"Loe sakit, Devan. Loe gila," hardik Burhan setelah melayangkan satu pukulan. Devan yang tersungkur di lantai hanya bisa diam sambil menunduk, siap menerima cacian apapun yang dilontarkan Burhan, pasrah kalau itu bisa membuatnya merasa puas. "Loe sahabat gue, Dev. Loe udah gue anggap sebagai sodara gue sendiri. Bisa-bisanya elo suka sama anak gue, gadis yang elo anggap sebagai keponakan elo sendiri." Devan mengangkat kepalanya memberanikan diri untuk membuka suara. "Gadis itu membuat gue kagum, Vania istimewa buat gue, gue nggak pernah merasakan cinta yang begitu dalam sebelumnya, Burhan. Bahkan terhadap Megan sekalipun." "Tapi kenapa harus anak gue? kenapa harus Vania?" teriak Burhan. "Kenapa? apa gue tidak pantas buat Vania? gue pria berengsek? atau karena usia?" Suara Devan terdenga

