Hangout

3459 Words
Jika mimpimu tak didukung oleh kedua orang tuamu, kamu harus menggapai mimpi itu dengan cara yang berbeda. Dan memperhalihatkan hasilnya yang berbeda juga. -Rama- Sore hari sepulang sekolah, Rama dan Dewa pergi jalan-jalan sore menggunakan motornya masing-masing. Suasana disekitar jalanan yang sedang Rama dan Dewa lalui sangatlah asri, karena saat ini mereka sedang berkeliling di perbukitan. Mencoba suasana baru setelah lelah menghirup polusi yang ada di kota. Sedang asyik menikmati angin sore, tiba-tiba ada sebuah motor menyalip mereka. Dan hampir saja menabrak Dewa yang posisi motornya hampir di tengah jalan. "Woy, berhenti woy!" teriak Dewa kesal karena hampir saja dirinya tertabrak oleh pengendara motor yang baru saja melewati mereka itu. Rama menarik gas motornya, ingin mengejar si pelaku. "Woy, Wa! Kejar ayo!" seru Rama menoleh ke belakang ketika tak mendapati keberadaan Dewa dan motornya di sampingnya. "Kejar buru, woy!" "Iya, bentar. Gue kejar nih! Sial, nih motor kudu di servis," ujar Dewa kesal dengan kondisi motornya yang melaju dengan sangat lambat. Rama yang melihatnya berdecak, kemudian menarik gas motornya dan meninggalkan Dewa sendirian dibelakang. Rama menambah kecepatan laju motornya. Bahkan beberapa serangga kecil yang berterbangan di udara, dia tabrak begitu saja membuatnya tanpa sengaja mulutnya Rama kemasukan hewan kumbang kecil. Wajar saja, jika di daerah seperti ini ada serangga yang bebas berterbangan apalagi sekarang sudah sore, banyak serangga yang keluar daei sarangnya. Karena kumbang kecil itu, membuat Rama terbatuk-batuk. "Heh bocah prik! Berhenti woy!" teriak Rama menghentikan si pelaku. Si pelaku menoleh ke belakang, membulatkan kedua matanya saat melihat Rama yang sudah berada di belakang motornya. Seakan tak ingin tertangkap, si pelaku menambah kecepatan laju motor miliknya. "Sial, malah tambah kenceng. Gue doain lo kemasukam kumbang kayak gue!" teriak Rama lagi dengan mengacungkan jarinya seolah benar-benar memberi peringatan dan doa kepada si pelaku. Rama berdesis saat jarak antara dirinya dengan si pelaku semakin jauh. Saat dirinya akan menyumpah serapahi si pelaku, terlihat gestur si pelaku jika dia memang terbatuk. Sontak saja Rama tertawa puas melihatnya. "Rasain tuh, bocah! Dibilang berhenti masih aja ngeyel. Kena karma kan," ujar Rama kemudian dengan segera menghampiri si pelaku yang sudah turun dari atas motornya. Setelah sampai disampingnya pelaku dengan segera Raam turun dan menghampirinya. "Kan udah gue bilang- Uhuk! Uhuk! Bau apa nih! Uhuk! Bagong, tenggorokan gue. Uhuk uhuk uhuk!" "Bentar, Mas. Saya- Uhuk uhuk! Selesaiin batuk Saya- Uhuk uhuk! Dulu. Habis itu kejar-kejaran lagi. Uhuk uhuk uhuk!" ujar seorang anak laki-laki berseragam putih biru yang sudah dengan beraninya mengendarai sebuah motor tanpa helm. Mendengar perkataan dari si anak laki-laki itu sontak Rama membulatkan kedua matanya. "Lo kira- Uhuk uhuk! Gue seneng ngejar lo? Uhuk uhuk! Mending gue ngejar- Uhuk uhuk! Bidadari uhuk uhuk uhuk!" balas Rama diselingi dirinya yang terbatuk-batuk karena asap yang ada di sekitar sana sangat menusuk hidung dan paru-paru. "Gue seneng, Mas. Soalnya seru uhuk uhuk." Si anak menepuk bahu Rama dengan santainya. Membalas perkataan Rama yang berhasil membuat Rama bertanya, apakah si anak laki-laki itu masih memiliki rasa kewarasan meskipun sedikit saja? "Uhuk uhuk, seru gundulmu!" maki Rama kesal membuat si anak laki-laki tertawa senang meskipun dirinya masih terbatuk-batuk. Tak berapa lama datanglah Dewa dengan motor yang sudah cukup berumur. Dengan santainya Dewa turun dari motornya dan dirinya tak merasa batuk sekalipun. Rama yang duduk membelakangi Dewa, bertanya dengan tampang heran. "Wa, lo uhuk uhuk. Kenapa nggak batuk uhuk uhuk!" Setelah berucap demikian, Rama membalikkan tubuhnya. Berdecih kesal saat melihat mulut dan hidungnya Dewa tertutupi sebuah kain warna hitam dengan motif tengkorak, yang dia gulung setengahnya untuk dia jadikan masker dadakan. "Makanya, kalo mau naik motor itu patuhi protokolnya. Pake helm pake juga masker," balas Dewa dengan kekehan bangganya sembari menunjuk dua benda yang dia pakai dikepala dan di sekitaran mulut serta hidung. "Inget, gong! Lo selalu nggak bawa SIM uhuk uhuk! Lagian lo dapet itu kain dari mana sih, Wa?" "Ini itu kain serbaguna. Gue dapet kemarin habis malak emak gue, saat nememin emak belanja di pasar. Tadi waktu sekolah, ini kain gue gunain buat lap tangan setelah gue habis dari toilet. Cerdas kan gue," cerita Dewa membuat Rama dan si anak laki-laki saling memandnag dengan tatapan yang berbeda. Tak berapa lama keduanya merasakan mual di perutnya. "Jorok lo!" balas Rama dan si anak laki-laki itu dengan kompak bahkan berhasil membuat Dewa terperanjat kaget sampai mundur selangkah. "Yang penting bisa selamat. Namanya juga kain serbaguna," bela Dewa dengan kedua tangannya terangkat ke atas. Kemudian dia arahkan untuk membuka helmnya. Sehabis itu dirinya melepaskan ikatan kain yang ada di belakang kepalanya. Dengan segera Dewa melepaskan kain yang menutupi mulut dan hidungnya karena asap sudah tak menyengat lagi. Bahkan sudah tidak ada. "Heran gue, di tempat sepi kayak gini, tiba-tiba aja ada asap. Bikin tenggorkaan gue gatel aja," decih Rama yang menulusuri sekeliling lingkungan di sana. Tapi tetap saja mereka tak menemukan seseorang ataupun api yang menyala di sekitar sana. "Atau jangan-jangan, ini asap jin Aladin," usul si anak laki-laki membuat Rama san Dewa dengan kompak memandang penuh tanda tanya ke arahnya. Sedangkan si anak kecil itu memberikan usulannya dengan tampang yang biasa saja. Seolah itu tak menganggu kenyamanannya. "Maksud lo, cil?" tanya Dewa yang tak paham dengan perkataannya si anak laki-laki tadi. "Iya. Kata emak gue, didaerah sepi emang sering tiba-tiba muncul asap. Katanya kalo tiba-tiba ada asap, bakal diikuti sama kemunculan jin." "Sialan lo, cil! Jangan nakut-nakutin napa!" marah Rama yang tiba-tiba merasakan hembusan aingin disekujur tubuhnya. Apalagi dibagian tengkuk dan tangannya karena Rama tak memakai jaket. Bahkan Dewa juga merasakan hal yang sama seperti apa yang Rama rasakan. "Maksut lo jin Aladin? Nggak mungkin jin Aladin yang di kartun itu kan?" tanya Dewa memastikan. Jika memang benar yang dimaksud itu adalah jin yang muncul seperti jin yang ada di kartun dan bisa mengabulkan tiga permintaan, Dewa akan maju paling depan untuk memberikan tiga permintaannya. Dan yang paling pertama yang Dewa minta adalah untuk mengubah motornya menjadi motor sport sekelas dengan motorny Rama. Hitung-hitung menghemat uang servis. "Ya, kagaklah. Lo aneh-aneh aja, Mas," balas si anak laki-laki meruntuhkan harapannya Dewa. "Terus jinnya apaan?" Kali ini giliran Rama yang bertanya karena penasaran. "Disini kan Indonesia, Mas, lo tahulah hantunya kayak gimana," jawab si anak laki-laki dengan bersedekap d**a membuat Rama dan Dewa dengan kompak saling merapatkan diri berdiri berdempetan. "Eh itu-" ucap si anak laki-laki menunjuk sebuah lahan kosong yang berdiri sesosok berpakaian putih semuanya. Bahkan terlihat jika sosok itu seperti terbang dengan sangat cepat. "MISS K! ITU MISS K!" teriak Rama kesetanan. Segera meraih helmnya. Dan menarik Dewa untuk segera pergi dari sana. "KUNTILANAK! KABUR WOY KABUR!" Dengan kecepatan kilat, Rama dan Dewa segera menancapkan gas motornya. Pergi berlalu dari tempat mereka berpijak tadi. Sedangkan si anak laki-laki yang ditinggalkan hanya mengerjap-erjapkan kedua matanya dengan tatapan polos. "Itu kayak balon udara mini," kata si anak laki-laki itu melanjutkan perkataannya tadi yang tertunda setelah balon berwarna putih yang disangka kuntilanak oleh Rama dan Dewa, mulai terbang mendekatinya. "Cih, badan doang yang besar. Nyalinya kayak semut," ucap si anak laki-laki meremehkan Rama dan Dewa yang sudah tak terlihat lagi. "Lumayanlah, dapat balon geratis. Entar gue terbangin lagi ah." Setelah memadamkan sedikit bara apinya, si anak laki-laki dengan seragam yang bertuliskan Tono itu memungut balonnya. Setelah itu dia lipat dengan sempurna agar benangnya tidak kusut. Setelah selesai Tono menaiki motornya. Bersiap pulang dengan membawa sebuah balon udara yang niatnya akan dia berikan kepada adik laki-lakinya. Pikirnya, jika adiknya itu pasti akan merasa senang. Tak berapa lama, tiba-tiba dirinya mendengar derap langkah kaki seseorang. "Dek-" "KUNTILANAK!" teriak Tono yang tak sempat berbalik dan malah menarik gasnya meninggalkan orang itu. Sedangkan seorang perempuan yang baru saja memanggil Tono itu menggelengkan kepalanya pelan. "Anak zaman now, emang nggak ada akhlak. Gue cuma mau minta tolong anterin ke suatu tempat padahal." *** Malam hari, Rama baru saja mengerjakan tugas sekolahnya. Meskipun Rama sering memandag sebelah mata ucapan papanya, tapi Rama tak pernah melalaikan tugasnya. Bagaimana pun juga, belajar adalah salah saru kewajibannya siswa. Dan itu juga akan membuat untung dirinya sendiri esok dihari mendatang. Rama adalah tipikal orang yang ingin mewujudkan impiannya meskipun banyak yang tak mendukungnya. Dan impiannya adalah bisa menjadi hacker profesional, yang bisa memberantas kejahatan di teknologi atau cybercrime. Apalagi kasus cybercrime mulai merembak pada saat ini. "Boring banget malem ini," ujar Rama sembari mengunyah permen karetnya. Kemudian melangkah mendekati meja komputernya. Kini komputernya sudah menyala, karena tadi Rama sempat menekan tombol play sebelum mengerjakan tugasnya. Rama membuka asal sebuah situs website. Dan tiba-tiba seseorang mengiriminya sebuah pesan, dia temannya di dunia maya, si @Arber. @Arber Lagi ngapain lo? Gue nggak ganggu kan? @Hacker_Boy Lagi gabut, nggak nggak ganggu sama sekali. Ada apa? @Arber Nggak, gue juga lagi gabut. Nggak ada kerjaan. @Hacker_Boy Ohh, sama. @Arber Btw, lo tahu soal Alugora Cyber? Sebuah perusahaan tempat berkumpulnya para hacker profesional. Yang bertugas memberantas seluruh Cybercrime di dunia, baik di Indonesia atau luar negeri. Keren kan? @Hacker_Boy Nggak, gue nggak tahu. Perusahaan mana tuh? Luar negeri? @Arber Nggak, Alugora Cyber itu perusahaan Indo. Makanya tempatnya ada di Indo. Lebih tepatnya di Bali. @Hacker_Boy Kok gue baru tahu? @Arber Kudet banget lo. Wajah Rama berseri, sepertinya mimpinya bisa dia gapai, mimpi ingin bekerja menjadi seorang hacker yang handal. Dengan semangat, Rama mengetikkna balasan untuk temannya. Yang awalnya dia sangat boring sekali kini dirinya menjadi sangat bersemangat untuk membalas chat dari teman dunia mayanya itu. @Hacker_Boy Kira-kira menurut lo, gue bisa kerja disana? @Arber Yakin nggak yakin. Tapi kalau tekad lo gede, gue yakin lo pasti bisa. Btw, gue juga pengen bisa masuk disana. @Hacker_Boy Kita punya mimpi yang sama kan? @Arber Bener lo. Moga-moga kita bisa masuk, bisa jadi satu team dengan Alugora Cyber. @Hacker_Boy Moga-moga aja bisa. Btw, selama lo jadi hacker, lo punya prinsip? @Arber Punya, kalau lo? @Hacker_Boy Jelas punya. Ehm gue ada ide buat ngeremix prinsip hacker gue sama punya lo. Setuju? @Arber Boleh juga tuh. Hingga akhirnya Rama dengan @Arber saling berembuk membuat prinsip hacker ala mereka berdua. Setelah kurang lebih lima belas menit, akhirnya ada lima prinsip yang harus merek pegang selama menjadi hacker. @Hacker_Boy Dari hasil diakusi tadi, ada lima prinsip yang udah kita buat. 1.Selaku ada server dan koneksi jaringan, hacker selalu menyertai. 2. Hacker yang baik tak akan melanggar hak privasi orang lain, kecuali dengan persetujuan seseorang 3. Hacker sangat membahayakan, oleh karena itu saat melakukan suatu aksi harus bisa berpikir dengan logis. 4. Seorang hacker tidak boleh merugikan orang lain. 5. Jadilah White Hat Hacker yang sejati. Udah kan? Ada yang mau ditambahin? @Arber Gue pikir, itu cukup. @Hacker_Boy Sip, deal kan? @Arber Deal. Rama melirik jam wekernya, sudah pukul sebela malam. Dirinya tak menyangka ternyata waktu secepat itu. Rama hanya menikmati percakapannya via online dengan temannya itu dan ternyata kini waktu sudah cukup larut malam. Dengan segera Rama meraih keyboardnya untuk membalas pesannya. @Hacker_Boy Gue mau tidur, chattingannya lanjut besok. @Arber Okey. Setelah menutup website khusus ruang chatingan antar hacker, Rama segera mematikan komputernya. Membuang permen karetnya yang sudah tak berasa, kemudian tidur. Mematikan lampu kamarnya dan dia ganti dengan lampu tidur. Setelah itu dirinya menidurkan tubuhnya dikasur. Setelah merasa nyaman Rama segera menutup kedua matanya setelah memanjatkan doa akan tidur. Bahkan tak sampai lima menit dirinya sudah memasuki alam mimpi. *** "Lo kenal Banu nggak? Banurejo, anak sebelas IPA empat," ujar Naya membuka obrolannya pada jam istirahat kali ini. "Cuma tahu orangnya aja sih. Emang kenapa?" balas Sinta sembari mengunyah kentang gorengnya. "Kemarin, gue ketemu dia di sebelah gang komplek gue. Nah dia itu kan gendut tuh anaknya, dia lagi jogging ceritanya. Katanya sih pengen ngurusin badan. Pas ditengah jalan, eh malah dikejar anjing. Ya terus gitu, program dietnya dia berhasil, tapi akhirnya malah kecemplung di got." "Kok bisa?" tanya Sinta heran. "Ya bisa dong, kan dia mau udahan joggingnya, tapi si anjing nggak mau berhenti ngejar dia. Terpaksa si Banu lari terus. Pas lari, dia nggak lihat depan, terus kesandung deh dan langsung nyemplung di got. Lucu banget kan." "Hahaha, astaga untung gue nggak lihat pas dia nyemplung di got. Kalau gue lihat langsung gue jamin, gue nggak bakal berhenti ketawa. Hahaha." "Terus ada lagi nih. Lo kenal sama Ika nggak? Ika Kartina nama panjangnya," kali ini Naya membawakan cerita dengan cerita yang berbeda. "Kalo yang ini gue nggak kenal." "Ya udah gue ceritain aja. Si Ika ini kan suka pamer tuh anaknya. Kebetulan temen satu kelasnya ada yang benci banget sama dia." "Terus?" ujar Sinta tak sabaran. "Terus-" Tiba-tiba ada sahutan dari sebelah mereka. Sinta dan Naya yang tak menyadari jika ada orang disampingnya sempat terperanjat kaget. "Cewek itu mulutnya emang satu ya. Satu komplek maksutnya," cibir Rama yang sudah memerah raut wajahnya mendengar gibahan Sinta dan Naya. Sontak Sinta dan Naya menoleh ke arah Rama dengan kilatan mata yang tajam. "Kalo nggak mau denger gibahan kita, sumpelin tuh telinga lo pake kaki gajah," balas Naya keki. "Pergi aja lo, ganggu girl's time kita aja," ucap Sinta marah. Rama menoleh sinis, "Ya tempat duduk gue disini, kenapa juga gue harus pergi." "Lo itu ya cowok ngeselin-" Teng! Teng! Teng! Ucapan Sinta terhenti karena bel masuk berbunyi. Membuat Rama menyunggingkan senyum penuh kepenangannya. Sedangkan Sinta mendengus kesal dan melirik ke arah Rama penuh akan rasa dendam. "Shhttt, udah ngomongnya. Sekarang waktunya belajar," kata Rama sembari menutup mulutnya Sinta dengan telapak tangannya. Sinta kaget, langsung menepis telapak tangannya Rama. "Ihh, asem!" teriak Sinta. Rama mendekatkan telapak tangannya ke dekat mulut. Setelah itu terkekeh senang. "Oops sorry, lupa cuci tangan habis makan rujak," kata Ramai santai. "RAMA!" murka Sinta. Dengan refleks Rama mengangkat tangannya, "Hadir!" Sinta mengusap dadanya, menenangkan dirinya agar tak tersulut godaan setan. Naya menarik tangannya. Meminta perhatiannya Sinta karena ada sesuatu yang ingin dia sampaikan. "Eh Sin, gimana kalu nanti pulang sekolah kita hangout?" Sinta menoleh, langsung tersenyum senang. "Boleh. Ke mall ya?" "Okey. Siapp." Rama hanya mendengus kesal saat melihat Sinta langsung senang. Setelah pulang sekolah, Sinta dan Naya langsung hangout ke mall terdekat. Kurang lebih setengah jam perjalanan, Sinta langsung menarik tangan Naya memasuki mall. "Ke alat make up aja yuk," ajak Sinta senang. "Tersrah elo deh. Gue mah ngikut aja," balas Naya sembari tersenyum. Sinta langsung mengajak Naya ke toko alat make up langgananya. Mereka melakukan berbagai hal. Mulai dari melihat-lihat bermacam eyeshadow, mencoba berbagai lipstik, lipsglos dan lipsblam, sampai bermain perang-perangan eyeliner. Setelah selesia Sinta mengajak ke tempat lain. "Hahaha, kasian ya mbak kasirnya. Kita cuma main aja, beli kagak," ujar Naya kemudian tertawa lagi. Sinta menghapus air matanya, akibat kebanyakan tertawa, "Hahaha, bener juga lo. Untung kita nggak dipanggik security. Kalo sampai dipanggil, mau ditaruh dimana muka gue." Mereka masih berbincang sembari mengelilingi mall. Tak berapa lama kemudian, Naya merasa lapar dan mengajak Sinta untuk makan terlebih dahulu. Mereka menemukan sebuha restoran cepat saji, segera Sinta dan Naya memasuki restoran itu dan memesan makanan dan juga minuman. Tak sampai sepuluh menit, makanan pesanan mereka sudah siap. "Nay, gue penasaran banget sama mantan lo. Kenapa lo bisa putus sama mantan lo?" tanya Sinta setelah menyelesaikan makanannya. Naya memutar sedotan minumannya, terlihat sedang berpikir. "Dia yang ninggalin gue." Sinta tampak tercengang, "Terus lo iyain aja pas mantan lo minta putus?" "Ya habis mau gimana lagi. Dia itu super wah," terang Naya. "Gue terlalu halah, untuk dia yang wah." Sinta terdiam, kemudian hanya mengganggukan kepalanya. "Gue harap, itu sebagai pembelajaran buat lo. Dan gue yakin, lo bakal dapet cowok yang lebih baik dari mantan lo," ucap Sinta tulus. Naya terharu, dia langsung menarik Sinta ke dalam pelukannya. "Ahh, thanks banget ya Sin. Lo emang temen terbaik gue." "Thanks juga Nay. Lo juga temen terbaik gue." Setelah aksi saling berpelukkan, Sinta melepaskan pelukanya. Ingin bertanya, karena masih banyak pertanyaan menyangkut mantannya Naha. "Tapi Nay, kata lo, mantan lo jelek. Kenapa lo bisa jadi insecure gini?" Naya terdiam, sebenarnya dulu Naya hanya bercanda bilang jika mantannya jelek. "Sebenarnya mantannya gue ganteng banget orangnya. Sumpah Sin, gue sampek nggak nyangka bisa pacaran sama dia. Dan satu lagi, sebenarnya gue masih sayang sama dia," ujar Naya. "Siapa sih orangnya?" "Ada, pokoknya rahasia. Gue takut lo malah nikung gue. Kan gue mau ngajak balikan dia," kekeh Naya. Sinta hanya menggekengkan kepalanya, "Udah mantan aja, masih diarepin." "Ya nggak papa kali. Kalo dia mau ya sah aja kan?" "Suka-suka elo deh Nay," putus Sinta akhirnya. Kemudian melirik jam tangannya. "Udah mau sore, pulang yuk." "Ya udah yuk." Setelah membayar semuanya, Sinta dan Naya langsung turun ke lantai pertama. Ketika akan membuka pintu, seseorang memanggil Sinta. Orang itu berjalan mendekati dua gadis itu. "Seriusan Nay, gue penasaran sama mantan-" "Sinta!" panggil seseorang dari arah belakang. Sontak Sinta dan Naya memutar tubuhnya ke belakang, membuat keduanya terkejut. Tak berapa lama, kedua gadis itu merubah raut wajahnya. Sinta dengan wajah bahagianya sedangkan Naya berbanding terbalik, Naya dengan wajah gelisahnya. "Euhmm, Sin gue mau pergi-" "Bentar dulu, gue mau ngenalin pacar gue ke elo," kata Sinta kemudian melambaikan tangannya ke seseorang yang tadi memanggilnya. "Hai Sayang, habis dari mana?" sapa Sinta ke pacarnya. Ya benar, seseorang yang memanggilnya tadi adalah pacarnya. Si laki-laki mendekat ke arah Sinta kemudian memberikan satu kecupan di dahinya Sinta. "Tadi, habis beli barang buat mama," balas cowok itu. "Dia siapa, Yang?" tanya cowok itu sembari menunjuk Naya. Naya yang ditunjuk tentu saja terkejut. Bukan seperti yang kalian bayangkan, Naya terkejut karena suatu hal yang lain. "Oh iya yang, kenalin ini temenku di Angkasa Wijaya. Namanya Naya," Sinta memperkenalkan Naya ke pacarnya. "Kenalin gue Raja, pacarnya Sinta." Cowok yang bernama Raja mengulurkan telapak tangannya, bermaksud ingin mengajak Naya berjabat tangan. Tentu saja Naya merasa gelisah dan juga bimbang. "Eum, gue-" Belum juga Naya membalas uluran tangannya Raja, seseorang memanggil namanya dikejauhan. Membuat Naya diam-diam bernapas lega. Merasa diselamatkan. "Naya!" Sinta, Naya dan juga Raja menoleh ke sumber suara. Sinta dan Raja mengernyit bingung sedangkan Naya menghela napasnya lagi. Rama segera berlari mendekati tiga orang yang terdiam melihat dirinya. Tak mempermasalahkan kedua tatapan dari Sinta dan Raja, Rama segera mengajak Naya. "Temenin gue beli barang. Ayo, ajak Rama yang langsung menarik tangannya Naya. Tentu saja Naya senang, dia sedikit bersemangat mengikuti langkahnya Rama. Belum jauh dari tempatnya berdiri tadi, Sinta sudah memanggilnya. "Eh Naya, lo kan belum kenalan sama pacar gue!" panggil Sinta. Bukan Naya yang menoleh tapi malah Rama, "Kenalan sama pacar lo nggak ada gunanya!" balasnya. "Apaan sih, nyambung-nyambung mulu lo, dasar cowok nyebelin," gereget Sinta. "Udahlah Yang, mending kita jalan aja yuk," Raja yang sebagai pacarnya Sinta berniat menenangkannya. "Ya udah yuk." Dilain tempat, Naya berjalan dengan sangat lesu. "Pulang aja yuk Ram," ajak Naya. "Siapa juga yang mau beli barang. Tadi cuma alesan doang," sahut Rama. "Untuk kali ini, elo penyelamat gue Ram. Huaa, gue mau nangis nih." "Gue mah baiknya udah biasa," ujar Rama memamerkan dirinya sendiri. "Huaa, dunia tak selebar ucapan mantan. Dunia emang sempit," tangis Naya. "Loh, malah nangis?" Naya menangis sesenggukan, kemudian menarik tangan Rama untuk pergi ke parkiran. "Pokoknya anterin gue pulang," putus Naya. "Tapi- Gue-." Perkataan Rama terhenti karena melihat Naya yang akan menangis lagi. "Okey fine, gue ambil motor gue dulu." Naya langsung tersenyum senang, "Thank you Rama." Dan dengan segera Rama mengambil motornya. Diperjalanan, Naya tiba-tiba menangis lagi. Bahkan kali ini lebih kencang. "Elo nangisin apa sih Nay. Sakit kuping gue," ujar Rama, merasa gondok karena sejak tadi Naya terus menangis. Masalahnya Naya menangis tepat di telinganya Rama. Meskipun sudah terhakangi helm, tapi suaranya masih terdengar. "Hiks, kenapa mantan gue nggak mati ya?" gumam Naya yang masih bisa didengar oleh Rama. Rama hanya mengernyitkan alisnya, heran. "Dulu katanya, nggak bisa hidup tanpa gue. Sekarang kok dia masih hidup?" Naya melanjutkan kegiatan menangisnya. Dan Rama hanya mendiaminya saja. "Biasa, masalah cinta," gumam Rama terhadap dirinya sendiri untuk tak menghujat Naya yang sedang patah hati. "Terus, kenapa mantan gue lebih bahagia daripada gue? Hiks." Tiba-tiba, Rama dikagetkan dengan pukulan yang mendarat dipunggungnya dengan sangat keras. Menjalar keseluruh tubuhnya. Meringis karena dirinya tak bisa membalas perbuatannya Naya. Bahkan dirinya hanya bisa menahan u*****n untuk Naya yang akan keluar dari bibirnya itu. "Kenapa dunia ini tak adil ya Tuhan. Kenapa?!" teriak Naya masih memukuli Rama. "Kalo lo patah hati, nggak usah gue yang jadi pelampiasannya. Datengin tuh mangan lu, terus lo hajar. Gue jamin pasti lo langsung lega," saran Rama. "Nggak bisa, hiks," ujar Naya. "Gue masih sayang sama dia." "Terus, lo mau ngerebut dia dari temen lo?" Naya merasa tertampar dengan pertanyaan dari Rama. Seketika tangisnya terhenti, Rama yang melihat wajah Naya yang terdiam, hanya tersenyum miring. "Bener kan gudaan gue. Mantan lo, yang sekarang jadi pacar temen lo?" tanya Rama memastikan tapi Naya hanya diam saja. "Lo diem berarti dugaan gue bener." Naya masih diam saja, dan Rama hanya menghela napasnya. "Ikuti kata hati lo, jika hati lo memang masih sayang, lo harus lerjuangin dia. Tapi hati lo bilang kalau lo lebih sayang temen lo, lo harus relain dia," nasehat Rama. Tak ada balasan dari Naya lagi, Rama juga tak menginginkan balasan. Rama hanya ingin Naya mengambil jalan yang benar. Agar Naya tak menyesal nantinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD