4. Gajah Mada

1227 Words
Mak Lampir menatap Badra dengan curiga. Semua penjelasan Dhie tidak masuk akal baginya. Mana ada manusia keluar dari sekumpulan asap putih? kecuali manusia jadi-jadian atau orang yang baru selesai foging ngeberantas nyamuk DBD. Ada ada aja. Datang tanpa diundang tapi pulang ikut bareng. Persis tamu tak diundang yang datang ke resepsi nikahan modal amplop kosong tapi pulang kenyang. Begini nih orang yang harus diwaspadai mak Lampir karena bisa mengancam keamanan dapur dan kesejahteraan perut bersama. Waspada, waspadalah. Satu-satunya yang masuk akal bagi mak Lampir adalah rasa empati Dhie yang berlebihan pada orang yang tersesat atau terlantar. Dhie tidak akan tega membiarkannya dijalanan atau luntang lantung tidak jelas. Biasanya suka diajak pulang, dikasih makan, dicarikan pekerjaan, atau diantarkan ke panti sosial. Mungkin karena waktu kecil Dhie pernah tersesat dan akhirnya menjadi korban preman jalanan yang menyuruhnya mengemis dan mengamen dijalanan, sebelum akhirnya ditemukan di rumah sakit karena tertabrak mobil. Sampai sekarang Dhie tidak tau siapa orangtuanya. Yang melekat dalam benaknya adalah saat mak Lampir memeluknya di rumah sakit dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. "Baiklah kau boleh tinggal disini, dengan syarat..." Akhirnya mak Lampir mengijinkannya. "Kau harus membantu pekerjaan rumah dan juga mencari pekerjaan diluar sana untuk biaya hidupmu sendiri. Mengerti?" "Baik. Terima kasih nyonya sudah mengijinkanku untuk tinggal dan menjaga Dhie!"ucap Badra bersemangat. "Jangan sungkan begitu, kau boleh memanggilku emak seperti yang dilakukannya."elak mak Lampir. "Kau memang the best, mak!" Sontak Dhie memeluk mak Lampir saking senangnya. Dhie tidak akan pernah bisa marah pada mak Lampir meski badannya terasa sakit dan pegal karena pukulan sapu mak Lampir. Itu sudah biasa. Kemarahan mak Lampir adalah wujud kasih sayangnya pada Dhie. Mak Lampir juga satu-satunya orang yang paling mengerti dan menyayangi dirinya. Meski tidak ada hubungan darah diantara mereka tapi Dhiya sangat menyayanginya, menganggapnya sebagai ibu, ayah, sahabat, teman dan juga musuh. Mak Lampir hanya panggilan sayang untuk wanita yang sudah membesarkan Dhie selama 12 tahun ini. Nama aslinya Nyai Rengganis. Tapi karena cerewet, galak, tukang ngatur, dan kalau bicara tak bisa pelan, maka jadilah Dhie memanggilnya mak Lampir. Dan pada akhirnya semua orang yang merasa sependeritaan dengan Dhie pun ikut memanggilnya mak Lampir. "Aku sayang padamu, mak!" ucap Dhie, lebay. "Baiklah." Mak Lampir tersenyum horor pada Dhie dan Badra. "Karena kau sayang padaku, tolong kau cuci pakaian, nyapu, ngepel dan masak yang enak untukku. Dan kau Badra, kau isi bak kamar mandi, cuci piring lalu potong rumput halaman." Hahh Dhie menyesal mengatakannya. "Aku mau tidur dulu. Kalau masakannya sudah matang baru bangunkan aku. Oke?" "Oke bosss...." sahut Dhie, mencibir kesal. Mak Lampir hanya tertawa kecil lalu pergi ke kamarnya. Dhie mengajak Badra ke belakang rumah untuk memulai pekerjaan mereka. Badra mulai menimba air dari sumur dan menumpahkannya ke bak kamar mandi yang lumayan besar. Sekarang Badra mengerti darimana kekuatan mak Lampir berasal. Sementara Dhiya mencuci pakaian disamping sumur. "Apa kalian hanya tinggal berdua disini?"tanya Badra sambil menimba air. "Ya." "Dia belum menikah?" "Kurasa belum." Dhie sedikit menerawang jauh, karena ia pun tidak mengetahuinya. Selama ini mak Lampir sangat menutup diri dari makhluk bernama laki-laki. Kalau ada laki-laki yang mendekatinya maka bisa dipastikan dalam hitungan menit akan lari terbirit-b***t. "Sepertinya dia wanita hebat." "Bukan sepertinya lagi tapi dia memang wanita hebat." "Lalu, apa nanti kau akan menikah juga?" Eh? Dhie nampak kaget mendapat pertanyaan itu. "Apa kau sedang menyumpahiku jadi perawan tua? Atau kau ingin menikahiku nanti?" Dhie balik bertanya dengan mata melotot. "Bukan begitu maksudku."elak Badra, polos. "Aku hanya ditugaskan untuk menjaga dan melindungimu, bukan untuk menikahimu. Tapi kalau suatu saat nanti kau menikah, aku bingung dengan kelanjutan tugasku nanti. Aku tidak ingin mengecewakan gusti Mahapatih." "Cih! Ternyata yang kau pikirkan hanya tugas dan Mahapatihmu saja." sungut Dhiya, kesal. "Seberapa hebat sih Gajah Mada itu sampai kau begitu mengagungkannya? Yang aku tau cuman Sumpah Palapanya saja." "Bagiku...gusti Mahapatih adalah penyelamat, pejuang sejati, seorang politikus handal, seorang petarung dan ahli strategi yang hebat, seorang ayah, guru, dan keluarga bagiku." ujar Badra dengan rasa bangga yang menyelesak keluar. "Karena pertolongannya, aku masih hidup sampai sekarang. Karena ajaran dan kasih sayangnya, aku bisa tumbuh dengan baik." "Wah kau begitu memujanya. Tapi...apa kau mengenalnya dengan baik? Bukan sebagai prajurit, tapi sebagai orang yang mengaku keluarganya?" "Tentu saja."angguknya, tambah bersemangat. "Gusti Mahapatih lahir pada tahun 1299 di desa Maddha dekat kaki gunung Semeru. Ayahnya bernama Curadharmawyasa dan ibunya Nariratih. Keduanya menjadi Brahmana setelah disucikan oleh Mpu Ragarunting. Setelah berusia 12 tahun beliau berguru lalu menjadi prajurit Bayangkara dan mengabdi pada kerajaan. Beliau adalah orang yang sangat kuat sehingga orang-orang memanggilnya Gajah dari desa Maddha." "Terus bagaimana bisa Gajah Mada mengeluarkan Sumpah Palapanya?" "Bisa saja karena beliau orang yang kuat, berani dan punya pandangan jauh ke depan. Beliau hanya ingin melindungi kerajaan-kerajaan di Nusantara agar tidak terpengaruh oleh kerajaan Asing. Itu dibuktikannya dengan ikrar tidak akan makan enak selama kerajaan di Nusantara belum bersatu dibawah Majapahit." Dhie hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Badra. Tapi bukan Dhie kalau tidak mengeluarkan isi otaknya saat itu juga. "Well menurutku Gajah Mada adalah orang yang sangat ambisius pada kekuasaan." Badra menatap Dhie dengan heran. Sorot matanya memperlihatkan rasa tidak suka atas ucapan Dhiya. "Kenapa kau berpikir begitu?" "Kalau dia tidak berambisi pada kekuasaan, dia tidak akan mengeluarkan Sumpah Palapa." Dhie mengeluarkan pikiran yang mengganjal di otaknya. "Kalau untuk membentengi pengaruh dari kerajaan asing, kenapa sampai harus menaklukkan kerajaan lain di Nusantara? Toh kalian bisa melakukannya dengan memperkuat kerajaan Majapahit itu sendiri." Badra terdiam. Hal seperti itu tidak pernah terpikirkan olehnya. Karena kekuasaan dan ambisi bukan tujuan hidupnya selama ini jadi Badra tidak pernah tertarik untuk membahasnya dengan siapapun. "Mungkin kau benar." Akhirnya ujar Badra. "Tapi itu tidak merubah sedikitpun pendapatku tentang Mahapatih. Karena pengabdianku pada beliau tulus dan jujur. Selama beliau ada dijalan yang benar dan selalu memberiku kebenaran, aku akan mengikutinya. Apa masih dibutuhkan alasan untuk itu?" "Yah tidak sih."elak Dhie. "Hanya saja didunia ini tidak ada kebenaran yang hakiki, kecuali kebenaran yang berasal dari Allah SWT. Jika seorang penguasa sudah mengatasnamakan suatu kebenaran brarti kebenaran itu sifatnya manusiawi, masih bisa salah. Dan hal itu mungkin saja terjadi pada Gajah Mada, dia kan manusia juga. Ingat yah, tidak ada manusia yang sempurna didunia ini!" Dhie bicara panjang lebar. "Duhh serasa jadi Aa Gym." Dhie masih sempat terkekeh, merasa lucu mendengar ucapannya sendiri. "Aku...tidak mengerti." "Ah sudahlah, ini terlalu berat buat kita untuk dipikirkan." "Aku lebih suka berperang daripada berpikir. Terlalu rumit." "Tentu saja, kau kan seorang prajurit." "Tapi seharusnya kau pandai berpikir, karena setauku putri Dyah Pitaloka itu terkenal pandai, pintar dan menguasai ilmu kanuragan juga." Praanngg!! Dhie menjatuhkan wajan yang sedang dicucinya dengan sengaja. "Apa maksudmu?! Kau mau bilang aku ini bodoh gituh?!" "Ee, ampun tuan putri." Badra baru sadar sudah menyinggung perasaan Dhie. "Aku bukan tuan putri!!" "Iya iya, maafkan hamba." "Kau ini? Ihh!!" Dhie melampiaskan kekesalannya pada wajan. Prang! Preng! Prong! Wajan itu habis digosok Dhie sampai ledis. "Cepatan penuhi bak mandinya! Gak dikasih makan mak Lampir baru tau rasa kau." "Iya." Badra hanya bisa tersenyum kecut. Tidak jaman dulu tidak jaman sekarang, perempuan kalau sudah tersinggung taringnya langsung keluar. Tanpa mereka sadari, mak Lampir mengawasi mereka dari balik jendela dapur yang terhubung dengan sumur belakang. Telinganya menangkap semua yang dikatakan Badra. Setelah cukup jelas, mak Lampir menoleh ke samping lalu berguman pelan, "Ku rasa waktunya sudah dekat, Putih. Dhie akan ada dalam bahaya...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD