7. Silih Wangi

1207 Words
Dhie memasuki gedung Perpustakaan dengan mantap. Pandangannya lurus kedepan. Kedua tangannya memeluk erat notebook didada. Tapi baru juga beberapa langkah, "Hemm!" "Ehemn!" "Suit! Suitt!" Suara sumbang langsung terdengar ramai. Dhie masuk ke perpustakaan? Ini keajaiban. OMG!! Sepertinya penjaga perpustakaan harus melakukan syukuran 3 hari 3 malam, atau setidaknya merubah cat tembok perpustakaan dengan warna terang benderang untuk menyambut kedatangan Dhie. Hei ini peristiwa langka jadi harus disyukuri. Selama tujuh semester Dhie dikampus, baru kali ini Dhie menginjakkan kaki diperpustakaan. Biasanya kalau ada tugas atau butuh materi kuliah, Dhie selalu datang pada mr. Geogle atau berkencan dengan notebook keramatnya dikamar. Yang paling menyedihkan, Dhie lebih suka membongkar mesin-mesin bekas daripada membaca buku. Menurutnya teori terlalu memusingkan, praktek lebih asyik. Jadi tidak heran juga sih kalau Dhie tidak pernah ke perpustakaan. "Apa kau butuh parasetamol, Dhie?" Dhie menoleh ke sumber suara, ternyata Joan dan Kenken yang menghampirinya. "Ku rasa panasnya lebih dari 40°c." ujar Joan seraya menempelkan telapak tangannya dikening Dhie sambil manggut-manggut. "Dhie si pembuat onar masuk perpustakaan? Wow bisa dimasukan tuh ke rekor Muri." Sementara Kenken hanya terkekeh menertawakan sahabatnya. "Bisa jadi juga dia lagi kesurupan, Ken." Kedua tangan Joan memegang kepala Dhie lalu komat kamit. "Hai setan! Keluarlah! Jangan sembunyi disini! Huss huss jing jing harupat geura lumpat siahh!" "Ish kalian ini? Merusak imageku saja." Dhie menepis tangan Joan dengan kesal. "Ayo ikut!" Langsung saja Dhie menyeret kedua tangan sahabatnya untuk masuk ke ruang baca. Joan dan Kenken heran saat Dhie menarik mereka ke rak buku Sejarah. Selain mahasiswa jurusan Sejarah, tidak ada yang singgah ke rak buku itu. Apalagi ini Dhie yang jurusan Teknik Mesin. Untuk apa coba Dhie baca buku sejarah? Aneh. Jangan-jangan otak Dhie mulai eror nih. "Sstt," Joan menyenggol lengan Kenken, pelan. "Mau cari buku apaan kita kesini?"bisiknya. "Mungkin mau cari asal usul nenek moyang baut atau hubungan antara Cina dengan sparepart Jepang."elak Kenken, asal. "Ngaco!" "Sstt dia yang ngaco!" Kenken menunjuk Dhie sambil tertawa kecil. "Mungkin otaknya lagi konslet, Jo. Butuh diservice!" "Mungkin juga sih. Aneh." Joan setuju dengan Kenken. "Tuh tuh liatin Ken! Serius amat mukanya, bukan Dhie banget gitu. Eh, apa perlu kita bacain surat Yasin? Siapa tau dia kesambet penghuni pohon mangga depan rumah." "Bisa jadi. Sekalian sama ayat Kursi aja." "Kenapa gak skalian kita tahlilan aja?" "Hush! Masih bernafas teman kita ini." Kenken dan Joan cekikikan dibelakang Kenken dan Joan tambah heran melihat Dhie membawa setumpuk buku dan menyimpannya di meja baca. Masih mending kalau satu atau dua buku, ini banyak! Sepertinya hari ini otak Dhie benar-benar konslet. "Kenapa pada bengong? Duduk sini!" Dhie menyuruh kedua sahabatnya untuk duduk. Lalu masing-masing diberi beberapa buku yang lumayan tebal. "Sejarah kerajaan kuno?"guman Kenken, makin heran. "Kau menyuruh kami baca buku-buku ini?" Joan pun tak bisa mengerti ulah Dhie kali ini. "Wah otakmu benar-benar harus diservice Dhie." Pletak! Pletak! "Aoww!!" Kenken dan Joan kompak meringis kesakitan saat Dhie menjitak kepala mereka. "Jangan banyak protes! Pokoknya kalian harus membantuku. Baca sejarah yang berkaitan dengan kerajaan Majapahit, Gajah Mada, atau lebih spesifiknya perang Bubat. Aku butuh referensi yang akurat."pinta Dhie. "Buat apaan sih Dhie? Memangnya kau mau nulis buku sampai harus akurat segala."omel Joan, malas. "Mendingan kita jajan es campur Oyen saja, panas-panas begini kan seger." "Batagor Riri saja deh, aku traktir."timpal Kenken. "Sssttt diam!" Dhie langsung melotot. "Ba-ca di-ba-ca!"suruhnya, galak. Kenken dan Joan menghela nafas panjang lalu mulai mencari dan membaca bagian sejarah yang diinginkan Dhie. Tanpa mereka sadari, mereka larut dalam bacaan masing-masing. Boleh saja mereka tidak menyukai sejarah, tapi sejarah akan menenggelamkan pikiran setiap orang yang membacanya. "Wow..."guman kekaguman tak sadar keluar dari mulut Kenken. "Kenapa?" Dhie menoleh heran. "Aku baru tau kalo Prabu Siliwangi hanya sebuah julukan, bukan nama asli atau gelar yang diberikan oleh seseorang, karena sebenarnya tidak ada raja Sunda yang bernama Prabu Siliwangi." "Oh ya?" Joan pun mulai tertarik. "Emang ada hubungannya dengan perang Bubat?"tanya Dhie. "Jelas ada. Disini disebutkan kalau kerajaan Sunda memberi gelar Prabu Wangi kepada raja Linggabuana yang gugur bersama Dyah Pitaloka di perang Bubat. Beliau dianggap gugur sebagai pahlawan yang berani mati membela kehormatan dan harga diri kerajaan Sunda. Dan pengganti atau penerus raja Linggabuana disebut Silih Wangi. Dari sinilah julukan Prabu Siliwangi berasal." "Oooo begitu." Dhie hanya manggut-manggut. "Kalau begitu, siapa sebenarnya raja yang dijuluki Prabu Siliwangi yang terkenal itu?" Joan jadi penasaran. "Sebentar..." Kenken kembali serius menekuni bacaannya. Lembar demi lembar buku dibukanya. "Ini dia!"seru Kenken, senang. "Rakyat tanah Sunda menjuluki raja Pajajaran sebagai Prabu Siliwangi." "Kok jadi ke Pajajaran?" Protes Joan. "Sstt, dengerkan dulu."pelotot Kenken, serius. "Putra dari Rahiang Dewa Niskala yang bernama Jayadewata, ketika diangkat menjadi raja diberi gelar Prabu Guru Dewataprana, lalu dinobatkan lagi dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Beliau ini lebih dikenal dengan nama Sri Baduga Maharaja Pajajaran. Jadi julukan Prabu Siliwangi yang terkenal itu ditujukan sama dia." "Oohhh."angguk Joan. "Ternyata rumit juga yah asal usulnya." "Hemm, terlalu banyak gelar yang bikin pusing, mana gelarnya panjang-panjang lagi. Mungkin semakin banyak jasa seorang raja, semakin panjang juga gelarnya."sela Kenken. "Tidak begitu juga. Orang jaman dulu penuh perhitungan, mereka tidak akan gegabah memberikan gelar pada seseorang." Dhie menarik nafas lega. Setidaknya ia tau harus bagaimana menjelaskan kerumitan hubungan Majapahit - Sunda pada Badra. "Aku jadi tau dampak perang Bubat bukan hanya dimasa lalu, tapi terbawa hingga masa sekarang. Kalo perang Bubat tidak terjadi, maka latar belakang historis Prabu Siliwangipun dipastikan tidak akan ada." "Betul itu!" Kenken setuju dengan pendapat Dhie. "Oo pantesan di Jawa Barat tidak ada tuh jalan Gajah Mada. Terus ada mitos juga kalau orang Sunda tidak boleh menikah dengan orang Jawa, mungkin ada pengaruh dari perang Bubat juga." "Bisa jadi. Karena disini disebutkan dampak perang Bubat itu sampai ke keturunannya." "Ya sudah baca lagi. Aku perlu banyak referensi untuk memberikan jawaban yang bagus pada Bad...ra. Ups!" Dhie kelepasan. "Siapa Badra?"tanya Joan dan Kenken, kompak. "Eh, itu..." Dhie menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Siapa Badra, Dhie?!" Joan sudah melotot kesal, menunggu jawabannya. "Badra itu...adik eh kakak. Ya, dia kakakku." "Kakak dari Hongkong?! Kakak ketemu gede?! Atau...kakak jadi-jadian?!"desak Joan sambil berdiri. "Ssttt pelanin suaramu. Ini perpustakaan." Kenken menarik tangan Joan agar duduk lagi. "Baiklah, nanti akan ku jelaskan." Ucap Dhie, menenangkan Joan. "Janji?" "Iya. Aku janji." "Awas saja kalau kau berani main rahasia denganku. Tak ulek kau jadi karedok leunca! Ingat Dhie, hutangmu itu masih banyak padaku, jadi jangan macam-macam."ancam Joan sambil mendelik kesal pada Dhie. Sementara Dhie hanya mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya, mengajak damai. Dari dulu ia tak pernah bisa menyembunyikan apapun dari sahabatnya. "Hei, gayamu sudah mirip mak Lampir saja."cibir Kenken. "He he he keseringan bareng mak Lampir otakku jadi sedikit terkontaminasi." Joan hanya cengengesan. "Eh, ngomong-ngomong yang namanya Badra cakep enggak, Dhie?" "Hmm lumayanlah." "Asiiikkk. Ayo baca, baca lagi, biar kita bisa cepat pulang." Kenken mendengus kesal. Moodnya langsung turun melihat ekspresi Joan yang kesenangan mau bertemu cowok lain. Sementara Dhie hanya bisa meringis diam, menyaksikan untuk kesekiankalinya Kenken patah hati. Catat! Untuk kesekian kalinya. Kasihan kasihan. Cuman bisa friendzone doang. "Semangat Ken!"bisik Dhie pada Kenken. Dan Kenken pun hanya bisa tersenyum masem. ------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD