Devan berhasil menyelamatkan Vania, lalu ia membawa gadis itu ke klinik untuk mengobati luka di sikut, pelipis juga sudut bibirnya yang berdarah akibat tamparan keras yang dilayangkan pemuda itu sebelum Devan datang menolongnya.
"Om. Aku takut."
Hiks… Hiks… Hiks...
Vania terus menangis dalam pelukan Devan, ia terus berusaha menenangkan Vania dengan mengusap punggungnya penuh kelembutan.
"Ada Om di sini, kamu gak perlu takut."
Setelah mendapatkan perawatan, akhirnya Devan pun membawa Vania pulang ke apartemennya.
"Untuk malam ini, kamu tinggal di sini dulu, ya!" Vania mendudukkan diri di atas sofa ruang tamu, sedangkan Devan pergi ke dapur mengambil air minum.
"Daddy..."
Sofia berteriak dari lantai atas, berlari menuruni anak tangga menghampiri Devan, lalu memeluknya.
"Daddy dari mana saja?" tanya gadis kecil itu sambil mendongakkan kepalanya ke atas.
"Daddy baru pulang kerja, Nak." saut Devan seraya mencium puncak rambut sang putri.
"Kenapa belum tidur?" tanya Devan.
"Mommy tidak ada di rumah, Daddy. Bu Marta tidak bisa membacakan buku cerita dengan benar. Tidak seru," ujar Sofia masih memeluk Daddy nya.
Devan terkejut mendengar Sofia mengatakan kalau Mommy nya tidak ada di rumah, lalu ia pun bertanya kepada Marta selaku asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja bersama Devan.
"Nyonya pergi, Marta?"
Marta mengangguk ragu. "I-iya, Tuan."
"Sejak kapan?"
"Tadi, sekitar pukul tujuh, Tuan."
Devan kembali dibuat kesal oleh perilaku sang istri. Bisa-bisanya dia pergi saat dirinya tidak ada di rumah, bahkan tanpa meminta izin.
"Daddy. Air minum itu untuk siapa?"
"Oh iya, Daddy sampai lupa. Ada tante Vania, Sayang."
"Tante Vania yang cantik itu? Yang wajahnya mirip dengan snow white?"
Devan tersenyum, mencubit gemas pipi sang putri. "Betul sekali."
"Mana tante Vanianya, Daddy?"
"Non Vania ada di sini juga, Tuan?" tanya Marta.
"Iya. Dia ada di ruang tamu. Tolong buatkan sup panas ya!"
"Baik, Tuan."
"Ayo, Sayang!" Devan mengajak Sofia bertemu dengan Vania, yang saat ini terlihat sedang mengusap luka yang terdapat pada sikutnya.
"Tante..."
Sofia begitu antusias dengan kehadiran Vania di rumahnya. Ia berlari menghampiri Vania dan langsung memeluknya.
"Pelan-pelan, Nak! Tante Vania lagi sakit."
Dia sedikit meringis saat tanganya membalas pelukan Sofia.
"Aaww..."
"Tante kenapa?" tanya Sofia yang saat ini berada di atas pangkuan Vania. Mereka terlihat begitu akrab, membuat senyum di bibir Devan melengkung membentuk simpul sempurna, lalu ia pun mendudukkan diri di single sofa.
"Tidak apa-apa, Sofia," saut Vania dengan senyum.
"Bibir, Tante?" tangan mungil itu menyentuh bibir Vania yang terluka, mengusapnya sangat hati-hati.
"Tadi kepentok pintu, Sayang."
"Sampai seperti ini?"
Vania mengangguk sambil mengerucutkan mulutnya, hal itu membuat Sofia terkikik lucu.
Tidak lama sang asisten rumah tangga pun datang dengan membawa satu mangkuk sup, sesuai dengan permintaan.
"Silahkan, Non." Dia meletakkan mangkuk berisi sup itu di atas meja, tepat di depan Vania.
"Ya ampun, Bu. Nggak usah repot-repot."
"Nggak apa-apa, Non. Semoga Non Vania suka."
Vania yang memang sedang dalam keadaan lapar, menyantap sup itu dengan lahap, bahkan sampai habis bersih tidak tersisa, setelahnya Vania pun pergi ke kamar tamu untuk beristirahat.
"Kita bahas masalah ini besok, ya. Sekarang kamu istirahat!"
Vania mengangguk. "Iya, Om."
Setelah mengantar Vania ke kamar tamu, Devan naik ke lantai atas menuju kamarnya, sambil coba menghubungi sang istri yang keberadaannya belum diketahui.
"Di mana dia?"
Pukul 07.00 pagi waktu Jakarta, sedang di London baru saja pukul 01.00 dini hari. Burhan yang baru saja membaca pesan dari Devan mengenai kejadian yang menimpa putrinya, langsung menghubungi Devan dalam sambungan telepon.
Devan yang masih tertidur pulas pun terpaksa harus bangun karena bunyi ponselnya yang tidak berhenti berdering.
"Dev."
"Hhmm?"
"Di mana putri saya?" tanya Burhan panik.
"Tidur," jawab Devan singkat.
"Tidur di mana?"
"Di kamarnya, lah."
"Kamu membiarkan putri saya tidur sendirian?"
"Lalu saya harus bagaimana? Menemani Putri Anda tidur?" geram Devan masih berbaring di atas ranjang.
"Jangan kurang ajar kamu Dev!"
"Lagian, Anda itu aneh."
"Kamu membiarkan Putri Saya tinggal di apartemen itu lagi?"
Devan semakin geram dengan semua pertanyaan yang dilontarkan Burhan dengan pikirannya yang dangkal.
"Tuan, tolong saat pembagian otak, Anda wajib hadir."
"Hei, kamu!!" Burhan kesal. Keadaan sedang panik, Devan malah mengejeknya.
"Apakah mungkin saya meninggalkan putri Anda sendirian di apartemennya?"
"Ya, gak mungkin sih."
"Nah. Itu sudah tau jawabannya, sekarang Anda fikir, di mana sekarang putri Anda tidur?"
"Di apartemen kamu?"
"Pintar."
Terdengar oleh Devan, kalau Burhan menghela nafas lega.
"Kalau begitu, Anda tau apa yang harus Anda lakukan sekarang, Tuan Burhan?" tanya Devan sebelum memutus sambungan telepon.
"Tenang, dan tutup teleponnya."
"That's right, tambah pinter sekarang. Ok bye!"
Devan memutus sambungan telepon tanpa aba-aba, membuat Burhan terkejut, lalu menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Kurang ajar ini anak." Burhan mendengus.
"Kenapa, Yah?" tanya Ana yang baru saja datang membawa secangkir kopi, lalu meletakkan kopi itu di atas meja depan televisi.
Burhan yang saat ini sedang memakai kemeja, menghampiri sang istri sambil mengancingkan baju kemejanya, lalu menyeruput kopi buatan istri tercinta yang rasa nikmatnya tiada tara.
"Ah.. kopi buatan Bunda paling top pokoknya," puji Burhan untuk sang istri dengan mengacungkan satu jempol.
"Semua buatan Bunda paling top, itu kan yang mau ayah bilang?"
"Tau aja," ucapnya sambil mengecup singkat pipi sang istri sebagai hadiah karena sudah membuatkan kopi ternikmat.
"Ayah kebiasaan deh, tadi ayah telepon siapa? Devan bukan?" tanyanya lagi karena belum mendapat jawaban.
"Duduk sini di samping ayah!" Burhan menpuk sisi sofa kosong di sebelahnya, Ana pun duduk.
"Putri kita diganggu penjahat lagi, Bun." kata Burhan sambil menyeruput kembali kopi yang masih ia genggam. Sontak hal itu membuat Ana terkejut.
"Putri kita? Terus gimana sekarang? Putri kita baik-baik aja kan, Yah?"
"Bunda tenang aja, Devan udah beresin semuanya."
"Kita harus ke London, Ayah."
"Buat apa?"
"Putri kita, Bunda nggak mau Vania terus di London, di sana berbahaya, Ayah." Ana sangat khawatir dengan keadaan Vania yang sedang berada di negeri orang.
"Bunda jangan panik. Putri kita baik-baik aja, sekarang dia ada di apartemen Devan, masih tidur."
"Tapi Bunda khawatir, Ayah."
Burhan terus berusaha menenangkan Ana agar tidak panik, dan mereka pun akan menghubungi Vania kalau waktu di sana sudah pagi.
Pagi hari waktu setempat, London. Devan terbiasa bangun pukul enam pagi, dia keluar dari kamarnya menuju lantai bawah hendak membuat s**u, tidak lama terdengar seseorang sedang menakan kode kunci yang sudah bisa dipastikan kalau itu adalah Megan sang istri yang baru saja pulang yang entah dari mana.
"Dari mana kamu?" tanya Devan menatap tajam, rahangnya mengeras menahan emosi.
"Kerja lah. Apa lagi?"
Tanpa rasa bersalah, Megan menghampiri Devan, hendak mencium pipinya, tetapi ia berhasil mengelak.
"Kenapa?" kata Megan.
"Aku tanya kamu dari mana?" bentak Devan kepada sang istri, tiba-tiba terdengar suara seseorang terbatuk.
Uhuk… Uhuk...
Suara itu membuat pertengkaran mereka harus terjeda, karena kehadiran Vania yang baru saja terbangun dari tidurnya.
"Vania?" kata Megan menyapa anak dari sahabat suaminya itu dengan ramah.
"Kamu di sini?"
"I-iya, Tente." jawab Vania sedikit terbata.
"Untung ada anak ini, Devan jadi gak jadi kan marah-marahnya," batin Megan bergumam.
"Ada apa dengan mereka? apa aku mengganggu mereka," batin Vania.
Bersambung...