Memiliki sikap kewaspadaan terhadap orang asing harus dimiliki oleh semua orang, terutama untuk kaum hawa. Karena, sekarang bukan hanya dunia saja yang kejam, tapi manusia juga.
-Rama-
Rama segera turun ke lantai dasar setelah dia selesai membenahi dirinya sendiri dan berpakaian rapi. Menuruni tangga dengan sebuah tas punggung warna hitam tersampir di sebelah bahunya. Sembari satu tangannya menggenggam ponsel, menatap dengan pancaran mata yang terlihat berbinar senang pada layar ponsel yang menampilkan sebuah video wayang.
"Kalo turun tangga, tangganya yang dilihatin. Bukan malah ponsel kamu," koreksi sebuah suara. Rama menoleh, tersenyum lebar saat melihat papanya yang terlihat tengah duduk di sebuah kursi di meja makan. Meskipun terheran saat melihat kantung mata papanya yang terlihat seperti panda.
"Papa kapan pulang?" tanya Rama bertanya kemudian mendekat, duduk di salah satu kursi di meja makan. Memilih untuk duduk di depan papanya. Karena, ya Rama hanya merasa nyaman saja bisa melihat wajah papanya dengan leluasa.
"Tadi malam," balas papanya yang sembari membaca sebuah koran di kedua tangannya. Rama mendengus. Seperti biasanya, papanya tak pernah berbicara santai dengannya. Selalu seperti itu, menggunakan nada yang terkesan dingin dan cuek. Tapi sebenarnya Rama tahu, seberapa sayangnya papa kepadanya. Hanya karena sebuah musibah di masa lalu, yaitu meninggalnya adik tersayangnya, membuat keluarganya berubah. Rama tetap bersyukur, meskipun tak sebahagia dan sehangat seperti dulu, papanya tetap mengingat istri dan anaknya. Rama mengambil sarapannya. Terlihat mamanya yang sedang menyiapkan lauk pauk untuk sarapan pagi mereka kali ini. Sepertinya orang tuanya belum sarapan. Tapi Rama ingin sarapan duluan.
"Ma, Rama mau berangkat pagi," kata Rama.
"Ya udah nggak papa. Tapi sarapan dulu kan?" tanya mamanya yang masih sibuk menyiapkan sarapan.
"Iya, Ma. Ini Rama lagi ambil." Mamanya mengangguk saja. Rama kini sedang sibuk mengunyah sarapannya. Melirik ke arah papanya yang masik duduk dalam diam membaca koran. Mengingat jika kebiasaannya itu tak pernah berubah sejak Rama masih kecil.
"Pa," panggil Rama yang diselingi dengan mengunyah makanannya
"Hmm." Lagi dan lagi Rama mendengus. Merasa sedikit kesal dengan respon papanya.
"Papa kalo lembur, ingat istirahat juga. Tuh mata panda Papa kelihatan banget."
"Biarain aja. Lagian Papa nggak lembur." Rama berdecih, mengetahui jika papanya itu sedang berbohong. Setelahnya Rama membawa piring dan gelasnya ke arah dapur. Mendekati mamanya dan pamitan.
"Rama berangkat dulu, Ma. Assalammualaikum"
Mamanya yang sedang menggoreng ikan membalikkan badannya. Menyodorkan sebelah tangannya ke arah Rama. "Iya hati-hati. Waalaikumsalam.
Rama tersenyum berjalan ke arah papanya. Menyodorkan tangannya. Awalnya papanya tak menyadari kehadirannya sampai Rama memanggil papanya barulah beliau menyalami Rama.
"Jaga kesehatan, Pa. Meskipun Rama sering bandel, Rama tetap sedih kalo Papa sakit," pesan Rama.
"Hmm."
"Assalammualaikum."
Tak ingin menunggu balasan dari papanya, Rama segera beranjak keluar dari ruamhnya. Mamanya yang mendengar obrolan itu segera mendekat dengan satu piring berisi ikan goreng.
"Arya, Rama itu perhatian sama kamu. Sekali-kalilah kamu ngobrol santai sama dia." Papanya Rama itu mendongak. Menatap sendu ke arah istrinya. Menarik pinggang istrinya kemudian wajahnya dia sembunyikan di perut istrinya. Jujur saja, dirinya juga tak ingin berperilaku seperti ini didepan anaknya.
"Aku masih merasa bersalah. Aku telah merebut kebahagiannya. Kepergian Tika, membuatnya sangat terpukul," adu Arya kepada istrinya. Dewi, mama Rama, mengusap kepala suaminya dengan penuh sayang.
"Enggak, bukan kamu yang merebut kebahagiannya. Itu sudah takdir dari Allah. Tika pergi bukan salah kamu."
"Seharusnya juga, kamu jangan bersikap kasar kepadanya," nasehat Dewi menambahi.
"Aku memang temperamental. Aku usahakan aku bisa mengontrol emosiku lagi. Terima kasih telah bersabar mendampingiku. Maaf, kalau kemarin-kemarin aku sering marah-marah. Aku kalap waktu itu. Banyak uang yang tiba-tiba hilang di kantor, membuatku frustasi dan gampang marah. Dan kamu sama Rama lah yang terkena imbasnya."
"Aku maafin Arya. Kalau kamu ada masalah, kamu bisa berbagi denganku."
"Pasti. Sekali lagi terima kasih," ucap Arya semakin mengeratkan pelukannya. Dewi, istri tercintanya. Dan hanya Dewilah yang menjadi rumah ternyaman untun dia pulang.
***
Rama sengaja berangkat ke sekolah pagi-pagi. Dia masih merasa tak nyaman jika berada di satu ruangan dengan papanya terlalu lama. Apalagi kemarin-kemarin, dia berani menjawab papanya saat papanya itu sedang marah-marah. Melirik ke jam tangannya, ternyata masih pukul enam lebih lima menit. Saat sedang bersantai mengendarai jalanan yang belum terlalu padat, tiba-tiba seorang nenek-nenek berpakaian kebaya hitam, dengan bawahan selendang bermotif batik dijadikan rok membawa sebuah tas belanja dari anyaman bambu yang berisi sekumpulan bunga-bunga, mencegah jalannya. Otomatis Rama menarik rem motornya.
"Ada apa sih, Mbok! Untung saja Saya nggak cepet. Lagian Embok kenapa tiba-tiba nyegah Saya?" tanya Rama setelah membuka helmnya. Si nenek yang terkena omelan Rama hanya menyengir lebar seperti tak ada masalah. Rama mendengus kemudian turun dari motornya.
"Untung Saya yang lewat, Mbok. Kalo orang lain, udah pasti nabrak Embok."
"Makanya itu, Cu, Embok cegah kamu. Embok mau minta tolong," pinta si nenek itu kepada Rama. Rama segera mendekat, memeriksa seluruh badan nenek itu.
"Mbok sakit?" tanya Rama. Akan tetapi si nenek itu menggelengkan kepalanya.
"Terus minta tolong apa, Mbok?"
"Embok minta Cucu anterin Mbok ke suatu tempat." Dengan sigap Rama segera menaiki motornya lagi. Menepuk jok belakangnya, mengisyaratkan si nenek itu untuk segera naik ke atas motornya.
"Ayo, Mbok, kita berangkat sekarang!" seru Rama senang. Si nenek terkekeh senang, segera menyusul Rama menaiki motor itu. Tak lupa juga tas yang berisi sekumpulan bunga itu dia taruh di pangkuannya.
"Cu mau berangkat kerja ya?" tanya nenek itu di tengah perjalanan. Sontak Rama tertawa terbahak-bahak. Rama baru menyadari jika si nenek itu pasti sudah pikun. Rama yakin jika nenek itu tidak buta, maka dari itu Rama menganggap jika di nenek lupa dengan rupa seragam sekolah.
"Enggak, Mbok! Saya masih sekolah. Ini yang saya pakai namanya seragam sekolah. Saya masih SMA, Mbok."
"Owalah mau berangkat sekolah to. Maaf Embok udah tua, udah pikun. Udah sering lupa."
"Nggak papa, Mbok. Namanya juga takdir."
Hingga tak sampai lima belas menit, Rama sudah sampai di sebuah tempat yang terlihat sepi. Si nenek mengedarkan pandangannya. Dahinya mengkerut saat melihat deretan liang lahat yang tertata rapi. Menebuk bahunya Rama sekali.
"Cu, ini dimana?"
"Di pemakaman, Mbok," balas Rama santai setelah memberhentikan motornya.
"Loh kok di pemakaman?"
"Lah, Mbok bawa kembang-kembang itu, mau dipakai buat takzizah kan?"
"Bukan, Cu. Embok nggak lagi takzizah. Embok mau pergi ke pasar."
"Astaghfirullah, Mbok. Kenapa Embok nggak bilang."
"Ya karena Cucu nggak tanya ke Embok."
"Astaghfirullah, Mbok. Saya lupa."
"Berarti Cucu sudah tua hehehe," balas si nenek tertawa lebar membuat Rama mengusap dadanya sabar.
"Ya udah, Mbok. Pegangan yang kenceng, Saya mau ngebut. Pembalap Rama mau ngebut ngeeengg...."
***
Untung saja jarak pasarnya dekat dengan jarak pemakaman, membuat Rama menghela napas lega ketika sampai di sekolah tepat waktu. Segera pergi ke kelasnya setelah memarkirkan motornya dengan benar. Melambaikan tangannya saat melihat sekumpulan anak badung yang dia kenal.
"Ram, lo apain si Vano? Marah-marah dia di markasnya. Waktu kemarin gue lagi lewat di sana. Ribut banget, asli! Ternyata Vano lagi marah-marah nggak jelas," ujar anak badung yang bernama Antasena, panggilannya Anta.
"Manjur juga santet gue," ucap Rama kemudian tertawa senang.
"Hah, lo santet dia? Beneran lo?"
"Nggaklah. Gue cuma kirim dia virtex di ponselnya. Ya habis, dia kemarin nyulik gue, Ta! Emosilah gue."
"Gue nggak pernah bikin lo marah loh, Ram. Jangan apa-apain ponsel gue. Apalagi lo hack." Anta berkata dengan nada hati-hati takut jika Rama tersinggung.
"Santai aja, kalo lo nggak mulai duluan, gue nggak akan macam-macam sama ponsel lo. Gue duluan," balas Rama diakhiri dengan kekehan membuat Anta menghela napas lega. Saat Rama sedang melewati toilet, lagi dan lagi Rama melihat Laras yang berlari memasuki toilet dengan terburu-buru. Dengan cepat menutup kedua matanya.
"Gue nggak lihat, gue nggak lihat. Gue mau wisata masa depan aja. Nggak mau lagi wisata masa lalu. Gue nggak lihat, gue nggak lihat," gumam Rama yang berjalan sembari meraba-raba keadaan sekitar karena dirinya berjalan dengan kedua matanya yang tertutup rapat.
Bugh!
"Aww," ringis seorang gadis. Dengan cepat Rama membuka matanya.
"Nah, gini nih yang gue harapkan. Wisata masa depan," ceplos Rama menenteng kedua tangannya dipinggang.
"Heh, bantuin gue b**o! Gue jatuh gara-gara lo ya!" seru Sinta yang masih terduduk di lantai. Jadi, gadis yang Rama tabrak tadi tak lain dan tak bukan adalah Sinta yang baru saja sampai di sekolah. Dirinya juga akan pergi ke kelasnya. Tapi karena dirinya sedang membenarkan dasinya, membuatnya tak melihat jika ada Rama di depannya.
"Iya, iya gue bantuin." Rama segera jongkok, kemudian menelusupkan tangannya di bawah lutut dan lehernya Sinta. Menggendong Sinta didepan.
"Heh! Lo apaan sih. Turunin gue!" amuk Sinta kesal. Meskipun bingung, Rama tetap menuruti permintaannya Sinta.
"Lo gila ya! Kenapa tiba-tiba gendong gue?" Sinta melirik ke sekitar. Aman tak ada seorang pun disana kecuali dia dan Rama.
"Katanya lo nyuruh gue bantuin lo, ya udah gue gendong aja."
"Lo dodol, gue nyuruh lo bantuin gue berdiri bukan malah gendong gue. b**o emang. Arrghh...."
Sinta segera berjalan cepat meninggalkan Rama yang berdiri kebingungan sendiri. Menggaruk kepalanya karena masih bingung dengan ucapannya Sinta.
"Kayaknya gue salah sarapan," gumam Rama kemudian menyusul Sinta.
***
"Okey anak-anak sekarang adalah pelajaran matematika. Buka buku paket kalian halaman seratus enam. Akan Ibu jelaskan, setelah itu anak-anak mengerjakan. Mengerti?" kata Bu Sutarmi, guru matematika.
"Paham, Bu!" balas para siswa kompak.
"Kenapa matematika dikerjai? Kan matematika nggak salah?" gumam Rama yang ternyata perkataannya tertangkap oleh indra pendengarnya Sinta namun Sinta tetap acuh dan tak menanggapinya.
Bu Sutarmi saat ini sedang menuliskan sebuah soal matematika. Kemudian dia menjelaskan dengan sangat detail. Seluruh siswa memperhatikan dengan seksama. Hanya satu yang terlihat melamun sembari menatap ke luar cendela, dia Rama. Rama masih terheran dengan kondisi kesehatannya Laras. Mengapa setiap bertemu dengan Laras selalu di toilet? Rama semakin bingung saat mengingat jika Laras selalu berlari terburu-buru.
"Rama! Maju kerjakan soal nomor empat!" suruh Bu Sutarmi. Tapi tak ada balasan, bahkan Rama belum menoleh ke arah sang guru. Dia masih asyik melamun menatap luar cendela.
"Rama, ayo maju kerjakan soal nomor empat. RAMA!" teriak Bu Sutarmi membuat semua siswa kompak menoleh ke arah Rama. Sinta menoleh ke sampingnya, heran saat melihat Rama yang masih bertahan dengan posisi melamunnya. Sinta menoel lengannya Rama dengan bolpoinnya. Tapi Rama hanya diam saja.
Plak!
"Woy Rama, lo disuruh maju sama Bu Sutarmi!" teriak Dewa setelah menggeplak kepala Rama sekali. Rama mengerjab menatap tajam ke arah Dewa. Kemudian meringis memamerkan deretan giginya saat melihat Bu Sutarmi menatapnya dengan garang sembari mengangkat sebuah penggaris besar di tangannya.
"Hehehe, iya Bu. Kenapa?"
"Kenapa? Kenapa Rama?! Dari tadi ternyata kamu tidak memperhatikan Saya, iya?"
"E-enggak Bu. Serius Saya--"
"Cepat, maju ke depan. Kerjakan soal nomor empat sampai sepuluh. Setelah itu jelaskan kepada teman-temanmu."
"Yah Bu, kok banyak baget. Satu soal aja ya Bu," pinta Rama dengan wajah yang dibuat memelas.
"Ya sudah. Cepat kerjakan!"
"Siap delapan enam."
Setelahnya Rama maju dan menatap soal di papan tulis dengan seksama. Membuat Bu Sutarmi menurunkan kaca matanya, menatap heran ke arah Rama.
"Kenapa cuma diam saja. Cepat kerjakan."
"Bu, Saya LDR sama soalnya. Yang saya pahami masih rumus lingkaran. Dipapan tulis soalnya sudah soal kuartil. Beda jauhlah Bu."
"Terus kenapa? Kamu tidak bisa?"
"Heheheh, Ibu menantang Saya ya?" tanya Rama. Bu Sutarmi hanya mengangguk saja.
"Ya Saya nggak bisalah Bu."
"Kamu tidak bisa? Iya? Makanya kalo Saya sedang menjelaskan, kamu itu seharusnya memperhatikan Saya."
"Nggak deh Bu. Entar Saya kena timbuk suami Ibu kalo Saya perhatian ke Ibu."
"RAMA! Jangan banyak bercanda, serius kamu. Pelajaran matematika itu butuh keseriusan yang tinggi, butuh fokus."
"Bu, bukan Saya mau melawan Ibu ya, masalahnya kan Ibu sudah diseriusin sama suami Ibu. Jadi Saya tidak bisa serius sama Ibu." Kompak saja semua siswa sekelas tertawa melihat tingkahnya Rama yang menjawab semua ucapannya Bu Sutarmi dengan tanpa rasa takut sekalipun.
"Sudah-sudah, kamu duduk saja. Perhatikan saja soalnya."
"Terima kasih, Bu!" balas Rama senang kemudian berjalan kembali ke tempat duduknya. Melihat Rama yang sudah kembali duduk ditempatnya, Sinta meliriknya sinis.
"b**o bener. Soal segitu gampangnya lo nggak bisa? Ckckck," kata Sinta mengejek Rama.
"Gue itu sebenarnya bisa, cuma gue lagi musuhan sama matematika. Jadi otak gue langsung kebakar kalo disuruh ngerjain matematika."
"Bilang aja lo nggak bisa," sangkal Sinta tertawa sinis. Rama hanya mendengus. Kemudian terpikirkan lagi oleh kondisinya Laras. Rama menoleh ke Sinta.
"Sin, kalo cewek bolak balik ke toilet terus dia muntah-muntah, tandanya apa ya?"
"Sakit mungkin. Ya gue nggak tahu kalo enggak lihat. Cewek lo ya?"
"Laras?"
"Ya gue nggak tahu. Gue cuma lihat mukanya doang kemarin waktu lo lagi ngomong sama dia di depan toilet."
"Ck, Laras bukan pacar gue," terang Rama.
"Ya bodoamat, gue nggak peduli. Mau dia pacar lo apa bukan, itu bukan masalah gue."
"Emang Laras bukan masalah buat elo, tapi buat gue." Sinta menoleh ke arah Rama dengan alis mengernyit, meneliti wajahnya Rama. Terlihat jika Rama sangat cemas.
"Positif thinking aja dia beneran sakit," ucap Sinta pada akhirnya.
"Dia enggak sakit waktu gue tanya. Tapi dia kelihatan lemes. Alasan kalo cewek muntah-muntah selain sakit apa?" Sinta menggeleng namun tak berapa lama dia menjentikkan jarinya.
"Bisa jadi dia hamil."
Rama melotot terkejut. Menggeleng kepalanya keras. "Nggak, nggak mungkin. Prediksi lo pasti salah, Sin."
"Ya apalagi kalo bukan hamil?"
"Nggak mungkin kalo Laras hamil," gumam Rama membuat Sinta menoleh terkejut.
"APA? RAMA b******k!" teriak Sinta membuat seisi kelas menoleh ke arahnya. Sedangkan Bu Sutarmi menatap garang ke arah Rama dan Sinta.
"Rama, Sinta, keluar kalian dari kelas. Berdiri di depan kelas dengan satu kaki terangkat. Sekarang!"
"Tapi, Bu, Sinta yang--"
"Kamu pasti juga tidak memperhatikan, Rama. Cepat, kalian berdua Saya hukum sampai jam mata pelajaran Saya berakhir."
"Baik, Bu," kompak Rama dan Sinta.
Kemudian keduanya berjalan beriringan keluar dari kelas. Saling menatap dengan tatapan yang tajam. Menghela napas ketika telah sampai di depan kelas. Mengangkat satu kakinya ke atas. Kemudian kedua tangannya memegang telinganya sendiri.
