“Mas, aku mohon jangan seperti ini.”
Dichi jadi salah tingkah, karena di sana ada banyak orang yang memperhatikan dirinya dan juga Mickael.
“Bangun Mas, jangan seperti ini.”
Dichi sebenarnya bingung harus memanggil Mickael dengan panggilan apa, sebab Dichi juga malas untuk menyebutkan nama Mickael dengan mulutnya.
“Aku akan berdiri kalau kamu berjanji akan mendengarkan penjelasan dari aku,” pinta Mickael.
“Oke aku akan mendengarkan penjelasan dari kamu, tapi sekarang juga aku minta kamu berdiri,” ujar Dichi.
“Kamu harus janji dulu.” Mickael tidak mau kalau sampai Dichi hanya membohonginya saja, jadi dia tidak mau percaya begitu saja.
“Iya aku janji.” Dengan sangat terpaksa Dichi menuruti kemauan Mickael, karena Dichi juga tidak enak hati banyak orang yang memperhatikannya dan Mickael sejak tadi.
“Terima kasih sudah mau mendengarkan penjelasan aku, Dichi.”
Nada suara Mickael begitu lembut, sampai-sampai Dichi langsung traveling ke masa lalu. Saat di mana Mickael dan dia masih saling mencintai dan saling mengisi satu sama lain.
“Aku cuma mendengarkan penjelasan tidak lebih dari itu,” tegas Dichi.
“Iya aku paham,” jawab Mickael dengan pasrah.
“Ya sudah sekarang jelaskan apa yang perlu kamu jelaskan,” kata Dichi.
“Apa tidak sebaiknya kita duduk dulu?” tanya Mickael.
“Tidak perlu, aku tidak punya banyak waktu,” tukas Dichi dingin.
“Baiklah, kalau begitu akan aku jelaskan semuanya sekarang. Tapi sebelumnya siapa gadis kecil ini? Apakah dia anakku? Kenapa wajahnya sangat mirip denganku?”
Mickael tidak langsung menjelaskan semuanya kepada Dichi, sebab fokusnya sekarang justru berpindah kepada gadis kecil yang duduk terdiam di dalam troli. Kenapa Mickael sampai gagal fokus setelah melihat wajah gadis kecil itu, karena wajah Celina memang sangat mirip dengan Mickael. Memang wajahnya adalah perpaduan antara Dichi dan Mickael, tapi wajah Mickael lebih banyak mendominasi. Dari mata, hidung, hingga lesung pipi Mickael juga menurun kepada gadis kecil itu.
“Itu bukan urusan kamu, sekarang jelaskan atau aku akan pergi sekarang. Dari awal sudah aku katakan bukan, kalau aku sibuk, aku ngak punya banyak waktu,” tegas Dichi.
Dichi tidak mau menjawab pertanyaan Mickael, siapa Celina yang sebenarnya cukup Dichi saja yang tahu untuk saat ini. Dichi tidak berniat untuk merahasiakan siapa Celina untuk selamanya, namun untuk saat ini Dichi lebih memilih untuk menyimpannya saja sendiri.
“Oke akan aku jelaskan, sebelumnya aku ingin minta maaf sama kamu. Mungkin kata maaf dari aku memang sudah tidak ada artinya untuk kamu, tapi aku benar-benar minta maaf setulus-tulusnya sama kamu Dichi. Maaf kalau aku terlambat menemukan kamu, tapi demi Tuhan selama ini aku selalu mencari kamu. Aku selalu menyuruh orang-orang kepercayaan aku untuk mencari keberadaan kamu,” kata Mickael.
“Dichi dari awal aku tidak pernah ada niatan untuk meninggalkan kamu, apa lagi mengkhianati pernikahan kita. Aku ngak pernah ada maksud seperti itu sama sekali. Aku sangat mencintai kamu, bahkan sampai detik inipun aku masih sangat mencintai kamu,” tambah Mickael.
“Cinta itu bukan sebuah permainan ya Mas, cinta itu sebuah perasaan yang tidak bisa kamu mainkan dengan begitu mudah. Jangan bicarakan cinta kalau kenyataannya kamu pergi begitu saja tanpa alasan apapun. Kalau kamu hanya ingin menghancurkan hidup aku dengan cara itu, kamu salah besar. Aku masih bisa berdiri tegak dengan kedua kaki aku sampai sekarang,” tegas Dichi.
