Setelah Devan meninggalkan unit bersama Vania, Megan menunjukkan sifat aslinya yang tidak pernah ingin bersama sang putri, dia memilih pergi ke kamarnya untuk menghubungi seseorang, siapa lagi kalau bukan Leo selingkuhannya.
Sedangkan Sofia yang sangat menginginkan mommy-nya, terus menangis dalam dekapan asisten rumah tangga mereka, dengan susah payah ia menghentikan tangis Sofia dengan berbagai macam cara, hingga akhirnya putri cantik itu pun berhenti menangis, lalu kembali bermain dengan Marta.
Megan bersikap baik kepada Sofia hanya saat di depan Devan saja, sedangkan di belakang Devan ia kembali bersikap acuh, karena merasa anak itu lah yang membuat rumah tangga mereka menjadi tidak harmonis, merenggut kebahagiaannya.
Wanita tidak tahu malu itu, merasa bebas saat Devan pergi, bicara dengan selingkuhannya dalam sambungan telepon
"Suami mu marah?" tanya seorang pria bernama Leo, pria yang selalu membuat Devan marah setiap kali melihatnya.
"Seperti biasa. Sudahlah, jangan terlalu ambil pusing, dia selalu seperti itu, memintaku untuk menjaga Sofia tanpa memikirkan apa yang aku mau."
Begitu leluasanya dia berbicara dengan pria lain saat sang suami sedang bekerja.
"Tenang, Sayang. Ada aku yang selalu tau apa yang kamu mau," ujar pria itu dengan bangganya.
Megan yang sudah tergila-gila dengan kebebasan bersama Leo, tersenyum mendengar apa yang pria itu ucapkan.
"Sudahlah, Leo. Aku mau istirahat dulu, lusa kita bertemu lgi."
"Lusa kamu tidak ada jadwal pemotretan?" tanya Leo sebelum Megan menutup teleponnya.
"Tidak ada. Hanya saja, tidak lama lagi aku akan ke paris untuk menjadi model brand salah satu produk di sana."
Disela-sela percakapan terakhir, Megan menarik selimut, menutupi hampir seluruh bagian tubuhnya bersiap-siap akan kembali tidur, karena saat tidur di apartemen Leo, dia hanya tertidur selama dua jam, setelah banyak aktivitas yang mereka lakukan di malam hari.
"Wow, kamu luar biasa. Aku ikut dengan mu?" sambungnya lagi.
"Iya lah, mana mungkin aku mengajak Devan, dia pasti akan membawa Sofia juga, dan mereka hanya akan mengganggu semua kegiatan ku di sana," ujar Megan mendengus.
"Iya, karna hanya aku yang mengerti kamu."
Megan tersenyum kecil. "Aku mengantuk, Leo," ucapnya dengan mata yang hampir terpejam.
"Baiklah, Sayang. Sebaiknya kamu istirahat, sampai nanti malam."
"Hhmm..." jawabnya tanpa berkata, sambungan telepon terputus, lalu ia pun mulai memejamkan mata perlahan hingga akhirnya tertidur pulas, tanpa memperdulikan putrinya yang entah sedang apa bersama Marta.
University Of Edinburgh. Tempat di mana Vania menimba ilmu, dia sangat beruntung kuliah di sana bertemu dengan teman-teman yang berasal dari negara yang sama yaitu Indonesia.
Ajeng, Agel, dan satu lagi berasal dari negara Austrlia bernama Avantika. Mereka semua berteman baik dengan Vania, dan diantara mereka bertiga, usia Vania jauh lebih mudah dari ketiganya.
Sedang asik berbincang, menikmati secangkir teh hangat, datang seseorang pria tampan, memiliki postur tubuh tinggi menghampiri meja mereka dengan percaya dirinya ia pun menyapa ramah.
"Hai..."
Semua orang menoleh ke arahnya menatap heran, sekaligus kagum dengan ketampanan pria itu.
"Gila, ganteng banget," batin Angel.
"Ganteng tenan," batin Ajeng menatap dengan mata yang berbinar.
"Very handsome," batin wanita berdarah Austrlia yang saat ini duduk di samping Vania, memiliki nama Avantika. Sedangkan Vania sendiri menatapnya biasa saja.
"Can I join?" tanya pria itu dengan percaya dirinya, bahkan tanpa ragu ketiga wanita itu pun mengangguk setuju, juga dengan senyum sumeringah.
"Sit down plese." Ajeng sengaja menarik satu kursi di sebelahnya, agar pria tampan yang baru saja datang itu duduk di sampingnya.
"Thanks."
"Rese banget ini anak," gerutu Agel, karena tubuh Ajeng menutupi pemandangan indah di depan mata.
Sedangkan pria yang saat ini menjadi pusat perhatian semua orang, terus menatap kagum melihat kecantikan Vania.
"Bang, Ane di sini, Bang. Nengongaknya kemari napa!" saut Agel sedikit mendengak demi terlihat oleh pria itu, karena wajahnya yang tertutup oleh Ajeng.
"You can speak Indonesian?" tanya Pria itu kepada Angel.
"Of course, we are from indonesia," saut Angel.
"Kalau begitu kita sama," timpal pria itu lagi.
Semua menatap tidak percaya, karena penampilan pria itu yang terlihat seperti orang Amerika.
"Aduh Bambang, dari tadi ke Bang ngomong pake bahasa Indonesia, biar kagak belibet gitu kite ngomongnye." selorohnya membuat semua orang tertawa.
Tetapi Vania hanya tersenyum dengan tingkah kedua sahabatnya itu, sedang Avantika yang saat ini duduk di samping Vania, hanya bisa menatap kebingungan tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan.
"Mereka bicara apa, Nia?" tanya Avantika kepada Vania
"Nanti aku jelaskan," saut Vania seraya mengusap bahu Avantika, gadis cantik berkacamata itu belum terlalu lancar bicara bahasa Indonesia, membuat ia kebingungan setiap kali sedang berkumpul.
"By the way, kita ko belum kenalan?" ucap Pria itu memotong pembicaraan Antara Angel dengan ajeng yang terus meributkan pria yang namanya saja belum mereka ketahui.
Dengan sigap Avantika mengulurkan tangan lebih cepat dari Ajeng, pria itu tersenyum, mereka saling berjabat tangan memperkenalkan diri.
"Angel."
"Erlangga."
"Aku Tiwi," sela Ajeng menyambar tangan Erlangga dari genggaman Angel.
"Bohong," sambar Angel. "Namanya Ajeng Pratiwi biasa dipanggil Ajeng."
"Iisshh.." Ajeng mendengus.
"Emang itu nama lo, Ajeng. Bangga dong," ujar Angel.
"Kamu?" tunjuk Elang kepada Vania, tetapi Ajeng malah memperkenalkan Avantika lebih dulu, baru memperkenalkan Vania.
"Vania Atmaja, cantik, pintar, calon desainer hebat setelah lulus nanti." Dengan bangganya Ajeng memperkenalkan Vania kepada pria baru itu.
"Vania? cantik, sangat cantik."
Pria itu menatap kagum seraya mengulurkan tangannya. "Saya Erlangga, panggil saja Elang."
"Saya Vania."
"Sudah punya pacar?"
Pertanyaan Erlangga seketika membuat mereka melongo.
"Cie, langsung ditanya punya pacar apa belum." kata Ajeng, Erlangga tersenyum tersipu terus menatap Vania.
"Pacar sih belum punya, tapi yang jagain udah ada," timpal Angel.
"Oh ya?"
Tidak lama ponsel milik Vania yang ia letakkan di atas meja pun berdering, tertera jelas nama om Dev pada layar ponselnya.
"Baru aja diomongin. Udah nongol aja." Sambung Ajeng.
"Siapa?" tanya Avantika.
"Siapa lagi kalau bukan Om Dev, Avantika," kata Ajeng juga Angel bersamaan, Vania tersenyum mendengar teman-teman meledek dirinya.
"Udah ah, pada becanda terus."
Vania pun meraih ponselnya, lalu menjawab panggilan Devan.
"Ada apa, om?" tanya Vania dalam sambungan telepon.
"Sudah pulang?" tanya Devan di seberang sana yang sedang sibuk, menyempatkan diri menghubungi Vania sebelum memulai meeting.
"Satu mata kuliah lagi, Om. Om Dev sedang apa?"
"Sedang di ruang meeting."
"Mau meeting ya? kenapa Om menghubungiku?"
"Tidak apa-apa. Om cuma mau bilang, nanti kalau Om telat menjemputmu, kamu tunggu saja, ya!"
"Om tidak perlu khawatir, nanti aku bisa ko naik bis atau taksi."
"No, Vania. Pokoknya kamu tunggu sampai Om datang menjemput kamu. Oke?"
"Baiklah."
"Selamat siang Vania, semangat belajar."
Devan mengakhiri panggilan telepon, lalu meletakkan kembali ponselnya di atas meja, sambil tersenyum.
"Aneh ini orang, belum pernah gue liat Devan senyam-senyum kayak gini," batin Ivan, salah satu teman dekat Devan di kantor.