Penawaran Pernikahan
"Hey, kamu!" seseorang berkata dengan lantang dan melambai ke arah Dika. Wajah Dika memerah. Lagi-lagi dia, perempuan angkuh dan sok belagu itu, kata Dika dalam hati.
Dika mendengus, kalau saja dia bukan pelanggan yang punya priviledge, tentu Dika tak akan menanggapinya. Cuman, ia teringat pesan bosnya "Pelanggan adalah Raja, layani dengan baik atau dia akan lari dan pergi ke restoran sebelah." Dika menghela napas.
Dihampiri perempuan bernama Adele itu. Kali ini, dia mengenakan terusan warna nude dengan tas branded limited edition. Dika Yakin, gajinya untuk satu tahun tidak akan mampu membeli tas itu.
"Aku perlu waktumu, sebentar saja." Perempuan itu langsung membuka percakapan tanpa menunggu apakah Dika bersedia atau tidak. Kakinya diangkat menyilang di atas kursi yang satunya. Lagaknya sudah kayak pemilik restoran saja. Tempat duduknya, biasa di sudut dekat jendela agak jauh dari pengunjung yang lain. Namun, masih terlihat dari arah meja pelayanan.
"Aku? Maksudmu?" Dika mengernyitkan alis tanda tak mengerti. Dia sudah jengah dengan kelakuan gadis itu. Entah kali berapa dia selalu mengganggunya. Tak mau dilayani pelayan yang lain. Maunya Dika dan buatnya itu sesuatu yang menjengkelkan.
"Iya, kamu. Duduk saja. Aku sudah bilang sama bosmu dan membayar waktumu untuk ngobrol sama aku." Lagi-lagi Adele berkata enteng dan membuat Dika tercengang. Bisa-bisanya dia berkata begitu, batin Dika. Andai saja dia tak membutuhkan pekerjaan paruh waktu di kafe itu. Mungkin Dika sudah angkat kaki dari kafe saat itu juga.
Ditariknya lagi napas dalam-dalam, selalu ada hal yang harus dipertahankan bukan? Gumamnya, tiba-tiba wajah lembut Mamah melintas di benaknya.
"Ok, apa maumu Tuan Putri?" ledek Dika seraya duduk tepat di hadapannya. Dilihatnya Adele tengah menatapnya tajam. Dika merasa risi. Wajahnya memang manis sekali dan tentu berkelas. Semua itu tak sedikit pun menarik perhatian Dika.
"Nikahi aku!" kata Adele mengejutkan. Dika nyaris ternganga lalu refleks berdiri dan mundur satu langkah.
"Gila, apa?" tanyanya dengan nada kaget. Dilihatnya wajah Adele begitu tenang. Tak ada angin tak ada hujan, perempuan ini tiba-tiba ingin dinikahinya. Dika mengambil kursi lalu duduk kembali di depan Adele dengan raut masih tak percaya. Didekatkan wajahnya untuk memastikan bahwa Adele bukan sedang bercanda.
"Aku hamil!" jawabnya lagi enteng setengah berbisik. Dika makin ternganga. Lalu kenapa aku harus menikahinya? Kata hati Dika. OMG, dunia sudah tua dan orang-orang yang mengisinya sudah semakin tak tahu arah.
"Lalu kenapa aku yang harus menikahimu?" tanya Dika, meski pelan tapi nada suaranya penuh tekanan.
"Karena aku mau nikahnya sama kamu." Lagi-lagi jawaban Adele tidak memuaskan Dika.
Kali ini Dika beranjak dan meninggalkan Adele sendirian. "Orang gila," desis Dika.
Kafe siang itu tambah ramai. Adele masih duduk di sana dengan tenang. Dikeluarkannya sebatang rokok dan hendak menyulutnya, melihat tingkah Adele membuat Dika kembali ke meja itu dan merebut rokok itu seketika.
"Jika kamu sedang hamil, seenggaknya kamu enggak boleh egois. Perhatikan janin yang ada dalam kandunganmu!" kata Dika begitu emosional, bukannya marah Adele malah tersenyum kecil. Adele berdiri dan menatap lagi Dika dengan tajam.
Jelas tatapannya begitu menggoda dan menantang. Kali ini Dika balas menatap Adele. Ada sesuatu yang membuat Dika sekarang berani.
“Apa pedulimu? Ini bukan anakmu kan? Jadi enggak usah repot-repot mengingatkan aku.” Adele lebih mendekat ke arah Dika. Hati Dika berdebur seperti ombak.
“Kamu boleh berbuat apa saja pada tubuhmu, tetapi jika benar kamu sedang hamil, seenggaknya berikan hak hidup sehat untuk anakmu?” desis Dika geram. Adele tak tampak serius menanggapi perkataan Dika.
"Pikirkan lagi tawaranku. Kamu tahu, aku tidak bakalan menawarkan sesuatu dengan cuma-cuma. Jika kamu tertarik, hubungi aku! Jika kamu tak tertarik, aku tak peduli pada bayi ini. Bisa saja aku menggugurkannya," balas Adele lagi-lagi dengan gaya acuh seraya meninggalkan sejumlah uang dan secarik kertas dalam nampan bill. Harum parfumenya masih tertinggal di meja itu meski punggung Adele sudah lenyap di balik pintu ke luar.
Dika masih tercenung menatap tumpukan tips dan secarik kertas bertuliskan deretan angka, nomor handphone Adele.
Setelah tersadar Dika memburu Adele. Namun, mobil Adele sudah melesat ke arah jalan raya.
Bagaimana kalau dia benar-benar menggugurkan kandungannya?
***
Di ruangan kosnya yang tidak terlalu besar, Dika tampak tengah berbaring sambil melihat langit-langit kamar. Dadanya berdebar tiba-tiba. Dika tengah mengingat kembali percakapannya dengan Adele.
Kertas berisikan nomor perempuan itu masih digenggamnya. Pertanyaan-pertanyaan berkecamuk di benak Dika. Terbayang cara Adele meminta dia untuk menikahinya. Sepertinya pernikahan bagi Adele seolah perkara mudah. Dan kata-kata Adele untuk menggugurkan kandungannya membuat Dika merasa terancam.
Dia hamil oleh orang lain. Tapi, kenapa minta dinikahi olehku? Sialan. Rutuk Dika dalam hati. Hatinya miris.
Adele bukan perempuan sembarangan, dia adalah anak satu-satunya konglomerat asal Bandung. Papanya adalah pemilik perusahaan property nomor satu di Bandung belum bisnis yang lainnya.
Selain pewaris tunggal, Adele pun diberi jabatan cukup mentereng di perusahaan papanya. Info tentang Adele Dika dapatkan dari asisten Andre bosnya sekaligus karibnya. Sekarang yang tak habis pikir, kenapa Adele meminta ia menikahinya. Siapa Dika? Hanya seorang mahasiswa yang bekerja paruh waktu di kafe itu.
Tiba-tiba, handphonenya berdering, membuyarkan semua lamunannya. Muncul nomor tak dikenal di layar, Dika memijit tombol hijau. Hatinya kembali berdebar.
"Hallo!" Suara itu amat dikenalnya. Dari mana perempuan itu mendapat nomor handphonenya?
"Enggak usah heran, aku dapat nomormu dari si Glen pembantu bosmu. Bagaimana sudah kamu pikirkan?" tanyanya tanpa tedeng aling-aling seperti tahu apa yang tengah Dika pikirkan.
"Kamu pikir, hamil di luar nikah terus minta pertanggung jawaban orang lain. Itu perkara enteng?" tanya Dika geram.
"Kenapa, kamu enggak mau? Yakin?" Jawaban Adele makin membuat Dika geram.
"Kalau kamu enggak mau, aku bisa cari yang lain dengan mudah. Masalahnya, aku ingin nikahnya sama kamu. Gimana dong?" lanjut Adele merajuk. Dika makin nelangsa dan melihat langit-langit kamar dengan putus asa.
Dika tahu perempuan macam Adele, tak pernah berpikir jauh, sembrono dan berpikir semuanya bisa diselesaikan dengan uang. Dia melihat masalah hanya sebagai sebuah permainan. Yang Dika takutkan dia jatuh pada laki-laki yang salah.
Ah, peduli apa? Kenapa aku jadi memikirkan nasibnya. Bukankan nasib aku jauh lebih mencemaskan? Bisik hati Dika.
"Kamu tak hanya bisa menikahiku, kamu juga akan mendapatkan sejumlah uang dan property yang kamu mau. Kamu tak usah lagi bekerja dan ngontrak di kosan sempit. Apalagi coba keuntungan yang tak kamu dapat?" Lagi-lagi tawaran Adele begitu merendahkan sekaligus menggodanya. Gigi Dika gemeletuk.
"Oh, cinta?" tanya Adele lagi, mencoba menerka arah pikiran Dika. Wajah Dika sudah memerah sebentar lagi mungkin kemarahannya akan meledak.
"Sebenarnya aku sudah mencintaimu sejak pertama kali mata kita bertatapan. Sungguh!" Suara Adele terdengar bergetar dan seperti sungguh-sungguh. Dika terdiam, dadanya tiba-tiba bergemuruh.
"Kita harus bertemu!" kata Dika memecahkan pesona yang hampir menjeratnya. Tak ada jawaban, telepon ditutup dengan tiba-tiba. Dika termangu, entah apa sebab dia dipilih Adele sebagai tameng untuk menutup aibnya? Ah, Cinta?