Most Wanted vs Playboy

1076 Words
"Tante, om. Kami balik duluan, kasihan mama kelamaan nunggu martabak," pamit Angelo kepada orang tua Dimas. "Titip salam buat mamamu ya," Angelo mengangguk, "Njel ayok pulang," ajak Angelo, kakaknya itu enggan melempaskan Bimo,"Nanti kakak cantik bakalan ke rumah Bimo ya." Adik itu Dimas itu hanya tertawa khas bayi. "Ultah Bimo kapan tan?" "Lagi dua bulan, Angela dateng ya." Angela menganggukan kepalanya atusias, tentu ia akan dateng, Bimo adalah bayi favoritnya. "Dadah Bimo," Bimo tertawa saat Angelo mengecup pipinya, namun saat melihat Angela menjauh bayi itu menangis, membuat kedua orang tuanya kelabakan. "Lo apain si Bimo,njel? Anak orang sampai nangis kejer gara-gara lo tinggal." Angela mendelik, "Pelet Cinta, puas lo." Angelo tertawa, "Inget ambil martabaknya." Angela mengingatkan adiknya, tadi Angelo sudah memesan martabaknya. "Iya, gue nggak bakalan lupa, gue nggak mau dengerin ocehan mak ratu lagi." Kedua tertawa bersama, mak ratu di rumah sedang menunggu mereka. "Angelo!" Teriakan seseorang membuat Angela menghentikan langkah kakinya, Angelo bahkan terus melangkahkan kakinya, nampaknya Angelo tidak mendengar teriakan orang yang memanggil namanya. "Angelo, lo di panggil!" Pekikan keras Angela mampu membuat orang yang berlalu lalang menatapnya aneh, tak kecuali Angelo yang berdecih. "Apan sih, ayo pulang." Angelo memutar balik arahnya, mengajak Angelo segera pulang. "Lo di panggil," ujar Angela sambil menunjuk segerombolan orang yang menatap mereka aneh. Angelo memutar bola matanya, lalu menghela napas panjang, "Apapun yang gue bilang, lo diem aja." Mulut Angela ternganga, ia belum bisa mencerna perkataan adiknya itu. "Angelo, kamu sama siapa?" Seorang gadis mendekat, gadis itu menatapnya sedemikian rupa, memindai dari atas sampai bawah, lalu menatapnya dengan tidak suka. "Oh ya kenalin pacar gue!" Angela mencoba untuk tidak berteriak dan memutar bola matanya, Angela tetap diam, tapi ia mengukir senyum andalannya, ia harus tetap cantik. "Kamu bohongkan? Kamu itu gebetan aku!" Teriak gadis itu membuat, teman-temannya, ikut menatap garang Angela. Angela menelan ludahnya susah payah, nampaknya circel perteman gadis di hadapnya mengerikan. "Terserah kalau lo nggak percaya, nggak ada untungnya di gue." Angelo berkata dengan datar, lelaki itu mengedikkan bahunya. Angelo melihat Dimas yang datang bersama seseorang, Angelo menaikan kedua tangannya, kode untuk Dimas untuk diam, ia sudah mengatur strategi untuk membuat gadis di hadapannya berhenti menganggunya. Angelo masih belum ingin menjalin sebuah hubungan, jadi ia akan menjadikan kakak kembarnya tameng, berhubung masih banyak yang belum tau ia memiliki kembaran. "Tapi Angelo, Aku cinta banget sama kamu, kamu nggak bisa giniin aku, njelo sakit!" Angela hanya jadi pemain yang baik, ia agak kasihan melihat gadis itu, bagaimana dia memohon ke adiknya. "Please Angelo." Gadis itu menghampiri Angelo, lalu menggengam tangan lelaki pujaannya, "Putusin dia, demi Aku." Angelo masih tetap diam, bahkan saat gadis di hadapannya menangis sesegukan. "Gue tetep milih dia, maaf." Angelo melepas paksa tangan seniornya. Angelo memalingkan wajahnya, ia tidak tega melihat seorang perempuan menangis, namun kalau ia pun menerima cinta Citra, ia akan menyakiti perempuan ini. "Lo bisa dapet yang lebih baik Cit," ujar Angelo, lelaki itu mengusap pelan kepala Citra, "Njelo, aku sayang kamu, aku---" suara Citra bercampur dengan tangisannya, perempuan itu kembali menangis. "b*****t! Lo apain sahabat gue?!" Mata Angela melotot menatap laki-laki yang menerjang Angelo, membuat tubuh saudaranya itu terjatuh. "Sok kecakepan banget, harusnya lo bersyukur Citra milih lo. b*****t!" Angelo berdecih, pantatnya masih sakit, akibat serangan yang tidak terduga. "Bilang aja lo cemburu." Angelo malah menjulurkan lidahnya, "nasib lo menyedihkan, lo terjebak dalam friend zone." Angelo tertawa sendiri, semua orang yang menyaksikannya, saling berbisik-bisik, "Lo mau apain pacar gue hah?" Teriak Angela tidak terima saat laki-laki itu mencengkram kerah baju adiknya. Angela menatap garang, "Ajim! Lo kucing kawin tadi!" Pekik Angela, "Singkirin tangan kotor lo," ucap Angela, namun laki-laki itu tidak bergeming, dan Angelo nampak menikmati menonton Angela. "An**ng, sakit!" Teriak laki-laki itu saat Angela mencubit lengannya. "Bukan urusan gue," ujar Angela santai, "Sayang aku, ada yang sakit nggak?" Angela membalikan tubuhnya, meneliti wajah Angelo, "Untung masih cakep." Dengan sengaja Angela mengecup pipi Angelo. "Lo yang namanya Citra, please jangan ganggu my baby boo, lo nggak bisa bikin kami berpisah, karena kami sehati." Ucap Angela dengan sombongnya, matanya menatap tajam teman-teman Citra, oh ya Tuhan Angelo harus membayar mahal untuk aktingnya malam ini. "Ayo pulang, aku capek." Angelo tertawa melihat raut wajah Angela yang dibuat sebegitu imutnya, kedua pipinya menggembung, bibirnya mengerucut, mirip paruh bebek. "Capek ya? Maafin aku ya?" Angelo mengusap pelan kepala Angela, "ayok pulang." Angela mengaangguk-anggukan kepalanya. "Tunggu--" ucap Angela, membuat Angelo bingung. "nama dia siapa?" Tanya Angela menunjuk laki-laki tadi. "Kenandra--" Angela mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu berbalik menatap Kenandra. "Ehh Kenandra, kalau make out jangan di parkiran, jadi cowok tuh modal dikit!" Angelo menepuk pelan dahinya, astaga Angela mencari gara-gara namanya. Dengan cepat Angelo, menarik Angela, lebih baik menghidari Kemandra, dari pada babak belur. "b*****t!" Teriakan terakhir yang Angela dengar dari laki-laki yang bernama Kenandra itu. ... "Lo ada dendam apa sama Ken?" Tanya Angela saat sampai di kamar Angelo, mereka sampai rumah jam setengah sebelas, untung mamanya belum tidur jadi martabaknya tidak mubazir. "Lo nggak bisa ketuk pintu dulu? Main masuk aja," seru Angelo, untungnya ia sudah memakai pakaiannya. "Apain sih, lebay banget sih." Angela memutar bola matanya, "Ngapain lo nanyain Ken? Lo suka." Angela menggelengkan kepalanya, lalu memilih duduk di kursi gaming milik adiknya. "Amit-amit, gue suka sama dia." Angelo terbahak. "Gue nggak ada dendam apapun kok, ya cuma sahabatnya itu yang suka sama gue sejak ospek, ya deh, nggak gue tanggepin, gue ghosting malah." "Aduh!" Teriak Angelo saat salah satu tikusnya di lempar Angela ke wajahnya. "Sakit Njel!" Angela mengusap dahinya, lalu cepat-cepat mengambil cermin. "Skin care gue belum kering nih, udah kena tikus, awas muka gue lecet, lo bakalan--" "Bakalan apa? Gue aduin ke mama, lo suka mainin persaan cewek ya." Angelo terdiam, ia kalah. "Lanjutin cerita." Angelo menghela napas panjang. "Nah mereka tu sahabat dari TK, jadi Ken itu ngelindungin Citra banget, malah gue pernah diajak taruhan sama Ken, kalau gue kalah gue harus pacaran sama Citra." "Lo pasti menang terus kan?" Angelo tertawa. "Iyalah, gue nggak mau kalah gitu." "Sampai segitunya banget ya, gue curiga Ken itu cinta mati sama Citra." "Tebakan lo bener Njel, cuma Citra nggak percaya gitu, kasihan Ken malah bertepuk sebelah tangan, makanya dia jadi playboy." "Dan suka make out sembarangan." Tawa Angela pecah, membuat Angelo mengerutkan dahi. "Maksud lo? Ken Make out? Lo tau dari mana?" "Gue bukan tau, tapi gue lihat langsung tadi di parkiran mobil, gue kira lo yang lagi 4646. Postur kalian mirip loh." Angelo tertawa. "Oh ya Ken itu keponakan Pak Mangata Njel," tawa Angela terhenti, lalu menatap Angelo serius. TBC...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD