GADIS HARAM YANG MENEMANIKU SEMALAM!
'Tring' tring tring Hp di nakas berdering. Dion segera mengambil dan mengangkatnya. Baru saja dia menyambungkan telpon suara memekakkan telinga terdengar di luar sana.
"Hallo, Tuan Dion! Hallo," sapanya panik.
"Arggghhh! Ya..." sahut Dion berusaha untuk duduk sambil memegangi kepalanya yang sakit.
"Tuan... Tuan ada dimana? Tuan baik-baik saja? Kenapa nomornya sejak semalam tak bisa aku hubungi? Tuan dimana?" tanya pria di sebrang.
"Diamlah! Aku baik-baik saja. Aku akan menelponmu lima menit lagi," kata Dion mematikan telponnya.
"Kepalaku sakit sekali," gumam Dion sambil mencoba mengumpulkan semua kesadarannya.
Perlahan dia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi semalam. Dia membuka matanya menatap ke semua sudut ruangan sambil mengingat apa yang dia lakukan, dia melihat di atas seprai bercak darah warna merah. Dia kemudian menyibak selimutnya, mendapati tubuhnya tanpa sehelai benang pun.
"Arggghh! Sialan! Shitttttt!" umpatnya. Dia segera mengambil HP nya, menelpon sesorang.
"Aku berada di hotel Gold! Kamar nomor 507, segera minta semua rekaman CCTV nya! CEPAT!" perintah Dion sambil mematikan telpon dan membantingnya.
"Aku semalam sedang minum bersama kolega dalam acara jamuan makan malam. Mengapa aku bisa ad di kamar ini? Apa yang terjadi denganku?" batin Dion lirih,
Dion yakin sekali ada yang tak beres dengan ini semua. Dia memang minum wine namun Dion yakin semabuk-mabuknya dia maka tak akan bisa membuatnya kehilangan kesadaran. Dia turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi sambil terus berpkir, tapi matanya menemukan sebuah kartu nama perusahaan yang tak asing di telinganya.
"Apa ini tertinggal oleh wanita itu?" kata Dion sambil membawa tag kartu nama itu.
*****
Di sisi lain, drama di keluarga Tjahyadi belum selesai. Aruna harus menghadapi keluarganya, dia benar-benar menyiapkan mental dan fisiknya karena jika keluarganya marah maka siksaan akan dia dapatkan.
"KENAPA KAU TAK PULANG SEMALAM?" bentaknya.
"Dasar anak tak tahu diuntung! Perempuan gila! Kau menggoda calon Kakak iparmu! Dan tak hanya itu, kau bermain dengan laki-laki lain di dalam hotel! Bangsattt! Murahan! Wanita laknat! Kau sudah memperlakukan keluarga Tjahyadi! Apa kau ingin menjadi perempuan jalang? Perempuan penghibur murahan!" teriaknya memaki.
"Apa sebenarnya yang ada dalam otakmu? Hah? Pelayan! Pelayan!" panggil seorang wanita setengah baya yang masih sangat cantik. Wanita itu adalah nyonya Selly, Ibu dari Aruna.
"Ambilkan sapu untukku! Cepat!" perintahnya lagi.
"Baik Nyonya," sahutnya tanpa banyak bicara.
Pelayanan itu mengambil sapu yang sepertinya sudah disiapkan di dekat pintu. Tanpa aba-aba dia langsung memukulnya di bahu Aruna hingga gagang itu patah menjadi dua. 'Plakkk'
"Arggggg! Ampun, Ma! Ampun!" teriak Aruna.
'Plakkkk'
"Ampun, Ma! Ampun! Sungguh aku tidak mengerti apa maksud Mama. Aku tak paham," pekik Aruna berusaha melindungi dirinya dari amukan sang Mama.
"b*****h! Omong kosong, kamu benar-benar wanita yang tak tahu malu dan tak punya harga diri. Gila, kamu bahkan mengirim pesan kepada Revan dan menggodanya. Sekarang kau masih berani mengelak? Biadab! Kenapa kau pulang? Tak sekalian menjual dirimu sama hinanya seperti Ibumu!" bentak Nyonya Selly.
Aruna hanya bisa diam dan syok mendengar berita bahwa Revan kekasihnya sejak SMA tiba-tiba akan menikah dengan Arumi kakaknya. Hal yang tak pernah di pikirkannya.
"Revan? Kakak Ipar? Revan itu kekasihku sejak SMA, Ma. Bagaimana bisa dia menikah dengan Kak Arumi?" tanya Aruna mendongakkan kepalanya meminta penjelasan.
"Jangan memanggilku Mama! Menjijikkan! Aku tak pernah melahirkan anak sepertimu! Sekali lagi aku bukan ibumu," bentak Nyonya Selly.
"Ini yang aku takutkan! Kebaikan yang di balas dengan air tuba. Waktu itu aku terlalu baik sampai membiarkan suamiku membawa anak haram sepertimu ke sini. Anak haram tetaplah anak haram! Tak akan bisa menjadi anak baik," tegas Nyonya Selly. 'Deggg' ucapan Nyonya Selly otomatis membuat Aruna kaget dan syok.
"Anak yang di pungut dari bar malam! Anak seorang wanita penjaja kenikmatan tetaplah sampah sama seperti Ibunya meski dia di besarkan dalam adab dan keluarga yang terhormat!" sambungnya.
"Apa? Anak haram? Wanita bar? Apa maksudnya?" tanya Aruna dengan kaget, dia memandang ke arah ibunya.
"Hei! Hei! Hentikan Selly! Apa yang kau perbuat. Jangan memukulnya dengan Sapu! Hentikan! Jangan begitu, jika wajahnya sampai tergores kita tidak bisa memberikan penjelasan kepada mereka nantinya. Ingat mereka akan memberikan tawaran yaang bagus dengan menukarnya," tegur Eyang Tjahyadi yang baru turun dari tangga lantai dua.
"Kenapa Papa selalu membelanya? Sekarang bagaimana aku tak emosi? Papa juga lihat sendiri kan selama ini aku juga menjaganya dengan baik. Tapi kali ini dia kelewat batas, dia bahkan semalam tak pulang dan menjajakna dirinya kepada pria tak di kenal," adu Nyonya Selly.
"Dia sangat memalukan sekali. Asal Papa tahu saja, wanita ini tidak tahu diri! Dia menggoda calon suami Arumi juga, cucu kandung Papa! Bagaimana aku tak kesal," sambungnya sambil membanting sapu yang sudah patah menjadi dua.
"Apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa maksud mereka?" batin Aruna bingung dengan keadaan ini.
"Ck! Andai saja dia bukan keluraga konglomerat itu mau bertanggung jawab maka aku tak akan mengampuninya! Ingin sekali aku memukulnya dan memberikan pelajaran agar tak lancang!" hardik Nyonya Selly.
Aruna langsung terdiam, dia mencoba mencerna semua yang terjadi pagi ini. Mulai dari saat terbangun dari hotel dengan posisi tak mengenakan pakaian sehelai pun di tambah sebutan anak haram dan Arumi adalah cucu kandung.
"Mama," panggil Aruna lirih.
"Apa maksud Mama? Apakah aku bukan anak Mama? Lalu keluarga Konglomerat? Siapa mereka? Revan itu kekasihku, Ma," debat Aruna.
"Jangan memanggilnya seperti itu! Revan itu calon Kakak iparmu mulai sekarang. Jadi kau harus menghormatinya meski kau sudah menghianati kakakmu sendiri," tegas Eyang Tjahyadi memotong ucapan Aruna.
"Tapi Eyang, aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi," sahut Aruna.
"Lihat saja sendiri! Betapa rendahnya dirimu," kata Eyang Tjahyadi sambil melempar amplop berisi foto di depan Aruna.
FOTO APA YANG DI LIHAT ARUNA? SIAPA YANG SEBENARNYA MENJEBAK ARUNA? APAKAH ARUMI KAKAKNYA SENDIRI?
BERSAMBUNG