"Siapa sih cowok tadi? Nggak ada sopan-sopannya!"
"Apa dia pacarnya Jessi?"
"Sudah punya pacar tapi masih saja goda dosen. Ckckck anak jaman sekarang emang mengerikan." Berbagai pikiran hilir mudik di benak Cahyo hingga dia tidak memperhatikan Gita.
"Sayang?! Kamu denger ga sih?"
"Yang! Sayang!" Gita melambai-lambaikan tangan ke depan muka Cahyo, karna Cahyo sibuk melamun.
"Hah? Eh iya iya kenapa?"
"Kenapa sih Yang? Ada masalah?"
"E...enggak kok, cuma ini, tadi ada sedikit kerjaan yang harus dikerjain, buat akreditasi jurusan," ucap Cahyo bohong.
"Oh...ya udah dimakan dulu Yang, jarang-jarang makan siang bareng gini, eh kamunya malah mikirin kerjaan." Tatapan mata Gita nampak kecewa.
"Maaf ya Sayang." Cahyo buru-buru menggenggam tangan Gita.
"Ya udah nggak apa-apa, namanya juga kerjaan mau gimana lagi, tapi bisa dong kamu mikirin kerjaannya ditunda dulu pas kita bareng?"
"Iya. Maaf ya Sayang." Cahyo mengusap punggung tangan Gita dengan ibu jarinya.
"Aku udah browsing wedding organizer, kayaknya wo-nya Thania lumayan deh yang."
"Thania?"
"Iya, temen aku kuliah dulu, dia dulu kerja di bank, resign terus bikin wo, kemarin sempet ketemu dan ngobrol, kalau kita make wo dia, ntar dia kasih harga spesial."
"Gimana?"
"Kalau kamu cocok ya udah pakai itu aja."
"Trus konsepnya?"
"Konsepnya sesuai kamu aja. Kan biasa cewek yang suka pengen konsep apa, cowok mah ngikut aja."
"Gimana kalau konsepnya simple elegant?"
"Atau tema rustic? Kan lagi happening tuh, Yang."
"Kamu aja yang nentui Sayang. Pilihan kamu pasti yang terbaik."
Gita natap Cahyo dan senyum.
"Yang, makasih ya udah ada di sini, nerima aku, meski kita dijodohin sama orang tua kita tapi aku yakin kalau kita bisa jadi pasangan yang saling melengkapi dan saling membahagiakan."
Cahyo membalas senyuman Gita dan mengangguk.
"Aku juga makasih, karena kamu mau menjadi seseorang yang mendampingi aku."
"Kayaknya dua orang yang patah hati itu emang cocok ya?" Gita tertawa kecil.
"Hm...kayaknya sih iya." Cahyo menanggapi.
Obrolan Gita dan Cahyo kembali bergulir penuh keceriaan. Mereka melupakan semua hal buruk yang terjadi di masa lalu dan sempat membuat hati mereka berkeping-keping.
Cahyo, beberapa tahun silam memiliki kekasih, Risa, mereka berdua sudah memutuskan hendak menikah, dua tahun sebelum rencana itu berjalan, Cahyo mendapat beasiswa belajar ke Jerman dan memisahkan jarak antara Risa dan Cahyo. Semua nampak baik-baik saja sampai dua bulan sebelum Cahyo wisuda, Cahyo mendapat kabar bahwa Risa telah menikah dengan lelaki lain.
Shock, sudah pasti, ditinggal tanpa alasan. Cahyo limbung, berhari-hari bertanya-tanya, mengapa Risa tega melakukan hal itu padanya. Mungkin jika Risa berterus terang, mengakhiri semuanya baik-baik, dan melangkah bersama pria lain, Cahyo akan lebih bisa menerima tapi nyatanya Risa meninggalkan Cahyo mendadak, tanpa pesan, tanpa isyarat. Tiba-tiba saja, Risa mengirimkan undangan pernikahan disertai permintaan maaf yang terasa nggak guna dan hanya ngadi-adi semata. Cahyo mendadak seperti disadarkan bahwa pada akhirnya, hubungan LDR, tiap hari ngabarin, akan kalah dengan yang selalu ada dan nemenin.
LDR itu kependekan dari lalu ditinggal rabi (lalu ditinggal menikah) dan memang benar adanya.
Sementara, bagi Gita, kisah cinta terlatih patah hatinya juga tidak kalah dari Cahyo. Berpacaran sejak bangku SMA, pernikahan Gita kandas begitu saja karena enam bulan sebelum pernikahan, seorang cewek ngaku dihamili calon suami Gita, dan usia kehamilannya sudah sembilan bulan. Anak tidak berdosa itu perlu seorang ayah, maka, Gita merelakan calon suaminya menjadi suami wanita lain dan menjadi ayah bagi seorang bayi tak berdosa.
Cahyo dan Gita adalah dua manusia yang mengalami lara, dan harapan yang pupus hingga hati mereka cedera serius. Hingga akhirnya, mereka dijodohkan oleh orangtua mereka yang saling mengenal baik. Tidak ada alasan menolak bagi keduanya, mereka berusaha merajut kembali kepingan hati menjadi utuh, dan mencoba saling menerima.
Soal cinta? Mereka berdua berharap cinta akan ada jika mereka telah terbiasa.
Tapi, sepertinya angin menghembuskan senandung cinta pada sosok yang salah di hati Cahyo. Bukan Gita, tapi Jessica.
Kemunculan Jessi yang menarik hati Cahyo karna paras cantiknya dan karena tingkah lakunya yang centil, dan kadang absurd, dan juga...Jessica yang hadir dalam mimpinya dan membuat Cahyo cenat cenut.
*
"Emang lo diapain Jess?" tanya Sean kepo saat berhasil ngejar Jessi yang lari keluar dari ruangan Cahyo.
"Nggak diapa-apain."
"Bohong."
"Lo dilecehin ya sama dosen tadi?"
"Enggak ih! Apaan sih. Udah sana lo kuliah aja nggak usah ngurusin gue!" Jessi mengusir Sean dengan wajah judes.
"Gue tuh peduli ama lo Jess."
"Ya udah makasih. Tapi gue lagi pengen sendiri."
Sean natap Jessi dengan tatapan prihatin.
"Apa lo liat-liat?" Tanya Jessi galak.
"Udah sono, pergi!" Jessi ngusir Sean galak. Suasana hati Jessi lagi jelek banget dan keberadaan Sean malah nambah Jessi bete. Jessi masih kesel sama Cahyo yang galak dan sinis sama dia. Ish! Kenapa sih Cahyo harus sesinis itu. Jessi sedih banget, tau!
"Lo beneran nggak apa-apa Jess?"
"Iyaaaa! Lo budek apa gimana sih Sean?!" Jessi ngebentak Sean sewot. Sean mendesah kesal dan tanpa kata ninggalin Jessi. Sean sakit hati dibilang budek, padahal kan niatnya baik, malah dikata-katain.
Jessi ngambil ponsel dari tasnya, dan ngehubungin Shelly.
"Shel, emang gue bodoh ya?" Tanya Jessi sejam kemudian di kamar kos Shelly.
"Bodoh gimana?"
"Eung...kalau dari ipk sih yes...," jawab Shelly pelan.
"Tapi nggak apa-apa Jess, nilai bukanlah segalanya kok. Hehehe." Shelly nepuk-nepuk pundak Jessi.
"Kenapa emang?"
"Gue dikatain ama pak Cahyo anak TK, pertanyaan gue nggak prinsipil dan berbobot, makanya tadi pas gue nanya pak Cahyo nggak jawab. Gue malu tadi di kelas, nanya dan dikacangin."
"Pak Cahyo ngatain lo Jess?"
Jessi ngangguk.
"Ew... kok pak Cahyo gitu sih! Kamu makanya jangan ngedeketin pak Cahyo lagi Jess, tuh orangnya jadi songong kan."
"Tapi... gue sayang sama dia...hiks...." Jessi mulai menangis.
"Eh?! Bentar...."
"Gimana-gimana....ini cuma urusan nilai statistik kan?"
"Sama kealayan lo yang sok-sokan mau ngrebut tunangan orang?"
Jessi menggeleng.
"Gue sayang sama pak Cahyo, Shel. Nggak tau gue tuh tiap liat dia, jantung gue kayak berdebar-debar, pasang surut kayak ombak samudra gitu loh."
"Hem...halu. Lebey," batin Shelly, dia tidak mengucapkan penilaiannya karena tahu bahwa komentarnya akan membuat Jessi sahabatnya tambah sedih.
"Kalo pas lagi nggak kuliah, nggak liat dia, gue jadi ngerasa kangen dan sepi, gue ngerasa jadi tungku tanpa api."
"Ew....asegh!" Shelly nanggepin.
"Napa jadi kek Kekeyi lo?"
"Ya abis lo ceritanya emang asegh bener."
"Udahlah Jess, pak Cahyo udah punya tunangan, dan dia itu udah om-om yang kalau jalan sama cewek seumuran kita, yang ada dia disangkain p*****l, jadi mending lo lupain pak Cahyo, dan lo mending jalan sama Sean."
"Hufth! Sean lagi, Sean lagi."
"Udah gue usir dia. Ga bakalan nongol lagi tu anak."
"Hah? Lo usir? Lo usir begimane?"