Curiga

1245 Words
Angela Hari ini seperti biasa, mama menyiapkan sarapan, sarapan yang jarang sekali makan berat, yang ada smoothie bowl yang sudah tertata cantik di meja makan. ini masih pagi dan aku sudah beberapa kali menghebuskan napas panjang, kadang aku rindu makan nasi goreng setiap pagi, namun semenjak lulus SMA mama memaksa untuk mengonsumsi makanan health food. Beruntungnya aku, kemarin mendapatkan traktiran dari pak Gata, setidaknya aku bisa makan dengan puas dan tanpa tatapan tajam mama. "Pagi mama--" aku memberikan kecupan singkat di pipinya, lalu mendudukan diri di kursi, aroma daun mint menguar saat mama membuka sebuah bungkusan yang baru dia ambil dari kantong belanja, belum lagi beberapa bungkusan berisi buah dan daging segar, menandakan mama baru habis belanja, "mama habis belanja online?" tanyaku dengan penasaran, tidak biasanya mama belanja online, biasa aku atau Angelo yang akan di paksa ke pasar pagi-pagi buta, atau ke supermarket di saat libur. "Angelo yang pesan, mama aja syok." aku mengangguk singkat, tidak ingin menimbulkan ke curigaan, itu pasti bukan ulah Angelo, namun lelaki bujang yang tidak laku, siapa lagi kalau bukan Pak Gata. "setidaknya adikmu itu pengertian, stok makanan kita sudah menipis, dia tau banget mama lelah habis lembur," ucapan mama hampir membuatku tersedak, tumben ibu satu ini tidak curiga dengan kelakuan anak bujangnya itu. "Mungkin otaknya lagi bener ma," aku minimpali dengan tertawa, tawa yang dipaksakan. selesai merapikan belajaan tadi mama, ikut bergabung di meja makan, aku tertegun, mama tidak terlihat menua, bahkan lebih cantik. pantas saja pak Gata mengebet pengen nikah sama mama. tentu saja aku harus berusaha lebih giat lagi, siapa tahu dengan mama memiliki suami, menu sarapanku bakalan balik lagi ke nasi goreng. "Pagi mama!" teriakan Angelo membuatku, menyemburkan air putih yang baru saja aku minum, suara ku hilang, sesaat setelah menatap penampilannya, tidak ada yang salah, namun sepatu yang digunakanya angelo membuatku ingin membunuh satu-satunya saudarku, bagaimana bisa ia memakai sepatu yang dibelikan paksa oleh pak Gata, masih teringat jelas laki-laki di hadapanku itu menolak sepatu itu, namun tidak tahu malunya ia menerimanya dengan senyum lebar sesaat setelah dibayar oleh pak Gata. "Kamu beli sepatu lagi?" pertanyaan mama, langsung membuatku fokus pada smoothie bowl di hadapanku, aku tidak ingin dijadikan kambing hitam, mama pasti curiga, Angelo sudah menghabiskan uangnya, untuk membeli aksesoris motor, yup sepeda motornya itu akan di modif dan uangnya tidak sedikit. "Hehehe--" kursi di samping bergeser, lalu dengan lancangnya, Angelo merangkul bahuku, "Iya ma, dibeliin Angela," suaranya terdengar riang dan kurang ajarnya, ia masih bisa mengacak rambutku, bukan mengacak, tapi sedikit di jambak. Angelo sialan, "Kemarin aku dapet give away di twiter," ujar dengan lantang, lalu menatap mama dengan berbinar, tentu saja aku tidak bohong, kemarin aku memang menang give away, namun cuma 60 ribu. "oh tumben, biasanya nggak pernah menang." perkataan mama membuat suhu tubuh naik, belum lagi Angelo tidak membantu, dia malah asik makan dengan damai, dasar Angelo sialan. "Angela lagi beruntung, karena tahu saudaranya ini butuh sepatu baru untuk flexing di sosmed," celetuk Angelo sambil mengedipkan matanya, hal itu membuat mama mendengus. "Kayak kamu aktif banget di sosmed." tawaku pecah, kalau urusan aktif di sosmed itu kerjaanku, Angelo jarang aktif, bahkan akunnya sepi layaknya kuburan. Angelo Tarik napas, tahan, lalu hembuskan. setidaknya pagi ini aku lebih tenang dan senang, siapa sih nggak senang sepatu yang diimpikan di dapatkan dengan percuma. Setidak bersikap jaim, aku mendapatkan sepatu edisi spesial dari salah satu brand favoritku, berkat pak Gata, aku tidak perlu bersusah payah mengumpulkan uang. Selain di gunakan menyogok petugas CCTV, tabunganku habis untuk membeli beberapa aksesoris sepeda motor, jangan tanya harga, hampir seluruh tabunganku ludes. Sebuah suara mengangetkanku, aku bergerak malas mengambil benda pipih yang terus bergetar dan mengeluarkan suara. Tanpa nama, dan dia sama sekali tidak sopan ini jam 5 pagi sudah menelepon. "Halo--" aku putuskan untuk menjawab panggilan ini, siapa tahu penting. "Angelo? kamu udah bangun nak?" tunggu dulu, siapa dia? kenapa memanggilku nak? apa aku anaknya? "Ini saya Mangata," sahut di ujung sana, oh si calon potensial. "ya, Iya pak Mangata, Saya kira siapa." ada gerangan apa ini, "Nanti jam 7 bakalan ada orang yang bawa belanjaan, itu saya yang kirim tapi atas nama kamu, biar mama kamu nggak curiga." Aku mengangguk-anggukan kepala. "baik, nanti Angelo ikut skrenario pak Mangata." jawabku, tidak mungkin aku menolak, mama pasti bakalan menambah uang jajanku. obrolan kami terus berlanjut, pak Mangata menanyainyaku beberapa hal, tentang bagaimana kuliahku, teman-temanku bagaimana, lingkungan dan pengajar di sana apakah membuatku nyaman, dan satu pesannya jika ada apa-apa mengenai kegiatan kuliahku, aku harus segera menghubungi dia dan jika Kenandra mengusik, aku harus segera mengadu. Ada geliar aneh, iya tidak pernah ada orang yang begitu peduli padaku seperti ini, ya selain mama dan Paman Kemal. Mungkin ini salah satu trik, Pak Mangata untuk mendapatkan dukungan, yup si tua bujang lapuk itu ingin menikah mama, dan aku siap jadi asisten Makcomblang. "oh ya saya sudah pesankan taksi online," ucap pak Mangata terputus saat aku ingin menolak, aku baru ingat sepeda motorku dan Angela tidak ada di rumah, ya mau gimana lagi, sebenarnya aku untung sih, uang jajanku aman hari ini. Setelah memastikan laptop dan ponsel masuk ke dalam ransel, aku melakukan langkah terakhir, menyemprotkan parfum. Rasa begitu menyenangkan. Aku melihat mama dan Angela sudah duduk di meja makan, sarapan kali tentu saja health food ala mama Kemala. "Lo hampir buat mama curiga!" keluh Angela sesaat setelah mama pergi ke kamar untuk mengambil ponselnya , aku mengedikan bahu, tidak peduli, toh mama percaya dengan alasan kakakku ini. "To mama juga percaya," jawabanku membuat Angela mengerucutkan bibirnya, "Diem deh, lo juga pake dress yang di beliin kemarin kan, Lo tutupin pake Outer." Angela mendelik, tentu saja ia tidak bisa membohongiku, "Eeh ntar ada taxi online, bilang lo yang mesen ya, buat aja alesan kenapa motor kita pagi ini tidak ada di rumah." "Gue nggak mau bayar," ketus Angela, aku tertawa "Tenang gue yang bayar," jawabku dengan jumawa, tentu saja aku bohong. "Ya ya gue percaya," jawab Angela sambil mengambil mangkok bekas smoothie bowl, "Eeh cuci punya gue juga." Aku menarik outernya, "Rese banget sih, gue hampir terjungkal." Aku meringis, kedua sudut bibirnya Angela semakin melengkung ke bawah, sepertinya mood kembaranku tidak bagus, entah apa gerangan. Angela Bisa-bisa tukang ghosting mengkambing hitamkan ku, jelas-jelas yang pesen taxi online itu pak Mangata, malah di depan mama ngaku aku yang bayarin, setidaknya ini masih tanggal muda, aku bisa mengelak, mama tahu aku anti naik taxi online, mending ojol dari pada taxi. "Nanti gue ke kampus naik motor lo ya, gue males naik taxi," cicit Angelo, tangannya menoel-noel lenganku, aku cuma melirknya sekilas, lalu berfokus pada ponselku, hari ini bukan hari Senin, namun bebannya terasa sama. "Angela--" Angelo memelas, aku melirik ke arah depan, sopir taxi nampak mencuri-curi pandang ke arah kami. Perjalan kali ini terasa lama, Angelo sudah tidak merengek lagi, setelah aku mengijinkan untuk membawa sepeda motorku. "Terima Kasih pak!" dengan sekuat tenaga Angelo menutup pintu taxi, entah kenapa kembaranku ini. "Tuh bapak ngelirik lo lagi." Aku tidak bersuara, Angelo juga merasakan ke anehan itu. "Yuk, gue udah telat." Aku menarik tangan Angelo, lalu gue mengajaknya berjalan ke basement. "Hati-hati, inget ini motor kantor, jangan sampai di kerjain sama si tukang kawin sembarangan." Aku mengingatkan Angelo untuk berhati-hati, Sepeda Motor pinjaman dari kantor, kalau ini sampai di rusak Kenandra, bisa-bisa aku mengamuk datang ke kampus untuk melabrak lelaki itu. "Siap buk Bos, titip salam sama Pak Mangata." Kemarin malam Angelo masih curigaan tapi pagi ini dia malah mendukung Pak Gata. TBC Oh Ya, aku lagi ubah cara POV semoga suka :)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD