"Tolong siapkan uang dua juta dolar, lalu kirim ke rekening putri saya," perintah Burhan kepada sekertarisnya dalam sambungan telepon.
Anna sang istri yang kebetulan ada di sana terkejut mendengar nominal yang baru saja suaminya sebutkan. Ia menghampiri sang suami sambil membawa secangkir kopi, melatakkannya di atas meja lalu bertanya. "Barusan bunda dengar Ayah akan mentransfer uang sebanyak dua juta dolar untuk putri kita, iya?"
"Hhmm..." Burhan mengangguk tanpa berkata, sambil menyantap sarapan yang sudah disiapkan oleh istri tercinta.
"Untuk apa?" tanya Anna.
"Putri kita mau membeli sesuatu," ujar Burhan terus mengunyah.
"Enak banget, Bun. Masakannya," sambung Burhan memuji sebelum menghadapi pertanyaan bernada ancaman berikutnya. Dia lupa kalau saat bicara dengan sekertarisnya, di sana juga ada sang istri yang tidak pernah setuju kalau Vania tinggal sendiri di apartemen, apa lagi setelah dua kejadian yang hampir saja merusak masa depan putri mereka.
"Kalau sampai tau, habis aku," menggerutu dalam hati.
"Ayah denger nggak sih?" Anna mendengus saat pertanyanya malah dialihkan pada hal yang tidak penting.
"Dengar, Bunda."
"Kalau begitu jawab dong," selaknya lagi.
"Ayah lagi makan."
"Kalau begitu stop dulu makannya!" ucap Anna seraya menahan sendok yang hampir masuk ke dalam mulut Burhan yang sudah terbuka lebar.
"Bunda tega banget sih?" cetus Burhan
"Jawab dulu, buat apa uang dua juta dolar?"
"Untuk beli baju, Bunda," jawab Burhan berbohong, bahkan tidak masuk akal.
"Baju? dua juta dolar? Ayah sakit?"
"Jahat banget Bunda ngatain ayah sakit."
"Gimana nggak sakit, dua juta dolar untuk beli baju?"
Burhan bergeming, memasang wajah memelas, tetapi hal itu tidak membuat Anna luluh, dia terus bertanya seperti wartawan seakan tiada habisnya.
"Putri kita mau beli baju, atau mau beli saham?" lanjutnya lagi dengan intonasi marah.
Burhan tertawa terbahak. "Mana ada saham seharga itu, Bunda Sayang."
Ia meraih tangan sang istri, lalu menuntun untuk duduk di atas pangkuannya.
"Nggak usah mengalihkan pembicaraan, jawab pertanyaan bunda, buat apa uang dua juta dolar Ayah kasih untuk putri kita?"
"Oke ayah menyerah. Uang itu untuk..."
Di tempat lain, Devan yang masih sibuk dengan pekerjaannya, meminta Bastian untuk menjemput Vania yang saat ini sedang berada di kediaman Ajeng, dan menerima tugas itu dengan senang hati, tanpa menunggu lama, ia pun segera melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah.
Sambil berjalan menuju unit tempat tinggal Ajeng, dari kejauhan ia melihat Vania keluar dari sana ditemani seorang pria sambil tertawa girang, dan mereka terlihat sangat akrab.
"Vania." Bastin memanggilnya dari kejauhan, berjalan cepat menghampiri dirinya.
"Om Bastian? Om ko ada di sini?" tanya Vania terheran.
"Devan nyuruh om jemput kamu," jawabnya.
"Memangnya om Dev ke mana?"
"Sibuk dia, kerjaannya nggak kelar-kelar, soalnya tadi sempet keganggu sama si nenek lampir sih," ungkap Bastian masih berdiri di depan unit milik Ajeng bersama pria itu yang masih berdiri di samping Vania. Bastian yang penasaran pun bertanya.
"Siapa?"
"Teman kampusku, Om. Kenalin."
"Hei. Bastian."
"Erlangga."
Mereka saling berjabat tangan singkat, lalu Bastian pun segera mengajak Vania pergi.
"Duluan ya, Kak."
"Wih, Kakak? ini kalau Devan tau bakal seru nih, sekalian ah manasin tuh orang," batin Bastian berguman jahil.
"Iya, nanti aku hubungin lagi," saut Erlangga dengan senyum penuh arti.
"Fix. Gue mesti bilang sama Devan." terus ia bicara dalam diam.
"Kita ke kantor Devan ya," ajak Bastian saat mereka masih dalam perjalan pulang.
"Mau ngapain?" tanya Vania, tidak biasanya.
"Ntahlah, Devan yang minta."
DA BROMFORD.
Salah satu gedung pencakar langit yang memiliki tinggi lebih dari 250 meter, dengan lebih dari 60 lantai itu terlihat sangat megah dipandang dari sisi manapun.
Gadis itu tidak menyangka kalau Devan adalah pemilik perusahaan itu, bahkan memiliki beberapa cabang yang tersebar luas dan bukan hanya berada di kota London saja, hal yang mustahil kalau selingkuhnya Megan karena kebutuhan yang tidak terpenuhi.
Devan akan membelikan segalanya apa pun yang istrinya inginkan, tetapi saat Devan menginginkan seorang anak dari pernikahannya, Megan malah menolak keras, bahkan sampi berselingkuh karena merasa kebebasannya telah direnggut oleh putrinya.
Bodoh. Satu kata yang pantas diberikan kepada Megan. Hanya demi kebebasan dai sudah menghancurkan semuanya, dan Devan benar, apa wanita seperti itu pantas untuk dipertahankan? apa lagi mengmis cinta darinya? sama sekali tidak, dan pria itu berhak mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya dari wanita lain.
Tiba di lantai empat puluh, letak ruang kerja pemilik perusahaan DA BROMFORD yang memiliki nama lengkap Devan Alvaro.
Vania masuk ke dalam setelah Bastian membukakan pintu ruangan tanpa mengetuk, terlihat Devan sedang sibuk dengan berkas-berkas yang ada di atas meja kerjanya, sehingga ia tidak tahu kalau Vania ada di sana.
"Serius banget, Om."
Tidak ada yang memanggil Devan dengan panggilan om selain Vania, ia langsung menghentikan aktivitasnya, melihat ke depan.
"Loh, ko ada di sini?" Devan terkejut dengan kehadiran gadis itu di sana.
"Bukannya Om yang minta aku datang?" tanya Vania, karena Bastian yang mengatakan itu sebelumnya.
"Aku? masa sih? kapan?" tanya Devan kebingungan, pasalnya dia tidak merasa memintanya.
"Kata Om Bastian..."
Belum selesai bicara, Vania menoleh ke arah Bastian, dengan menyipitkan matanya. "Om, bohongin aku?" gadis itu mendengus.
"Nggak ko, gue cuma berinisiatif aja ngajak loe ke sini, dari pada di rumah terus kan sumpek."
"Ngaco. Dia kan habis dari rumah temen-temennya barusan. Harusnya sekarang dia istirahat di rumah."
Devan berjalan menghampiri Vania, lalu menuntunnya untuk duduk di sofa.
"Nggak apa-apa, Om. Aku seneng malah diajak ke sini, Om Dev kan belum pernah ngajakin aku," tutur Vania, seraya meletakkan tas kecilnya di atas meja, lalu Devan menuangkan air ke dalam gelas, menyerahkan segelas air minum untuk gadis itu.
"Lagian gue ngajak dia ke sini biar loe ada temennya, biar nggak pusing," ujar Bastian.
"Alasan loe ah. Udah sono balik lagi kerja."
"Om Dev galak banget sih," sela Vania.
"Dia itu aslinya emang galak. Beda sama temen cowok loe yang tadi."
"Temen cowok?" Devan meresponnya cepat.
Kena. Itu tujuan Bastian mengajak Vania ke kantor, untuk menguji sesuatu yang sedang ia curigai, dan respon sahabatnya itu sangat cepat saat mendengar ada pria lain yang sedang dekat dengan gadis itu.
"Cemburu pasti, suka kan loe sama tuh cewek, sok-sokan anggap dia keponakan. Gue embat tau rasa," gumamnya, dalam hati rasanya ingin sekali ia tertawa terbahak, tetapi ia tahan.
"Nia, kamu punya teman cowok?" tanya Devan penasaran.
"Punya, kenapa memangnya?" saut Vania.
"Ya jelas punya lah bambang, loe pikir yang kuliah di sana semua cewek." Bastian semakin suka melihat raut wajah Devan mulai tidak baik-baik saja, Tetapi, karena Devan memaksa Bastian untuk kembali bekerja, akhirnya ia pun keluar dari ruang kerja Devan.
"Nggak asik ah, belum apa-apa udah diusir."
Di dalam, Devan yang belum mendapat jawaban pasti dari Vania, kembali bertanya karena penasaran.
"Yang dibilang Bastian tadi, maksudnya apa?" tanyanya hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Vania.
"Tadi om Bastian ketemu sama temanku, Om."
"Cowok?"
Vania mengangguk tanpa berkata, lalu menenggak segelas minum air putih, meletakkan gelas kosong itu di atas meja.
"Om, kenapa? mukanya kayak kebingungan gitu."