Menikahi Keluarga Konglomerat

1044 Words
MENIKAHI KELUARGA KONGLOMERAT? Aruna pun langsung melihat foto dirinya sendiri yang sedang mesra bahkan digendong oleh seorang lelaki yang tak nampak jelas. Dia menutup mulutnya kaget. Dia tak bisa berkata-kata lagi, gambar itu memang dirinya namun demi Tuhan Aruna tak pernah merasa pernah melakukannya. Dia seperti kehilangan kesadarannya. "Nah! Buka matamu, sekarang kau lihat sendiri betapa menjijikkannya dirimu dan apa yang sudah kamu lakukan di luar sana. LIAR! TAK BERPENDIDIKAN! MURAHAN!" hardik Eyang Tjahyadi. "Sekarang kau mau berkilah apalagi? Kau bahkan mabuk di usiamu yang baru dua puluh dua tahun! Kau menginap bersama seorang lelaki tak di kenal, bersenang-senang, apa kau tak jijik dengan tingkahmu sendiri, Aruna," tegasnya. "Eyang...." "Kau masih bisa bicara juga? Dasar tak tahu diri, lihat juga pesan yang kau kirim pada Revan! Kau juga menggodanya, bahkan Revan mengirimkannya pada Arumi. Apa kau tak malu? Apakah tak ada lelaki di dunia ini selain kekasih Kakakmu? Dasar murahan. Kau tega menggoda calon ipar sendiri," ucap Nyonya Selly memotong ucapan Aruna. "Baca! Baca dengan matamu agar kau ingat bagaimana memalukannya dirimu!" lanjutnya menyerahkan ponsel kepada Aruna. Dengan tangan yang masih bergetar, Aruna pun langsung membaca pesan itu. Dia mengerutkan keningnya, tak mengira dirinya bisa mengirim pesan seperti itu. Namun benar, itu nomornya, dia membaca sekali lagi. [Kak Revan mengapa kau lebih memilih Kakak Arumi daripada Aruna? Apa kau benar-benar yakin? Bukankah aku lebih menggairahkan? Aku tidak keberatan dengan hubunganmu dan kakakku yang sudah terjalin. Aku mau menjalani hubungan tanpa status denganmu Kakak Revan dan menjadi yang ke dua. Aku mencintaimu] "Ucapan macam apa seperti ini? Hah? Apa tak ada lelaki lain di muka bumi ini sampai kau harus menggoda calon suami kakakmu sendiri? Hah? Sejak kapan kau menjadi liar seperti ini?" tanya Nyonya Selly. Aruna menggelengkan kepalanya lemah. "Bukan, Ma! Ini semua bukan aku, sungguh! Aku sama sekali tidak tahu bagaimana bisa Kak Arumi berhubungan dengan Revan? Padahal jelas-jelas Revan keasihku sejak SMA. Bahkan Kak Arumi pun tahu kalau Revan adalah kekasihku, Ma. Bagaimana mungkin aku juga mengiriminya pesan semacam itu? Sungguh," ujar Aruna berusaha meyakinkan dengan nada suara bergetar ketakutan. "Bukan, Ma! Ini semua bukan aku, sungguh! Aku sama sekali tidak tahu bagaimana bisa Kak Arumi berhubungan dengan Revan? Padahal jelas-jelas Revan keasihku sejak SMA. Bahkan Kak Arumi pun tahu kalau Revan adalah kekasihku, Ma. Bagaimana mungkin aku juga mengiriminya pesan semacam itu? Sungguh," ujar Aruna berusaha meyakinkan dengan nada suara bergetar ketakutan. "Hei stop semua omong kosongmu!" bentak Eyang Tjahyadi. "Tapi Eyang...." "Kamu tidak perlu menjelaskan lagi. Tutup mulutmu! Jangan membantah orang tua. Kau pikir siapa dalang di balik semua ini? Apa kau berpikir bahwa Kakakmu yang mengatur semua ini? Hah?" bentak Eyang Tjahyadi. "Aku di jebak, Eyang! Sungguh, aku benar-benar tak tahu apa ayang terjadi," gumam Aruna. "Hahahaha! Di jebak? Apakah itu pembenaranmu? Hah? Kau pikir siapa yang melakukan semua ini? Apakah Arumi? Arumi tidak mungkin melakukan hal menjijikkan semacam ini. Arumi itu anak yang pendidikan tentu saja dia tidak akan melakukan hal seperti menggoda lelaki. Dia anak baik! Jangan samakan dia dengan dirimu," tegur Eyang Tjahyadi. Aruna hanya bisa diam, bahkan menangis pun tak bisa. Otaknya bekerja keras berusaha mencerna semua yang terjadi. Keanehan dalam semalam. "Bersiaplah! Keluarga dari Tuan konglomerat itu akan datang hari ini dan melamar. Aku sudah menyetujuinya, minggu depan pernikahan kalian akan dilaksanakan. Ini untuk menutupi aib yang sudah di buat oleh Aruna. Semoga semua berjalan lancar dan baik-baik saja," ujar Eyang Tjahyadi. "Menikah? Dengan Tuan Konglomerat? Minggu depan? Siapa dia?" batin Aruna keheranan. "Eyang aku tak mau. Aku sudah memiliki Revan, dia yang mengatakan kalau dia mencintaiku dan kami akan bersama. Ini hanya karena kesalahpahaman saja. Aku akan segera bertetmu dengan Revan untuk menyelesaikan masalah ini," jelas Aruna. "Aku juga akan menanyakan padanya mengapa tiba-tiba dia dengan Kak Arumi? Bukankah ini tak adil untukku, Eyang. Aku tak mengerti apa yang terjadi hari ini. Beri aku kesempatan mencerna semuanya," sambungnya dengan memelas. "Tidak ada tapi-tapian, keluarga besar Tjaahyadi sudah membesarkan anak sepertimu yang tidak punya ibu. Apa kamu pantas jika tidak melakukan sesuatu untuk membalas kebaikan kita. Kau harus tahu diri itu! Sekarang waktunya untukmu membalas budi kami! Cepat besiaplah!" tegur Eyang Tjahyadi. Aruna langsung terdiam mendengar semua ocehan Eyangnya. Dia sungguh tak bisa berpikir apapun, jika memang dia bukan anak keluarga Tjahyadi, lalu siapakah orang tuanya? Mengapa dia diangkat anak dalam keluarga ini. "Pantas saja selama ini aku selalu diperlakukan berbeda oleh mereka, ternyatta ini alasannya. Mengapa mereka baru mengatakan semua ini," batin Aruna dalam hati. "Baiklah Eyang, tapi sebelumnya aku ingin tahu sesuatu. Tolong katakan siapa dan dimana Ibuku? Bukankah dia baik-baik saja, Eyang? Kalian semua bohong kan? Bukankah Mama Selly Ibuku?" tanya Aruna mencoba memastikan. "Kau pikir ibumu itu siapa? Kau pikir wanita yang selama ini kau panggil Mama itu adalah ibumu? Dia hanya memiliki anak Arumi, seumur hidupnya dia hanya melahirkan sekali saja. Jadi kau bukanlah anaknya! Dasar jalang tak tahu diri!" bentak Eyang Tjahyadi. "Ma..." panggil Aruna memelas memanggil Nyonya Selly. "Sekarang kau sudah tahu semuanya kan? Jadi stop memanggilku dengan sebutan Mama. Jangan mimpi! Ibumu itu gadis bar, p*****r! Dan dia sudah mati sejak kau lahir dua puluh dua tahun tahun yang lalu, dia adalah seorang wanita penghibur yang tak bermoral sama seperti dirimu!" ucap Nyonya Selly. 'Deg' dia benar-benar kaget dengan ucapan wanita yang selama ini di panggilnya dengan sebutan Ibu. Jika memang benar semua ini terjadi mengapa dia diangkat keluarga ini kalau memang benar terlahir dari keluarga p*****r. Apakah Ayahnya dulu berselingkuh dan wanita itu hamil. "Apakah aku diangkat anak sebagai bentuk tanggung jawab Ayah padaku saja? Apakah itu artinya aku hanya di gunakan untuk bertukar uang dan kekayaan saja di keluarga ini?" monolog Aruna. "Aku tahu semua yang kamu lakukan dengan Revan, calon suami Arumi. Sekarang hentikan ide gilamu itu, ingat Revan adalah calon kakak iparmu dan mereka akan menikah. Kamu sdah di didik keluarga Tjahyadi, jadi ingat jangan jadi seperti ibumu yang tidak tahu malu. Pergilah berkemas dan berdandan cantik, keluarga konglomerat akan meminangmu, jadi berbuat baiklah sebagai bentuk balas budimu kepada kami semua," ujar Seorang lelaki yang menuruni tangga, dia adalah Tuan Agung, suami Nyonya Selly menantu lelaki keluarga Tjahyadi ayah Aruna. "Jangan hanya bisa mempermalukan keluarga saja. Ck," sambungnya. "Aku membesarkannya karena dia cantik dan bisa ku jual! Tak rugi aku membesakannya selama ini," gumamnya lagi. APA MAKSUDNYA? APA ARUNA ANAK HARAM? BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD