Tik tok tik tok tik tok
Waktu sepertinya berjalan sangat lambat. Detak detik yang biasanya super cepat mendadak berubah jadi gerakan slow motion didepan Dhie.
Saat ini dua orang penjaga berbadan besar seakan ingin memakannya hidup-hidup. Padahal Dhie cuman minta satu hal, tolong berikan baju dan celana mereka padanya. Gampang, kan? Aish tentu saja mereka melotot. Dasar Dhie.
Salah satu penjaga mendekati Dhie sambil memainkan kumis baplangnya.
"Hei neng, apa maksudmu? Apa kau menyuruh kami t*******g lalu kita bermain threesome? Maaf neng, kami tidak tertarik." liriknya dengan kumis naik turun.
"Meski tampang kami sangar dan menakutkan, tapi kami ini laki-laki setia, neng. Anak boleh banyak tapi istri cuman satu!" Penjaga satunya lagi memandang Dhie dengan galak. "Jadi jangan menggoda kami."
"Eis, siapa yang menggoda bapak?" Dhie melotot. "Geer."gumannya, pelan. Kalau kedengaran kan bisa gawat.
"Itu tadi, kau minta baju celana kami. Kau mau grepe grepe badan kami yah? Sori, kami sudah ada yang punya."
"Astagfirullahhaladzim!" Dhie menepuk jidatnya. Ternyata mereka salah paham dengan maksud Dhie. "Bukan pak. Maksud saya kalo bapak punya pakaian ganti, saya ingin memintanya untuk teman saya. Noh disana noh!"
Dua pasang mata besar itu mengikuti arah yang ditunjuk Dhie, tempat Badra berdiri sambil bersidekap tangan.
"Tadi pas mandi di toilet umum, dia kena rampok pak. Semua barangnya diambil. Kan kasihan, pak."jelas Dhie, bohong.
"Ooh...."seru mereka, bulat.
"Dikirain...,"
"Itu mah pikiran bapak aja yang kotor. Saya ini masih polos pak, polossss."sewot Dhie.
"Ah salahmu sendiri ngomongnya tidak jelas."
"Kok jadi salah saya? Salah bapak juga dong!"
"Ee sudah-sudah, malah jadi ribut. Baiklah, kau bisa berikan pakaianku padanya. Tunggu sebentar!"
Salah satu penjaga masuk ke dalam pos dan tak lama kemudian keluar membawa kresek hitam berisi pakaiannya lalu diberikan pada Dhie.
"Ini, ambilah!"
"Terimakasih pak!" Dhie menerima dengan suka cita. "Mudah-mudahan digantikan dengan rejeki yang lebih yah pak, yang barokah dunia akhirat!"
"Aamiin!"
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu. Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam."
Dhie berlari kecil menghampiri Badra yang masih saja anteung bersidekap tangan. Tanpa basa basi Dhie menarik tangan Badra, menuntunnya ke toilet umum dekat Mushola kecil. Dikeluarkannya pakaian dari kresek hitam lalu Dhie menerangkan cara memakainya pada Badra dengan singkat, padat dan jelas. Setelah mendapat anggukkan yakin, Dhie mendorong Badra masuk ke toilet lalu ditutupnya pintu toilet dari luar.
Tak lama kemudian Badra pun keluar dan....
"Huah ha ha ha!" Dhie tertawa terpingkal-pingkal sambil menahan perutnya. Geli. Sekarang Badra terlihat seperti orang-orangan sawah. "Maaf, tapi kau terlihat lucu."elak Dhie sambil mengusap airmatanya yang mau keluar. "Tapi tenang saja, masih ganteng kok. Sekarang ayo kita pulang."
Baru beberapa langkah, Dhie sudah berhenti lalu menatap Badra serius.
"Tapi...lebih baik kita isi perut dulu sampai kenyang. Aku tidak mau mati kelaparan saat perang sama mak Lampir nanti."
"Apa kita akan berperang?"tanya Badra, bersemangat.
"Pasti! Ayo!"
Dua manusia yang baru mengenal itu berjalan beiringan. Dhie terus berceloteh ria sementara Badra jadi pendengar yang baik. Ketegangan diantara mereka terjadi ketika naik dan turun dari elf.
"Naik Badra!!"
"Bendanya bergerak, putri! Berbahaya!"
"Naik gak?! Ditinggal nih?"ancam Dhie, kesal campur malu karena dilihatin para penumpang elf. "Ayo naik!" Dhie harus mendorong paksa agar Badra naik ke elf, begitu juga pada saat turun. Sudah enak duduk seraya diayun-ayun pas disuruh turun susahnya minta ampun. Badra benar-benar bikin malu Dhie.
Mereka mampir dulu ke warteg untuk sarapan sekalian mengambil motor yang Dhie titipkan tadi malam.
"Perasaan kmarin perginya sendiri, neng. Kok sekarang berdua datangnya."celetuk ibu warung, kepo.
"Iya bu. Nemu dihutan nih."sahut Dhie, asal.
"Wahh kalau nemunya seganteng ini, ibu juga mau atuh."
"Terus yang dirumah mau dikemanain, bu?"
"Yah enggak dikemana-manain, neng. Sesekali ibu juga butuh penyegaran biar tambah semangat dan awet muda."
"Ada-ada aja si ibu mah." Dhie tertawa kecil menanggapi celotehan ibu warung. Tapi begitu melihat Badra, tawanya langsung lenyap. "Astaghfirullah!" Dhie shock melihat piring Badra yang penuh dengan nasi dan lauk pauk. Kelaparan atau doyan? Dan dalam hitungan menit semua itu habis dilahap Badra. Lalu dengan enteng Badra menyodorkan piring kosongnya lagi ke ibu warung, minta tambah. Dikiranya gratis minta tambah seenak dewek.
"Putri! Hamba belum selesai!"
"Sudah! Ayo pergi!!" Dhie menarik paksa Badra begitu melihat Badra hendak menyodorkan piringnya lagi. Tapi baru saja berdiri, sudah terdengar nyanyian merdu ibu warung dinada e, eror.
"Astaghfirullah neng! Masa air seteko gede begini habis?! Kacida si ganteng teh! Gak tau gitu beli gas teh mahal?! Air ledengnya juga ibu mah beli! Haduh haduhh tekorrr atuh ibu! Besok-besok mah jangan makan disini lagi, neng! Rugi ibu!!"
"Iya bu! Maaf!"angguk Dhie, salah tingkah. "Ayoo Badraa!!" Diseretnya Badra keluar warung. Dengan cepat pula Dhie mengeluarkan motor dan menyuruh Badra duduk dibelakang.
Tapi begitu naik motor, Badra anteung saja tuh. Mungkin karena sebelum naik motor ia sudah menghabiskan tiga piring nasi dan lauk pauknya. Giliran Dhie yang mengemudikan motornya sambil manyun. Sudah dompetnya jebol terus dapat omelan gratis dari ibu warung karena Badra menghabiskan air minum seteko besar. Nasib nasib. Isi dompetnya hilang dalam sekejap.
Setelah menempuh perjalanan satu jam lebih. Dhie menghentikan motornya di halaman sebuah rumah kecil bercat Biru. Baru juga turun dari motor, tiba-tiba pintu terbuka dan...
Wuuiingg! Jeblug!
Sebuah sapu terbang melayang tepat diatas kepala Dhie dan jatuh membentur dinding pagar halaman rumah. Bergerak sediikiitt saja, bisa dipastikan kepala Dhie yang jadi korban.
"Waduh!"
"Hati-hati!" Badra menarik Dhie agar berdiri dibelakangnya. Tapi Dhie menepis tangan Badra lalu melangkah lagi.
"Assalamualaikum. Selamat pagi emakku sayank!"
Dhie langsung menyapa seorang wanita muda yang berdiri didepan pintu dengan kedua tangan dipinggang. Wajahnya kusut, rambutnya acak-acakkan lengkap dengan roll-an yang belum dibuka. Belum lagi daster kebesarannya melambai-lambai tertiup angin.
Sementara Badra yang berdiri dibelakang Dhie mulai memasang kuda-kuda, bersiap menerima serangan. Meski menurutnya wanita itu tidak berbahaya tapi Badra tetap menyiapkan diri untuk segala kemungkinan.
"Waalaikumsalam!"sahut wanita itu, menggelegar. "Selamat pagi apa? Pagi mbahmu! Ini sudah jam 11 siang tau!"
"He..he.." Dhie hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Siapa dia? Apa dia musuh kita?"tanya Badra setengah berbisik.
"Dia mak Lampir." Dhie ikut berbisik. "Dia musuh kesayanganku. Jadi kau tidak boleh melukainya. Ingat itu!"
"Kenapa begitu?"
Belum terjawab rasa penasarannya, pletak! Pletak! Dua buah salak mendarat mulus dikepala Badra. Dhie terkekeh puas. Sepertinya lemparan mak Lampir sudah menemukan korban baru.
"Kenapa bisik-bisik?! Mau kabur lagi hekh?!" teriak wanita yang dipanggil mak Lampir itu. "Trus tadi malam kamu tidur dimana hekh?! Mau belajar jadi cewe malam?! Sudah ngerasa dewasa trus tidak mau diatur? Pingin ngerasain di lempar sama coet batu?!"
"Ee..e..jangan, mak. Ampun deh!"
"Enak saja ampun-ampun! Gara-gara kamu hilang semalaman aku tidak bisa tidur! Makan nih ampun!"
Mak lampir mengambil sapu lidi panjang dan mengacungkannya pada Dhie. Secepat mungkin Dhie berbalik dan sembunyi dibelakang Badra.
"Sudah pulang siang, pakai baju sobek-sobek masih berani bawa cowo lagi! Dasar anak badung! Awas yah!"
Sapu lidi pun beraksi seiring langkah kaki mak Lampir yang mendekat. Badra bergerak menangkis dan menghadang sapu lidi yang menyerang dengan gencar. Sementara Dhie dibelakangnya berlindung mengikuti punggung Badra.
"Hentikan wanita tua! Menyerang seorang prajurit Bayangkara bisa dikenakan hukuman kurung!" seru Badra.
"Apa kau bilang? Aku wanita tua?! Rasakan ini!"
Kemarahan mak Lampir semakin menggelegar karena disebut 'wanita tua'. Serangan datang bertubi-tubi, Badra pun melompat kesana kemari menghindari serangan karena Dhie tak memperbolehkannya melukai wanita tua itu.
"Hentikan wanita tua!!"
"Jangan panggil tua, Badraaa!!! Panggil aja cantik jelita binti bahenol bin semok! nyari mati saja kau ini!"teriak Dhie.
"Dia memang sudah tua, putri!"sahut Badra, polos.
"Tua sedikit, tapi masih perawan. Yeahh bisa dibilang perawan tua."
"Kurang ajaarrrr!"gelegar Mak Lampir, berbalik pada Dhie.
"Ampun makkk!"
"Jangan lariii Dhiee! Dasar bocah kurang ajar!" Buk! Buk! Buk! Sapu lidi itu berhasil mengenai Dhie dan Badra.
"Aduduuhh ampun makk!"
"Makan tuh ampun!"
"Larii tuan putriii!!" Badra menarik tangan Dhie, menuntunnya untuk terus berlari menghindari pukulan mak Lampir.
"Berhenti! Jangan lari kalian!" Teriak mak Lampir, semakin marah.
Jadilah mereka bertiga saling lari dan saling kejar mengelilingi halaman rumah disertai teriakan dan juga makian mak Lampir.