayahmu aku akan menghukummu. Tak peduli sejauh apa aku mencintaimu. Kesalahan yang kamu buat bagiku fatal meski aku mencintaimu, menghukummu adalah caraku menyadarkanmu bahwa hidupmu terlalu berharga untuk kamu sia-siakan.” Dika berkata ketus membalas perkataan Adele tentang ayahnya. Adele terdiam, Dika menangkap ada rasa sesal ketika Adele menerima perkataannya. Setelah lama terdiam dan menatap Dika dengan saksama. “Untungnya kamu bukan ayahku,” jawab Adele singkat. Giliran Dika yang terdiam. Bukan gayanya untuk berdebat, apalagi masalah yang didebatkannya pun sebenarnya bukan urusannya. “Jadi kapan pernikahan itu harus dilakukan?” tanya Dika menantang Adele. “Secepatnya, sebelum perutku kian membuncit!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD