Terenggutnya Kesucian Aruna!
TERENGGUTNYA KESUCIAN ARUNA!
"Kak Revan," gumam Aruna sambil memandang ke arah lelaki yang sekarang berada di atasnya. Dia setengah kehilangan kesadarannya, lelaki itu hanya berbentuk bayangan kekasihnya.
"Apakah ini dirimu? Sungguh ini kau?" sambungnya. Lelaki itu tak menjawab.
'Cup' bibir mereka saling beradu, awalnya hanya sekedar saling menempel namun lama- lama menjadi gigitan lemah. Dengan beraninya Aruna langsung memeluknya, antara sadar dan tidak. Sebuah mimpi rasanya bisa ada di posisi ini dengan kekasih nya.
"Ahhhh, mmmmhhh," desahan keluar dari bibir mereka.
"Kau tidak menyuruhku untuk tidak melakukannya kan?" tanya lelaki tampan itu.
"Suara itu nampak asing, namun kenapaa tubuh dan pikiranku tak bisa sejalan..." gumam Aruna langsung berusaha mengumpulkan semua kesadarannya. Dia menyipitkan matanya, melihat siapa lelaki yang sedang ada diatasnya.
"Hentikan! Kau siapa, hentikan! Tolong jangan melakukan ini lagi padaku! Tolong! Tolong, hentikan semua ini," teriak Aruna sambil terus berusaha melepaskan pelukan lelaki asing.
"Lepaskan aku! Berhenti!" bentaknya.
Dia mencoba meloloskan diri dengan sekuat tenaga Aruna mencoba memberontak dengan cara memukul d**a bidang lelaki di hadapannya itu menggunakan semua kemampuan dan seluruh tenaganya, tentu saja hasilnya sia-sia. Tenaga lelaki berkali- kali lipat lebih kuat daripadanya. Lelaki yang sudah terlanjur tak bisa menahan diri diatas tubuh Aruna tu justru makin menjadi dan menggila saat mendapatkan perlawanan seperti itu darinya.
"Arggghhhh! Tolong! Lepaskan! Kau bukan Revan! Siapa kau!" teriak Aruna.
Entah mengapa semakin Aruna berteriak maka membuat lelaki itu makin merapatkan tubuhnya dengan menindih badan kecil Aruna dengan kuat. Bahkan sekarang dia mengunci kedua tangan Aruna ke atas. Dengan posisi tersebut membuat tubuh Clarissa terpampang di hadapannya, memudahkannya untuk memberikan tanda mera kehitaman.
"Saya mohon! Hentikan! Tolong! Tolong" teriak Aruna sambil menangis.
"Diamlah!" bentak lelaki itu.
"Tolong hentikan, jangan lakukan ini padaku. Sekarang dengarkan aku, Papaku seorang pengusaha, dia bisa memberimu banyak uang. Tapi tolong lepaskan saya! Tolong! Huhuhu. Jangan sampai seperti ini, saya masih suci! Huhu," pecah sudah tangis Aruna meminta belas kasihan.,
"Awww! Sialan!" pekik lelaki itu terkejut saat Aruna menggigit lengannya.
Dia melihat tangannya memerah bekas darah yang menimbulkan luka. Lelaki itu tersenyum menyeringai penuh arti. Tatapannya seperti iblis. Dia tak memperdulikan rengekan Aruna itu. Dengan menggunakan satu tanga, dia mulai melepaskan jas dan hem yang dipakainya dengan sekali sentakan. Membiarkan kancingnya terlepas dan berceceran.
Aruna langsung panik, tak tinggal diam, dia mencoba memanfaatkan kesempatan dengan meloloskan diri ke bawah turun dari bed. Baru saja berdiri, dengan sigap lelaki itu segera menangkapnya, membuat Aruna jauh terjengkang.
"Arggghhhh!" teriak Aruna kaget saat jatuh membuatnya benar- benar merasakan nyeri luar biasan. Dia langsung menggendong tubuh mungil itu dan melemparnya ke ranjang beseprai putih itu.
"Ampun! Jangan lakukan ini! Tolong, ini tidak benar," teriak Aruna dengan nada suara bergetar menahan tangisnya sambil terus menjauhkan tubuhnya dari lelaki tak di kenal yang siap menerkam.
Melihat wanita di hadapannya yang ketakutan justru membuat gairahnya semakin meningkat. Dia langsung membungkam mulut Clarissa menggunakan tangannya, lalu mengikat kedua tangannya dengan seprei bantal hotel agar dia tak banyak bertingkah lagi. Tubuhnya yang tinggi besar, langsung menindih badan mungil itu. Membuatnya tak bisa berbuat apapun meski sekuat tenaga dan sebisa mungkin Aruna terus memberontak, namun tak bisa.
"Terlihat sempurna. Apakah kau masih benar-benar suci?" tanya lelaki itu. Aruna tak dapat mengelak lagi sekarang. Lelaki itu terus melakukan perbuatan itu dengan santainya.
"Tolong jangan lakukan ini padaku.... Aku mohon," tangis Aruna pecah, semua terjadi begitu saja dengan cepat.
Aruna hanya bisa terdiam pasrah, air matanya meleleh membasahi bantal. Tubuhnya sekarang remuk redam, sakit, perih, menjadi satu. Namun tak sebanding dengan sakit hati yang harus dia rasakan.
"Arggghhhhh!!" erang lelaki itu saat puas melepaskan syahwatnya. Tepat saat itu, Aruna kehilangan kesadarannya.
***
'Ting' Ting' Alarm HP Aruna berbunyi membangunkan wanita itu.
"Argggh! Kepalaku sakit sekali," gumam Aruna sambil mengambil hpnya diatas nakas.
Dia melihat ke arah jam ternyata sudah pukul sembilan pagi. Aruna sedang mecoba memulihkan kesadarannya. Dia merasakan silaunya sinar matahari yang menerobos masuk lewat celah-celah gorden jendela hotel.
"Aku di mana ini? Sepertinya ini bukan kamarku," batinnya.
"Kepalaku masih pusing sekali," keluhnya lagi sambil meregangkan lehernya, saat itu dia melihat tubuh seorang lelaki tidur di sampingnya.
"Astaga siapa dia," pekik Aruna tertahan.
Dia mengusap matanya, mencoba mengenalinya tapi dia tak mengenalnya. Sepersekian detik Aruna juga menyadari sekarang dia tak mengenakan pakaian apapun bahkan di tubuhnya banyak bekas cupangan. Dia langsung menutup mulutnya, air matanya menetes, rasa jijik, marah, sedih, bercampur aduk menjadi satu.
"Tuhan apa yang terjadi! Mnegapa aku bisa ada di sini dengan lelaki asing? Siapa dia? Mengapa dia ada di kamarku?" monolog Aruna.
Pria itu masih tampak begitu tenang dalam mimpinya, wajah tampan itu terlihat tanpa dosa setelah memusnahkan masa depannya. Aruna langsung berusaha untuk pergi, dia berdiri dan merakan ngilu hebat di kakinya.
"Awww," teriaknya tertahan. Kedua kakinya bergetar hebat.
Aruna mendongakkan kepalanya, dia menguatkan dirinya sendiri sambil berdiri dan berpegangan pada dinding. Dia memunguti pakaian yang berserakan di lantai sambil berjalan tertatih, lalu segera memakainya. Dia segera mencuci muka di wastafel dan memesan taksi online. Dia segera pergi meninggalkan hotel laknat itu.
"Siapa lelaki asing tadi? Mengapa kami bisa bersama dalam satu kamar? Bukankah semalam aku bersama Kak Arumi?" ucap Aruna lirih.
"Aku tidak salah. Kamarnya juga tidak salah tapi kenapa orangnya bisa salah? Apa yang terjadi sebenarnya. Kalau lelaki itu bukan Kak Revan lalu siapa? Argggg! Kepalaku pusing sekali," monolognya.
Sekeras apapun Aruna mencoba mengingat apa yang terjadi semalam, dia tak bisa sedikit pun ingat. Akhirnya Aruna memutuskan untuk tak mau ambil pusing, setidaknya sekarang dia harus pulang. Kalau tidak pasti ibunya akan marah, dia segera memesan taksi online untuk pulang ke rumahnya.
"Semoga tak ada orang di rumah. Aku harap mereka sudah berangkat bekerja semua," doa Aruna sambil turun dari taxi.
"Aku pulang! Selamat pagi," sapa Aruna dengan ceria seolah tak terjadi apa-apa.
'Ceklek' pintu di buka.
"Dasar perempuan tak punya aturan! Membuat malu orang tua!" teriak seorang perempuan yang berdiri di balik pintu.
'Plakkk' satu tamparan langsung mendarat di pipi Aruna. Dia pun sampai jatuh dan terduduk dan memegangi pipinya yang panas sekali. Dia merasakan sesuatu merembes dari ujung bibirnya.
"KENAPA KAU TAK PULANG SEMALAM?" bentaknya.
BERSAMBUNG