"Lo kenapa pake teriak, Bagong!" gereget Rama dengan Sinta yang tiba-tiba teriak tadi.
"Ya gimana gue nggak teriak coba. Gue tuh kaget waktu elo bilang cewek lo hamil."
"Kapan gue bilang cewek gue hamil. Udah gue bilang kan, gue nggak punya cewek."
"Punya apa enggaknya, bukan masalah gue," putus Sinta tak ingin mendengar penjelasan dari Rama.
"Elo emang b******k ya, Ram. Tega banget ngehamilin cewek lain. Tanggung jawab lo, bawa orang tua lo ke rumah ceweknya. Sebelum si cewek tertekan terlalu dalam," nasehat Sinta bijak.
"Tertekan?"
"Iya, tertekan. Cewek lo pasti tertekan saat tahu jika dia hamil diluar nikah. Gue juga cewek Rama, jadi gue tahu gimana rasanya kalo hamil di luar nikah."
Rama hanya diam saja, memikirkan apa yang Sinta tadi katakan. Jika Laras memang beneran hamil, lantas siapa laki-laki b******k yang telah merampas kesuciannya? Apa itu ada hubungannya dengan Bima? Dengan pemikiran yang demikian, kedua tangan Rama terkepal erat. Tapi, sebagian hatinya masih tak mempercayai apa yang telah Sinta katakan.
'Nggak mungkin Laras hamil. Gue kenal sama Laras, dan dia bukan cewek yang gampangan. Dia juga pasti bisa jaga diri. Pasti Laras cuma sakit biasa, seperti yang dia bilang waktu kemarin,' batin Rama. Rama tetap berpikir positif dan tak ingin lagi memikirkan masalah Laras semakin jauh. Karena jika dia terlalu memikirkan Laras, hatinya yang lama-lama bisa terluka lagi, seperti waktu dia masih kelas sepuluh.
***
Malam hari, Rama baru saja selesak makan berdua bersama mamanya. Papanya lembur karena ada kerjaan di kantornya. Jujur saja, Rama merasa jika akhir-akhir ini papanya itu sering lembur. Bahkan jika Rama perhatikan, papanya sudah lembur tiga kali dalam seminggu. Membuat Rama kadang merasa kasihan dengan mamanya.
"Biar Rama aja, Ma, yang nyuci piring. Mama nonton televisi aja," ujar Rama setelah menyusul mamanya yang sedang menyalakan kran air di wastafel. Mamanya menoleh, kemudian menggeleng dengan senyum yang tertahan.
"Nggak usah, kamu duduk sana. Entar malah pada pecah piring Mama," balas mamanya mengingat kejadian dua minggu yang lalu saat dengan percaya dirinya Rama menawarkan bantuannya untuk mencuci piring. Bukanya piringnya semua bersih dari noda tapi malah pecah semua karena Rama mencuci dengan kekuatan yang ekstra membuat mamanya itu sedikit trauma jika melihat Rama yang menawari bantuannya lagi. Sontak Rama tertawa lebar saat mengetahui gestur gerak gerik tubuh mamanya yang terlihat kesal.
"Nggak deh, Ma. Rama udah baca buku kiat-kiat cara mencuci piring yang baik dan benar. Jadi, nggak bakal pecah lagi kok piringnya," ujar Rama tanpa beban membuat mamanya syok dengan ucapan anaknya.
"Hiihh… kamu itu ada-ada saja. Sudah sana duduk."
"Nggak, Tuan Rumah tersayang," kata Rama terkekeh merasa lucu dengan sebutan Tuan Rumah untuk mamanya itu. "Berdua aja deh, Ma. Entar Mama yang nyuci, Rama yang ngangkutin piring dari sini ke rak aja."
"Itu mah sama aja Mama yang nyuci."
"Rama udah nawarin loh. Mama sendiri yang nolak."
Mama hanya tersenyum saja tak menanggapi lagi perkataan Rama. Rama ikut tersenyum damai melihat senyum mamanya. Melihat gerakan gesit kedua tangan mamanya, membuat Rama berpikir, apakah dirinya bisa memiliki seorang istri seperti mamanya itu? Untuk menarik atensi mamanya, Rama dengan sengaja menyipratkan air ke wajah mamanya. Membuat mamanya sedikit merasa kaget dan kesal dengan tingkah laku anaknya.
"Rama, jangan main air malam-malam. Nggak baik buat kesehatan. Kalo Mama sakit, nanti yang masakin buat kamu siapa?"
"Iya iya, Ma. Maaf," ujar Rama menundukkan kepalanya, seperti anak kecil yang merasa ketakutan saat dimarahi oleh ibunya.
"Jangan diulangin lagi."
"Yes, Mommy," balas Rama dengan nada diimut-imutkan membuat mamanya tertawa karena merasa terhibur.
"Mbok," panggil Rama kepada mamanya. Mamanya langsung menoleh saat mendengar panggilan itu. Mengernyitkan alisnya merasa terheran dengan Rama.
"Siapa yang kamu panggil Mbok?" tanya mamanya terheran.
"Mama," jawab Rama cepat diakhiri dengan cengiran lebarnya.
"Tadi aja manggil Mama jadi Tuan Rumah, tadi manggil Mommy juga, sekarang ganti Mbok. Mau kamu apa sih hmm?" tanya mamanya mencubit pelan pipi tirusnya Rama setelah mengelap kedua tangannya. Rama yang mendapat cubitan kecil di pipinya bukannya marah malah tertawa senang. Berjalan mengikuti mamanya menuju ruang tengah.
"Nggak papa dong, Ma. Kan bervariasi, biar nggak bosen," ucap Rama mendudukan dirinya di karpet bulu. Sedangkan mamanya duduk di sofa dibelakangnya Rama. Setelah duduk dengan berselonjoran kaki, Rama meletakkan kepalanya diatas pangkuan mamanya. Dan secara impulsif sebelah tangan mamanya mengusap rambut Rama yang sudah mulai memanjang dengan kasih sayang.
"Terserah kamu aja deh. Entar kalo dilarang, kamu malah merajuk kayak waktu itu."
"Ye Mama nih, udah lama itu Ma. Masih aja diingat," seloroh Rama merasa jengah karena kejadian yang menurut Rama memalukan itu masih diingat dengan jelas oleh mamanya. Padahal Rama merasa malu, karena pernah merajuk seperti anak perempuam yang sedang datang bulan dulu saat dirinya masih duduk di kelas tujuh.
"Ya harus dong. Seru tahu lihat kamu merajuk kayak gitu."
Rama hanya berdeham saja sebagai balasan dari ucapan mamanya. Mama meraih remot televisi kemudian mencari siaran yang menurutnya menarik. Sedangkan Rama malah memejamkan kedua matanya meresapi rasa nyaman dan tentram saat duduk berdua dengan mamanya seperti saat ini. Teringat sesuatu dengan segera Rama membuka kedua matanya. Mendongak ke atas melihat wajah ayu mamanya dari bawah.
"Ma," panggil Rama pelan masih setia melihat wajah ayu mamanya.
"Hem," balas mama dengan dehaman saja karena mulutnya sedang sibuk mengunyah camilan kecil yang ada di dalam toples hadapannya.
"Rama boleh nggak sih, nikah sama Mama aja. Soalnya Rama udah nyaman sama Mama," ucap Rama tiba-tiba.
Plak!
Dan tak berapa lama terdengarlah suara pukulan keras yang bersarang di kepalanya Rama. Sontak Rama menegakkan tubuhnya. Mengelus kepalanya bekas amukan dari sang mama. Menatap polos ke arah mamanya yang menatap balik ke arah Rama dengan tatapan yang terlihat sangat marah.
"Mama kenapa pukul kepala Rama?" tanya Rama polos, ralat maksudnya sok polos. Sebenarnya Rama tahu jika mamanya syok setelah mendengar perkataannya.
"Heh, kamu mau berbuat menyimpang ya? Dosa besar kalau kamu kayak gitu. Sana minggir, jauh-jauh dari Mama."
Rama menggelengkan kepalanya keras. Segera memeluk kedua kaki mamanya agar mamanya tidak jadi pergi. "Nggak, Ma. Ya Allah, Rama cuma bercanda. Mama, duduk lagi dong. Elusin kepala Rama lagi."
"Nggak. Yang ada kamu malah tambah nyaman sama Mama. Terus minta cepet-cepet nikah sama Mama," balas mama yang masih berniat untuk berdiri.
"Enggak Mama, Ya Allah. Seriusan Rama cuma bercanda."
"Beneran ya, cuma bercanda?"
"Iya, Mama tersayang."
"Dih, apaan pakai sayang-sayangan."
"Ya udah. Iya Dewi!" balas Rama dengan keras memanggil nama panggilan mamanya.
"Heh kamu durhaka banget. Manggil mama cuma pakai nama doang. Mau Mama kutuk kamu jadi batu, hah?!"
"Huh. Hayati lelah Ya Allah. Nggak papa deh, Ma. Rama dikutuk aja jadi batu. Kayaknya jadi batu enak, nggak disalahin mulu soalnya."
Mamanya mendengus kesal, namun tetap duduk lagi ditempatnya. Rama segera duduk merapat dan meletakan kepalanya di atas pangkuannya mama. Membuat pola-pola abstrak di atas dahinya sendiri. Membuat mamanya menggeleng pelan. Diam-diam mengingat masa lalu saat dirinya melahirkan Rama. Apakah Rama itu adalah anak yang tertukar? Namun seingatnya tidak, Rama bukanlah anak yang tertukar. Jadi, darimana sifat anehnya Rama itu?
"Ma, Rama bisa dapet pacar secantik Mama enggak ya?" tanya Rama dengan pandangan kosong mendongak ke atas. Menatap langit-langit ruangan menebak jawaban yang akan mamanya berikan untuknya.
"Bisa dapet, bisa juga enggak," balas mama dengan mudahnya. Bahkan dirinya tak memberikan respon lebih selain itu. Hanya biasa saja kemudian mengunyah kembali camilannya. Membuat Rama dibuat mendengus kesal dengan balasan dari mama.
"Ma, jangan gitu dong. Kasih support kek buat Rama."
"Lagian kamu aneh banget. Nggak biasanya kayak gini. Kan kamu biasanya suka narsis. Kenapa malem ini beda?"
"Rama lagi insecure, Ma."
"Sok-sokan lagi insecure. Jadi beban keluarga aja sok insecure," balas mama tak peduli.
"Mama, jangan diperjelas juga dong, Ma. Tambah insecure nih Rama."
"Ya kalo kamu nggak laku sama anak gadis, biar Mama jodohin kamu sama janda sebelah."
"Nggak mau ah, Ma. Rama nggak mau."
"Ya udah, jadi perjaka aja seumur hidup."
"Mama ini makin hari makin pedes banget omongannya. Heran deh Rama. Pasti Mama sering ngemilin bon cabe nih pasti."
"Iya kali, Mama ngemilin bon cabe tiap hari," balas mamanya sewot.
"Kamu itu ya, makanya jangan suka jahil sama orang lain terutama cewek. Jangan suka sok kecakepan juga. Jadi ilfill kan cewek-cewek lihat muka kamu," ujar mamanya yang hanya diangguki oleh Rama takut jika kena omel lagi.
"Lagian, kalau kamu enggak laku, bisa tuh rebut pacar orang lain."
"Mama gue emang beda dari emak-emak yang lain," gumam Rama mengelus dadanya sendiri mendengar nasehat dan saran dari mamanya.
"Jangan begitu ya lain kali," ujar Rama tanpa beban dan saat itu juga sebuah sandal selop melayang tepat ke arah pipinya Rama. Tidak perlu ditanyakan lagi siapa pelakunya. Siapa lagi kalau bukan mamanya Rama tersayang.