REVAN b******k!
"Sudahlah ini jauh lebih baik daripada tinggal di sangkar emas milik Tuan Dion. Meski di sana bergelimang harta dan mewah namun aku tetap merasa tak nyaman. Hidup dengan belas kasihan dan akan terbayang balas budi. Aku tidak bisa berbuat apapun. Lagi pula mood ku sangat bagus juga mengenakan baju ini, selera Tuan Dion benar-benar bagus," kata Aruna.
Dia mengenakan setelan blazer berwarna putih dengan dalaman berwarna hitam nampak cantik sekali. Rambutnya di kepang ke belakang, nampak indah. 'Ting' lift di buka, saat dia berada di kantor Dion dia bertemu dengan Alexandria. Tapi Aruna tak mengenalinya, sedangkan Alexandria menatap Aruna itu dengan tatapan tajam.
"Siapa dia?" tanya Alexandria.
Bukan tanpa alasan dia bertanya pada Rafli karena dari dulu sampai sekarang Dion tidak pernah menerima seorang karyawan wanita tetapi tiba-tiba di belakang Rafli ada seorang wanita yang baru keluar dari lift.
"Dia pegawai baru, Nona," jawab Rafli.
"Dari sejak kapan kantor Tuan Dion juga mempekerjakan seorang perempuan? Apa-apaan ini? Mengapa semua berubah? Apa yang sebenarnya terjadi, Rafli? Kenapa kau tak memberitahu padaku?" tanya Alexandria pada Rafli.
"Tenang, Nona. Dia bukan asisten pimpinan, dia adalah asistendefisi kantor utama. Itu merupakan kantor defisi yang baru di buka Tuan Dion. Ini karena perusahaan menangani makin banyak cabang. Karena makin ke sini perkerjaanku semakin banyak dan menumpuk. Jadi Tuan Dion menunjuk satu karyawan wanita untuk membantuku. Lagi pula ini hari pertamanya bekerja, dia juga sedang dalam masa pelatihan," terang Rafli.
"Kenapa ini? Kenapa dia begitu?" tanya Aruna dalam hati melihat Rafli begitu ketakutan dengan wanita yang baru datang.
Jujur saja Aruna benar-benar tak paham dnegan situasi ini. Dia memilih diam dan menyimak apa yang di katakan Rafli tanpa berani membantahnya. Dia tahu sepertinya suasana saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Hey, lakukan pekerjaanmu dengan baik. Sana pergi ke meja ujung," perintah Rafli sambil mengedipkan mata pada Aruna. Untung saja dia paham sekali kode yang di berikan oleh Rafli.
"Ba...baik," sahut Aruna berjalan melewati mereka berduan.
"Hey tunggu! Hentikan langkahmu," perintah Alexandria, Aruna pun menghentikan langkahnya. Dia menengok ke belakang.
"Pakaianmu menarik sekali, aku rasa kamu datang untuk menggoda lelaki bukan untuk bekerja," sindir Alexandria yang tak tahu jika dia adalah istri mantan kekasihnya, Dion.
"Eh, Nona Alexandria aku pasti akan mengajarinya dengan baik. Kau jangan takut," kata Rafli.
Tanpa aba-aba Alexandria ingin menjambak rambut Aruna yang terurai indah sekali. Untung saja dengan cekatan Rafli menghalanginya. Situasinya benar-benar sudah tak bisa di kondisikan.
"Jangan! Jangan Nona Alexandria, jangan. Kau akan membuat gaduh di sini. Tuan Dion akan marah," sergah Aruna.
"Aruna cepat pergi ke meja mu," perintahnya lagi.
"Kenapa? kenapa dia marah padaku? Aneh sekali. Siapa wanita itu," batin Aruna bergidik ngeri dengan wanita galak yang hendak menjambaknya.
"Baiklah aku akan mengampuni kamu kali ini! Namun lain kali aku tak akan membuatmu lepas dan perhitungan," teriak Alexandria.
Aruna menoleh, dia menatap Rafli dan Alexandria bergantian sepertinya mereka saling mengenal tetapi Aruna sama sekali tak mengenali wanita itu. Tapi entah mengapa rasanya dia pernah mendengar sekelabatan nama Alexandri namun dia lupa di mana. Wanita berambut pirang, dengan high heels berwarna merah menyala, baju berbelahan d**a rendah cantik, dan seksi. Namun auranya sangat kejam dan arogan sekali.
"Siapa wanita itu sebenarnya? Mengapa Rafli sangat hormat padanya?" batin Aruna, dia tak berani bertanya.
Dia pun segera menuju ke meja kerjanya. Dia hanya diam sampai Rafli memberikan pekerjaannya apa saja yang harus dia handle. Setelah menyelesaikan urusan dengan Alexandria, Andrea menghampiri Aruna dan memberikan satu laptop baru untuk wanita itu. Ruangan Aruna langsung bersampingan dengan ruangan Dion, di ruang inti CEO utama perusahaan Tjahyadi. Aruna pun memberanikan diri bertanya kepada Rafli.
"Perempuan tadi itu siapa, Andrea?" tanya Aruna.
"Sttt! Jangan di bahas lagi, lupakan. Anggap saja semuatak terjadi, sudah duduk Sini. Duduk dengan baik, mainkan laptopmu dan jangan banyak tanya. Jangan tanya-tanya yang tidak perlu ditanyakan. Kau mengerti?" tegas Rafli yang tak ingin membahas masalah itu lagi.
"Ya, aku mengerti," kata Aruna pun menganggukkan kepalanya.
"Aku harap kau akan mengerti kali ini, Aruna. Jika tidak maka aku akan di buang ke Antartika," sahut Dion.
Dia sudah mendapatkan pesan dari tuan Dion untuk tidak memberitahu tentang Alexandria kepada Aruna. Jika dia gagal maka bisa saja Dion akan mengirimnya ke Antartika atau Afrika Utara.
Sampai siang hari Aruna hanya diam di depan laptop sambil memainkan Hp nya, dia benar-benar belum mendapatkan tugasnya, dia sampai terkantuk-kantuk di mejanya. Entah mengapa dia di panggil ke sini jika memang tak di berikan pekerjaan apapun. Sungguh membosankan.
"Kenapa dia tak segera memberitahu job desk ku? Hmm, tidak ada yang bisa aku lakukan. Entah apa juga yang ada di dalam sana. Di ruangan presiden direktur itu," kata Aruna lirih sambil memandangi ruangan Dion.
"Aku sangat penasaran sekali tapi kaca ini kaca riben tidak tembus pandang," batin Aruna lagi. Tiba-tiba pintu dibuka, menampakan wajah tampan Dion. Lelaki itu menghampiri meja Aruna.
"Kenapa? Apa kamu lelah?" tanya Dion.
"Eh...Tidak, Tuan Dion," kata Aruna menggelengkan kepalanya.
"Jika kamu tidak ingin bekerja pulanglah. Aku yang akan menghidupimu," kata Dion..
"Tidak Tuan Dion, aku ingin bekerja. Terima kasih karena sudah memberiku kesempatan bekerja di sini. Bagaimanapun juga aku tidak bisa hidup selamanya bergantung padamu, Tuan Dion," jelas Aruna.
"Kalau selamanya bergantung padaku juga tak masalah. Aku juga bersedia asal kau memberikan keturunan untukku," bisik Dion di telinga Aruna. Hal itu membuat Aruna bergidik ngeri, dia merinding mendengar ucapan itu.
"Apa kamu lapar? Aku akan membawamu pergi makan," sambungnya.
"Baik, aku lapar, Tuan," jawab Aruna dengan polosnya. Dion menowel hidung bangir milik wanitanya itu dan tersenyum.
'Ting' HP Dion berbunyi lagi. Ada banyak pesan masuk dari Alexandria tapi dia tidak menggubrisnya sama sekali. Aruna sempat melihat ke arah wall secreen HP milik Dion. Nampak pesan wanita berambut merah tadi. Bahkan foto profilnya baru saja di update.
"Aku tidak ingin berhubungan lagi dengannya. Kenapa dia mengganggu sekali. Kau jangan salah paham," kata Dion.
"Ya aku tahu kok, Tuan Dion," ucap Aruna.
'Ting' giliran Hp Aruna sekarang yang berbunyi. Nampak banyak pesan di notif pemberitahuannya. Aruna meneguk ludahnya dengan kasar, semua itu tak lain adalah pesan beruntun dari Revan. Dia memang sengaja tak membalasnya sejak beberapa hari lalu. Dion melihat notif pesan dengan tulisan REVAN b******k. Dia tersenyum geli sebenarnya dengan tingkah polos Aruna.
"Bolehkah aku membaca pesan itu?" tanya Dion penasaran.
AKANKAH ARUNA MENGIZINKANNYA?
BERSAMBUNG
Penasaran dengan Justin dan clarissa? Intip gambarnya di sosmedku ya ada igoy dan feboy atas nama Secilia Abigail Hariono/ Secilia_hariono