"Ada apa, Nia?" tanya Devan seraya mendudukan diri di kursi meja makan hendak menghabiskan s**u buatannya yang belum sempat ia minum, lalu meletakkan kembali gelas kosong itu di atas meja.
"Maaf."
Sepertinya kata maaf sangat tepat ia ucapkan saat ini, karena sudah berada di tengah-tengah pertengkaran mereka, antara Devan dengan Megan yang terganggu dengan kehadiran Vania yang tiba-tiba.
"Maaf untuk apa?"
Pria itu belum beranjak dari duduknya, dia meraih satu buah apel yang selalu tersaji di atas meja makan, setelah menghabiskan satu gelas s**u, lalu mengupas apel dengan santai.
"Maaf karna aku mengganggu kalian." Gadis itu menjawab canggung.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, kamu tidak bersalah," tutur Devan cukup membuat perasaan Vania lega
Devan menoleh ke belakang. "Kamu sudah bangun sepagi ini, kenapa? apa pertengkaran kami mengganggu tidurmu?"
"Tidak, Om. Kalau pertengkaran kalian membangunkanku, maka aku tidak akan keluar dari kamar."
Devan mengangguk tersenyum sambil mengunyah potongan apel yang baru selesai ia kupas.
"Aku mau ambil air minum, Om. Air minum di kamar habis," lanjut gadis itu.
"Kalau begitu kemarilah! kenapa masih berdiri di situ?" panggil DDevan, seraya menepuk kursi kosong tepat di sebelahnya.
Vania segera melangkahkan kakinya yang sedikit gemetar menuju lemari es, menuangkan air es ke dalam gelasnya, lalu duduk bersama Devan, sambil minumnya.
"Padahal kurang bagus loh untuk kesehatan kalau bangun tidur langsung minum air dingin," ujar Devan bersidekap di atas meja, memperhatikan Vania yang sedang minum.
Setelah menghabiskan satu gelas air putih dingin, Vania meletakkan gelas kosong itu di atas meja, segan.
"Kebiasaan di rumah, ya?"
Gadis itu mengangguk.
"Belajar diubah ya kebiasaannya, kurang bagus untuk kesehatan kamu," nasihat Devan seraya mengusap puncak rambut gadis berusia sembilan belas tahun itu penuh kasih sayang, kebiasaan yang selalu ia lakukan saat Vania masih kecil, masih ia lakukan sampai sekarang.
Devan melupakan masa, kalau saat in gadis yang ia anggap sebagai keponakannya, bukan lagi anak kecil yang sering ia peluk, bahkan mencium pipinya karena gemas.
Dia bahkan lupa kalau sekarang Vania sudah bisa membedakan mana pria yang memiliki kadar ketampanan 99%, dengan pria yang kadar ketampanannya hanya 9%. Jelas sikap Devan saat ini membuat perasaan Vania tidak baik-baik saja, sedikit merasa canggung, dan...
Aku sudah besar. Mungkin itu yang ada di dalam pikirannya.
Karena sudah berpindah tempat tinggal sampai beberapa kali, juga kerap mendapat gangguan dari orang yang sama, akhirnya Vania pun memutuskan menerima tawaran Devan untuk tinggal bersama di apartemennya, yang kebetulan Sofia putri mereka pun sangat senang dengan kehadiran Vania di kediamannya.
Apa lagi si nenek sihir Megan. Dia sangat memanfaatkan kehadian gadis itu di sana, pasalnya ia tidak perlu repot-repot lagi mengurusSofia yang selalu merengek manja kepadanya, membuat kebebasannya terganggu, alhasial Vania lah yang harus menggantikan peran itu, karena selalu tidak tega kalau melihat Sofia menangis, merengek ketika keingunannya tidak dipenuhu oleh mommy-nya.
Malam hari,
Vania menyelimuti tubuh mungil Sofia setelah berhasil menidurkannya, lalu kembali mengerjakan tugas kampus yang sempat terganggu oleh rengekan gadis kecil itu.
Ia melirik jam yang menggantung di atas dinding, waktu menunjukkan pukul sebelas malam, dan masih ada waktu untuk menyelesaikan tugas kampus walalupun waktu yang tersisa tinggal sedikit.
"Coba ada om Devan." Bergumam pelan.
"Non!" Marta yang baru saja terbangun, terkejut melihat Vania masih berada di depan laptoop, lalu berjalan menghampiri dirinya.
"Ada apa, Mart?" Vania menyahuti panggilan Marta tanpa menoleh ke arahnya.
"Belum tidur, Non?" tanyanya.
"Belum," jawab Vania.
"Saya buatkan teh hangat ya, Non."
"Boleh."
Tidak lama asisten rumah tangga Devan pun kembali menghampiri Vania, dengan membawa segelas teh hangat.
"Terima kasih," ucap Vania dengan senyum.
"Sama-sama. Kalau begitu, saya kembali ke kamar ya, Non. Besok Non Vania tidak perlu membantu saya di dapur, saya bisa hendel semuanya sendiri."
Kali ini Vania menoleh ke arahnya. "Ya ampun, terima kasih banyak ya."
"Sama-sama, Non."
"Oh iya, om Dev ke mana ya? udah jam sebelas ko belum pulang?" tanya Vania penasaran, tidak biasanya Devan pulang selarut ini selama ia tinggal di sana.
"Mungkin tuan pergi bersama teman-temannya, Non."
"Selarut ini?"
"Biasanya seperti itu, kalau nyonya tidak pulang."
"Tante Megan juga tidak pulang?"
"Sepertinya tidak, Non."
Vania mengangguk paham, lalu Marta pun pergi ke kamarnya.
Tidak ingin ambil pusing dengan permasalahan mereka, gadis itu kembali fokus dengan tugas-tugas yang masih menggunung.
Kafe Amorino tempat di mana Devan bersama teman-temannya menghabiskan malam, menghilangkan rasa penat setelah mendapat kabar kalau sang istri tidak akan pulang dengan alasan yang sama seperti hari-hari kemarin. Sibuk.
Devan belajar untuk tidak perduli dengan apa yang istrinya lakukan di luar sana, melarangnya pun tidak ada gunanya, kalau saja Vania tidak mengirimi dia pesan, mungkin Devan juga tidak akan pulang ke rumah, dan memilih tidur di apartemen temannya.
"Om pulang, tidurlah sudah malam."
Devan membalas pesan Vania, lalu ia pun berpamitan pulang kepada teman-temannya.
"Ko pulang? Katanya mau nginep."
"Keponakan gue di rumah takut sendirian."
"Keponakan lo yang dari Jakarta itu? Anak sabahat lo?"
Devan mengangguk. "Iya."
"Bukannya dia udah dewasa?" tanya salah satu teman Devan seraya menyeruput kopi di tangannya.
"Dia memiliki trauma, takut sendiri di rumah." Devan meraih jas, juga kunci mobil yang ia letakkan di atas meja.
"Garcep kalau Vania udah minta," ejek temannya lagi.
"Tanggung jawab, Bro. Kalau anaknya kenapa-napa, gue yang kena."
"Iya, iya. Besok-besok kenalin dong, siapa tau dia mau jadi pacar gue, secara gue jomblo," ejeknya seraya melirik ke arah temannya yang lain.
Devan hanya menggelengkan kepala merepon ejekan mereka, lalu ia pun pergi meninggalkan kafe, pulang ke apartemen.
Setelah masuk ke dalam, ia melihat lampu utama juga laptoop Vania masih dalam keadaan menyala, tetapi lampu di sekelilingnya sudah dalam keadaan padam.
"Tumben tidur di sini?" ucap Devan seraya mendudukan diri di atas sofa samping gadis itu yang sudah tertidur pulas.
Karena lelah, Devan beringsut duduk di bawah, bersandar pada sofa seraya memijat pangkal hidungnya yang terasa pening dengan semua kegiatan hari ini. Tetapi, sepertinya tulisan di akhir kalimat tugas Vania membuat Devan yang sedang penat itu seketika tersenyum.
"Tolong aku, Om Dev. Cepat pulang!"
Gadis itu berhasil membuat suasana hati Devan menjadi lebih baik hanya dengan beberapa kalimat yang Vania tulis sesaat sebelum rasa kantuk benar-benar tidak bisa ia kendalikan.
Ia menyibakkan rambut yang menutupi wajah gadis itu, menatapnya lekat-lekat, tanpa ia sadari kalimat cantik terucap begitu saja seraya mengusap lembut pipi Vania dengan jarinya.
"Seandainya Megan seperti dirimu, maka aku adalah pria yang paling beruntung di dunia ini. Bukan hanya cantik, kamu membuat aku kagum, diusia kamu yang masih muda, tetapi pemikiranmu jauh lebih dewasa dari pada Megan. Burhan dan Anna berhasil mendidik kamu dengan baik, Nia. Om sangat mengagumi kamu."