5. Tragedi Bubat

1237 Words
Langit hitam menyelimuti malam yang dingin. Angin berhembus pelan seakan enggan menganggu mimpi indah Badra. Meski tertidur diatas kursi panjang yang terbuat dari rotan, tanpa alas tanpa selimut, Badra tetap tertidur lelap. Sukmanya mulai berkelana di alam mimpi kembali pada masa terjadinya perang Bubat untuk memenuhi panggilan dari sang Mahapatih. Di hutan bambu, diantara ilalang dan bebatuan terjal, ditemani bunyi air terjun yang jatuh bergemuruh, Badra berjalan menghampiri Gajah Mada yang sedang duduk diatas sebuah batu besar. Disebelah kirinya berdiri sosok perempuan berpakaian bak putri keraton. Disebelah kanannya berdiri sosok perempuan memakai kemeja dan jeans belel. "Dhie...?" lirih Badra, menatap tak percaya. Meski cara berpakaian mereka berbeda tapi wajah mereka mirip bahkan terlalu mirip. Kenapa Dhie ada dua? Kenapa Mahapatih Gajah Mada bisa ada bersama mereka? Badra bingung seraya menatap kedua perempuan itu bergantian. "Mahapatih, mereka..?" Tak ada jawaban. Hanya senyum kewibawaan yang terpancar dari bibir Gajah Mada. Perlahan kabut putih menyelimuti mereka. Badra memejamkan matanya yang terasa perih dan tak bisa melihat dengan jelas. Yang terasa hanya hempasan angin lembut menerjang tubuhnya. Dan saat kedua matanya terbuka, Badra sudah berada ditempat yang berbeda yaitu di lapangan Bubat yang terletak disebelah utara Trowulan, ibukota Majapahit. Dimana peperangan sengit sedang terjadi antara pasukan Gajah Mada dengan pasukan dari kerajaan Sunda dibawah pimpinan Sri Baduga Maharaja Linggabuana. Bunyi s*****a beradu dan teriakan para prajurit kedua belah pihak bergema dimana-mana. Korban mulai berjatuhan dari pihak kerajaan Sunda. Sementara Badra terpaku diam menyaksikan. Dirinya sadar bahwa peperangan yang terlihat didepan matanya sudah terjadi beberapa hari lalu, bahkan peperangan itu sudah membuat geger seluruh penghuni istana Majapahit meski kemenangan berada dipihak Gajah Mada. Yang terdengar, banyak petinggi, pejabat dan bangsawan Majapahit menyalahkan Gajah Mada. Pada saat itu, Badra sendiri sedang menjalankan perintah dari senopati ke kerajaan Galunggung. Dan sekembalinya dari sana, semua orang ramai membicarakan peristiwa pertumpahan darah itu. Pertumpahan darah itu menjadi sebuah tragedi bagi Majapahit sendiri karena Dyah Pitaloka adalah calon pengantin paduka raja Hayam Wuruk. Dan bisa dipastikan tragedi ini sudah menghancurkan hubungan antara Majapahit dengan kerajaan Sunda. Pupus sudah keinginan Majapahit untuk menaklukkan kerajaan Sunda. Hanya saja semua pihak memandang Gajah Mada sebagai orang yang paling bertanggungjawab atas terjadinya tragedi ini, itu yang tidak bisa dimengerti Badra. Meski tidak tersirat, Badra tau kalo Gajah Mada menyembunyikan sesuatu. Patih sekelas Gajah Mada yang selalu bertindak penuh perhitungan dan berpikiran jauh ke depan tidak akan melakukan sesuatu tanpa alasan yang jelas. "Tidak ada yang akan keluar hidup-hidup dari pesanggrahan ini!" Tiba-tiba terdengar teriakan lantang dari putri Dyah Pitaloka yang berada didalam pesanggrahan. Swingg! Jleebb! Belatinya langsung menembus tubuh prajurit Majapahit yang hendak keluar. "Ampun gusti putri! Hamba hanya seorang pelayan! Ampuni hamba! Kasihani hamba! Besok hamba akan menikah, ijinkan hamba pergi." Seorang pelayan Majapahit memohon dihadapan putri Dyah Pitaloka. "Aku tidak peduli! Tidak ada yang akan menikah hari ini di Majapahit! Tidak seorangpun! Mereka harus membayar noda ini untuk selamanya! Selamanya!" Jleebb! "Akhh!" Pelayan itu pun merenggang nyawa seketika. Darah merah menetes dari ujung belati. "Kepung sang putri!!" Perintah seorang panglima diluar pesanggrahan. Puluhan prajurit Majapahit merengsek masuk ke pesanggrahan dan langsung mengepung putri Dyah Pitaloka. "Menyerahlah tuan putri!" Perintah panglima. "Raja Hayam Wuruk sudah menunggu di Istana. Ikutlah bersama kami." "Cihh!" Tapi putri Dyah Pitaloka malah meludahinya. "Kau pikir aku masih ingin menikah dengan raja kalian?? Tidakk! Demi penghinaan yang telah kalian lakukan padaku, demi ayahanda dan semua prajurit kerajaan Sunda yang gugur, aku tidak akan pernah menikah dengan raja kalian! Ha ha ha! Lebih baik aku mati terhormat daripada harus menikah dengan Hayam Wuruk! Hiiaatt!" Jlebb! Putri Dyah Pitaloka menghunuskan belati itu ke tubuhnya sendiri. Semua muncul begitu saja seperti adegan sebuah film. Badra terpaku diam, antara kaget dan tak percaya. Aksi bunuh diri putri Dyah Pitaloka begitu menggetarkan jiwanya. Masih tak percaya semua itu terjadi di lapangan Bubat. Apa benar semua terjadi karena mahapatih Gajah Mada? Apa benar Gajah Mada yang sudah membunuh Sri Baduga Maharaja? Tidak. Tidak. Tidak. "Apa yang kau lihat, apa yang kau dengar, belum tentu itu kebenarannya..." Lamunan Badra terhenyak mendengar suara Gajah Mada yang tiba-tiba saja berdiri dihadapannya. "Kau harus melihat dan mendengar sendiri untuk dapat memastikan kebenarannya." "Hamba, gusti!" Badra menunduk hormat. "Terima kasih atas keyakinanmu padaku, Badra." ujar Gajah Mada, seakan tau apa yang ada dalam pikiran Badra. "Gusti?" Badra tak mampu mengeluarkan apa yang ada dibenaknya pada Gajah Mada saat melihat mayat-mayat bergelimpangan dan wajah-wajah letih tanpa dosa. Perang itu telah berakhir, tapi darah dari luka-luka itu mulai berdesir, bersiap untuk menghancurkan siapa saja. "Apa yang sebenarnya terjadi, gusti? Kenapa hamba bisa ada disini?"tanya Badra. Lagi lagi Gajah Mada hanya tersenyum seraya jari telunjuknya mengarah ke satu titik. Badra melihat kearah itu, ke medan peperangan yang sunyi, ke sosok perempuan yang telah terbujur kaku, dan disana juga berdiri sosok perempuan dengan wajah yang sama tapi berpenampilan beda, itu Dhie. "Putri Dyah Pitaloka sudah meninggal."ujar Gajah Mada, menjawab apa yang tersembunyi dikepala Badra. "Dan yang berdiri disampingnya adalah perempuan yang kau kenal sekarang." "Mereka?" Kini Badra mengerti kalo sebenarnya dua perempuan itu adalah satu sosok yang sama. Dikehidupan yang lalu dia adalah putri Dyah Pitaloka, dan dikehidupan sekarang dia adalah Dhiya Pitaloka. Berarti adanya benar kalau Dhie adalah titisan dari putri Dyah Pitaloka. Tapi untuk kenapa Badra harus melindungi Dhie? "Apa kau sudah mengerti, Badra?" "Ampun gusti Patih!" Sontak Badra berlutut karena belum paham akan maksud Gajah Mada memperlihatkan itu semua padanya. "Yang sudah terjadi, terjadilah karena itu adalah kehendak dari Sang Penguasa Alam Semesta. Tapi untuk yang belum terjadi, hakekat kita untuk menjauhkannya dari marabahaya. Anggap saja aku melakukannya untuk diriku sendiri, dan untuk menebus kesalahanku pada kerajaan Sunda." "Ampun gusti! Hamba masih belum mengerti." "Tak apa, kehidupan akan membuatmu mengerti nanti." Gajah Mada malah tersenyum tulus pada Badra. "Tapi aku senang telah mempercayaimu, aku lega telah memilihmu untuk melakukan tugas ini, kau begitu keras berusaha memahamiku." Tepukan Gajah Mada dibahunya, membuat tubuh Badra berdesir menahan gelombang aura yang begitu besar. Badra hanya menunduk, tak berani menatap Mahapatihnya. "Badra..." "Dalem gusti?" Perlahan Badra mengangkat wajahnya. Tapi lagi lagi Gajah Mada hanya tersenyum dan meninggalkan rasa penasaran dibenak Badra. "Gusti?" Badra memberanikan diri untuk menggapai tubuh Gajah Mada yang mulai menjauh darinya. "Gusti Mahapatih?!" "Maafkan aku, Badra." "Gusti mahapatih?!" Badra terbelahak kaget menyaksikan Gajah Mada menghunuskan sebuah pedang seiring tubuhnya yang bergerak menjauh dari Badra. Mata pedang itu tepat diarahkan ke jantungnya. "Jangan gusti!!" teriak Badra seraya berlari mengejar Gajah Mada yang seakan ingin melakukan bela pati. Bela pati? Tidak! Mahapatih tidak boleh melakukan bela pati. Badra tidak akan membiarkannya selama ia masih hidup! "Jangaaannnn!!!" Byuurr! Seember air membangunkan Badra dari mimpinya. Badra terbangun gelagapan dengan nafas terputus-putus. Badannya basah kuyup. Badra mencoba menenangkan diri sambil mengumpulkan nyawanya kembali. Saat Badra sadar sepenuhnya, saat itulah sepasang mata bulat siap menerkamnya hidup-hidup, "Badraaa!!!" Lengkingan suara Mak Lampir hampir memecahkan gendang telinga Badra saking kerasnya. "Iya, mak?" "Kenapa berisik sekali kau?! Menganggu tidurku saja!!" "Maaf, mak." "Tidur diluarrr!"suruh mak Lampir, tak kenal ampun. "Baik, mak." Badra menurut saja. Tapi baru juga keluar pintu, perutnya sudah bunyi. Lalu dengan polos Badra merajuk pada mak Lampir. "Tapi aku boleh makan dulu yah, mak. Lapar lagi." "Makan tuh pintu!" Brakk!! Mak Lampir langsung menutup pintu. Diluar Badra hanya bisa menghela nafas panjang sambil mengusap perutnya yang terasa lapar. Apes banget malam ini. Sudah basah kedinginan, kelaparan pula. Hahh nasib nasib. ------- *(Bela pati adalah tindakan bunuh diri yang dilakukan untuk melindungi harga diri)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD