Berondong Online

1203 Words
Leony segera membuka pesan tersebut dan membacanya. "Waduh, panjang banget ini mah isinya. Yang ada setannya keburu banyak"ceplosnya Mamanya pun datang saat itu dan menghampirinya "Lagi apa?" "Jadi gini Mam, tadi aku dapat nomor dan kenalan dari sesama teman penulisku, namanya Dea. Setelah kita ngobrol dan cerita banyak itu. Kabar baiknya adalah dia ada punya teman yang bisa usir hantu semacam kemasukan begitu" "Keren, terus kamu ada nomor handphonenya?" "Tentu saja" "Nanti kalau adikmu melakukan sesuatu. Kamu bisa hubungi orang itu untuk minta bantuan" "Oke" Mamanya pun pergi meninggalkan tempat tersebut. Leony melihat ponselnya kembali. "Hai, kak lagi apa?"kata Ferry dalam pesannya "Baru aja pegang handphone memangnya kenapa?" "Cuma nanya aja" "Oh. Kamu itu teman satu kampus dengan Dea?" "Iya, but kami beda jurusan" "Kirain satu kelas" "Enggak. Kita ketemu di organisasi" "Oh, gitu. Tapi seangkatan?" "Beda. Aku lebih tua setahun" "Good" "Kok kakak penasaran banget kayaknya?" "Gak juga sih biasa aja" "Ku kira" "Kamu mah gitu" Ketika jam satu siang itu Ferry membalas pesan Leony. "Hai, Kak udah makan belum?" "Baru aja, kenapa?" "Nanya aja" "Oh, btw nanti ikut acara kakak ya?" "Kapan?" "Nanti siang" "Lihat waktunya. Soalnya banyak acara" "Oke" Lalu Leony mengirimkan pesan kepada Dea. "Ikut acara kakak yuk?" "Emang tentang apa?" "Tentang melipat tangan dan memejamkan mata" "Hari ini banyak aktivitas kak" "Tadinya aku mau minta tolong sama kamu. Jadi kakak ingin kamu itu jadi moderator. Kakak yang akan memegang bagian pembicaranya" "Maaf kak. Aku banyak urusan" "Oke" Leony harus menerima resiko jadi dia harus bisa membiasakan segala sesuatunya sendiri. Leony pun mengadakan acara seminar online yang diadakan pada aplikasi itu. Disana ada beberapa orang yang hadir. Tidak banyak tapi bisa dihitung jari. Leony menjadi pembicara sekaligus moderator dari acara yang sengaja dibuatnya dalam grup aplikasi dan juga dalam siaran radio onlinenya. Masih dihari yang sama, Leony juga memperkenalkan sebuah buku yang baru saja ditulisnya. "Jadi novel ini berisi seperti itu. Teman-teman kalau mau nitip permohonan bisa tulis disini ya" Beberapa kawan lainnya mulai bergerak dan menuliskan apa yang seharusnya ditulis. "Baik acaranya cukup sampai hari ini. Sekarang kita tutup" Leony pun mengakhiri kegiatan yang diadakan online tersebut. Sesudahnya dia menutup grup tersebut. Setelahnya Dea mengirimkan pesan kepadanya lagi. "Hallo, kak. Tadi gimana acaranya?" "Hei, so far lancar sih" "Oh. Terus gimana Ferry ikutan?" "Kagak" "Masa sih?" "Iya. Ngapain kakak bohong" "Aku percaya sama kakak kok" "Kurang lebih begitu" Dea dan Leony berteman cukup baik sebelum hadirnya Ferry. Pertemanan mereka berjalan lancar dan hubungannya pun sangat baik. Sore itu Ferry menelepon Leony dan melakukan panggilan video call. "Ngapain sih nih bocah pake videocall sama aku? Ketemu aja gak bilang dulu awalnya. Males banget dah pake telfon mendadak begini" Leony pun membiarkan ponselnya diatas meja. Dia meninggalkannya untuk beberapa saat. Tepatnya Leony memikirkan untuk mengisi perutnya lebih dulu. Ia membawa piring yang berisi nasi dan lauk pauknya. Lalu Leony mulai melahap makanannya sembari Ia mengecek apa saja pesan yang masuk ke dalamnya. "Pesannya banyak banget. Habis makan saja aku balasnya" Usai menyelesaikan apa yang ada dipiringnya. Maka Leony pun mengambil ponselnya kembali. Dia membalas pesannya Ferry. "Oh, kita kira ngana lagi apa jo" "Maaf telat balasnya. Tadi habis makan" "Ok, btw, gimana pengalaman kakak?" "Apa?" "Ya, seputar usir yang gak ketara itu?" "Dulu aja pernah cuma sekali waktu jaman dikosan. Kalau kamu?" "Kita jam terbang untuk itu ini udah banyak dimana-mana"kata Ferry yang mulai membesarkan kepalanya dan memamerkan keangkuhannya kepada Leony "Bagus dong"sahut Leony "Baru segitu aja" "Oh" "Btw, aku gak ada yang ingetin buat mandi nih" "Kenapa?" "Kan bisa sendiri" "Bukan itu" "Lalu apa?" "Lupakan saja" "Kakak penasaran banget asli" "Siapa tahu jodoh kakak orang manado pe kita. Ya kan?"ceplos Ferry sembarangan berucap pada Leony "Nanti kalau kakak nikah sebar undangan" "Eh, barangkali salah baca"sanggahnya Sementara di lain chat terdapat Leony dengan Dea dan kawan lainnya. "Kakak lagi apa?" "Ngobrol aja" "Sama siapa?" "Ama kamu dan teman lainnya" "Oh, kak kok Ferry belum bales chat aku ya?" "Entahlah" Leony terpaksa melakukan hal ini. Batinnya merasa tidak senang dan juga tenang. Jauh dilubuk hati Leony merasa tidak enak dengan Dea karena Leony sedang chat dengan Ferry. Leony menyembunyikan hubungan dan kedekatannya dengan Ferry karena Leony tahu betul bahwa Dea itu orang yang sangat cemburu dengan Ferry hanya karena masalah sepele. Cowok itu pun mengirimkannya pesan lagi dan meneruskan pesan dari Dea. "Aku merasa ada yang sedang ngomongin lho" "Kenapa dia?"kata Leony "Biasa cerita" "Kalau begitu udahan dulu ya ngobrolnya" "Sip" Keesokan harinya Leony mengirimkan chat kepadanya. "Hai" "Iya?" "Ini kakak mau didoakan mengenai project baru" "Oh, boleh. Wait ya" Kemudian Leony pindah ke lokasi kamarnya dan mulai memasang headsetnya kembali. "Kakak udah dimana?" "Ruangan sepi. Bisa mulai sekarang?" "Siap" Ferry melantunkan permohonan untuk Leony. Dia menutup matanya dan juga fokus kepada yang didengarnya. Sesudah itu mereka mengakhiri durasi panggilan yang sangat singkat. "Makasih ya" "Sama-sama. Semangat ya kak" "Sip" Bukan hanya itu Ferry juga mengenalkan Leony kepada keluarganya mulai dari ayah dan Ibunya. Ferry mengirimkan sinyal kode serius kepada Leony serta meyakinkan dirinya agar menerima cintanya. Namun Leony merasa tidak cocok dan nyaman dengannya. Maka Leony memilih untuk memutuskannya dan mundur perlahan disaat Ferry sedang menghadapi pembuatan tahap awal skripsi. "Semangat ya berjuangnya sendiri. Dulu kakak juga sendirian berjuangnya" "Oh, gitu" "Iya. Pasti bisa kok. Kakak aja bisa sendiri tanpa ada yang menemani kok" "Torang cari bahan dulu. Makasih" Sejak saat itu hubungan Ferry dan Leony pun menjauh. Bahkan Ferry tega meninggalkan Leony dari grup yang dibuatnya. "Saya ijin pamit ya karena mau urus bahan skripsi"ucapnya yang menutupi sikap yang dingin dari Leony. Leony sadar Ferry menghindarinya. Maka dari itu Leony fokus kepada penulisannya dan dia juga mengumpulkan barang-barang yang hendak dijualnya. "Sepertinya aku ingin menjual semua barang ini. Uangnya hasilnya untuk biaya ke Bali seru kali ya dan bayarin teman-teman yang lain"gumamnya Leony pun menjejerkan segala aksesoris diatas ranjang pada kamar kosong yang jarang dipake. "Banyak juga ternyata"ucapnya Mamanya pun datang dan melihat apa yang dilakukannya "Kenapa berantakan?" "Biarkan dulu saja" "Buat apa?" "Mau ku jual. Nanti uangnya untuk pergi ke Bali" "Mau ngapain ke sana?"tanya mamanya "Nolong temanku yang ada disitu" "Kenapa gak nanti saja?" "Kasihan dia" "Mama tahu dia pernah jahat ke kamu" "Maafkan ya, kita kan gak boleh gitu"pintaku "Cuma Mama merasa sayang aja gitu kalau kamu diperlakukan begitu" "Sudahlah Mam. Mereka kan gak mengerti" "Terserah kamu saja" Leony pun membereskan barang-barangnya didekat kasurnya. Dia pun berusaha dengan promosi barang tersebut. Saat itu masuklah chat dari Dea. "Kak, nanti jadi ke Bali?" "Pasti sih. Nanti kakak bayarin deh biaya ke sana demi teman kakak" "Beneran kak? Baik banget sih kakakku ini" "Serius. Masa bohong" "Asyik. Makasih ya, Kakak baik banget!" "Sama-sama tapi kalau kakak dapat rejeki ya" "Aku bantu doakan kakak" "Silahkan" Karena Leony merasa kesulitan. Maka dia mulai melipat tangannya dan melantunkan permohonannya. "Kalau memang semua lancar ya pergi ke Bali. Kalau tidak tolong gagalkan" Lalu masuklah sebuah pesan dari Dea. "Kak, aku harap nanti Ferry ketemu dengan jodohnya di Bali" "Yoi. Tapi ceweknya bukan kamu, kakak dan dia juga" Sesudah itu pertemanan mereka mendadak rusak karena hal sepele. Yang parahnya lagi Leony bertengkar dengan Dea, juga Ferry. Segala rencana ke Bali pun batal total. "Cancel, Dea kita perginya" "Padahal aku udah semangat dan rencana mau ajak sahabat baikku" "Belum jodoh" "Oke deh" "Maaf ya"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD