Rahasia Antara Naya Dan Rama

4878 Words
Sesuatu yang dilakukan atas dasar cinta, pasti akan terasa sangat mudah dan ringan. Maka dari itu, kamu harus memiliki seseorang yang bisa menjadi support sistemmu agar kamu bisa melakukan segala hal dengan mudah. -Sinta- Hari Minggu adalah hari yang sangat disukai oleh semua orang terutama kalangan anak sekolah. Dimana pada hari ini semua siswa terbebas dari rutinitas berangkat ke sekolah dan tentu terbebas dari tugas-tugas yang sangat memuakkan. Seorang gadis baru saja bangun dari tidurnya. Merentangkan kedua tangannya untuk menyegarkan tubuhnya. Mengucek matanya ketika kesadarannya belum kembali sepenuhnya. "Jam berapa sih?" ujarnya setelahnya menutup mulutnya ketika dia menguap. Mengerjapkan kedua matanya saat melihat jam weker di atas nakas. "Gue lupa matiin laptop tadi malam," gumamnya kemudian meraih laptop yang ada di sampingnya. Mengeceknya dan sedetik kemudian mengernyit saat menemukan laptopnya sudah dalam mode off. "Papa, pulang?" Untuk menemukan jawabannya, gadis itu segera beranjak dari tempat tidurnya. Memakai sandal rumahan dan segera menutup pintu warna lilac itu. Menutupnya pelan agar tak menimbulkan suara yang berisik. Menuruni anak tangga yang dihiasi oleh lantai marmer satu per satu. Menemukan dentingan suara sendok dengan gelas membuatnya yakin jika ada seseorang di meja makan. Mengembangkan senyum hangatnya ketika dia menemukan orang yang dia maksud. "Anak Papa udah bangun. Sini, Sayang," ujar seseorang itu merentangkan tangannya memaksa anak gadisnya untuk datang memeluknya. "PAPA!" Dengan riang si anak gadis berlari ke arah papanya. Memeluk erat papanya yang memang dia sayangi. Dan papa-nyalah keluarga satu-satunya yang masih hidup bersamanya hingga saat ini. "Papa kapan pulangnya?" Apakah tadi malam? Soalnya laptop Sinta udah dalam keadaan mati. Padahal tadi malam Sinta pakai dan nggak sengaja ketiduran," cerita di gadis dengan ceria diakhiri kekehan renyahnya di pagi hari. "Iya, Papa pulang tengah malam. Waktu ngecek ke kamar kamu, laptopnya masih dalam keadaan nyala. Ya sudah Papa matiin. Kamu capek banget ya, Sayang? Sampai ketiduran gitu," tanya papanya mengusap wajah anaknya dengan lembut. "Iya, Pa. Kemarin Sabtu ada ekskul paskibra. Jadi kecapekan malemnya." "Kamu nggak papa kan sama ekskulnya? Kalau kamu sudah nggak sanggup, lebih baik kamu keluar saja," saran dari papanya terlihat sedang meraih sebuah piring berisi sayur mayur untuk dia beri kepada anak gadisnya itu. Sebenarnya itu adalah kebiasaan mamanya, tapi karena mamanya sudah tidak ada, papanya itu yang sering mengambilkan sarapan untuk anaknya. Si anak gadisnya menggeleng keras, tak menyetujui perkataan papanya. Menarik kursinya, duduk di samping papanya.  "Nggak, Pa. Sinta seneng kok ikut ekskul paskibra. Sinta nggak keberatan kok ada di ekskul itu." Pak Tomy, papanya Sinta tersenyum ke arah anaknya dengan lembut. Mengusap pelan kepala anaknya dengan sayang. Mendekat dengan pelan, memberikan kecupan di kepalanya membuat anaknya itu tertawa renyah. "Kalau kamu ada apa-apa bilang ke Papa, okey?"  "Siap, Pa. Sinta bakal selalu bilang ke Papa kok. Papa tenang aja, jangan khawatir," balas Sinta dengan keyakinan yang besar membuat papanya tersenyum sendu ketika teringat sesuatu. "Pasti kamu kesepian dirumah sendirian. Maafin Papa ya, Sayang. Papa jarang pulang." "Nggak kok, Pa. Sinta nggak kesepian. Kan ada Mbak Yuni. Di sekolah Sinta juga banyak temennya. Jadi Sinta nggak pernah kesepian deh. Lagian, Papa kerja kan juga buat Sinta. Buat biaya sekolah Sinta dan keperluan sehari-hari juga." Papanya mengangguk senang, terlihat kerlipan cahaya semangat di kedua pupil matanya yang berwarna coklat terang sama seperti punya anaknya itu. "Kalau gini Papa jadi nggak kawatir lagi. Papa akan selalu semangat bekerja untuk mencukupimu. Udah sarapan dulu sana. Papa tungguin." "Aye-aye captain!" seru Sinta senang.  Setahun yang lalu, Sinta memiliki keluarga yang lengkap. Dia hidup bersama kedua orang tuanya yang lengkap, ada papa dan juga ada mamanya. Membuat hidupnya semakin berwarna, mengingat hanya dirinyalah putri semata wayangnya kedua orang tua. Kebiasaannya yang suka bercerita setiap apa yang dia lakukan kepada mamanya hilang setelah kecelakaan itu. Ya, mamanya yang bernama Jesica, mengalami suatu kecelakaan saat akan pulang bersama oma dan juga opa-nya Sinta. Waktu itu, pada malam hari, tepatnya tanggal 20 Oktober, ada telepon yang berdering di rumahnya. Saat Sinta terbangun, dia melihat papanya yang sudah menangis dalam diam. Dan setelahnya papanya mengajaknya untuk mendatangi ke rumah sakit dimana mamanya berada. Dan di malam itulah, malam terkelam di hidupnya Sinta. Dirinya bersumpah tak akan melupakan jasa mamanya di dalam hidupnya. Sinta segera menggelengkan kepalanya, mengusir kenangan buruk itu dari benaknya. Segera menyelesaikan sarapannya. Mengambil segelas s**u coklat yang tersimpan di meja sebelah kirinya. "Pa," panggil Sinta. Papanya mendongak, menatap Sinta dari atas korannya. "Iya, Sayang. Ada apa? Kamu perlu sesuatu?" "Sebenarnya Sinta ada janji sama temen, Pa. Pagi ini Sinta mau main ke rumahnya. Namanya Naya, Pa. Anaknya baik kok," ungkap Sinta dengan senyum senangnya. Papanya mengangguk-anggukan kepalanya. Merasa puas jika anaknya mendapatkan teman yang baik. Dirinya merasa lega dan tak perlu khawatir lagi.  "Jadi?" tanya Papa saat tahu apa maksud dari perkataan Sinta. "Sinta ijin mau main ke rumahnya Naya ya, Pa. Boleh ya? Yayaya Pa ya?" ijin Sinta penuh harap dengan kedua puppy eyesnya membuat Papanya tak tahan untuk tidak mengacak rambut panjang kecoklatan milik anaknya. "Iya, boleh boleh. Mau Papa anterin?" "Nggak usah Pa. Papa istirahat aja. Papa pasti masih capek. Sinta pake mobil sendiri aja, Pa. Sinta bawa yang putih yah." "Iya, boleh. Apa sih yang nggak boleh buat kesayangan Papa ini," kekeh papanya membuat Sinta ikut terkekeh senang. Menyisipkan anak rambutnya ke belakang telinga, berdiri dari kursinya. "Ya udah, Pa. Sinta mau mandi dulu." "Iya, Sayang. Kalau minta uang, pergi ke ruangan kerjanya Papa ya Sayang. Papa mau ngerjain pekerjaan di sana." "Siap Papa." *** Secepat kilat Sinta segera mandi. Setelah selesai mandi Sinta mengambil sebuah hoodie putih dan juga rok pendek warna hitam dari lemari bajunya. Segera dia pakai dengan benar. Sebelum keluar Sinta menyisir rambutnya, dengan sengaja pagi ini dia ingin menggerainya. Mengambil tas selempangan berwarna hitam juga. Tak lupa memakai sepatu santainya berwarna putih. Dirasa penampilannya sudah sempurna, Sinta segera keluar dari kamarnya. Tak lupa mengunjungi ruang kerja papanya untuk sekedar berpamitan. "Hem, cantik banget. Papa jadi curiga nih, kamu keluar emang beneran mau ketemu temanmu yang namanya Naya itu apa mau ketemu pacarmu," tanya Papanya dengan kekehan ringan. Sedetik setelahnya Sinta mematung sejenak. Bahkan, dia tak berpikir untuk memiliki pacar setelah Raja. Dia sedikit trauma akan hal itu. "Ih Papa, eggak dong. Sinta beneran mau main ke rumahnya Naya kok. Entar disana Papa bisa video call-an sama Sinta." "Iya iya. Papa percaya kok sama kamu." "Ya udah, Sinta Pergi dulu Pa. Assalammualaikum." "Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan ya Sayang." "Siap Papa tersayang." *** Sebelum sampai di rumahnya Naya, terlebih dahulu Sinta mampir ke minimarket untuk membeli pesanannya Naya. Sebelum pergi tadi Naya sempat menelponnya untuk membeli snack dan beberapa minuman bersoda. Karena rencananya nanti siang mereka berdua akan nonton film di laptopnya Naya. Setelah mendorong pintu kaca minimarket itu, Sinta segera disambut ramah oleh si kasir dan dibalas anggukan serta senyum hangat dari Sinta. Sinta mengedarkan pandangannya. Masih sepi, sepertinya Sinta adalah pengunjung pertama di mininarket itu. Segera mengambil keranjangan dan berjalan menuju rak snack berada. Sinta hanya tidak menyadari, setelah dirinya pergi menuju rak yang dia maksud, seseorang dengan memakai masker hitam, topi hitam dan juga hoodie hitam ikut masuk ke dalam minimarket. Berjalan ke arah yang dari Sinta. Namun sesekali pandangannya mengarah ke Sinta berada. "Segini cukup kan ya?" monolog Sinta kepada dirinya sendiri. Mengangguk setelah sekian lama terdiam, merasa jika belanjaannya sudah cukup. Saat dirinya akan memutar badannya, dirinya tak sengaja menabrak seseorang. Brak! "Ah maaf, maaf."  Dengan segera Sinta membungkuk mengambil belanjaan dari seseorang yang terjatuh itu. Sinta mengernyit, saat mengetahui jika belanjaan itu adalah rokok. Segera mendongak, dan terlihatlah sosok laki-laki yang berpakaian hoodie hitam itu sedang berdiri di depannya. Segera menyerahkan sebungkus rokok itu kepada laki-laki berhoodie hitam. "Ini belanjaanmu. Maaf ya. Aku pergi dulu." Dengan segera Sinta pergi dari sana. Dirinya merasa aneh dengan laki-laki itu. Laki-laki itu terlihat sedikit mencurigakan. Bahkan saat Sinta berbicara tadi, laki-laki itu tak mengucapkan sepatah katapun membuat Sinta merasa sedikit ketakutan.  "Mbak, tolong ditotal ya," ucap Sinta sembari mengeluarkan belanjaannya. Dirinya sempat melirik ke tampatnya tadi, disana ternyata masih berdiri seorang laki-laki yang tadi dia tabrak. Dan herannya laki-laki itu masih memperhatikannya. Dengan cepat Sinta menarik kepalanya agar dia hanya melihat ke depan, ke arah kasirnya. "Mbak, bisa cepetan dikit?" tanya Sinta panik. Entah mengapa dirinya merasa panik, saat mendengar derap langkah kaki mendekat. Dia tahu, pasti laki-laki berhoodie hitam itu yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Ketika melihat si kasir sudah memasukkan belanjaannya, Sinta segera mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah. "Totalnya seratus empat--" "Ini Mbak. Kembaliannya buat Mbak aja. Terima kasih." Dengan buru-buru Sinta menyambar kantong plastik belanjaannya. Berjalan cepat ke arah mobilnya. Setelahnya dia mengunci pintu mobilnya dengan rapat. Sinta bernapas lega saat tak melihat laki-laki berhoodie itu ikut keluar dari minimarket. "Huh, nyeremin banget itu cowok. Kayak di film-film kriminal,"desis Sinta bernapas lega.  Setelahnya Sinta menjalannya mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan minimarket itu. Dan tak berapa lama keluarlah laki-laki berhoodie hitam itu dengan senyuman misterius yang terpatri di bibirnya dengan pandangan lurus ke depan, menghadap ke arah kepergiannya Sinta. Mengeluarkan sebuah ponsel yang ternyata sudah menyala. "Halo, Bos. Target masih aman," ujar laki-laki berhoodie hitam itu. "Bagus!" balas seseorang dari ujung telepon. Membuat si laki-laki berhoodie hitam itu yang tengah tersenyum misterius semakin lebar. *** Setelah sampai di alamat yang tepat, Sinta segera memarkirkan mobilnya dengan benar. Sinta segera turun dengan menenteng sekantong plastik belanjaan berisi pesanannya Naya. Menekan tombol bel sekali dan tak lama terdengar balasan dari dalam rumah. "Iya, bentar Mbak, Nyonya besar lagi maskeran!" balasan dari dalam itu membuat Sinta mendengus geli mendengar logat yang berbeda. Sinta sudah menebak siapa oramg yang telah berteriak itu. Clek! Dan benar saja, orang itu sedang memakai masker wajah yang telah retak. Membuat Sinta tak bisa lagi menahan tawanya. "Ketawa teros!" sindir Naya kesal segera melirik ke tangannya Sinta dan tersenyum cerah saat mengetahui isi kantongnya. "Lagian, elo juga kenapa pake teriak segala. Retak tuh masker lo." "Nggak papa, pencitraan." "Pencitraan segala,"cibir Sinta kemudian memasuki rumah setelah Naya mempersilahkannya. Menatap rumah yang berlantai dua itu dengan takjub. Naya pamit ke toilet sebentar untuk membasuh wajahnya. Sedangkan Sinta memperhatikan seisi rumahnya Naya. "Nay, rumah lo nyaman. Konsepnya sederhana. Gue suka," puji Sinta dengan sepenuh hati. "Thanks Sin. Btw, gue sebenarnya nggak suka sama konsepnya. Ini yang milih mama gue," balas Naya membuat Sinta terkekeh geli setelah mendengar pengakuannya Naya. "Btw, papa sama mama lo kemana? Gue nggak lihat nih." "Lagi pergi ke rumah oma gue," jawab Naya seadaanya yang sedang menyiapkan camilan yang tersimpan di dalam toples kecil-kecil. Dan tak lupa menyiapkan dua cangkir minuman. "Kok elo nggak ikut?" "Males ah. Ketemu oma mulu." "Dasar. Cucu nggak ada akhlak." Mereka berdua akhirnya tertawa bersama mengetahui sikap Naya yang memang saat ini sedang malas bertemu dengan omanya. Naya segera membawa nampan berisi camilan dan minuman itu. Tak lupa dirinya membawa sekantong belanjaannya Sinta tadi. Melihat Naya yang kesusahan, Sinta dengan sigap membantunya. "Biar gue yang bawa kantong belanjaannya." Naya mengangguk dan segera berjalan mendahului Sinta. Membuat Sinta dengan patuh mengikuti Naya. "Langsung ke kamar gue aja." "Okey. Eh, Nay. Dirumah lo nggak ada pembantu ya?" "Ada kok. Cuma sekarang kan hari Minggu, jadi libur deh." "Oh gitu." Mereka berdua telah sampai di sebuah kamar yang luas. Ada sepasang sofa dan juga mejanya. Satu kasur dengan ukuran besar. Ada meja belajar yang mewah dan juga tiga almari. Satu almari kaca yang terisis novel-novel, dua almari lainnya berisi pakaiannya Naya. "Gimana? Lo nggak kesasarkan? Lagian udah pake G-maps juga," tanya Naya setelah meletakkan nampannya dan membuka gorden cendela kamarnya. "Santai aja, gue nggak kesasar kok. Rumah lo lumayan jauh ya dari rumah gue. Sekitar empat puluh menitan-lah kalo pake kecepatannya sedang." Naya beringsut mendekat. Tertarik dengan pembicaraannya Sinta. "Emang rumah lo dimana? Gue pengen main ke rumah lo kapa-kapan." "Rahasia. Rumah gue itu cuma menerima tamu VIP." "Terus kenapa gue nggak lo undang. Emang gue bukan tamu VIP?" "Ya jelas bukanlah," balas Sinta kemudian memeletkan lidahnya meledek Naya. "Sialan lo. Sama teman sendiri juga," sungut Naya setelah melempari Sinta dengan sebuah boneka Tayo yang berukuran sedang. "Iya, iya kapan-kapan gue ajak main ke rumah gue. Eh tahu nggak Nay, tadi waktu gue belanja di minimarket gue ketemu cowok." "Ganteng?" tanya Naya santai mendudukkan tubuhnya disamping Sinta setelah mengambil sebuah laptopnya. Membuka sebungkus snack kemudian mengunyahnya dengan nikmat. "Nggak. Gue nggak tahu, tapi dia aneh banget." "Aneh gimana?" "Dia pake topi sama masker. Gue nggak lihat mukanya. Ada yang lebih aneh lagi, dia itu selalu lihatin gue." "What?! Terus lo diapaain sama dia?" "Gue nggak diapa-apain. Gue kabur duluan waktu dia mau jalan ke arah gue. Sumpah ngeri banget vibes-nya. Kayak penjahat di film kriminal-kriminal gitu." "Gue mau dong. Kalo cowok kayak di film kriminal, pasti dia ganteng. Eh itu di minimarket mana, Sin. Gue mau kesana. Siapa tahu gue ketemu dia dan ternyata dia itu cogan banget. Apalagi dia itu jodoh gue. Duh enaknya dunia haluku," kata Naya dengan pencitraan membuat Sinta mendengus kesal. "Lo itu harus hati-hati, Nay. Lo itu cewek. Kalo ketemu cowok aneh kayak yang gue bilang itu lo harus hati-hati, kabur aja kalo lo perlu." "Iya iya cikgu," balas Naya sekenanya. "Mau nonton apa nih?" "Kartun kuy. Udah lama gue nggak nonton kartun," balas Sinta bersemangat. Bahkan saat ini dirinya sudah memangku setoples mini yang berisi kue kering. "Nggak. Horor aja." "Ye Maemunah! Terus kenapa lo tadi nanya ke gue?" tanya Sinta kesal setelah menempeleng kepala Naya dengan pelan membuat Naya tertawa senang karenanya. "Sengaja. Pengen buat lo kesel aja." Sinta hanya mencibirkan bibirnya seolah menangapi Naya. Meletakkan toplesnya saat mendengar suara deringan ponselnya. Segera mengangkat satu telepon yang masuk ke dalam ponselnya. "Assalammualaikum, Pa," sapa Sinta setelah menerima telponnya. "Kamu sudah sampai di rumah temanmu kan?" "Iya, Pa. Sinta sudah sampai kok." "Ya sudah. Papa cuma mau bilang kalau Papa harus pergi lagi ke Singapura. Mungkin cuma dua hari saja disana." "Papa berangkat sekarang kan? Ya udah Papa hati-hati ya. Mau Sinta anterin sampai bandara?" "Nggak usah. Kamu main aja sama teman kamu. Ya udah Papa tutup dulu ya. Papa mau siap-siap." "Baik, Pa." "Assalammualaikum Sayang." "Waalakiumsalam Pa." Tut! Tut! Tut! Setelah selesai, Sinta segera menyimpan kembali ponselnya ke dalam tasnya. Mulai fokus ke film yang sudah Naya putar. "Papa lo kenapa, Sin?" "Mau pergi ke Singapura," jawab Sinta kemudian mengunyah keripik kentang. "Terus, kenapa lo nggak ikut?" "Lo kira papa gue ke Singapura mau ngapain kalo nggak kerja? Liburan? Dih papa gue nggak pernah liburan. Sukanya kerja terus." Naya mengangguk kemudian mengenggem kedua tangannya Sinta.  "Lo pasti kesepian selama ini." "Enggak. Gue malah senang. Dengan papa gue yang gila kerja, gue lebih merasa senang daripada papa gue yang duduk diam aja teringat kenangan sama mama gue. Gue sedih kalo lihat papa gamon gitu." "Yang penting papa elo nggak lupa untuk selalu jaga kesehatannya." "Masalah itu, udah ada gue yang selalu handle," balas Sinta bangga. "Yoklah kita lanjut nonton." "Cuss!!" Setelahnya mereka berdua tenggelam dalam film horor dengan volume yang besar. Mereka tertawa sampai menjerit bersama saat melihat hantu yang muncul di layar laptop. Setelahnya mereka lupa waktu jika jam terus berputar. Karena mereka selalu berganti film setelah satu film selesai diputar. Dan itulah untuk pertama kalinya mereka menghabiskan waktu hanya berdua. *** Tiga jam berlalu, Sinta dan Naya baru saja selesai menonton film. Terlihat raut lelah dikeduanya akibat disepanjang film mereka berdua selalu berteriak heboh. Bahkan beberpa snack dan minuman sudah mereka habiskan. "Filmnya seru semua," ucap Sinta setelah mengelap pelipisnya dengan sehelai tisu basah. "Iya. Tapi capek." "Itu karena lo teriak-teriak dari tadi." "Lo juga," balas Naya tak mau kalah. Naya segera mengubah laptopnya ke dalam mode off. Menyimpannya di atas meja belajarnya. Bergabung lagi bersama Sinta yang sedang asyik membuka akun Intagramnya. "Eh Nay," panggil Sinta menilik Naya dari balik ponselnya. "Ada apa princess?" goda Naya dengan logat yang dia ubah seperti seorang dayang yang setia kepada ratunya. Sinta memutar bolanya malas saat melihat kejahilannya Naya kambuh. "Lo tahu pacarnya Rama nggak?" "Pacar? Nggak tuh." "Lo pasti kaget kalo tahu Rama itu b******k," ucap Sinta memberitahu. "Nggak, lo salah nilai aja sama Rama. Dia itu baik kok sebenarnya, buktinya Dewa dikasih tuh wifi terus tiap hari sama Rama. Rama itu kocak, abstrud tingkahnya. Banyak yang naksir tapi malah dibales savage sama dia. Aneh emang," cerita Naya kemudian terkekeh mengingat kelakuan temannya yang satu itu. "Elo tahu banget soal Rama. Lo suka ya sama dia?" tebak Sinta asal membuat Naya melotot terkejut. "Sembarangan aja. Gue itu udah dua tahun sekelas sama Rama. Jadi tahu gimana sifatnya," cerita Naya. "Emang apa sih yang buat lo nilai kalo Rama brengsek." "Ehm, gak tahu juga. Tapi kemarin waktu sebelum gue sama Rama dihukum Bu Sutarni, gue ditanyain sesuatu sama Rama. Dia tanya apa alasan cewek muntah-muntah. Ya gue jawab aja, kalo nggak hamil ya sakit." "Terus dia bilang apa?" "Ehm, dia kayak nggak percaya gitu kalo ceweknya hamil." "Lo salah. Rama nggak punya cewek dari kelas sepuluh. Lo pasti tahunya cewek itu Laras kan?" "Kok lo bisa tahu, Nay? Iya Rama bilang cewek itu namanya Laras." Sontak saja Naya tertawa terbahak-bahak. Membuat Sinta mengernyit heran. "Lo salah Sinta cantik. Laras itu mantan friendzone-nya Rama. Okey gue ceritain. Waktu dulu saat kelas sepuluh, Rama itu deket sama satu cewek, iya dia itu Laras. Mereka deket kurang lebih tiga bulan. Dan kalo gue lihat-lihat sebenarnya Laras juga sama-sama suka ke Rama. Tapi katanya mereka nggak bisa pacaran." "Kenapa? Karena masih bocah?" tebak Sinta namun Naya hanya menggeleng pelan. "Bukan. Tapi karena hubungan mereka ditentang sama mamanya Laras. Rama yang kelihatan suka banget sama Laras akhirnya mau aja waktu Laras ajak mereka sahabatan aja." "Terus?" "Terus, mereka memang sahabatan sampai kenaikan kelas. Dan anehnya waktu kelas sebelas ini, Laras menjauh dari Rama. Apalagi mereka sekarang pisah kelas. Rama emang pernah curhat ke gue, dia nggak tahu alasan Laras jauhin dia. Kasian kan dia, sadboy mulu jadi cowok." "Kenapa nggak lo aja yang macarin dia?" tanya Sinta bermaksud bercanda. "Gue udah terlanjur anggap dia teman sejati gue. Sama seperti Dewa dan Nakula. Gue nggak bisa naruh perasaan lebih ke dia. Lagian, gue masih gamonin cowok yang dari sekolah lama lo." "Emang siapa sih mantan lo itu, Nay? Gue masih kepo tahu." "Rahasia dong. Udahlah kenapa malah bahas mantan gue?" "Asyik soalnya hehehe." "Bentar ya, Sin. Gue mau ke toilet dulu." "Okey." Sinta menjelajahi seluruh isi kamarnya Naya. Membuka beberapa novel yang dia anggap menarik. Kemudian dia bawa ke arah meja belajarnya Naya. Duduk disana sambil membuka lembar demi lembar halaman sebuah novel bersampul hitam. Tapi tak berapa lama atensinya jatuh ke arah meja belajar. Disana ada sebuah kotak hitam yang berukuran kecil. Dengan penasaran Sinta meraih kotak itu. Terkejut saat mengetahui isinya. "Eh, ada cincin? Cincin pertunangan? Naya udah punya tunangan?" gumam Sinta yang dengan hati-hati meneliti cincin perak polos itu. Mengangkatnya saat matanya melihat deretan huruf kecil yang menghiasi cincinya. Sinta mengeja susunan hurufnya. "R-A-M-" Sret! Tiba-tiba cincinya direbut oleh Naya. Dengan cepat Naya memasukkan cincin itu ke dalam almari novel-novelnya. Tersenyum canggung saat melihat raut penasaran yang terpatri di wajahnya Sinta. "Itu cincin pertunangan lo?" "Enggak! Sembarangan aja kalo ngomong. Itu cuma souvenir dari sepupu gue kok." "Tapi kok ada namanya." "Iya, gue minta custom nama," balas Naya kemudian menggaruk kepala belakangnya. Menarik tangan Sinta untuk dia ajak ke dapur. "Makan siang dulu yuk, Sin. Habis itu kita main di belakang," ajak Naya dengan senyum senang menutupi kecangguangnnya. "Siap deh. Yuk," balas Sinta ikut tertawa senang. Pada akhirnya mereka berdua turun ke bawah meninggalkan kamarnya Naya yang menyimpan satu barang yang Sinta curigai, yaitu cincin perak tadi. 'Tulisan di cincin itu, apakah Rama?' bisik hati kecilnya Sinta yang melihat ke arah Naya didepannya dengan tatapan heran. *** Setelah bercanda ria di halaman belakang rumahnya Naya, kini Sinta sedang bersiap-siap akan pulang. Membuat Naya menurunkan bibirnya sedari tadi karena akan ditinggal oleh sahabatnya itu. Sinta terkekeh pelan saat melihat Naya yang terlihat tak bersemangat. Mengulurkan kedua tangannya dan mengapit pelan kedua pipi tembamnya Naya. "Udah ya, gue pulang dulu," pamit Sinta setelah memakai tas selempangnya sediri. Berjalan pelan menuju pintu utama. Namun langkahnya terhenti saat sebelah lengannya digenggam oleh Naya. "Aaahhh… Sinta, please jangan pulang. Nginep di rumah gue aja," cegah Naya dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat memelas membuat Sinta tertawa lebar. "Gue harus pulang Naya Cantik. Udah ah gue pulang," putus Sinta akan melepaskan sebelah lengannya yang digenggam oleh Naya. Namun dengan segera Naya malah memeluk erat lengannya Sinta itu. "Please, sekali-kali tidur di rumah gue. Lagian kan papa lo lagi pergi ke Singapura. Entar elo sendirian di rumah." "Maka dari itu. Gue harus pulang buat jagain rumah gue. Entar kalo ada maling gimana?" "Nah itu elo tahu. Kalo rumah lo kemalingan kan malah bahaya. Makanya tidur disini aja." Naya masih berusaha menahan Sinta untuk pulang. Sinta menarik napasnya berat, merasa kualahan saat menghadapi Naya. Sebuah ide terlintas di benaknya. "Gini deh, gue pulang sekarang juga. Sebagai gantinya, elo gue kasih alamat gue. Lo bebas mau main kapan aja. Gimana?" tawar Sinta yang sangat terlihat menggiurkan dibmatanya Naya. Karena sebenarnya Naya penasaran dengan rumahnya Sinta. Pasalnya, Naya yakin jika Sinta adalah anak dari sultan. Mengingat semua fasilitas yang Sinta pakai sangat bernilai jual tinggi. Naya terdiam sebentar, menimbang mana yang akan dia pilih. "Ehm, okey deh. Bentar gue ambil kertas dulu," kata Naya mengangguk kemudian segera berlari mengambil sebuah kertas note dan bolpoin dari meja yang ada di ruang tengah. Setelah mendapatkan dua benda yang dia cari, Naya segera kembali ke hadapannya Sinta. "Nih, lo catat alamat lo." Sinta tersenyum dan segera mencatat alamat rumahnya dengan lengkap. Mengulurkan kertas note itu ke arahnya Naya. Dengan segera Naya membacanya tulisan yang ada di sana. Dahinya terlihat mengernyit samar saat membaca tulisan itu. "Kayak pernah denger perumahan ini," gumam Naya pelan. Membuat Sinta mengangguk-anggukan kepalanya saja. "Mungkin," balas Sinta seadanya. "Gue pulang--" "ITU KAN PERUMAHAN PARA ARTIS!" teriak Naya tiba-tiba setelah mengingat dengan jelas nama perumahan yang Sinta tempati. "Iya? Gue nggak ngerti deh. Nggak tahu ah. Gue kan cuma tinggal aja disana. Nggak tahu ada artis apa enggak. Udah ah, gue pulang ya. Bye Naya Cantik," ujar Sinta setelah menjabat tangan ala gadis kemudian keluar dari rumahnya Naya. Naya yang ditinggal oleh Sinta masih diam termenung di tempatnya berpijak. Setelah mendengar suara mesin mobil yang menyala, barulah Naya tersadar dari acara melamunnya. Sontak saja Naya berteriak heboh lagi.  "MAMPUS! GUE BAKAL DIPANGGANG SAMA RAMA!" teriak Naya kemudian bergegas berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya berada. Tak lupa sebelah tangannya menggenggam erat kertas note yang tertulis alamat rumahnya Sinta. *** Rama baru saja selesai menyeka dahinya berulang kali. Dirinya mendudukan tubuhnya di sebuah kursi taman kota. Mengatur napasnya yang terengah-engah. Tak lupa meluruskan kedua kakinya agar tidak terjadi cendera. Tebaklah, apa yang baru saja Rama lakukan? Ya, Rama baru selesai jogging berkeliling taman kota. Jika kalian menebak Rama adalah laki-laki yang sering olahraga, maka kalian salah besar. Rama sore ini memang jogging, tapi bukan berarti dia anak yang sering berolahraga. Pada kenyataannya, Rama terpaksa melakukan kegitan tersebut karena dipaksa oleh mamanya. Kata mamanya Rama seperti ini. "Rama, sana jogging di taman kota. Jangan cuma rebahan saja. Mau jadi apa negara, kalau generasinya kayak kamu yang kerjaannya cuma rebahan dan jadi beban keluarga? Sana, cepat pergi jogging. Kalau tidak, nanti malam jangan harap dapat makan malam dari mama!"  Begitulah kata mamanya tadi siang saat Rama baru duduk bersantai dengan tangannya yang memegang joy stik. Dan karena merasa takut dengan ancamannya mama yang berkata tidak akan memberinya makan malam, dengan terpaksa Rama meninggalkan joy stiknya. Segera bergegas keluar dari rumah setelah itu pergi menuju rumah kedua temannya untuk Rama seret ke taman kota untuk menjadi teman joggingnya. "Yuk, bisa yuk. Satu putaran lagi," koar Dewa menyemangati Rama. Ya, Dewa hanya duduk bersandar di kursi taman sembari memakan ciki-cikinya sendiri. Sedangkan Nakula juga ikut di sana. Hanya saja, dirinya sibuk membaca sebuah buku pelajaran yang dia bawa saat Rama menyeretnya tadi. "Gundulmu!" ujar Rama merasa kesal. "Udah kehabisan tenaga gue. Udah ah, lagian gue udah keliling satu putaran." "Baru satu putaran aja bangga," sindir Nakula santai dengan kedua matanya yang masih menatap pada sebuah buku yang dia genggam. "Anda? Apa kabar Pak?" sindir Rama kembali ke arah Nakula. Nakuka menurunkan bukunya menoleh sinis ke arahnya Rama. "Gue juga lagi olahraga. Bedanya gue di otak. Elo di badan," balas Nakula kemudian melanjutkan membaca bukunya. "Lebih menyehatkan kalo olahraga badan,"ujar Rama sengaja dikencangkan agar Nakula mendengarnya. "Olahraga badan, badan jadi sehat. Kalo olahraga otak, otak jadi pinter. Emang salah, kalo gue mau pinter?" Rama semakin menatap tajam ke arah Nakula setelah mendengar perkataannya Nakula tersebut. "Terus maksud lo, gue juga salah kalo gue mau punya badan yang sehat?" "Udah-udah, jangan berantem ginilah. Lo berdua jangan saling nyalahin. Salahin gue aja," sela Dewa merasa jengah mendengar perdebatan kedua temannya. Sontak saja Rama dan Nakula dengan kompak menoleh ke arah Dewa. Keduanya menatap sepenuhnya ke arah Dewa. "Emang. Emang lo salah!" terang Rama dan Nakula dengan kompak. "Sering makan ciki-ciki!" tegas Rama tiba-tiba. "Nggak bisa itung-itungan," tambah Nakula dengan sinis. "Nggak bisa lari cepet!" kata Rama lagi. "Tugas sekolah nggak pernah dikerjain," imbuh Nakula. "Beban keluarga lagi!" kompak Rama dan Nakula membuat Dewa syok karena terkejut dengan teriakan kedua temannya itu. "Guys, gue unfreind aja deh sama kalian berdua. Umur gue selalu diuji soalnya," kata Dewa dengan pasrah. "Cih, baperan," komentar Rama pedas. "Lo emang masuk circle kita. Tapi elo nggak pernah dianggap," tambah Nakula dengan nada yang datar. "Au ah. Gue unfreind beneran sama lo berdua," balas Dewa terlihat merajuk. Kemudian melengoskan tubuhnya membelakangi Rama dan Nakula. "Ya udah," balas Rama dan Nakula dengan santainya. Membuat Dewa mendengus kesal. Tiba-tiba terdengar suara deringan telpon dari saku celana training miliknya Rama. Rama segera merogoh ponsel dan mengangkat telponnya. "Halo rentenir," sapa Rama seenak jidatnya. Pasalnya dia tak membaca terlebih dahulu siapa yang telah menelponnya itu. "Rama!" teriak seorang gadis dari seberang telepon. Membuat Rama terkejut dan segera menjauhkan ponselnya dari telinganya. "Siapa, Ram?" tanya Nakula mengernyit heran.  "Rentenir beneran?" Dewa ikut bertanya. Pasalnya suara teriakan di seberang sana memang terlihat seperti seorang rentenir yang sedang menagih hutang. Rama membaca layar ponselnya, menghela napasnya dengan berat. "Sebelas dua belas sih sama rentenir. Tapi ini bosnya rentenir," balas Rama setelah itu mendekatkan kembali ponsel ke telinganya. "Ada apa, Nay?" tanya Rama kembali bertelpon ria dengan Naya yang ada di seberang sana. "Lo--" kata Naya sengaja dia putus karena dirinya saat ini merasa sangat ketakutan. "Iya, ada apa Nay?" "Lo nggak mungkin--" "Nay, gue masih sabar loh ini. Jangan sampai gue datangin rumah lo terus gue ceburin elo di parit. Cepat bilang ada apa?" tanya Rama yang mulai kehabisan stok kesabarannya jika berhadapan dengan Naya. "Lo nggak mungkin manggang gue beneran kan?" "Maksud lo?" tanya Rama dengan kernyitan halus di dahinya. Pasalnya Rama merasa terheran dengan perkataannya Naya. Apakah Naya baru saja menggigau? "Sinta, ehmm…. SINTA UDAH TAHU SOAL CINCIN ITU!" Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Rama masih terdiam setelah Naya berteriak kepadanya. Otaknya masih mencerna apa maksud dari perkataannya Naya. Tak berapa lama, dirinya paham betul dari perkataannya Naya. "Naya! Gue-- Nggak mungkin Sinta--" ujar Rama terputus-putus karena masih merasa syok dengan ucapannya Naya. "BAKAL GUE PANGGANG BENERAN LO BESOK NAY! SIAP-SIAP AJA LO!" teriak Rama. Yang pada akhirnya emosi Rama kelepasan juga. Padahal dia sudah merencanakan sesuatu dengan sangat rapi. Tapi rencananya harus hancur akibat keteledorannya Naya. "Terus dia bilang apa saat lihat cincinnya? Dia ngambek?" tanya Rama. "Atau malah biasa aja?" "Ngambek deh kayaknya. Eh biasa aja deh. Eh enggak tahulah gue. Sinta terlalu pinter nyembunyiin raut wajahnya," balas Naya membuat Rama menghela napanya berat. "Pokoknya, siapin mental lo! Lo bakalan gue panggang di tengah lapangan besok!" putus Rama sedetik setelahnya dia mematikan sambungan teleponnya. Menyandarkan tubuhnya dengan keras di sandaran kursi. Membuat dua temannya saling melirik heran. "Kenapa? Soal rencana lo?" tanya Nakula seperti memahami apa yang tadi dibicarakan oleh Rama dan Naya. "Hem," balas Rama yang terlihat kesal. "Soal cincinnya kan? Wah parah. Padahal baru mulai loh," ujar Dewa menggebu-gebu. "Tau ah. Gue bawa kabur Sinta aja dah. Gue mau kawin lari aja," ujar Rama terlihat putus asa. "Heh, your lambe dijaga ya!" peringat Dewa. "Kawin kawin. Nikah ogeb!" "Sama aja," balas Rama seadanya. "Ya beda!" seloroh Dewa dengan wajah yang berurat. "Jangan. Rencana lo bakal berubah kalo lo kayak gitu. Lo harus tetep lanjutin rencananya. Mungkin Sinta masih terlihat biasa aja, karena dia belum terlalu kenal sama lo. Makanya, lo harus buat Sinta senyaman mungkin dengan keberadaan lo disampingnya," usul Nakula dengan panjang lebar. Dewa mengangguk setuju, karena dirinya juga memiliki satu pemikiran yang sama dengan Nakula. "Tau ah. Gue sama Sinta kalo dijadiin satu bisanya cuma debat mulu. Kapan bisa nyamannya?" ujar Rama lesu. "Makanya lo jangan kebanyakan tingkah!" koreksi Nakula. "Jangan sok kecakepan," imbuh Dewa tak mau kalah. "Dan jangan suka jahil!" kompak Nakula dan Dewa membuat Rama ingin mengeluarkan  umpatannya. Namun tertahan jika apa yang kedua temannya itu katakan memanglah kenyataan yang ada pada dirinya. Akhirnga Rama hanya memilih untuk menganggukan kepalanya dengan lesu. "Demi harta mah, gue bakal berjuang sampai titik darah penghabisan," kata Rama yang kembali bersemangat. "Heh! Demi cinta!" koreksi Nakula dan Dewa dengan kompak lagi. "IYA IYA. DEMI CINTA! PUAS LO BERDUA?" kata Rama dengan teriakannya membuat senyum bangga terbit di kedua bibir temannya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD