Something

1210 Words
Devan tidak mengetahui kalau Megan sudah selingkuh, akan tetapi kebebasan Megan membuat Devan curiga kalau Megan memiliki kekasih di luar sana, sehingga saat memergoki sang istri bersama dengan pria lain tidak membuat ia terkejut, malah merasa berterima kasih karena ia sudah menunjukkan betapa tidak pantasnya Megan menjadi istri seorang Devan Alvaro. Dia bergerak cepat, keesokan harinya Devan menyiapkan pengacara untuk mengurus berkas perceraian agar tidak berjalan lambat. Sakit? jelas. rumah tangga yang ia jalani selama bertahun-tahun, coba mempertahankan walaupun dengan sangat terpaksa, karena kehadiran Sofia, hingga akhirnya perselingkuhan sang istri yang terjadi di depan mata, pasti meninggalkan luka di hati Devan, walaupun hanya sedikit. Dia yang mengalami kesulitan untuk tidur, memilih keluar, menemui Vania yang terlihat dari lantai atas sedang bermain handphone, berpikir kalau bicara dengan gadis itu, atau mungkin akan sangat senang, karena akhir-akhir ini dia banyak memikirkan gadis itu. "Apa om begitu mengerikan?" tiba-tiba suara Devan mengejutkan Vania yang saat ini sedang duduk di kursi meja makan sambil memainkan handphone nya. Gadis itu meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menoleh ke belakang. "Om Dev? belum tidur?" tanya Vania. "Belum, om tidak bisa tidur," saut Devan seraya mendudukkan diri di samping Vania, lalu menuangkan air ke dalam gelasnya. "Kenapa tidak bisa tidur?" tanya Vania lagi. "Karna belum mengantuk," jawab devan. "Kenapa belum mengantuk?" "Karna om sedang memikirkan seseorang." Devan menenggak satu gelas air putih, lalu meletakkan kembali gelas kosong itu di atas meja, tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Vania. "Aku mengerti, kejadian tadi pasti sangat mengganggu pikiran, Om," ucap Vania juga menatap Devan dari samping. Devan pun tersenyum, tetapi senyum Devan membuat gadis itu terheran. "Ko malah senyum?" "Apa menurutmu kejadian tadi sangat menyakitkan?" tanya Devan dengan raut wajah biasa saja. Vania tidak menyangka pria itu akan sesantai ini bicara dengannya, berbeda saat ia diusir dari ruangan olah raga tadi. "Apa aku harus mengatakan kalau Om bahagia? bohong kan?" Devan mengangguk. "Kali ini kamu benar." "Maksudnya?" kening gadis itu mengerut tidak mengerti. "Om sedih, sakit hati karena Megan sudah mengkhianati pernikahan kami, tetapi di balik itu semua, om merasa lega karena Tuhan sudah menunjukan kepada om siapa dia sebenarnya," ungkap Devan dengan senyum. Dia bahkan bisa tersenyum, apa ia benar merasa baik-baik saja, atau jangan-jangan saking menyakitkannya, jiwa Devan terganggu? pikir gadis itu. Namun, sedetik kemudian gadis itu kembali berpikir dengan ilmu Fisiognomi yang pernah ia pelajari, kalau dilihat dari raut wajahnya, dia merasa kalau Devan benar baik-baik saja. Luar biasa bukan? dan sepertinya satu pertanyaan lagi tidak akan apa-apa, sehingga Vania pun kembali bertanya. "Lalu, langkah apa yang akan Om lakukan untuk selanjutnya?" "Om akan menceraikan Megan." "Apa?" kejut Vania. "Secepat itu Om mengambil keputusan? apa tidak bisa diperbaiki lagi?" Devan menggelengkan kepalanya, lalu kembali menenggak minuman yang sudah ia tuangkan lagi sebelumnya. "Pikirkan baik-baik, bagaimana dengan Sofia, Om?" tanya gadis itu yang sangat mengkhawatirkan keadaan Sofia. Pasalnya sebagian besar percerain yang terjadi pada setiap orang tua, anak lah yang sangat merasakan dampaknya. "Sofia akan baik-baik saja. Toh, selama ini Megan tidak pernah benar-benar menyayangi putrinya, dia bahkan menganggap kehadiaran Sofia adalah neraka bagi dirinya." "Om ko bisa bicara seperti itu?" "Itu kenyataannya, Nia. Sejak awal dia tidak ingin memiliki anak, bahkan dulu dia sempat ingin menggugurkan kandungannya saat ia merasa ada perubahan pada tubuhnya." "Sampai seperti itu?" Vania terus bertanya penasaran. Lagi-lagi Devan mengangguk iya. "Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanya langsung kepada ayahmu," ujar Devan. "Ayah sama bunda tau?" "Ayahmu teman baik om. Dia tau semuanya." Vania terdiam. "Om lelah, Nia. Om lelah terus mengemis cinta kepada Megan, tetapi dia tetap dengan sikapnya bahkan sampai saat ini. Kamu juga liat sendiri kan apa yang tadi mereka lakuin? apa menurutmu om harus membujuk Megan untuk kembali?" "Tapi sofia membutuhkan ibunya." "Tidak. Karena sekarang sudah ada kamu. Om dengan Sofia tidak lagi membutuhkan Megan, karena kami hanya membutuhkan kamu." "Maksud, Om?" kening gadis itu kembali mengerut. Devan tersenyum, sambil mengusap rambut panjang gadis itu sangat lembut. "Lupakan." "Apa yang harus aku lupakan?" "Perkataan om barusan." "Kenapa harus dilupakan?" desak Vania. "Belum saatnya om bicara apa yang sedang om rasakan saat ini." "Memang apa yang sedang om rasakan sekarang?" "Vania, tolong jangan mendesak!" pinta devan yang masih merasa bingung dengan perasaannya sendiri. "Bisa Om tarik kembali perkataan yang sudah terlanjur diucapkan?" "Bagaimana bisa om menarik kembali perkataan yang sudah diucapkan?" "Begitupun dengan aku. Aku tidak bisa melupakan kata yang sudah kudengar." Vania bangkit dari duduknya hendak pergi, tetapi langkahnya terhenti saat Devan meraih tangannya. "Om merasakan sesuatu, om tidak tau ini apa, om harus memastikannya, setelah semuanya sudah pasti, om pasti mengatakannya semuanya." "Jangan bicara seperti itu, Om. Om hanya membuat aku bingung." "Jangan terlalu dipikirkan, isirahatlah, besok om antar kamu kuliah." Semua perkataan Devan membuat Vania tidak bisa berhenti berpikir, bahkan ilmu Fisiognomi yang ia pelajari tidak sanggup memecahkan kebingungan yang tengah dihadapi oleh Devan, juga dirinya yang merasa aneh sendiri setiap kali mendapat perlakuan manis dari seorang Devan. Pagi hari, sejak perbincangan semalam, gadis itu juga Devan mendadak menjadi pendiam, bahkan sepanjang perjalanan menuju kampus, tidak ada satupun diantara mereka membuka suara apa lagi membahas kembali kebingungan yang tengah mereka hadapi saat ini. Tidak, jangan coba-coba memulainya, kalau tidak ingin suasana di sana menjadi semakin dingin, membeku seperti berada di kutub utara. Devan bersusah payah memfokuskan pikirannya hanya untuk meeting penting yang akan diadakan pagi ini bersama rekan bisnisnya. Sedangkan Vania, entah apa yang harus ia lakukan selain menatap keluar jendela, berusaha menetralkan degupan jantungnya yang terus berdetak sangat cepat, membuat wajah cantik natural itu terlihat pucat, apa lagi saat Vania membuka kaca mobil, angin dingin berhembus masuk ke dalam, membuat bibir gadis itu bergetar kedinginana. Tingkah Vania membuat Devan tidak bisa terus diam karena udara yang masuk membuat dirinya ikut kedinginan, sehingga dengan sangat terpaksa Devan menekan tombol otomatis, kaca mobil pun perlahan menutup naik ke atas. "Om, kenapa ditutup?" protes Vania. Hanya itu satu-satunya cara agar ia tidak terlihat gugup di depan Devan. "Dingin, Vania," ujar Devan terus fokus ke depan, mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. "Tapi aku tidak," bantah gadis itu. "Bohong." "Tidak, Om." "Bibir kamu biru, Vania," ucapnya melirik sekilas, gadis itu langsung menggigit bibir bawahnya kelu. "Kenapa?" tanya Devan aneh. "Om memperhatikan bibirku?" "Maksud kamu?" "Kenapa Om memperhatikan bibirku?" "Om tidak memperhatikannya, tapi itu terlihat jelas." Devan mengarahkan spion kecil yang menggantung ke arah gadis itu, agar ia bisa melihat warna bibirnya saat ini. "Biru kan?" ejek Devan. gadis itu mengangguk malu terus menggigit bibir bawahnya. "Jangan lakukan itu," batinnya menggerutu, membuat fokusnya terganggu, sehingga ia hampir saja menerobos lampu merah, karena sempat terpesona oleh kecantikan gadis yang saat ini duduk di sebelahnya. Tiiin...! Beberapa mobil yang ada di belakang juga depannya membunyikan klakson panjang sebagai peringatan. Devan menginjak pedal rem kuat-kuat, sehingga mereka berdua berhasil selamat dari maut yang hampir saja akan merenggut nyawanya. "Kamu nggak apa-apa?" tanya Devan khawatir. "Nggak, Om. Aku nggak apa-apa." "Syukurlah." "Hati-hati dong, Om. Kita hampir celaka loh." "Iya, om minta maaf." Lampu merah itu berubah hijau, Devan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kampus. Tiba di sana, Vania keluar dari mobil, langsung disambut oleh ketiga teman-temannya yang baru datang. Devan hanya memperhatikan mereka dari dalam mobil sambil tersenyum. Namun, saat ada seorang pria datang menghampiri Vania, seketika senyum Devan memudar, bersama pertanyaan yang ingin sekali ia tanyakan langsung kepada Vania. "Siapa dia?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD