"Haduh, parah lo Jess, iya gue tahu, lo suka sama usia tua bangka, tapi jangan jadi pelakor dong!"
"Bawel ah! Usia bangka your head! Bukan bangka tapi mature keles!" Jessi membalas tidak terima.
"Lagian daripada lo pacaran aja teros tuh sama Rendra, udah miskin, pengeretan lagi ke lo. Mending juga gue, mendekati lelaki mature demi masa depan."
"Sial, mulut lo emang pedes. Abis makan boncabe apa gimana?"
"Kenyataan woy! Gosah baper."
"Gue nggak baper, cuma laper, traktir dong Jess."
"Yee ketularan Rendra lo, pengeretan. Baru aja dibilangin, jiwa pengeretan lo keluar," dengkus Jessi.
"Halah sama-sama pengeretan aja, lo kan juga ngeretin Jeffrey yang katanya anak Jaksel crazy rich!"
"Eh bener juga lo, ya udah sesama pengeretan jangan saling menjatuhkan!" Jessi tertawa.
"Ngomong-ngomong lo kok mulai pinter ngomong ya, tar kuliah diplomasi bisa dapet A lo."
"Gue kalau ngomong yang nggak manfaat emang lihai tapi kalau ngomong yang bermanfaat kayak blank gitu. Kenapa ya?"
Jessi tertawa mendengar kata-kata Shelly.
"Ya udah bawaan orok itu. Lo ngebacotnya nggak guna."
Shelly memajukan bibirnya manyun saat mendengar kata-kata Jessi.
"Ya udah jangan sedih sob, gue traktir, yang murah aja ya, gue belum dapat stok om-om banyak duit yang baru, ntar dapet juga kayaknya gue yang lebih banyak pengeluaran, namanya juga dosen gaji nggak banyak."
"Om Cahyo maksud lo?" Mata Shelly membulat.
"Iya lah siapa lagi. Tapi gapapa ganteng, dan kayaknya memuaskan. Hihihi." Jessi terkikik.
"Oemji." Shelly menepuk jidatnya sendiri.
"Lo bener-bener mau deketin pak Cahyo?" Shelly kembali bertanya pada Jessi.
"Lah iya, kan lo yang ngasih saran. Thanks sarannya ya Say."
"Heh! Jess, gue bercanda doang!"
"Tapi sayangnya gue serius nggak bercandaan, gue baru nyadar aja selama satu semester gue padahal udah mantengin pak Cahyo loh, tapi kok nggak pernah kepikiran ngedeketin pak Cahyo yah, makasih buat lo yang udah nyadarin gue. Selamat datang cinta, selamat datang nilai A!" Jessi cium pipi Shelly yang lalu ditepis Shelly.
"Jangan jadi pelakor lo."
"Dih, selama janur kuning belum melengkung masih bisa ditikung, kali aja emang pak Cahyo ga jodoh ama tunangannya, jodohnya ama gue." Jessi menyibakkan rambut panjangnya yang indah.
"Ya udah lo jadi mau gue traktir ga?"
"Lah ya mau.
"Dih giliran traktiran aja cepet responnya." Jessi merangkul Shelly dan mengajak sobatnya itu ke kantin.
*
"Selamat sore, Pak." Jessi masuk ke ruangan dosen yang sepi. Ini sudah jam empat, kebanyakan dosen sudah pulang, tapi Cahyo masih ada di ruangannya karena barusan ngajar mata kuliah Bisnis Internasional jam 3 sore. Jessi bela-belain nyari jadwal ngajar Cahyo biar bisa nemuin waktu yang tepat untuk modusin Cahyo, dan akhirnya waktu ini datang juga.
Jessi sengaja make baju yang seksi. Kemeja putih yang berbahan agak tipis, memperlihatkan bra hitam dan rok jeans yang mini. Jessi yakin penampilannya bakalan ngebuat Cahyo kembang kempis sealim apapun dia.
"Ya sore. Ada yang bisa dibantu?" Cahyo membalas dengan suara yang menurut Jessi sangat seksi.
"Eh, ini Pak, saya mahasiswi statistik kelas A, nama saya Jessica Kirana, boleh minta waktunya sebentar Pak?" Jessi bicara lembut berusaha agar Cahyo memberikan perhatian penuh padanya.
"Oh ya silahkan duduk." Cahyo kembali berkata dengan nada datar.
"Gini, Pak..." Jessi duduk, sambil benerin kerah bajunya bertujuan biar pandangan mata Cahyo ngikutin gerakan tangan Jessi, natap di bagian leher dan d**a, tapi sial, Cahyo malah nunduk beresin dokumen yang berserakan di mejanya, bikin Jessi kesal.
"Oke...oke nggak apa-apa Jess, masih awal...its oke." Jessi ngebatin menghibur dirinya sendiri.
"Jadi gini pak...Pak Cahyo?" Jessi manggil Cahyo biar Cahyo ngeliatin dia.
"Ya gimana? Maaf ya saya sambil beresin dokumen soalnya sebentar lagi saya harus buru-buru pergi." Cahyo hanya sejenak menatap Jessi, lalu kembali sibuk dengan dokumen yang berserakan di hadapannya.
"Gini Pak, masa nilai ujian statistik saya Cuma E?" tanya Jessi dengan nada lebih keras agar Cahyo memberi perhatian, karna pria tinggi itu sepertinya sama sekali nggak gubris Jessi.
"Maksud kamu gimana?" tanya Cahyo, akhirnya natap Jessi setelah nada suara Jessi meninggi.
"Yessss!" Jessi ngebatin.
"Masa nilai saya E, saya kan udah ngerjain soalnya."
Cahyo tampak berpikir.
"Maksud kamu, saya salah ngasih nilai?"
"Kayaknya gitu. Coba deh, Bapak cek."
"Berapa nomor mahasiswa kamu?" tanya Cahyo sambil mengambil tumpukan kertas ujian statistik. "Kelas A kan?" Cahyo mengambil sehelai kertas, nama Jessica K tertera di sana, lalu Cahyo mulai mengamati kertas itu.
"Jawaban kamu salah semua, jadi emang bener nilai kamu E, itupun masih lumayan saya kasih upah nulis." Cahyo menjawab membuat Jessi merasa malu, tapi dia tidak bisa mundur sekarang, apapun harus dia hadapi.
"Saya nggak terima Pak, kalau nilai saya E." Jessi berkata dengan lantang.
"Lho nggak terima gimana? Kan emang salah semua."
"Ya berarti itu Bapak gagal dong ngajar saya, padahal saya udah rajin masuk kuliah, masuk ke mata kuliah yang bapak ajar, udah duduk paling depan juga, tapi masa saya nilai ujian jelek. Saya kuliah di sini kan biar makin pinter, tapi kalau saya nggak pinter-pinter buat apa saya kuliah. Saya mau, Bapak ngasih kelas tambahan buat saya."
"Kelas tambahan? Kamu kan mahasiswa, nggak ada kelas tambahan. Kalau nilai kamu jelek waktu ujian, itu karna kamu nggak belajar, kalau kamu belum mengerti seharusnya kamu tanyakan saat di kelas, saya akan menjelaskan lagi, bukan protes saat nilai ujian jelek."
"Nggak bisa gitu, Pak. Bapak harus tanggung jawab," jawab Jessi ngeselin.
"Gini aja, kita bicarakan besok, soalnya saya buru-buru."
"Duh Bapak, ini tanggung jawab Bapak loh sebagai pengajar masa mau lepas tangan gitu aja sih."
Cahyo menghela nafas. Sebenarnya ia cukup kaget dengan kehadiran mahasiswi satu ini apalagi dengan pakaian yang begitu membuat matanya ingin terus memandang. Cahyo nggak munafik, dia laki-laki yang tertarik dengan pemandangan indah tubuh wanita, tapi Cahyo tau bahwa memandangi tubuh wanita secara terus menerus bisa menimbulkan nafsu, berdosa dan juga tidak etis, apalagi dirinya adalah dosen, guru, yang segala tingkah laku perbuatannya seharusnya bisa dianut dan ditiru, maka ia berusaha menyibukkan diri dengan dokumen di hadapannya agar tidak perlu lama-lama memandang Jessica.
"Trus mau kamu gimana?" Cahyo bertanya dengan kesabaran yang sebenarnya dia paksakan.
"Ya Bapak harus ngasih saya pelajaran tambahan sampai nilai statistik saya A."
Cahyo mengernyit, sejak kapan seorang dosen diminta memberi les tambahan mahasiswanya? Nggak pernah ada.