Agak berlebihan

934 Words
Angelo dan Angela saling melemparkan tatapan curiga, Angelo yang lebih tepatnya mencurigai kembarannya ini. "Ini benerankan, lo nggak jadi sugar baby?" pertanyaan berulang kali yang Angelo lontarkan, bahkan Angela sudah muak mendengar pertanyaan Angelo. "Jawabannya sama Njelo, gue ini makcomblang." Angelo mengusap rambutnya berulang kali, ia masih merasa aneh, Mangata sangat mudah menghaburkan uang, seperti itukah orang kaya menggunakan uangnya, tinggal menunjuk barang lalu membayarnya dengan kartu hitamnya. "Kartu yang di pake pak Mangata itu debit ya?" tanya Angelo dengan polosnya, membuat Angela gemas, "nggak lah, itu kredit dan yang punya emang bener-beneran orang tajir melintir. Debit itu ada limit transaksi" informasi terbaru dan Angelo harus mengingatnya, kan dia mau jadi orang kaya jika mama benar-benar nikah dengan Mangata. "jadi barang-barang ini, mau kita apain?" pertanyaan Angelo, ia pusing melihat hasil shoping mendadak dengan Mangata, selain bukunya yang dibayarin, Mangata malah mengajak mereka mampir ke berapa store barang mewah, dan membelikan banyak tas, sepatu dan pakaian untuk mamanya, dan ia dan Angela juga kecipratan sedikit lebihnya. Kecurigaan Angelo tiba-tiba datang, kenapa tiba-tiba Mangata ingin membelikan mamanya banyak barang, dan hal yang paling mecengangkan adalah satu set perhiasan berlian, Angelo jadi ketar ketir untuk menyimpannya, tidak mungkin juga ia langsung memberikan semua hadiah ini untuk mamanya, bisa-bisa wanita itu pingsan. "mungkin seperti ini rasanya, kalau di treat like queen." gumam Angela membuat Angelo menganggukan kepala, seolah setuju dengan perkataan kembarannya. Sebagai seorang pria, Angelo juga akan melakukan apapun untuk wanita yang ia cintai. "Gue berdoa lo dapet cowok kayak pak Mangata deh," kata Angelo dengan tulus. "tentulah, yang gue nggak mau tuh dapet cowok kayak kembaran gue ini, suka ghosting." Angelo mendelik, perlahan ia mendorong Angela ke kasurnya, "Angelo sialan!" teriak Angela, Angelo tertawa puas, lalu segera masuk kedalam kamar mandi sebelum diamuk kakaknya, untungnya Kemala sedang lembur, jika tidak Angelo sudah pasti mendapatkan hadiah jeweran, gara-gara mengusik Angela. "Gue mau balik ke kamar, lo aja yang simpen tu berlian!" Teriak Angela meninggalkan kamar adiknya, hari ini begitu menyenangkan mendapatkan hadiah dari pak Gata, beberapa sepatu impiannya ia dapatkan tanpa susah-susah menabung. "Gue nggak mau nyimpen barang laknak itu!" teriak Angelo saat membuka kamarnya, tidak ada siapapun, kosong, hanya suara dari Acnya yang terdengar, sialan Angela malah menyerahkan satu set perhiasan itu padanya, mau tidak mau Angelo harus menyembunyikan di suatu tempat di kamarnya, tapi itu dimana? di lemari? itu tidak mungkin mamanya sering merapikan lemarinya, di kamar mandi? itu tidak mungkin lagi, Ingin sekali Angelo mengutuk Mangata, kenapa juga lelaki itu menitipkan barang itu kepadanya, harusnya kalau lelaki gentleman harusnya berani bertamu ke rumahnya. sebuah ide terbesit, Angelo akan menaruh berlian itu di tempat Angela, Kakaknya itu banyak memiliki kotak-kotak yang tidak pernah di gunakan ia akan menaruh saat Angela tertidur. ... Mangata tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya, bahkan satpam di lobi terheran-heran melihatnya, aneh tidak seperti biasanya. siapa juga tidak bahagia akhirnya setelah sekian lama bekerja keras ia bisa membelanjakan sedikit uangnya untuk anak-anaknya, seharusnya sedari dulu ia lakukan, setelah membuka pintu unit apertemen, Mangata di kejutkan oleh seseorang yang bersidekap menunggunya dibalik pintu. "Baru pulang?" Mangata menghela napas panjang, lalu menganggukan kepala singkat, "Mami udah lama?" bukannya menghampiri ibu, Mangata memilih untuk mengambil minum di dapur, baru saja ia senang namum, wanita yang melahirkannya tiba-tiba berada di daerah pribadinya. "Kamu kenapa sih, mami suruh dateng ketemu anak temen mami malah kamu kabur," seru Nyonya Teja menghampirinya, "Aku ada urusan tadi." Mangata dapat mendengar gumaman ibunya, "Mami tahu, seenggaknya kamu bilang, kan bisa diundur besok." "Besok aku keluar kota, lusa juga sampai minggu depan, habis itu aku ada rapat bulanan yang biasanya sampai malem." Nyonya Teja menghela napas panjang, nampaknya Mangata tidak tertarik dengan perjodohan yang ia atur untuk kesekian kalinya. "Tapi kamu bisa kenalan dulu sama dia," ucap Nyonya Teja ia tidak ingin ditolak lagi. "Maaf mami ku tercantik, aku nggak berminat." Nyonya Teja memijit keningnya, Mangata dengan prinsipnya, "Kamu mau sampai tua sendiri? wanita itu mungkin sudah memiliki suami dan hidup bahagia," Raut wajah Mangata kali ini terlihat biasa-biasa saja, jika dulu Nyonya Teja menyinggung mantan kekasih mangata, anaknya itu akan membantah dan mengusirnya, tapi saat ini berbeda. "Dia belum memiliki suami, mama jangan mengada-ada." Kali ini Nyonya Teja yang syok mendengarnya, kenapa Mangata nampak yakin, "Lebih baik mami pulang, aku mau tidur," Mangata mendorong pelan punggung ibunya, mengarahkan ke pintu keluar, "Dasar anak kurang ajar," seruan ibunya bahkan tidak di dengar Mangata, "Tuh pacar mama udah nunggu, dia cemburu mama lebih sayang Gata," ucap Mangata kepada ibunya, ia melihat Tuan Teja sudah berdiri di depan pintu apartemennya entah sejak kapan, apakah karena ia terlalu bahagia sehingga tidak melihat ayahnya berdiri disana menunggu ibunya. Mangata menundukan kepalanya, bentuk hormatnya kepada Tuan Teja, hubungan mereka merenggang sejak kejadian belasan tahun silam, bahkan semakin dingin, ia menjadi direktur di perusahaan bukan karena ayahnya, itu semua murni dari keputusan manajemen, mereka mengakui kinerjanya, meskipun sempat di tentang ayahnya, dan Mangata tidak peduli, Tuan Teja memang pilih kasih, lelaki tua itu lebih menyayangin Naratama, kakak kembarnya, "Selamat Malam Tuan Teja, bye Mami," setelah mengucapkan salam perpisahan Mangata segera menutup pintu kamarnya. Mangata menghela napas panjang, ia memilih untuk mandi, menyegerkan tubuh dan pikirannya, ia butuh istirahat, banyak rencana yang harus ia lakukan, apalagi setelah bertemu Angelo, puternya, ia harus segera membuat kedua anaknya tahu ialah ayah mereka. "Kemala--" Mangata bergumam pelan, pikiran melayang ke saat pertama ia bertemu dengan wanita itu, bagaimana reaksi wanita itu saat Mangata mengodanya, ia merindukan saat itu, kenapa ia dulu begitu pengecut. Kenapa juga Naratama yang harus bertemu dengan kakak Kemala dan membuat semua ini rumit dan Tuan Teja juga yang harus mengirimnya untuk mengurus perusahaan baru di negeri orang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD