Matahari bersinar hangat menyambut pagi. Dhie sedang bersiap pergi ke kampus saat melihat sesuatu menclok dipohon Mangga depan rumah. Setelah didekati ternyata Badra yang tidur diatas batang pohon Mangga.
Dhie berdecak kagum melihat keseimbangan tubuh Badra yang lebih besar dari batang pohon yang ditidurinya, sepertinya ringan sekali. Tapi kenapa Badra tidur diluar? Setaunya tadi malam dia tidur dikursi rotan ruang tamu.
"Belum berangkat Dhie?" Mak Lampir datang sambil menggendong bakul besar, baru pulang dari pasar subuh.
"Sebentar lagi, Mak." Dhie bergegas membantu Mak Lampir menurunkan bakul besar dari punggungnya. "Alhamdulillah habis Tempenya."ucap Dhie, senang melihat bakul itu kosong.
Pekerjaan Mak Lampir memang menjajakan Tempe bungkus ke pedagang kecil dipasar untuk dijual kembali. Meski untungnya tidak seberapa tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Kadang mereka juga sore hari jualan tempe mendoan kalau sisa di pasar masih banyak.
"Aishh dasar bujang lapuk! Belum bangun juga dia?" Mulut Mak Lampir langsung gatal melihat Badra yang masih tidur.
"Mak yang menyuruhnya tidur diluar?"tebak Dhie.
"Iya, habis semalam dia ribut sekali ngigau. Pake teriak segala lagi." sahutnya agak kesal karena yang diusirnya malah terlihat nyenyak tidur. "Sudah sana berangkat! Nanti ketinggalan bis."
"Iya, mak. Pergi dulu yah. Assalamualaikum!" Dhie mencium punggung tangan Mak Lampir sebelum pergi.
"Waalaikumsalam. Ingat jangan bikin masalah di kampus! Belajar yang benar biar cepat lulus! Terus uang semesterannya setorin, jangan dipakai beli onderdil lagi!"
"Insya Allah."
"Dhie?!"pelotot Mak Lampir.
"Iya iya!"jawab Dhie cepat sebelum suara sopran Mak Lampir terdengar lagi.
"Dasar anak badung! Lihat saja nanti kalo bikin masalah lagi, tak bakar semua komik Narutomu! Kau dengar itu Dhie?! Jangan bikin masalah!"teriaknya percuma karena yang diancam wujudnya sudah tak terlihat lagi.
Mak Lampir tersenyum kecut ketika melihat Badra lagi. Dengan gemas diambilnya sapu lidi dan mulai bersiap memukul Badra. Tetapi,
Sseett!
Tubuh Badra melayang dan hinggap di batang yang lebih tinggi, jauh dari jangkauan Mak Lampir.
"Aku sudah bangun, Mak." Tubuh Badra meloncat mulus dan berdiri tegap didepan Mak Lampir. Sebelum mulut Mak Lampir terbuka, Badra sudah mengangkat tangannya dan memberi isyarat. "Aku akan mengisi bak mandi, membersihkan halaman, mengepel dan masak. Apa itu cukup untuk pagi ini?"
"Cih! Dasar kau ini!" sungut Mak Lampir tak urung tersenyum juga. "Ya sudah sana kerjakan!"
"Baik."
"Setelah beres kau langsung sarapan."
"Baik, mak!" Badra tambah semangat.
"Jangan lupa, kau harus mencari pekerjaan. Pergi kepasar dan perhatikan, lihat apa saja yang bisa kau lakukan untuk menghasilkan uang. Yang penting pekerjaan itu halal dan tidak merugikan orang lain. Mengerti?"
Wussh... Wusshh...
Fokus Badra teralihkan seketika saat telinganya menangkap pergerakan yang tak biasa disekitarnya. Badra mengarahkan pandangannya ke segala penjuru arah, mencoba menangkap sesuatu yang terus bergerak melebihi kecepatan biasa. Sementara Mak Lampir terus saja mengoceh memberi pengarahan.
"Pokoknya cari dan kumpulkan uang sebanyak mungkin, baru kau bisa makan tidur dengan enak. Memang sih uang bukan segalanya, tapi untuk mengurus segalanya kau perlu uang. Kencing diluar saja pakai uang, apalagi untuk makan dan ganti pakaian. Semuanya harus pakai uang."
Wushh!
Tanpa menunggu lagi Badra langsung melompat mengejarnya.
"Ee...kau mau kemana? Badra!!!"teriak Mak Lampir, kaget.
Sementara Badra mulai mengejar dengan melompati pepohonan, genteng dan atap rumah untuk dijadikan pijakan. Sosok bayangan itu memiliki ilmu diatas rata-rata hingga Badra harus susah payah mengejarnya. Tapi bukan Badra kalo gampang menyerah.
Tak berapa lama dua sosok bayangan hitam terlihat berkelebatan diantara angin saling berkejaran. Hingga diatas sebuah tower keduanya berhenti, berdiri saling berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.
"Siapa kau?"tanya Badra pada sosok laki-laki bertopeng dihadapannya.
"Apa begini sikapmu bertemu dengan teman satu jamanmu?" Laki-laki itu tertawa slengehan melihat Badra yang terdiam mendengar ucapannya. "Tempatku berasal sama denganmu."
"Siapa yang mengutusmu?"tanya Badra, datar.
"Kau tidak perlu tau." kekehnya, tak mau memberitau.
"Baiklah. Tapi kenapa kau ada dirumah mak Lampir?"
"Itu harus."
"Apa maksudmu?"
"Ada urusan yang belum terselesaikan."
"Urusannya sudah menjadi urusanku. Katakan saja. Jangan bertele-tele!"tegas Badra.
"Kau masih saja tidak sabaran."
Badra menatap lekat laki-laki itu. Merasa kalau laki-laki itu mengenalnya dengan baik. Tapi siapa dia? Badra sendiri merasa tidak mengenalnya.
"Kau pergi terlalu cepat. Terlalu banyak hal yang kau tinggalkan."
"Itu bukan urusanmu." Badra mengulang kalimat yang diucapkan laki-laki itu.
"Termasuk Mahapatihmu itu yang diasingkan? Apa kau yakin tidak ingin tau?"
Seketika wajah Badra memucat, tak percaya. Tanpa sadar, kedua tangannya sudah terkepal menahan marah. Siapa yang berani mengasingkan Gajah Mada? Ternyata dampak dari perang Bubat begitu besar, hingga mampu menggoyahkan kedudukan Gajah Mada di kerajaan.
"Jelaskan padaku!"
"Mahapatih Gajah Mada sudah dijatuhi hukuman. Beliau di asingkan ke Llumbang. Dan aku yakin dengan harga diri dan prinsipnya yang tinggi itu, beliau akan melakukan moksa tidak lama lagi."
"A..pa?" Badra benar-benar terkejut. Jangan-jangan mimpi tadi malam adalah sebuah firasat untuknya. "Kenapa bisa terjadi?" lirih Badra.
"Bisa saja." Laki-laki bertopeng itu membuat Badra ketar-ketir dengan berita yang dibawanya. "Apa kau pikir pertumpahan darah di Bubat itu sudah berakhir? Kau naif sekali."
"Jangan bertele-tele! Jelaskan saja dengan cepat!"
"Dasar tidak sabaran." Sesaat lelaki bertopeng itu menghela nafas panjang. "Kau harus tau, bukan hanya Mahapatih Gajah Mada yang mendapat hukuman. Kerajaan Sunda pun sudah memutuskan hubungan diplomatik dengan Majapahit, bahkan sampai mengeluarkan larangan esti ti luaran untuk seluruh kerabat kerajaan Sunda. Mereka benar-benar marah dan membenci Majapahit."
"Kenapa hanya Mahapatih yang dijatuhi hukuman? Kenapa tidak semua pejabat, panglima dan prajurit juga dijatuhi hukuman?"
"Mana ku tau. Tanyakan saja nanti pada rajamu. Itupun kalau kau bisa kembali dengan selamat."elaknya, sinis.
"Kau bilang kau berasal dari tempat yang sama denganku, berarti rajaku rajamu juga."
"Ha ha ha benar juga sih!"tawanya benar-benar naif. "Tapi, tujuanku kesini jelas berbeda denganmu. Jadi aku tidak akan segan untuk membunuhmu." Nada suaranya berubah dingin.
"Siapa kau sebenarnya?"
"Tidak usah kau pedulikan jati diriku! Lakukan yang harus kau lakukan dan aku pun akan melakukan apa yang harus ku lakukan. Karena bagiku nyawa harus dibayar dengan nyawa! Dan darah harus dibayar dengan darah!!"
"Kau?!" Pikiran Badra langsung mengarah pada Dhie. Ternyata kemunculannya dirumah mak Lampir untuk mencari Dhie.
"Yeah kau benar, aku akan segera membunuhnya!"
"Kau tidak akan bisa menyentuhnya!"
"Oh ya? Kita lihat saja nanti." Laki-laki bertopeng itu tak gentar sedikitpun pada Badra. "Kita lihat akan seperti apa penyesalan Gajah Mada pada orang yang tidak bisa mengemban tugasnya dengan baik. Mungkin saking malunya dia akan menggantung dirinya sendiri di alun-alun Majapahit."
"Tutup mulutmu!"
"Mulut mulutku sendiri, terserah aku mau bicara apa saja."
"Kau?!"
"Lindungi saja gadis itu semampumu. Tapi ku pastikan dia akan segera mati ditanganku! Seperti Gajah Mada yang sudah menerima hukumannya, dia pun akan segera menerima hukumannya! Segera! Akan ku buat kalian membayar semuanya atas apa yang telah terjadi di lapangan Bubat! Kau dengar itu!!"
Badra hanya diam dan mendengarkan semua sumpah serapah laki-laki bertopeng itu. Lalu tanpa berkata apapun, wuushh! Badra langsung berbalik dan melompat terbang meninggalkannya.
Seiring dengan raganya yang melayang diantara pijakan dan angin, pikirannya pun ikut melayang jauh memikirkan nasib Mahapatihnya. Badra tak bisa membayangkan kalo Gajah Mada melakukan moksa. Jangan sampai! Tapi Badra pun tak bisa membiarkan Dhie terluka. Bagaimanapun caranya, Badra akan melindungi Dhie dan menjalankan tugasnya dengan segenap jiwa. Badra tidak akan membiarkan Gajah Mada kecewa.
Sementara laki-laki bertopeng itu masih setia ditempatnya semula. Bisikan lirihnya terdengar pelan terbawa angin,
"Kau harus membayar mahal untuk semua yang sudah terjadi, putri Dyah Pitaloka..."
---------
*Moksa = menghilangkan diri secara tak kasat mata.
*Esti ti luaran = larangan untuk menikah dengan orang di luar lingkungan kerajaan Sunda.