“Dichi, tolong dengarkan aku dulu, aku belum selesai bicara.”
Lagi-lagi Mickael menahan tangan Dichi agar tidak pergi meninggalkannya lagi.
“Apa lagi yang ingin kamu jelaskan, semuanya sudah sangat jelas Mas. Kamu hanya pura-pura cinta sama aku, kamu menikahi aku hanya karena kamu ingin mencoreng nama baik aku dan keluarga aku,” bentak Dichi dengan mata yang sudah berkaca-kaca karena sangat kecewa dengan laki-laki yang sekarang ada di hadapannya.
“Cukup Dichi, aku sama sekali tidak pernah ada niatan seperti itu. Semua ini karena papa aku, papa yang membuat pernikahan kita hancur seperti ini.”
Kali ini nada bicara Mickael lebih tegas, bahkan intonasinya juga lebih tinggi dari sebelumnya.
“Apa maksud kamu, jangan pernah melimpahkan kesalahan kamu sendiri kepada orang lain ya,” tukas Dichi.
“Aku tidak melimpahkan kesalahan kepada orang lain, karena aku mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Seperti yang kamu tahu, waktu kita menikah dulu orang tuaku tidak mengetahui hal itu sama sekali.”
Dichi terdiam sejenak, dia mengingat lagi peristiwa bahagia dalam hidupnya yang sudah hampir tiga tahun lamanya.
“Maksud kamu?” tanya Dichi lirih.
“Iya, papa yang merencanakan ini semua. Papa berusaha memisahkan aku dengan kamu. Di hari disaat aku tidak kembali lagi ke rumah, itu karena ulah papa. Papa denga teganya menyuruh anak buahnya untuk menculik aku, dia membawa aku ke Brazil dan membuat aku terkurung lama di sana. Papa mengancam aku, dia mengancam akan mencelakakan kamu dan keluarga kamu kalau aku tidak menuruti semua ucapannya. Dan jika kamu bertanya kenapa aku tidak kabur saja waktu itu? Kamu bahkan tahu sendiri seperti apa papaku, dia sangat arogan dan tidak pernah main-main dengan ucapannya sendiri. Papa memboikot aku dari semua negara termasuk Indonesia, bahkan aku tidak bisa terbang menggunakan pesawat karena semua bandara dilarang menerima aku atas perintah dari papa. Bahkan saat aku pergi, ada puluhan pengawal yang mendampingi aku agar aku tidak kabur dari pengawasan papa,” jelas Mickael panjang lebar.
Dada Dichi bergrmuruh hebat, sampai rasanya Dichi butuh oksigen yang cukup banyak agar dirinya bisa bernafas dengan lega saat ini. Bukan hanya Dichi yang merasakan sesak di dadanya, Mickael juga merasakan hal yang sama. Dadanya sesak, matanya panas karena menahan air mata yang sudah mengenang di pelupuk matanya.
“Kalau kamu berfikir aku tidak pernah mencari kamu selama ini, kamu salah besar Dichi. Aku selalu mencari kamu sebisa mungkin, aku selalu berusaha melakukannya. Tapi apalah dayaku, usahaku selalu digagalkan oleh papa begitu saja. Bahkan orang-orang yang aku percaya bisa dengan mudah papa stir agar lebih patuh kepada papa dari pada kepada aku. Selama dua tahun aku tidak bisa berkutik, bahkan ponsel aku saja selalu disadap oleh papa. Hidup aku tersiksa, rasanya seperti dipenjara, papa berhenti memperlakukan aku seperti itu setelah Velia meninggal dunia. Semenjak itulah aku bisa mencari tahu tentang kamu, mencari kamu dan kembali ke negara ini,” jelas Mickael lagi.
“Velia? Siapa Velia?”
Dari panjang dan lebarnya penjelasan Mickael, rupanya hanya nama Velia yang berhasil menarik perhatian Dichi. Bahkan Dichi sampai menyakan siapa Velia karena begitu penasarannya dengan pemilik nama Velia itu sendiri.