Mengadu

1236 Words
Angela tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi, ia terlalu kepo dengan pembicaraanya dengan Angelo kemarin lusa , Kenandra, ponakan Mangata. mari sedikit kita luruskan, kalau comblanganya antara sang mama dan pak Bos Gata berhasil, otomatis secara tidak langsung Ken bakalan jadi saudara sepupunya dong, nah masalahnya Angela tidak ingin memilik sepupu yang sering main kucing kawin apalagi di tempat yang terbuka, malu tau, Angela harus mengadu pada Mangata, jika tidak ia tidak akan melanjutkan perkerjaan sampingan sebagai mak comblang. "Njel kamu bawa bekal?" pertanyaan Sami sukses membuat Angela tersadar dari lamunannya. "Apa mbak? Angel nggak denger." Sami ternganga, padah tadi ia berbicara sangat keras, Angela tidak mendengarnya, "Jangan keseringan ngelamun Njel, nanti ke sambet, mbak Kun." Kali ini mata Angela menatap horor Sami, "Mbak Sami jangan ngomong gitu, Angel nggak ngelamun kok." Bantah Angela, gara-gara mengarang perkataan yang tidak membuat pak Bos tersinggu, Angela tidak mendengar perkataan Sami. "Kamu bawa bekel nggak? Kalau nggak aku mau ajak kamu makan di kafe sebelah." Angela terdiam, ia bimbang, masakan mama memang enak, tapi kalau makan di kafe yang disebutin Sami, ia bisa makan enak sekaligus cuci mata, banyak cogan di sana. Namun ia harus berbicara serius dengan pak Bos, akhirnya Angela menggelengkan kepala, lalu mengambil tas bekalnya. "Udah bawa mbak bekel mbak, bisa marah mak ratu kalau Angel nggak bawa bekel." Sami terkikik melihat wajah Angela. "Ya udah, aku pergi ya." Angela menganggukan kepalanya, Angela menunggu sampai Sami masuk ke dalam lift, matanya menelusuri meja kerja rekannya itu, Angela menghela napas lega, nampaknya tidak ada barang Sami yang tertinggal, wanita itu sering meninggalkan ponsel atau pun dompetnya. Angela hanya takut Sami memergokinya makan siang di dalam ruangan Mangata. Setelah memastikan keadaan aman Angela segera masuk ke dalam ruangan Mangat, sambil menenteng tas bekalnya. Pak Bos tidak memiliki jadwal pergi meeting atau pun keluar, jadi dapat di pastikan kalau pak Bos ada di dalam ruangannya, berjibaku dengan berkas-berkas penting. "Pak Bos! Angel mau bicara!" Teriak Angela bar-bar, ia terlalu bersemangat ingin menceritakan aib ponakan pak Bos, "Ehh--" Angela menelan ludahnya susah payah, pak Bos tidak sendiri. Angela meruntuki ke bodohannya, mengapa ia bisa melupakan pak tua Fini, seharusnya ia menunggu kepala sekretaris itu keluar terlebih dahulu, Angela khawatir pak Fini berpikir yang aneh-aneh padanya, bagaimana kalau pak Fini malah mengosipkannya? Itu Angela tidak mau jadi bahan gosip, ia memang suka mendengar gosip hot dari Sami, tapi untul menjadi bahan gosip ia tidak mau. "Udah jam makan siang ya? Kalau gitu saya undur diri dulu pak," ujar Fini pelan, lelaki paruh baya itu segera merapikan dokumen yang ia bawa, lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan, bunyi pintu yang tertutup membuat Angela sadar. "Pak Gata nggak takut gitu? Kalau pak Fini nyebarin gosip." Mangata mendongok, ia masih mempelajari dokumen yang di berikan Fini. "Nggak lah, emang apa yang di gosipin," jawab Mangata asal, lelaki itu mengulum senyum melihat wajah Angela yang di tekuk. "Jadi apa menu makan siang kita hari ini?" Mangat berdiri dari kursinya lalu mengampiri Angela yang sudah mengeluarkan kota bekalnya. "Semur jengkol pak, tapi punya saya ayam sayur." Angela tersenyum senang memperlihatkan bekalnya, ia sengaja bangun pagi-pagi untuk mengerecoki mamanya di dapur, untuk membuatkan semur jengkol, pesanan pak bos Gata. "Seriusan?" Mata Manga berbinar, saat Angela benar-benar membawakannya semur jengkol. "Beneranlah pak, Angel nggak boong," jawan Angela sambil membukakan kotak bekal Mangata. "Kamu emang anak baik," puji Mangat. "Kan sebagai calon anak yang baik, Angel harus membuat pak Gata senang." Perkataan Angela membuat Mangata menatapnya sejenak. Bukan calon anak Njel, kamu memang anak papa. Ucap Mangata dalam hatinya, ia harus menekan segala persaannya, ia masih membutuhkan waktu. "Ayo makan, pak. Angel tau kok pak Gata udah laper banget." Angela segera memakan bekalnya, ia harus makan banyak sebelum berbicara serius dengan Mangata. ... "Besok--" Angela menggelengkan kepalanya kuat, matanya melotot menatap Mangata."Sekali aja pak, nanti mama saya curiga, kalau tiap hari minta di buatin semur jengkol, saya kan nggak suka jengkol." Mangata mengurungkan permintaan, padahal semur jengkol buatan Kemala sangat enak. "Jadi kamu mau ngomong apa?" Tanya Mangat setelah kembali dari menggosok giginya, lelaki itu menyadarkan tubuhnya di sofa, kedua lengan kemeja sudah ia gulung sampai siku, kembali lagi Angela melihat tato Mangata. "Bapak nggak sakit pas buat tatonya?" Pertanyaan yang meleset dari tujuan awal Angela, gadis itu meruntuki pertanyaan bodohnya yang ia ucapkan, perasaan ia cuma ngomong dalam hati tadi. "Kamu cuma mau tanya itu?" Mangat melirik Angela sekilas, lalu memperbaiki posisi duduknya. "Itu pertanyaan spontan pak," ucap Angela sekenanya. Sorot mata Mangata terfokus ke arah lukisan yang terpanjang di dinding ruangannya. "Nggak, saat itu saya lagi patah hati." Angela tertegun, bibirnya terbuka, "patah hati? Sekelas pak Gata, patah hati?" Angela tertawa, lalu menggelengkan kepalanya, "Biasanya lelaki tampan setipe pak Gata tuh yang bikin wanita sakit hati," ejek Angela, ia masih tertawa. Mangat menghela napas panjang, lelaki itu menatap puterinya yang masih tertawa. Mama kamu yang bikin saya patah hati, gara-gara pergi begitu saja, Njel. Lagi-lagi Mangata berucap dalam hatinya. "Jadi kamu mau ngomong apa? Pekerjaam saya masih banyak." Tawa Angela terhenti, ia kembali pada posisi awal, menegekan tubuhnya, lalu berdeham sejenak. "Pak Gata punya ponakan yang namanya Kenandra nggak?" Mangata mengusap wajahnya pelan, raut wajahnya tiba-tiba dingin, rahangnya mengerah, ya Tuhan Angela jadi takut. "Itu ponakan saya, kenapa?" Angela menelan ludahnya susah payah, tenggorokan terasa kering kerontang. "Bapak tau nggak kalau Kenandra tu suka main kucing kawin sembarangan." Kedua alis Mangata menyatu ketengah, "Kucing kawin? Dia nggak suka kucing Angela." Angela menundukan wajahnya, lalu menepuk dahinya dengan kuat. Mangata meringis mendengar tepukan Angela, "Bukan itu pak, tapi Make out." Ekspresi muka Mangata masih sama, bingung. "Pak Gata ngerti nggak apa yang saya omongin?" Angela kesal, melihat Mangata yang diam menatapnya. Geraman terdengar dari mulut Angela, setelah dengan polosnya Mangata menggelengkan kepala. "Gini Pak, kemarin lusa saya lihat Kenandra lagi make out sama cewek di parkiran mobil." Mangata terdiam sejenak, lalu menganggukan kepalanya, suara oh terdengar dari mulutnya. Alis Angela terangkat satu, ia ternganga melihat respon Mangata yang biasa-biasa aja. "Kok cuma Oh aja pak, pak Gata kenapa nggak terkejut." Mangata menaikan kedua bahunya, "saya nggak terkejut lagi Njel, kelakuan dia memang begitu, anak nggak bisa di atur." Ada banyak alasan sehingga Mangata berbicara seperti itu, salah satu hal kenapa Kenandra tidak bisa di atur adalah dia cucu kesayangan papanya, dan Mangata tidak terlalu akrab dan tidak begitu ikut campur dengan urusan keluarga kakaknya itu. Angela merengut, kedua tangannya terlipat di d**a. "Kamu kenapa? Kamu pacaran Kenandra?" "Amit-amit pak." Mangata terkekeh, lalu mengusap kepala Angela. "Bukan gitu pak, pak gata kan mau nikah nih sama mamanya Angela, kalau jadi?" Mata Mangata melotot menatap Angela. "Pasti jadi." Angela tertawa. "Ia jadi pak, nah otomatis kan saya jadi sepupuan sama Kenandra, nah sedangkan saya nggak mau punya saudara yang suka make out sembarangan, terus gimana nih pak? Saya batalin aja ya jadi mak comblang?" Tanya Angela, ia juga malas bertemu dengan Kenandra. "Nggak bisa gitu Njel, urusan Kenandra biar saya yang urus, pokoknya kamu harus bisa buat mama kamu nikah sama saya, ingat kamu udah janji." Angela nampak berpikir sejenak. "Setuju, bapak harus buat Kenandra sadar, kan kasihan sama cewek yang di ajak Kenandra make out di parkiran mobil, jadi cowok nggak modalan padahal cucu konglomerat, se enggaknya di hotel bintang lima lah pak." Mangata hanya menggelengkan kepalanya, Angela anak yang ajaib, ia kesal dengan kelakuan Kenandra malah mengadu padanya. Andai Angela tau, hubungan sebenarnya dengan Kenandra, anak itu pasti bakalan menceramahi keponakannya itu, Mangata akan menunggu moment itu. TBC...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD