23 Bujang

1447 Words
"Ajir, padahal kemarin mimpinya 23 bujang ganteng, tau-tau malah lihat kucing kawin, nasibku di prank kenyatan," Angela mengerutu, ia benar-benar merasa sial, kenapa juga ia ngambek sih. 23 bujang gantengnya pasti sudah tampil, ah Angela ingin menangis dan memaki Angelo dengan puas, ia marah sekaligus kesal dengan adik kembarnya itu. "Angelo b*****t!" Teriak Angela, ia tidak peduli ada orang mendengarkan teriakannya, ia kalut. "Angelo! Badebah, tau gini gue nggak mau kembaran sama lo, anjim dasar adik sialan." Angela mengela napas panjangnya, lalu menyandarkan tubuhnya di mobil milik orang lain, bunyi alarem mobil terdengar ramai, gara-gara suaranya yang terlalu bagus, semua mobil itu malah menyindirnya. "Udah puas? Gue denger kok semua makian lo." Mata Angela terbelalak kaget menatap sosok kembarannya, "Bangke, lo dari mana? lo buat gue sial!" kedua alis Angelo menyatu ketengah, Angela ngomong apa sih, ia baru juga datang, udah dimaki, udah disalahin, dasar wanita. "Lo ngomong apa sih njel? lo tau nggak gue panik cari lo sana sini, lo malah kabur kesini." bibir Angela terbuka, ia terdiam mencerna perkataan Angelo. "Maaf," saut Angela dan Angelo berbarengan. "Gue yang salah," Angelo memecahkan keheningan diantara mereka, "Maafin gue, Njel. udah jadi kembaran yang buruk buat lo." Sinar lampu dari penerangan di samping Angelo, membuat Angela dapat melihat raut wajah adiknya itu menyesal, "Gue keterlaluan tadi, maafin gue ya? pinky promise?" Tangan Angelo terulur kedepan, keempat jarinya terkepal, hanya menyisakan jari kelikingnya, Angelo tertawa pelan, air mata turun begitu saja, ah Angelo masih mengingat kegiatan masa kecil mereka setelah bertantem, bahkan Angela sudah lupa, lalu mengaitkan jari kelingkingnya dengan Angelo. "Lo kok tumben sweet gini?" Pertanyaan Angela membuat lipatan di kening Angelo semakin kentara. Serba salah jadi cowok, di kira ada maunya terus ya? "Tadi kucing gue kabur, makanya gue baik-baikin dia biar bisa diajak pulang," goda Angelo sambil tertawa pelan, mata Angela menatap Angelo ber api-api, lalu tanganya sepontan mengemplak bahu Angelo, "Maksud lo apa? Lo anggep gue kucing? Sialan, kalau gue kucing, lo kembaran sama kucing dong." Tawa Angelo pecah, ia suka melihat Angela tidak marah lagi dengannya. Suara dering dari ponselnya. "Udah mau mulai?" Alis Angela mengerut, mulai apa maksudnya? Jangan-jangan konser NCT nih. "Ok, gue balik sekarang, kucing gue udah ketemu." Mata Angela membola, dasar Angelo sialan masih juga menyebutnya kucing. 'Bro lo tu aneh banget, orang pergi nonton konser ngajak saudara atau pacar, lo malah ngajak kucing hahaha.' Sialan teman Angelo juga mengira adiknya itu benar-benar bawa kucing. Angelo tidak membalas temannya, lelaki itu langsung mematikan sambungan panggilan tersebut, lalu memasukan ponselnya ke dalam tas. "Ayok, NCT bentar lagi tampil." Angelo menarik rambut Angela, membuat saudari kembarnya itu berteriak dan menyumpah serapahinya. "Sakit bego!" Angela memukul-mukul lengan Angelo, tidak ada kata damai diantara mereka. "Sorry--" Angelo cengngesan, mereka terdiam lagi. "Lo jalan duluan, gue kan nggak tau jalan." Angelo menganggukan kepalanya, melangkan kakinya terlebih dahulu, kemudian Angela menyusulnya di belakang. Keduanya sampai di area konser, bahkan lapangan sudah penuh sesak, kebanyakan adalah kaum hawa, mereka nampak begitu antusias, ada yang membawa poster anggota NCT, membawa lightstick, dan masih banyak lagi. Angela terdiam, ia bahkan tidak membawa lightstick NCT, mamanya melarang membeli-nya, untuk membeli album dari biasnya saja Angela, bersusah payah menyembunyikannya, Angelo suka mengadu pada mamanya. "Nih---" Ditengah kegalauannya, Angela mendengar suara adiknya, yang berdiri di hadapannya, Angela mendongak, mulut gadis remaja itu terbuka, mata terbelalak kaget. "Nih buat lo, maafin gue. Hadiah ulang tahunnya baru sekarang gue kasih." Kedua sudut bibir Angelo teratrik keatas, membentuk senyuman hingga gigi putihnya terlihat. "Kok lo bengong. Nih ambil." Angela masih terdiam, syok lebih tepatnya, Angelo tidak suka memberi kejutan, adik mungkin sedang kesambet. "Jangan keluarin pertanyaan itu lagi, 'lo kesambet apa?' " Angelo meniru pertanyaan Angela, ia tau isi kepala kakaknya itu. "Hehehe lo kok tau sih," kata Angela sambil mengambil lightstick yang berada di tangan Angelo. "Makasi Ya Angelo, lo adik terbaik." Angelo mengangguk singkat, ia juga bahagia melihat Angela, mata kakaknya itu berbinar menatap lightstick pemberiannya. Angelo menarik tangan Angela, membawa kakaknya menembus kerumunan, beberapa di antaranya menyapa Angelo, namun keriangan itu lenyap saat idola mereka menggandeng seorang gadis. Angelo sudah punya pacar, hal itu membuat fansnya patah hati di saat belum berkembang. Angela tidak peduli mau dibawa kemana pun oleh adiknya itu, ia terlalu sudah cukup bahagia dengan hadiahnya, bahkan saat ada suara musik yang memekan indra pendengaran Angela masih terfokus pada Lightstick ditangannya. Suara Backsound yang mulai, membuat Angela sadar di mana ia berada sekarang Angelo membawanya tepat dihadapan panggung, di barisan terdepan. "Angelo--" pekik Angela, raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa kegeambirannya, hati berbunga-bunga. "Gue seneng banget," beritahu Angela pada adik kembarnya, "Thank's--" Angelo hanya mangut, laki-laki itu mengulum senyum, meskipun ia tidak terlalu menyukai K-Pop, tapi untuk menemani Angela, menonton konser Angelo tidak keberatan. Konser dimulai, keriuhan terjadi saat NCT Dream tampil sebagai pembuka, tidak ada kericuhan terjadi, penonton menonton dengan tertib, alun musik mulai terdengar, Angela begitu hikmat menatap panggung, ini masih seperti mimpi baginya, ia tidak pernah menghayal akan menonton idolnya dari dekat, ini jarak terdekat dari panggung. setelah NCT Dream, dilanjutkan dengan WayV, lagi-lagi Angela terpana, apalagi saat ia di notice oleh Lucas, jantungnya masih berdebar hebat, wajahnya terasa panas, saat mendengar keriuhan penonton lainnya yang iri, Angela merasa ia sangat beruntung, Angelo memberikan kado ulang tahun terbaik. bahkan Angela mendengar suara Angelo bernyanyi dengan lirih, adiknya itu nampak hapal dengan semua lagu yang sudah di bawakan NCT, bahkan saat ke 23 bujang NCT, tampil Angelo nampak bersemangat ikut bernyanyi. tidak terasa dua jam berlalu penampilan NCT sudah berakhir, resonance menjadi lagu penutup untuk penampilan sempurna pada malam hari ini, pengalam berkesan bagi Angela, menonton konser Idolnya untuk pertama kali dan langsung di notice, ia harus menyombongkan diri di hadapan mamanya. "Lo mau pulang sekarang?" tanya Angelo, lelaki itu melihat jam di ponselnya, baru jam sembilan lebih lima belas. Angela menoleh sejenak, lalu kembali terfokus pada lightsticknya. "Katanya mau ngajak kulineran." Angelo terkekeh, "Gue kira lo lupa makan, gara-gara di notice lucas," seru Angelo, bibir Angela mengerucut, "soal makanan gue nggak bakalan lupa, apalagi di traktir the most wanted." "Apansih--" Angela terbahak, bukannya ia tidak tahu, sedari tadi banyak sekali gadis-gadis menatap dirinya iri dan tatapan permusuhan, bahkan tadi terang-terangan ia mendengar seorang gadis menyindirnya, dan Angela sudah mengingat jelas wajah orang itu, ia sudah memblack list dari daftar istri Angelo, ia sudah tidak suka. "Ayok makan, gue udah laper." Angela menggenggam tangan Angelo, ia bertingkah seperti gadis cabe-cabean, biarkan mata penggemar Angelo itu keluar, ia tidak peduli. "Lo mau makan apa?" Tanya Angela pada adiknya, dari tadi mereka sudah melewati banyak stand makan. "Lalapan gimana?" tanya Angela, melihat salah satu stand lalapan yang kosong, tidak penuh sesak seperti yang lain. "Terserah." kalaupun Angelo membantah, Angela pasti akan tetap memaksanya untuk makan lalapan. "Lo pesen, gue mau duduk." Dengan patuh Angelo menuruti permintaan Angela, ia juga sudah lapar, dari tadi siang perutnya belum tersentuh makan maupun minuman. ia terlalu lupa untuk makan. "Angelo--"seseorang menepuk bahu Angelo, membuat laki-laki itu, menoleh. Dimas, temannya tersenyum lebar menatapnya. "Gue kira siapa." Dimas terkekeh, "Lo udah selesai?" Angelo menggeleng, "Baru juga pesen, lo mau makan juga?" Dimas menganggukan kepala, "Yoi bro, lo sama siapa?" Angelo menoleh kearah belakang, "Ohh sama miss Angela?" Angelo mengangguk pasrah. Dimas dan dirinya sudah bersahabat semenjak SMP, jadi dia juga kenal Angela. "Lo sama siapa?" tanya Angelo, belum sempat Dimas menjawab, teriakan Angela sudah mewakili jawaban dari sahabat Angelo itu. "Bimo, sama kakak cantik ya--" Angela begitu bahagia melihat Bimo, adik Dimas yang baru berusia 10 bulan, menggemaskan, namun Angela harus menahan rasa gemasnya, ia belum mencuci tangan, segera Angela bangkit dari tempat duduknya, mencari tempat cuci tangan terdekat. "Malem Tante, Om." Angelo mencium tangan kedua orang tua Dimas, mereka berdua adalah pasangan serasi, dan tidak terlihat seperti sudah memilik anak yang sudah remaja. "Malem Angelo, mama kamu nggak ikut?" Mama Dimas bertanya, setelah memberikan puternya kepada sang suami, "Nggak Tan, mama mana mau diajak ke acara gini," Rita mengangguk, "uuhg Bimo kamu kok makin gemesin sih, mau ikut kakak cantik pulang?" Setelah mencuci tangan Angela langsung mengambil Bimo, ia sangat senang bertemu adik Dimas, sudah lama ia tidak berkunjung ke rumah Dimas, "Baru dua bulan nggak ketemu, udah segede ini, kamu ganteng banget sih." Angela menciumi rambut Bimo yang lebat. "Tante, Bimonya sama Angela aja ya, tante sama om buat lagi." "Yang ada kamu buat sendiri, tante udah capek hamil." Angela mengerucutkan bibirnya, "Pacarnya Anjel baru aja balik ke negaranya, katanya belum siap nikahin aku." Papa dan mama Dimas tertawa, "Lo ngehalu nggak nanggung-nanggung." Angela mendelik menatap Dimas, mereka sepertin kucing dan anjing kita bertemu. "Diem lo," sembur Angela, ia kembali memfokuskan diriny kepada Bimo, ia harus segera menyelesaikan misinya, semakin cepat pak Gata dan mamanya bersatu, semakin cepat juga dia punya adik. TBC...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD