Tentang Velia

1028 Words
Sebenarnya Mickael belum berniat untuk membahas tentang Velia kepada Dichi. Namun karena dirinya sudah terlanjur menyebutkan nama Velia, terlebih lagi Dichi sudah menanyakannya. Jadi sekarang mau tidak mau, suka tidak suka Mickael harus menjelaskannya kepada Dichi. “Dichi, aku akan menjelaskan semuanya sama kamu, tapi aku mohon kamu dengarkan dulu semua penjelasan aku. Aku ingin meluruskan semua ini, aku tidak ingin ada salah paham lagi diantara kita,” pinta Mickael kepada Dichi. “Kesalah pahaman adalah hal yang paling tidak aku suka di dunia ini. Karena kata salah paham hanyalah bentuk dari sebuah pembelaan untuk orang yang salah. Dan kata salah paham itu hanya menyudutkan korban, dan di sini adalah aku. Saat kamu mengatakan kalau ini adalah sebuah salah paham, maka disitulah kamu secara tidak langsung menganggap aku terlalu bodoh. Aku terlalu bodoh untuk memahami apa yang terjadi, terlalu bodoh untuk bisa mengerti kamu. Itulah arti dari kata salah paham yang sesungguhnya di sini, sebab kesalahan itu memang nyata adanya. Aku yang menjadi korban, aku yang dirugikan, dan sekarang aku pula yang salah paham.” Buntut dari semua percakapan antara Dichi dan Mickael adalah kekecewaan. Dichi harus menanggung kecewa yang berlipat-lipat karena ucapan Mickael yang tanpa sengaja melukai hatinya untuk yang kedua kalinya. “Bukan seperti itu maksud aku Dichi, aku hanya ingin kamu tahu kalau sampai detik ini aku masih mencintai kamu. Tidak ada satu orang pun yang bisa menggantikan posisi kamu di hati aku, bahkan Velia sekalipun,” tegas Mickael. “Maaf Mas, tapi aku harus pulang sekarang. Aku ada banyak urusan.” Kali ini Dichi benar-benar sudah tidak sanggup menahan air matanya lagi. Cairan bening itu sketika tumpah dari pelupuk matanya dan membasahi kedua pipinya. Karena Dichi tidak mau kalau sampai Mickael melihat dirinya menangis, makanya Dichi bergegas untuk pergi dari pandangan Mickael. “Dichi, tolong beri aku waktu sebentar lagi. Biarkan aku menjawab pertanyaan kamu, siapa itu Velia. Biarkan aku menjelaskan semuanya terlebih dahulu kepada kamu Dichi.” Untuk yang ketiga kalinya Mickael menahan kepergian Dichi lagi. Dan Dichi hanya bisa pasrah begitu saja saat Mickael mencoba untuk menahan kepergiannya. Bukan karena Dichi masih ingin berlama-lama bersamanya, namun karena Dichi memang sangat rapuh sampai dia kembali ingin mengetahui alasan apa yang membuat Mickael pergi waktu dulu. “Velia itu mantan istri aku, tapi aku sama sekali tidak mencintai dia Dichi. Aku bersumpah demi apapun itu, hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai sampai detik ini,” ujar Mickael. “Seperti yang kamu tahu Dichi, aku menikahi Velia atas kemauan papa aku. Karena papa pernah berhutang budi kepada Robert ayahnya Velia, dan dia memanfaatkan itu agar papa memaksa aku agar mau menikahi Velia. Tapi papa dan Om Robert tidak pernah memberitahu aku kalau ternyata Velia mengidap kanker stadium empat. Dan itu pula yang membuat Om Robert memaksa papa agar mau menjodohkan aku dengan Velia. Dan karena ulah mereka berdua, sekarang aku kehilangan semuanya. Kehilangan kamu, kehilangan anak kita, dan sekarang aku juga kehilangan Velia,” jelas Mickael panjang lebar. “Maksud kamu? Kehilangan Velia?” Lagi-lagi dari panjangnya penjelasan yang diberikan oleh Mickael, hanya nama Velia yang selalu menarik perhatian Dichi sampai membuatnya penasaran. “Iya, Velia meninggal dunia karena kanker yang diidapnya,” jawab Mickael. Dichi hanya terdiam, entah harus apa antara terharu, sedih, marah, kecewa, bingung, perasaan itu semua datang secara bersamaan saat ini. “Dichi, mungkin sangat berat bagi kamu untuk menerima semua kenyataan ini. Tapi aku benar-benar minta maaf, aku ingin menebus semua kesalahan aku kepada kamu selama ini. Semuanya Dichi, tanpa terkecuali.” Dichi bisa melihat ketulusan dari sorot mata Mickael, tapi bukan berarti Dichi akan langsung menerima Mickael begitu saja. Bagaimanapun dalamnya luka yang pernah Mickael goreskan di hati Dichi semasa dulu, masih membekas sampai sekarang. “Meskipun selama ini aku jauh dari kamu, tapi aku tidak pernah melupakan kamu. Aku tidak akan pernah bisa melepaskan kamu Dichi, apa lagi mencintai orang selain kamu. Mungkin aku memang menikahi wanita lain setelah kamu, tapi aku tidak bisa mencintai dia atau siapapun wanita setelah kamu nantinya.” Lagi-lagi Dichi hanya terdiam, tidak tahu apa yang harus ia katakan untuk menjawab ucapan Mickael. “Maaf Mas, tapi aku benar-benar harus pulang sekarang. Aku sudah memang sudah memaafkan kamu, tapi bukan berarti aku akan menerima kamu kembali. Menyembuhkan luka di hati dan mental tidak semudah menyembuhkan goresan luka sayatan pisau. Tapi keduanya tetap sama, meskipun kelak lukanya akan sembuh, tapi bekas lukanya akan tetap ada. Permisi Mas.” Kali ini Mickael tidak mengejar Dichi, dia membiarkan wanita itu pergi begitu saja. Tidak ada alasan lagi bagi Mickael untuk menahan Dichi lebih lama di sana. Sebab Mickael sudah menjelaskan dan mengatakan semuanya kepada Dichi. Dan sekarang tugas Mickael hanya berusaha dan berdoa, agar Tuhan mau membukakan pintu hati Dichi agar mau menerima dirinya kembali. “Andai kamu tahu Mas, aku menunggu kehadiran kamu setiap hari. Disaat aku hamil besar, aku berharap kamu datang membelai perut buncitku dengan hangat. Namun apa yang kamu lakukan Mas, kamu justru menikah dengan wanita lain di saat aku benar-benar membutuhkan kehadiran kamu di samping aku. Dan sekarang setelah aku sudah bisa merelakan kepergian kamu, dengan mudahnya kamu datang dan mengatakan ingin kembali kepadaku. Rasanya itu sangat berat untuk aku Mas, teramat berat. Meskipun pada kenyataannya aku memang tidak bisa mencintai laki-laki setelah kamu.” Air mata Dichi terus menetes sepanjang perjalanan menuju apartemennya. Kata-kata yang harusnya tadi ia katakan di depan Mickael, tapi sekarang justru ia ucapkan sepanjang jalan dengan berurai air mata. Sebab saat berhadapan dengan Mickael tadi, kata-kata itu hilang begitu saja, kabur dan buyar. Lidah Dichi juga terasa keluh, bibirnya terasa membeku tidak mau diajak kerja sama dengan otaknya sendiri. Tapi terlepas dari itu semua, Dichi sangat bersyukur kepada Tuhan. Karena putri kecilnya Celina tertidur pulas sejak pertama Mickael mengajaknya berbicara sampai sekarang dalam perjalanan pulang pun Celina belum membuka matanya. “Maafkan Mommy ya Sayang, Mommy belum bisa memaafkan daddy kamu. Tapi Mommy janji sama kamu, kalau Mommy akan selalu berusaha yang terbaik untuk kamu agar kamu selalu bahagia bersama Mommy. Dan terima juga sudah hadir dalam hidupm Mommy, i love you.” Dichi menyeka air matanya, dia berusaha mengulas senyuman di wajahnya ketika berbicara dengan putri kecilnya yang kini masih terlelap di dalam trolinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD