Jual Mahal

944 Words
Sekian lama aku menunggu. Huft! Sudah seperti Ridho Rhoma saja. Kenapa tak ada tanda-tanda Mas Aryan bakal menyentuhku? Agaknya mendekat pun tidak. Dengan perlahan aku membuka mata. Kulihat suamiku yang duduk dengan jarak sekitar satu meter di sampingku tengah bersedekap saat aku menatapnya. Kenapa harus jauh-jauh begitu, sih, Mas Aryan? Apa kamu takut covid? "Ngapain pake baju kayak saringan tahu begitu?" Mas Aryan berdecak sebal sambil menatap pakaian yang melekat pada tubuhku malam ini. What? Saringan tahu? Aku mengerucutkan bibir menyambut ejekan suamiku. Apa bentuk tubuhku sama sekali tak menarik di matanya? Apa dia lelaki normal? Ah, agaknya iya, dia normal. Nyatanya dia berpacaran dengan Mela dalam waktu yang cukup lama. "Pake baju yang bener!" Mas Aryan yang biasa pendiam sekarang bersuara lantang dengan tatapan garang. Apa aku salah jika ingin tampil seksi di hadapan suami sendiri? Aku mengembuskan napas kesal. Usahaku untuk membuatnya tergoda sia-sia belaka. Kata emak-emak jaman dahulu, kucing tak akan menolak kalau disuguhi ikan asin, tapi kenapa suamiku beda, ya? Kenapa dia begitu jual mahal? Apa membuat istrinya tak perawan menjadikannya didera perasaan berdosa? Ah, entahlah. Kepalaku tiba-tiba rasa berdenyut ketika mengingat sikap suamiku yang senantiasa dingin dan selalu saja tak bersahabat. Selalu saja, dia menjaga jarak saat berdekatan denganku. Aku mengusap d**a mencoba bersikap ikhlas akan takdir yang kujalani. Dengan ragu, aku turun dari ranjang dan memakai kembali piyama yang sempat terlupakan gara-gara lingerie. Dasar, lingerie tak berguna! Aku mencampakkan lingerie yang kupakai tadi ke keranjang baju kotor dengan perasaan masygul. Saat aku naik ke atas ranjang, kulihat Mas Aryan sudah terlelap. Cepat sekali dia tertidur? Dengkur halusnya mengiringi aktivitasnya melepas lelah. Seperti maling yang takut tertangkap basah, aku berjalan pelan ke tepi ranjang untuk menikmati pemandangan indah yang sangat sulit aku gapai. Ya … membuat Mas Aryan jatuh hati dan bertekuk lutut pada Sandra agaknya adalah kemustahilan. Kupandangi wajah tampan suamiku dengan seksama. Ah, semua yang ada dalam dirinya memang tanpa cela. Hidung bangir, bibir tipis, dan alis hitam yang tebal serta rahang kokoh semuanya menegaskan ketampanannya. Pantas saja aku jatuh cinta. Wajar, kalau Mela menjadi sangat membenciku saat aku mengambil lelaki ini darinya. Aku kembali meyakinkan diri kalau aku memang tak bersalah. Aku bukan pelakor, aku hanya mengambil jodohku yang kebetulan selama ini sudah dijaga oleh Mela, sahabatku. Ah, maksudku mantan sahabatku. *** "Pagi, Sandra! Masak apa pagi ini? Apa masakanmu gak keasinan?" Lagi-lagi Farel lelaki paling nyinyir di dunia membuat pagiku yang tak begitu cerah bertambah suram. Selalu saja dia punya waktu untuk meneleponku, baik malam atau pun pagi. Mau dia apa sebenarnya? "Kepo!" ketusku lantas menutup panggilan tak penting dari Farel. Mas Aryan yang tengah sarapan hanya menatapku tanpa kata melihatku yang uring-uringan pagi ini. "Enak gak, Mas?" Aku berusaha mengalihkan perhatian dengan berbasa-basi bertanya pada suamiku. Meski aku tak yakin akan mendapat jawaban darinya. "Biasa aja," jawab Mas Aryan tanpa ekspresi. Ya ampun orang pendiam ini, tak bisakah dia menyenangkan hati istrinya dengan jawaban mengenakkan dan senyuman? Ah, tapi dia mau menjawab pertanyaanku saja sudah bagus. Jangan kufur nikmat, Sandra! Pelan-pelan saja! Seperti lagu Kotak …. Seperti biasanya, Mas Aryan berlalu begitu saja dari hadapanku sebelum berangkat ke kantor. Tak ada ucapan salam atau pun cium tangan. Menyebalkan! Pelit! Setakat berucap salam pun kikir. "Mas! Aku jam dua ada kuliah, ya." Aku memberitahu orang yang mungkin tak ingin tahu. Mas Aryan menahan langkah sebelum menaiki mobil seperti memasang telinga untuk menyimak ucapanku. "Mas!" Aku yang berdiri di depan pintu ruang tamu memanggil suamiku meski mungkin ia tak kan suka. "Apa lagi, Sandra?" Mas Aryan menoleh dan menatapku dengan tatapan geram. Wah! Ada kemajuan, setidaknya suamiku tak berlagak tuli sekarang. Segera aku berlari kecil ke arah suamiku yang berdiri kaku di samping mobilnya. Persis seperti patung pahlawan di depan Sekolah Dasar. Sebuah kecupan kulayangkan di pipi si tampan yang selalu jual mahal dengan tak mau menyentuhku. Jantungku bertalu-talu setelah memberi kecupan pada lelaki tampan yang sama sekali tak romantis ini. Mata Mas Aryan terbuka lebar menyadari aksiku yang mungkin baginya amat memuakkan. "Met kerja, Suamiku Sayang!" Aku berkata santai lantas menampilkan selarik senyum padanya. Aku siap sedia seandainya dia bakal marah besar kali ini. "Gak tau malu!" desis Mas Aryan seperti menyimpan kekesalan. Aku mencoba tersenyum santai menanggapi kemarahan suamiku. "Biarin, habisnya kamu jual mahal," selorohku. Aku lantas berlari masuk ke ruang tamu, takut Mas Aryan bakal membantaiku pagi ini. Membantai? Memangnya Mas Aryan algojo? Aku mengusap d**a setelah memastikan suamiku pergi bekerja. Ah, aman. *** Saat sudah rapi dan siap menuju kampus, aku baru menyadari kalau ban motorku kempes. Menyebalkan! Aku terpaksa naik ojek online agar cepat sampai di kampus. Karena siang ini jadwalnya berjumpa dengan dosen killer. Aku tak mau cari masalah. "Rel. Bisa ga, sih? Kamu gak gangguin aku terus? Gak beretika!" Aku tersenyum sinis saat berjumpa dengan Farel di kelas siang ini. Farel tersenyum miring mendengar makianku. Dasar laki-laki aneh! "Apa hidupmu belum sempurna kalau gak gangguin aku?" Aku mencebik bibir menatap geram pada lelaki yang berusia sebaya denganku ini. Lagi, Farel hanya tersenyum santai menanggapi kekesalanku. "Kamu tau kan, aku wanita bersuami? Jadi tolong, berhenti gangguin aku!" ucapku penuh ketegasan. Dengan tampang santai Farel menutup telinga seperti enggan menanggapi apa yang kusampaikan. Di sudut ruangan, tampak Mela dan Desti menatapku dengan tatapan tak suka. Selain Mela, Desti juga merupakan sahabatku semenjak masuk ke perguruan tinggi. Namun, setelah pernikahanku dan Mas Aryan terjadi, dua gadis itu secara terang-terangan menjaga jarak dariku. Aku yang sore ini berdiri di depan gerbang kampus menunggu ojek online, terlonjak melihat mobil suamiku datang ke kampus sore ini. Hatiku bergemuruh tiba-tiba. Apakah kedatangan Mas Aryan sore ini ingin menjemput Mela? Napasku menderu dan mataku memanas dalam seketika. Beginikah siksanya memiliki suami yang hatinya masih milik wanita lain?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD