I Love You

1104 Words
Pekerjaan yang masih menumpuk tidak membuat Devan lelah. Namun, mendengar Vania dekat dengan pria lain, membuat modd- nya seketika menjadi berantakan, sehingga pekerjaan yang masih menumpuk itu dibiarkan begitu saja di atas meja, demi mengetahui siapa pria yang sedang dekat dengan gadisnya. "Kak Erlangga? dia seniorku, Om," ungkapnya. "Senior?" Gadis itu mengangguk. "Dia suka sama kamu?" Entah wangsit dari mana Devan bertanya seperti itu kepada Vania, membuat gadis itu sendiri merasa aneh. "Kenapa Om tiba-tiba tanya kayak gitu? aku mana tau perasaan orang seperti apa, emangnya aku peramal," tutur Gadis itu menatap wajah Devan dari samping, ia menjadi salah tingkah saat Vania memberikan jawaban. Tidak ingin keanehannya diketahui oleh Vania, Devan kembali dengan aktivitasnya. "Ya udah, kamu tunggu di sini, ya! pekerjaan om sedikit lagi selesai, habis itu kita pulang." Vania mengangguk, sedang Devan kembali duduk di atas kursi kebesarannya, menyelesaikan pekerjaan yang masih menumpuk. Tiga puluh menit belum cukup waktu untuk Devan menyelesaikan pekerjaannya, ia melihat Vania tidur sambil duduk bersandar dengan mulut yang sedikit menganga, membuat senyum Devan melengkung sempurna. Beruntung di dalam ruang kerjanya terdapat satu ruangan khusus yang biasa ia gunakan untuk beristirahat. Dia membaringkan gadis itu di sana, menyelimuti tubuhnya yang mungil itu dengan selimut, membuat tidurnya semakin nyaman, semakin lelap. "Cantik." Lama menatap wajah cantik gadis itu, membuat hati Devan menjadi lebih tenang, walaupun masih banyak pekerjaan yang masih menumpuk, bahkan proses perceraian yang sedang dijalani, seakan semuanya sudah terselesaikan. Seperti mengandung magnet, Devan merasa ada sesuatu yang menarik dirinya, dan entah disadari atau tidak, kini wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja, lalu Devan pun mencium singkat bibir gadis itu dengan sangat lembut, agar tidak membangunkan yang sedang tidur. "Maafkan om, vania. Sepertinya om mencintai kamu." Baru saja ia mengungkapkan perasaannya, terdengar suara seseorang membuka pintu ruang kerjanya dengan sangat kasar, jelas hal itu membuat Devan terkejut, lalu ia pun segera keluar melihat siapa yang datang, dan ternyata Megan dengan keadaannya yang kacau datang menemui dirinya. "Devan." Wanita tidak tahu malu itu berlari ke arah Devan, lalu memeluknya erat, mengungkapkan rasa penyesalannya. "Maafkan aku Devan, aku benar-benar minta maaf, aku menyesal." "Pelankan suaramu, Megan!" titah Devan seraya menutup pintu, khawatir tidur gadis itu terganggu dengan suara keras Megan. "Ada siapa di dalam?" tanya Megan setelah melepaskan pelukannya. "Bukan urusan kamu!" tegas Devan. "Kamu pasti menyembunyikan perempuan lain di dalam." "Kalau iya kenapa?" suara Devan menantang. "Kalau begitu kamu juga berselingkuh dariku, Devan." Devan tersenyum ketir. "Siapa kamu? kamu bukan lagi istriku. Kamu lupa?" "Tapi perceraian kita belum selesai." "Tidak ada urusan dengan proses perceraian, aku bisa menjalin hubungan dengan siapa pun, karena sekarang aku seorang duda, dan kamu bukan lagi istriku." "Bukankah selama ini kamu menginginkan kebebasan? aku sudah mengabulkan keinginanmu, seharusnya kamu bahagia dengan kebebasan yang aku berikan." Megan menggelengkan kepalanya, Tidak. "Pergi. Sekarang kita sudah tidak ada urusan lagi," tith Devan seraya menarik tangan wanita itu, memaksanya untuk keluar dari ruangan. "Casandra!" "Iya, Tuan?" ia berdiri menghampiri Devan. "Bawa wanita ini keluar! kalau dia membantah, panggil sekuriti sebanyak mungkin, karena saya tidak ingin melihat wajah wanita ini berada di area kantor," tegas Devan seraya menghempaskan tangan Megan kasar. "Devan!" Wanita itu memanggil Devan dengan suara lantang, saat ia akan kembali masuk ke ruang kerjanya. "Aku mungkin bukan lagi istrimu, tapi kamu tidak boleh lupa kalau aku adalah ibu dari anakmu, Sofia putriku, kamu tidak akan bisa memisahkan aku dengan Sofia, dia darah dagingku." "Sudahlah Megan, jangan bersandiwara di depanku, aku sudah muak, ke mana saja kamu selama ini? kenapa baru sekarang menganggap kalau Sofia itu putrimu?" "Sekarang, nikmatilah kebebasanmu, jangan lagi mengusik hidupku dengan Sofia." Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Devan menutup pintu ruangan, menutup semua kaca dengan tirai, lalu berdiri di dekat jendela, menatap jauh ke depan, menatap birunya langit kita London, dengan perasaan kacau. Tidak bisa dipungkiri kalau Devan juga merasakan sakit saat harus berpisah dari wanita yang sempat menemaninya selama sepuluh tahun ini, walaupun kebahagiaan yang ia rasakan bersama Megan hanya beberapa tahun saja. Namun, rasa sakit yang ia rasakan hanya sebagian kecil dari rasa lega karena sudah terlepas dari penderitaan hidup, mengemis cinta selama bertahun-tahun, sehingga akhirnya ia menjatuhkan pilihan, kalau hatinya hanya akan ia berikan kepada gadis yang saat ini sedang tidur lelap di salah satu ruangan pribadi miliknya, walaupun dia sendiri tidak tahu bagaimana perasaan gadis itu terhadap dirinya. Pria berusia empat puluh tahun, mencintai seorang gadis berusia delapan belas tahun, dan parahnya lagi gadis itu adalah putri dari sahabatnya sendiri, apakah dia tidak akan dianggap gila? Tidak ada yang tahu bagaimana perasaan Devan terhadap gadis itu kecuali Bastian yang selalu menduga-duga, dan sialnya lagi, dugaan Bastian selalu benar. Devan tersenyum, dia kembali ke ruang istirahat guna melihat gadis itu sudah bangun atau belum. Namun, saat ia memutar badan, gadis itu sudah berdiri tegak di belakangnya, dengan kedua tangan saling bertautan. "Nia, kamu sudah bangun?" Gadis itu mengangguk tanpa berkata, dan raut wajahnya saat ini membuat Devan sedikit merasa aneh. "Kenapa?" tanya Devan, masih berdiri di dekat jendela, seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Om sudah selesai?" "Belum. Mau pulang sekarang?" tawar Devan. "Iya, aku pulang naik taksi aja, Om." "Jangan. Kita pulang sekarang." "Pekerjaan, Om?" Devan berjalan ke arah meja kerja, lalu menghubungi Casandra. "Kemarilah." "Baik, Tuan." Tidak lama Bianca pun datang menemui Devan. "Ada apa, Tuan?" "Tolong bereskan meja kerja saya!" Merasa tidak enak karena sudah mengganggu kerjanya, Vania menghampiri Devan. "Om, aku bisa pulang sendiri." "Tidak apa-apa, Vania," ucapnya dengan senyum. "Tapi pekerjaan Om masih banyak." "Om akan menyelesaikannya besok." "Tapi besok pagi meetingnya, Tuan. Berkas-berkas harus diserahkan saat meeting, kalau anda tidak membaca terlebih dahulu apa isi berkasnya, saya khawtir ada salah satu berkas yang akan merugikan perusahaan kita nantinya," sela Bianca seraya mengingatkan demi kebaikan perusahaan. "Kalau begitu tolong masukkan semua berkas ini ke dalam tas saya, saya akan membacanya di rumah." "Baik, Tuan." Bianca melangkah maju, mengepak semua berkas yang akan dimasukkan ke dalam tas milik tuannya. Devan tidak pernah membawa tumpukan pekerjaan ke rumah, apa lagi harus menyita waktu istirahatnya. Dia yang merasa tidak enak hati, berjalan menghampiri Devan, lalu berdiri di sebelahnya. "Kenapa?" tanya Devan seraya meraih kunci mobil yang ia letakkan di atas meja, lalu Vania memegang tangannya, membuat Devan terkejut. "Berkasnya jangan dibawa pulang, Kita kerjakan bersama di kantor," ujar Vania memberi solusi, agar waktu istirahat Devan saat di rumah tidak terganggu dengan pekerjaan. "Tidak apa-apa, Vania. Om bisa lanjut di rumah." "Om Dev..." selak Vania. "Om serius," ujarnya. "Vania juga serius, Om." Karena gadis itu terus memaksa, akhirnya mereka pun tidak jadi pulang, kembali memeriksa tugas yang masih menumpuk di atas meja, sedang Vania duduk di sofa dengan perasaan gelisah yang berusaha ia tutupi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD