JEBAKAN ARUMI!
"Penjaga!!" teriak Tuan Agung.
"Siap Tuan!" sahut dua body guard di belakang lelaki itu.
"Bawa dia ke kamarnya! Jangan biarkan dia keluar dan mengganggu pemandangan," perintah lelaki itu.
"Siap!" sahut mereka.
Tanpa banyak bicara lagi dua pengawal yang berada di belakangnya langsung berjalan mendahului Tuan Agung lalu dengan kasar dia menyeret Aruna dan memasukkannya di dalam ruangan kamarnya. Setelah itu kedua pengawal bersaling berbisik,
"Aku baru kali ini melihat Tuan Agung sangat kejam. Meski dia biasa menyiksa Nona Aruna namun kali ini bukankah terlalu melewati batas? Dia bahkan akan menikahkan Nona Aruna dengan pria yang berusia tujuh tahun tahun yang bahkan lebih tua dari Eyang Tjahyadi. Itu adalah hal terkejam, menikah dengan lelaki yang bahkan bisa meninggal kapanpun," jelas pengawal berbadan kekar.
"Apa? Apa maksud mereka? Siapa konglomrat itu sebenarnya?" batin Aruna.
"Benarkah? Jadi Tuan Konglomerat yang di banggan itu bukanlah lelaki muda ya? Aku kira dia masih muda, jahat sekali kalau begitu. Nona kita masih terlalu muda untuknya," sambung pelayan satunya sambil mengajak keluar dari ruangan kamar Aruna.
Melihat pelayan itu keluar dan menutup pintu Aruna pun berdiri. Dia mendengarkan dua pelayan yang sedang mengobrol di baliknya. Dia yakin pengawal itu akan menjaganya di pintu. Hal yang selalu biasa di lakukan Tuan Agung ketika Aruna bersalah. Dia akan mengurungnya.
"Bukan, dia itu sudah tua bangka. Farel itu adalah nama samarannya, apa yang kamu mengerti. Bisnis itu tidak mempermasalahkan hal semacam itu juga," ucap pelayan kekar.
"Lalu siapa sebenarnya Ibu dari Nyonya Aruna? Bukankah tadi mereka semua mengatakan bahwa Ibu Nona Aruna seorang wanita penghibur?" sahutnya.
"Tuhan apa ini? Aku harus keluar! Aku tak mau menikah dengan pria tua bangka yang menjijikkan," monoloh Aruna. Dia langsung menggedor pintu kamarnya.
'Dok Dok Dok'
"Lepaskan aku! Lepaskan aku! Tolong! Tolong lepaskan aku!" teriak Aruna dari dalam kamar.
Kedua pengawal itu tak merespon. Aruna terus berteriak, sampai dia pun terduduk di lantai. Dia sudah lelah menangis, percuma saja seberapa kali dia mencoba untuk menggedor pintu, tak akan pernah terbuka. Dia mencoba mengingat-ingat lagi apa yang terjadi malam itu.
'Ceklek'
Tiba-tiba terdengar suara pintu di buka dari luar. Ternyata itu adalah Arumi, Kakak perempuannya. Dia berjalan mendekatinya, Nara nampak menggunakan celana jeans dan tanktop dengan cardigan bunga berwarna biru. Dia baru terlihat sedari pagi.
"Adikku, Aruna. Apakah kamu menyukai Revan? Kenapa tidak bilang padaku? Kenapa kamu diam-diam menggodanya? Huhuhu," kata Arumi sambil berpura-pura menangis.
"KENAPA KAU MELAKUKAN INI PADAKU, KAK?" teriak Aruna.
"Apa maksudmu, Adikku sayang?" tanya Arumi dengan wajah tak berdosanya.
"KAU MENJEBAKKU KAN! KAU MEMBUATKU DI JODOHKAN DENGAN LELAKI ITU! KAU YANG MEMBUAT DAN MENGATUR DRAMANYA, KAN? BAHKAN KAU MENIKAHI KAK REVAN! BUKANKAH KAU TAHU SELAMA INI DIA ADALAH KEKASIHKU, KAK!" teriak Arruna kehilangan kesabarannya.
"Aduh... duh, adikku sayang... Apa yang kau katakan sebenarnya? Mengapa kau tega menuduhku seperti itu?" tanya Aruna dengan memelaskan mukanya. Dia membelai rambut Aruna.
Aruna terdiam, jika memang bukan Arumi siapa lagi pelakunya? Namun selama ini yang dia tahu Arumi juga sangat baik padanya. Dia dan kakaknya tak pernah memiliki masalah selama ini. Apakah sang Kakak tega melakukan semuanya.
"Bukankah kakak sendiri juga tahu kalau Kak Revan itu pacarku? Kami memang sudah lama bersama, memang tak banyak yang tau hubungan kami karena Revan sendiri yang mengatakan bahwa hubungan ini harus di sembunyikan dulu. Karena bisa menghambar kariernya, bahkan kami bersama sejak SMA, Kak. Lelaki yang sering kali aku bicarakan pada Kak Arumi, dia adalah Revan," jelas Aruna.
"Benarkah? Lalu bagaimana bisa kau menginap dengan lelaki lain di hotel kalau kau memang bersama Revan? Ini aneh kan? Kau semalam bahkan di gendong dan berciuman dengan lelaki asing, apakah kau tak membayangkan perasaan Revan jika memang kau dan Revan sudah bersama dalam waktu yang lama? " tanya Arumi dengan mimik muka yang susah diartikan.
"Bukankah Kakak berkata lelaki yang mencintaiku akan datang di kamar itu? Aku pikir dia adalah Revan. Aku pikir kalian menyiapkan menyiapkan kejutan padaku. Dan kartu kamar Itu juga Kakak yang memberikannya kepadaku kan? Bukankah semua terlalu runtut jika di katakan sebagai suatu kebetulan?" jawab Aruna.
Dia masih ingat sekali sebelum kehilangan kesadarannya, Arumi memberikan kunci kamar dan minuman ringan. Lalu tiba-tiba dia kehilangan kesadaran begitu saja, itu adalah hal yang terakhir dia ingat.
"Lalu jika bukan Kak Revan yang kakak maksudkan, siapa? Sudahlah jangan terus mempermainkan sandiwara ini, Kak!" tegur Aruna.
"Apa? Kartu kamar apanya? Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan sebenarnya, Aruna. Bahkan aku tak memberikanmu apapun. Terakhir kita bersama di Cafe, kau berkata akan jalan dengan temanmu. Apakah kau lupa, Aruna?" ujar Arumi sambil mengusap air matanya, namun bibinya tersungging penuh senyum.
"A-apa? Sandiwara macam apa ini?" tanya Aruna. Arumi langsung berubah, dia memelaskan wajahnya.
"Adikku sayang, Aruna. Aku mengerti, aku paham sekarang jika kau sangat menyukai Revan. Tapi mau bagaimana lagi? Revan itu tidak mencintaimu, dia mencintaiku. Bahkan saat kau tidur dengan lelaki lain di kamar itu, Revan pun bersamaku. Dia mencumbuku, lihatlah bekas cupangan di dadaku. Aku kehilangan kesucianku dengan Revan," bisiknya.
"Untung saja Revan akan bertanggung jawab," kata Arumi langsung membuka cardigan bunga birunya.
Aruna terkejut, dia menutup mulutnya melihat bekas emrah memang memenuhi leher dan bagian d**a Arumi. Tiba-tiba wanita itu meluruhkan badannya di lantai. Mereka berhadapan sekarang, Aruna langsung terdiam. Sakit sekali hatinya, bagaimana bisa lelaki yang sangat dia cintai berubah seketika bahkan akan menikahi kakak perempuannya.
"Aruna," panggil Arumi.
"Kami akan segera menikah, bahkan hari pertunangan akan di lakukan kurang dari seminggu. Keluarga kita semua sudah tahu apa yang terjadi denganku semalam, Revan pun sudah mengakuinya di hadapan Papa dan Mama serta Eyang. Jadi mulai sekarang bisakah kamu tidak mengganggunya lagi? Aruna, aku mohon padamu, bisakah jangan merebut Revan lagi dariku?" tanya Arumi. Aruna langsung mendongakkan kepalanya.
"Aku akan memberikannya semua kepadamu tapi mengenai perasaanku tidak akan bisa aku mengalah darimu," ujarnya lagi.
'Brakkk' tiba-tiba pintu kamar itu terbuka lagi dengan kasar. Nampak seorang lelaki tampan masuk ke dalam kamar lelaki itu tak lain adalah Revan. Aruna terdiam, memang Revan dan Arumi saling mengenal namun dia masih tak menyagka dua orang yang dia sayangi mengkhianatinya seperti ini.
"Kak Revan," gumam Aruna.
APA YANG TERJADI SELAANJUTNYA? BERSAMBUNG