Patah Hati

891 Words
Jessi senyum sumringah pagi itu saat berangkat kuliah. Anak gadis itu sangat yakin bahwa Cahyo Wardhana Yodha akan segera jatuh ke pelukannya dengan bantuan pelet online dari Dukun Online, yang menyebut dirinya si Gundul dari Gunung Kawi. Jessi duduk dengan percaya diri, dan keyakinan tinggi, pasti Cahyo bakalan menatapnya tanpa jeda dan selanjutnya yang terjadi Cahyo akan mengikutinya kemanapun ia pergi. Cahyo bakalan jadi bucin sejatinya. Uhui! Bayangin hal itu aja, Jessi udah kembang kempis hidungnya, saking excitednya. "Jess! Napa lo senyum-senyum kayak orgil?" Shelly duduk di sebelah Jessi heran dengan tingkah Jessi. Kemarin nangis sedih, dianyepin Pak Cahyo, eh sekarang senyum-senyum nanjong. "Tar ya liat, gue lagi bahagia pokoknya ini." "Lah bahagia kenapa?" "Bentar lagi gue bakalan dapetin Pak Cahyo!" "Hah? Ciyus? Gimana ceritanya? Perasaan kemarin lo cerita pak Cahyo sinis ke lo?" "Semua bisa berubah hanya dengan klinik Tong Fang hehehe." "Bangsul!" "Serius!" "Lha ini serius!" "Gue yakin seyakin-yakinnya pak Cahyo ga lama bakalan cinta mati ke gue. Kek lagunya Agmo. Cintaku sedalam samudra, seluas jagat raya ini kepadamuuuu." Jessi nyanyi dengan suara sembernya yang bisa bikin orang auto congek. Shelly natap Jessi dengan alis bertaut. "Emang lo apain Pak Cahyo?" "Gue pelet pake pelet online dukun DO." "Astagfirullah!" "Tobat woy, sirik itu namanya!" "Ga boleh kayak gitu, ntar lo jadi penghuni kerak neraka." "Udah ngrebut tunangan orang, main dukun lagi." Shelly mendadak berubah jadi mamah Dedeh lagi kasih ceramah. "Deuh apaan sih Shel, serius banget idup lo kayak kanebo kering." "Jess, lo itu temen gue, yang paling gue sayang, gue ga mau lo itu susah dunia akhirat karna salah jalan." Jessi nggak ngerti kenapa Shelly akhir-akhir ini jadi suka ngomong kek ustadzah gitu lho, yang nasehatin ini itu, terutama sejak Jessi pengen ngedeketin Pak Cahyo yang udah punya tunangan. Padahal Shelly biasanya partner in crime-nya Jessi. "Shel...lo kenapa sih jadi alim gini? Biasa juga lo ketawa-ketawa aja liat gue binal." "Gue cuma nggak pengen lo itu kesusahan gara-gara hal yang gak perlu. Mumpung gue masih ada di sini, gue pengen terus jagain lo." Alis Jessi keangkat satu, ngerasa heran. "Mumpung lo masih ada di sini? Gimana maksudnya? Lo mau pindah? Atau lo udah skripsi diem-diem trus lo udah mau wisuda?" "Jahat banget lo Shel nggak bilang-bilang kalau udah skripsi! Tega ya lo!" "Nggak Jess...nggak...gue belum skripsi kok, lo tanya aja ke jurusan, ga ada nama gue di daftar mahasiswa ngajuin skripsi." "Jadi lo mau kemana?" "Nggak kemana-mana kok. Maksud gue, ya mumpung kita masih sering ketemu gini, kalau bentar lagi skripsi kan jarang ketemu, sibuk." Jessi mandangin Shelly dan kayak ada yang aneh sama Shelly, dia kelihatan lebih cantik. "Lo pake skincare apa Shel? Kulit lo kayak lebih glowing." "Nggak pake apa-apa kok ukhti, hanya pake air wudhu." Shelly jawab pake nada suara lembut, kayak ukhti pengajian yang suaranya lembut menawan hati. "Hem...air wudhunya dikasih SKII seliter, pantes jadi glowing." "Nah tuh tau!" Shelly ketawa renyah. "Eh pak Cahyo tuh, duduk yang manis!" Shelly langsung duduk hadap depan diikuti Jessi, saat tau Cahyo berjalan memasuki kelas. Jessi udah super excited apakah pelet dari Si Gundul berhasil? Tapi rupanya pelet si Gundul pelet abal-abal dengan kualitas Kw super. Super rendahan. Ga ada efek sama sekali. Cahyo nengok ke Jessi aja enggak, dan saat Jessi tunjuk jari, Cahyo malah nunjuk mahasiswa lain. Jessi jadi ingin lari ke hutan, teriakku. Pecahkan saja gelasnya, biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh. Kekecewaan Jessi pada pelet si Gundul mencapai puncaknya saat kelar perkuliahan, dan dengan mata kepala sendiri Jessi ngelihat Cahyo jalan sama Gita. Gelendotan lagi si Gitanya, bikin Jessi muak. "Idih norak kampungan, public display affection yang nggak perlu! Kek yang punya dunia aja yang lain ngontrak!" Jessi ngomel-ngomel sendiri dan hatinya serasa ditusuk pake tusukan cimol. Perih banget hati Jessi ngeliat itu semua. Ngeliat Cahyo yang natap Gita dengan senyumnya yang bikin klepek-klepek mana ada lesung pipi nyembul lagi pas Cahyo senyum, bikin Jessi pengen lari terus nyipok Cahyo. Tapi untung aja Jessi masih waras, dia masih bisa nahan hasratnya yang ugal-ugalan pada pak Cahyo. Hati Jessi potek berkeping kayak remahan Kongguan sisa lebaran, udah ambyar seambyar-ambyarnya. Pernah manis dan disukain banyak orang, tapi kini hanya remahan yang nggak dipandang. Jessi si bayi gula ngerasa terpuruk. Pengen nangis kejer saat pujaan hatinya nolak dia baik mentah maupun mateng. Hiks. Bayi gula kayaknya udah jadi tawar sekarang, ga manis lagi. Jessi jadi limbung males ngapa-ngapain, matahari rasa-rasanya juga enggan bersinar, kek lagi lockdown dari virus corona, ngerem aja di barat, enggan ke timur buat muncul dan menyinari mahluk sedunia. Kegagalan pelet dukun Gundul dan kemesraan Cahyo feat Gita bikin Jessi ngerasa kehilangan semangat hidup. Kayak hari ini, udah jam 11 dan dia masih ngegelosor aja di kasur. "Jes! Lo kenapa sih? Sakit?" tanya Shelly. "Huum." "Udah ke dokter?" Tanya Shelly perhatian. "Sakit apa lo? Demam? Batuk? Sesak nafas? Buruan deh ke dokter, takutnya kena covid19 lho!" Shelly panik banget. "Gue udah tau kok sakit apaan." "Sakit apa lo? Bukan covid kan?" "Bukan. Tapi lebih menyakitkan." "Sakit apa? Jangan bikin gue deg-degan Jess!" Shelly menatap panik. "Sakit hati." "Jessiiiiiii...!" Shelly teriak kayak kuntilanak beranak. "Seriusan gue khawatir lo malah becanda!" "Gue ga bercanda Shel!" "Ya udah kalau gitu berangkat kuliah yok! Udah siang nih." Shelly narik Jessi yang masih gelundungan di balik selimut. "Ogah!" "Gue masih belum recovery nih dari sakit patah hati. Gue perlu mengisolasi diri, lockdown pribadi sampai waktu yang nggak ditentukan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD