Megan Berulah

1089 Words
DA BROMFORD. Perusahaan properti yang Devan miliki bernama DA BRAMFORD, adalah salah satu perusahaan urutan ketiga terbesar di kota London setelah peringkat pertama dan kedua diduduki oleh salah satu temannya yang bernama Felix. Devan memiliki dua teman dekat, tetapi sang asisten Bastian lah yang paling dekat dengan dirinya setelah Burhan, ayah dari Vania. Devan banyak bercerita kepada Bastian mengenai kisruh rumah tangga yang ia hadapi bersama sang istri, juga Vania yang sudah lebih dari satu bulan ini tinggal bersamanya, sehingga saat ada perubahan pada diri Devan, Bastian lah orang pertama yang tahu lebih dulu. "Ikut dong!" pinta Bastian sesaat setelah meeting selesai. Dia merapihkan beberapa berkas di atas meja, segera mengikuti langkah Devan dari belakang yang juga diikuti oleh sekertarisnya yang bernama Casandra. "Ikut ke mana?" tanya Devan tanpa menghentikan langkah kaki yang terus berjalan menyusuri koridor menuju lift khusus yang hanya boleh digunakan oleh orang-orang tertentu saja. "Loe mau jemput ponakan loe kan?" "Hhmm..." jawabnya tanpa berkata. Ting! Pintu lift terbuka, lalu mereka berdua pun masuk ke dalam. "Loh, sekretaris loe nggak ikut?" tanya Bastian. "Belum jam pulang kerja, lagian gue mau jemput Vania dulu, ntar juga gue balik lagi." "Nggak yakin gue kalau lo balik lagi." Ting! pintu lift menutup perlahan, Casandra sedikit membungkuk lalu ia pun kembali bekerja. "Ya gue ikut kali!" pinta Bastian memaksa. "Heh, jam berapa ini?" cetus Devan seraya menunjukan jam yang melingkar di pergelangan tangan kananya kepada Bastian. "Yaelah, kagak setiap hari ini," kekeh. Karena ia terus memaksa, akhirnya Devan pun mengizinkan sahabatnya ikut menjemput Vania di kampusnya. Tiba di tempat tujuan, Devan memarkirkan mobilnya di tempat biasa. Dari kejauhan gadis cantik yang Devan anggap sebagai keponakannya itu melambaikan tangan sambil tersenyum manis ke arah Devan, begitu pun dengan Devan membalas lambaian tangan Vania dengan senyum yang berbeda. "Siang, Om!" "Siang, Nia," saut Devan juga Bastian bersamaan. "Loe boleh panggil dia Om, dia udah tua, udah punya anak juga, kalau gue masih muda, masih kenceng," lanjut Bastian. "Usia Om berapa?" tanya Vania tiba-tiba. "Tiga puluh lima tahun, tapi tampang tiga puluh tahun, otot dua puluh tahun," ujar Bastian dengan bangganya di depan Vania juga ketiga temannya, yang kebetulan juga ada di sana. "Mau Vania deskripsikan dari usia yang Om sebutkan tadi?" tawar Vania. Bastian mengangguk ragu, sekilas ia menoleh ke arah Devan yang hanya menggidikan bahunya cepat. "Pertama. Deskripsi dari usia tiga puluh lima tahun yang belum menikah." Vania menjeda ucapannya, memberikan kesempatan kepada Bastian untuk menjawab, tetapi pria yang saat ini sedang berdiri di samping Devan pun, hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak tahu. "Deskripsi sorang pria yang usianya sudah tiga puluh lima tahun tapi belum menikah adalah..." "Bujang lapuk?" sambar Bastian yang merasa sudah pasti kalau itu jawabannya, membuat Vania juga ketiga temannya tertawa kecil, termasuk Devan. "Bukan." "Lalu?" tanya Bastian semakin penasaran. "Perjaka tua," selorohnya membuat tawa kecil mereka berubah menjadi tawa terbahak. Ha.. Ha.. Ha.. "Sialan, gue dikerjain sama anak kecil." "Om mau tau definisi usia tiga puluh tahun tapi wajah seperti usia dua puluh lima tahun?" tawarnya lagi. "Nggak usah, gak usah! perasaan aku gak enak soalnya. Terserah kamu deh mau panggil aku apa. Om, Oppa, atau Pak, terserah deh, dari pada kamu mendefinisikan semua ucapanku." Ha.. ha.. ha.. Semua kembali tertawa terbahak dengan definisi yang Vania ucapkan tadi. "Kamu ada-ada aja, Nia," lanjut Devan. "Belum semua loh padahal." "Sudahlah, sebaiknya kita pulang sekarang, Om juga harus kembali ke kantor," kata Devan seraya membuka pintu mobil samping kemudi, mempersilahkan Vania untuk masuk. "Iya, Om." Gadis itu masuk ke dalam, memasang setbel. "Aku duluan ya," ucap Vania berpamitan pada ketiga temannya. "Oke." "Sampai ketemu besok lagi." "Om Bastian ikut kita?" tanya Vania kepada Bastian yang masih berdiri di samping Devan. "Boleh emangnya?" "Nggak," tolak Devan dengan cepat. "Ya ampun, pelit banget." "Balik ke kantor! nih ongkos taksinya." Devan menyerahkan dua lembaran uang kepada Bastian, lalu ia pun masuk ke dalam mobil yang perlahan meninggalkan area kampus. Tiba di unit tempat tinggal mereka, Devan melihat Sofia sedang bermain boneka dengan Marta, ia bersama Vania pun berjalan menghampirinya. "Seru nih kayaknya." Vania mendudukan diri di samping Sofia, lalu Sofia pun memeluk dirinya. "Tante..." "Lagi main apa?" tanya Vania sambil memangku Sofia duduk di atas pangkuannya. "Bermain dokter-dokteran, Tante." Gadis itu menjawab sambil meletakkan stetoskop mainan di kening Vania, membuat semua orang terkekeh lucu dengan sikap Sofia yang menggemaskan. "Marta, di mana Nyonya?" tanya Devan setelah mendudukan diri di atas sofa, sambil melepaskan sepatunya. "Nyonya di dalam kamar, Tuan." "Dia tidur?" tanyanya lagi. "Sepertinya tidak." Marta menjawab tanpa menghentikan aksi bermainnya dengan Sofia. "Sejak kapan dia berada di kamar?" "Belum lama, Tuan. seharian ini Nyonya banyak menemani Sofia bermain," ujar Marta berbohong, terpaksa ia lakukan atas perintah Megan. "Baguslah, berarti dia mendengarkan apa yang aku katakan." Setelahnya ia pun beranjak dari duduknya, lalu pergi ke kamar menemui sang istri, yang saat ia membukakkan pintu kamar, terlihat Megan sedang berhias diri di depan cermin. "Tumben di rumah." Devan menghampiri sang istri setelah menutup kembali pintu kamar, bahkan menguncinya dari dalam, khawatir Sofia masuk secara tiba-tiba. "Hai, Dev." Megan menyahuti sapaan Devan tanpa menghentikan aktivitasnya yang saat ini sedang mengoleskan lipstik merah di bibirnya, Devan pun memeluknya dari belakang. "Mau ke mana?" tanya devan dengan menautkan dagunya di atas bahu Megan, menatap wajah sang istri dari pantulan cermin. "Pekerjaan, Sayang." "Baru pulang pagi, dan sekarang kamu akan pergi lagi?" tanya Devan mulai kesal. "Dev. Tolong mengertilah. Aku sibuk." "Jangan berani keluar rumah tanpa seizinku, dan kalau sampai aku selesai mandi kamu tidak ada, maka bersiaplah untuk menerima konsekuensinya, mengerti?" ancam Devan sambil berlalu pergi masuk ke dalam kamar mandi. "Sial." Megan mendengus. "Baiklah." Selesaikan pekerjaan tiga puluh menit, lalu pergi menemui Leo, dan meminta ia menemani sesi pemotretan di sebuah hotel. Saat Devan keluar dari kamar mandi, ia tidak menyangka ternyata Megan masih ada di sana, menuruti permintaan dirinya. "Aku pikir kamu pergi," ucap Devan sambil berjalan ke arah lemari hendak mengambil pakaian ganti. "Tidak, Devan. Aku menunggumu," saut Megan. Setelah berganti pakaian, Devan pun kembali menghampiri sang istri sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. "Kemarilah." Megan mengulurkan tangannya ke arah Devan. Namun, saat Devan akan meraih uluran tangan sang istri, saat itu juga ponsel milik Megan yang ia letakkan di atas naskas berdering sangat nyaring, tertera jelas nama Leo pada layar ponselnya. "Berikan ponselnya," pinta Devan dengan tegas. Megan menggelengkan kepalanya, "Tidak." "Megan, berikan ponsel itu padaku, atau pergi dari rumah ini untuk selamanya?" "Kamu mengusirku?" "Iya. Ada atau tidak adanya kamu di rumah, bagi aku dan Sofia tidak ada bedanya. Jadi pergilah kalau kamu mau, dan jangan pernah kembali lagi. Ingat itu!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD