CCTV

3725 Words
Hidup itu hanya sekali. Jadi gunakanlah sehatmu untuk berbuat baik dan bersenang. Dan juga, perbanyaklah .teman daripada musuh. -Rama- Hari semakin petang. Sebentar lagi matahari tenggelam di ufuk barat. Membuat beberapa lampu taman, lampu jalanan, lampu toko-toko, lampu perumahan dan juga lampu cafe mulai menyala dimana-mana. Tak terkecuali cafe yang Rama datangi kali ini. Ya, Rama masih duduk bersantai disana sejak dua jam yang lalu bersama Nata. Mereka berdua masih betah bahkan tak menyadari jika para pekerja sudah bergantian shif untuk menjalankan tugasnya di malam hari. Cafeku, cafe yang Rama datangi adalah cafe yang bisa dikatakan cukup besar. Dengan bertemakan unsur klasik dan dipadukan warna hijau dari tanaman yang tersebar dimana-mana. Berkonsep dua lantai, membuat cafe ini bisa menampung lebih banyak pelanggan daripada cafe yang lainnya. Beberapa hiasan klasik seperti sepeda Jawa tua, pemutar musik jaman dahulu, dan masih ada hiasan lainnya, membuat cafe ini seakaan lebih meriah dan berkelas. Bahkan jika dilihat dari tempat duduknya juga beragam bentuk dan ukurannya. Terdapat di halaman gedung cafe ini, berdiri beberapa tenda mini untuk pelanggan yang menyukai suasana outdoor. Didepan teras, ada beberapa meja panjang terbuat dari kayu jati yang dipahat sedemikian cantiknya yang dengan sengaja dibuat menyatu dengan kursinya. Didalamnya lebih menarik lagi, karena ada beberapa kursi yang terbuat dari rotan yang di letakkan dipojok-pojok ruangan dan hanya berisi satu meja dan empat kursi. Di bagian tengah dan meja kasir diletakkan beberapa kursi terbuat dari besi yang disusun tinggi. Tak lupa juga lampu led mini yang menyala terang di langit-langit dengan dirakit menyilang. Sungguh, cafe ini terlihat sangat mewah menurut Rama. Rama menoleh ke arah sepasang kakak beradik yang masih kecil berusia sekitar lima sampai tujuh tahunan, yang baru saja berjalan melintas didepannya. Menatap dengan tatapan yang berbeda saat melihat pautan tangan yang terjalin di antara keduanya. Tanpa bisa dia cegah lagi, ingatannya kembali pada jaman dulu waktu dia dan Tika masih TK. Lebih tepatnya sebelas tahun yang lalu. *** Saat itu, adalah hari dimana anak-anak sekolah TK yang berseragam olahraga berwarna biru putih, bertamasya ke sebuah kebun binatang. Saat itu juga adalah waktunya free, anak-anak dan orang tua boleh pergi kemana saja yang ingin mereka datangi. Yang terpenting jika sudah waktunya pulang, mereka harus kembali di titik tempat perkumpulan sebelumnya. Yaitu ditempat halaman aula kebun binatang. Waktu itu, hanya mamanya yang bisa menemani Rama dan Tika bertamasya ke kebun binatang. Arya, papanya sedang ada urusan penting di luar kota. Meskipun begitu, Rama dan Tika sempat merajuk, membuat Arya berjanji akan pergi bersama ke wahana bermain saat libur sekolah telah tiba. Karena tergiur oleh penawaran papanya, pada akhirnya sepasang kakak beradik itu pun dengan kompak menyetujuinya. "Kak, Adek mau ke sana," ucap Tika mengungkapkan keinginannya sembari menunjuk ke arah kandang burung Kakak Tua yang sangat besar itu. Rama ikut menoleh ke arah tempat yang ingin adiknya kunjungi. Dengan senyum senangnya, Rama mengangguk dan segera menarik tangan adiknya menuju kandang burung itu. Kala itu memang musim liburan, jadi tak heran banyak sekali pengunjung di kebun binatang itu. "Wah, burungnya pintar. Bisa ikutan bicara kayak kakak cantik itu," seru Tika mengungkapkan rasa kekagumannya. Rama mengangguk membenarkan. Memang pada masa-masa seperti itu, anak-anak kecil sangatlah mudah mengekspresikan semua rasa yang dia rasakan. "Iya, burungnya pintar. Kalau bisa ngomong, berarti Burung Kakak Tua juga bisa menyanyi," timpal Rama memberikan usulannya. Tak jauh dari mereka berdiri, seorang perempuan berusia sekitar dua puluh tiga, tersenyum setelah mendengar pembicaraan sepasang kakak beradik itu. Ditangan kanannya yang terbalut sarung tangan yang tebal, bertengger seekor Burung Kakak Tua berwarna-warni. Ada warna merah, kuning, hijau, dan biru menghiasi seluruh bulu ditubuhnya. Sedangkan kedua pupil matanya tetap berwarna hitam dengan kornea berwarna putih. Kedua kakinya berwarna putih gading dengan ujungnya yang berkuku berwarna hitam legam. Kakak itu kemudian jongkok didepannya Rama dan Tika. Membuat keduanya langsung takjub melihat seekor burung itu dari jarak yang sangat dekat. "Adik-Adik mau pegang burungnya?" tanya kakak perempuan itu membuat Rama dan Tika mengangguk dengan sangat bersemangat membuatnya tertawa renyah. "Memangnya kita boleh pegang burungnya?" tanya Rama hati-hati karena masih belum percaya jika diperbolehkan memegang Burung Kakak Tua itu. Membuat kakak petugas itu tersenyum dengan senang. "Iya, boleh kok. Ayo pegang," instruksinya dan langsung dilaksanakan oleh Rama dan Tika. Pertama-tama, keduanya merasa takut. Bahkan sebelum jari-jari kecilnya menyentuh bulu burung, dengan kompak Rama dan Tika menarik tangannya lagi membuat kakak petugas itu terkekeh geli. Dengan bujukan halusnya, akhirnya Rama dan Tika mencoba memegang bulu burung lagi, karena jujur saja keduanya masih penasaran bagaimana rasanya jika memegang Burung Kakak Tua. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Rama dan Tika saat ini tengah mengusap bulu burung itu dengan wajah yang terlihat sangat ceria. "Ahh bulunya lembut banget," pekik Tika senang saat telapak tangan kecilnya masih mengusapi bulu burung. "Warnanya juga nggak kalah cantik," imbuh Rama mengekspresikan rasa kekagumannya. "Tika dong, juga nggak kalah cantik sama burungnya," sergah Tika membuat Rama menoleh cepat dan mengacak rambut adiknya yang dikucir dua kanan dan kiri. "Kalau kamu, kamu anak perempuan paling cantik yang pernah Kakak temuin," balas Rama dengan keyakinan yang sangat besar untuk menyakinkan adiknya. Tika dibuat tertawa senang mendengar pengakuan jika dirinya cantik, dari kakaknya. Kembali mengusap bulu burung itu dengan penuh sayang. Bahkan si burung tak memberontak sekalipun menandakan jika memang usapan dari dua anak kecil di depannya itu berhasil membuatnya nyaman. Tak berapa lama terdengar teriakan mamanya. "KAK RAMA! DEK TIKA! AYO MAKAN DULU!" teriak mamanya yang masih berusaha mencari keberadaan dua anaknya. Membuat Tika dengan cepat menarik lengan seragamnya Rama. "Kak, Adek masih kenyang, nggak mau makan," ujarnya memelas membuat Rama menyunggingkan senyuman menenangkannya. "Sama, Kakak juga masih kenyang." "Tapi Adek mau makan-" Perkataannya Tika semakin lama semakin mengecil hingga dia hanya terdiam menggantungkan kalimatnya. Rama yang dibuat penasaran mengangkat dagu adiknya agar Tika bisa melihat raut wajahnya jika Rama tak akan marah. "Adek mau makan apa?" tanya Rama dengan hati-hati. Tentu saja Rama tak akan memarahi adik kecilnya itu. Yang ada, dia akan membelikan apa yang ingin Tika makan. "Adek penge makan itu," jawabnya kemudian sembari menunjuk sebuah stan bertuliskan es cream dipapannya. "Ya udah ayo!" ajak Rama dengan semangat yang membara. Menggenggam tangan adiknya kuat agar mereka berdua tidak terpisah. "Tapi kan, kita nggak punya uang," celoteh Tika membuat Rama seketika menghentikan langkahnya. Merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar uang berwarna biru. "Ini, Kakak punya uang kok. Ayo!" Melihat tangan kakaknya yang terdapat uang, si adik memicing curiga ke arah Rama. Membuat Rama menatapnya penuh dengan keheranan. "Kakak dapat uang dari mana? Kan Kakak nggak dikasih uang jaian tadi sama mama. Adek juga nggak dikasih sama mama." "Kakak itu tadi ambil uang mama di dompet waktu mau berangkat ke sekolah," cerita Rama memberitahu jika memang tadi pagi dirinya mengambil selembar uang dari dalam dompet mamanya. "Kakak mencuri ya? Ha ha tak patut, Kakak tak patut!" todong Tika membuat Rama gelagapan. "Enggak dong. Uangnya kan dari dompet mama, jadi Kakak nggak mencuri. Kalau mencuri itu, mengambil barang dari orang lain tanpa ijin. Lagian mama kan bukan orang lain. Mama kan ibu kandung kita. Jadi namanya Kakak enggak mencuri." "Oh, begitu ya?" tanya Tika dengan tampang polosnya dan dengan segera Rama mengangguk membenarkan saja daripada urusannya lebih panjang. Karena jujur saja dirinya juga ingin segera menyantap es cream yang terlihat sangat enak itu. "Ayo!" ajak Rama menggenggam tangan adiknya kembali. Baru beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba terdengar suara mamanya dari arah belakang. "KAK RAMA, DEK TIKA! HAYO MAU LARI KEMANA LAGI ITU? SINI MAKAN DULU!" "Ayo Kak, lari! Entar keburu ketangkap mama!" teriak adiknya panik yang langsung menarik tangannya Rama berlari menuju stan es cream. Dengan sigap Rama mengikuti langkah kecil adiknya. Menerobos orang-orang yang berjalan didepannya. Baru juga satu menit, langkah Tika mulai melambat, kini giliran Rama yang memimpin jalannya. "Kak, jangan lepasin tangan Kakak. Entar Adek bisa kesasar," kata Tika dengan napas yang tersenggal-senggal. Rama menoleh ke arah adiknya dan menatap pautan tangannya mereka. Sontak Rama berhenti berlari begitu juga dengan Tika yang mengikuti kakaknya. Rama mengangkat pautan tangan mereka. Menggenggamnya erat dengan tangan yang satunya. "Kakak janji, nggak akan pernah lepasin tangan Adek. Kakak berjanji akan selalu bersama Adek," ucap Rama penuh dengan keyakinan. Tika mengangguk dengan mengulum bibir senang. Merasa bahagia bisa menjadi adik dari seorang anak laki-laki yang kuat dan penyayang. Bersyukur bisa menjadi adiknya Rama. Tiba-tiba lengan keduanya terasa digenggam oleh seseorang, dengan kompak keduanya menoleh ke depan. Terkejut saat melihat seseorang yang menatap kesal ke arah dua anak kecil itu. "Hayo, mau lari kemana lagi kalian?" tanya mamanya dengan tatapan yang dibuat marah. "Mama!" teriak Rama dan Tika terkejut secara bersamaan. *** "Gue masih pegang janji gue, Tik. Justru elo yang lepasin tangan elo," lirih Rama yang tatapannya masih terfokuskan pada sebuah keluarga yang mana disana ada seorang bapak, ibu dan dua orang anak yang merupakan sepasang kakak beradik yang tadi melintas didepannya Rama. Nata mengernyit heran, karena sejak tadi Rama hanya terdiam dengan pandangan kosong menatap lurus ke sebuah keluarga itu. Bahkan tadi saat Nata bertanya dan meminta pendapat ke Rama, Rama tetap diam saja. Seolah Rama tak mendengarkan bahkan tak menyadarai keberadaan Nata. Nata pun berniat untuk menepuk bahunya Rama membuat Rama terkonjak kaget. "Lo kenapa? Kurang fokus daritadi. Ngopilah ngopi," ujar Nata yang langsung menyeruput secangkir kopinya. Rama mengerjapkan kedua matanya. Setelah sadar dirinya ada dimana, Rama meraup wajahnya. Terdengar napas yang senggal-senggal. Menyugar rambutnya ke belakang dengan sesekali dia jambak-jambak pelan. Nata yang melihatnya mengernyit heran. "Susah, ngelupain kenangan sama orang tersayang," kata Rama akhirnya setelah berhasil menenangkan hatinya sendiri. Mengangkat cangkirnya kemudian dia seruput isinya. Meskipun rasa kopinya sangat enak dan menggugah selera, tetap saja semua itu tak bisa melenyapkan kegundahan di hatinya. "Mantan lo?" Rama terdiam, memilih tak membalas pertanyaan yang terlontar begitu saja dari bibirnya Nata. Membuat Nata menganggukan kepalanya berkali-kali karena merasa sangat sakin dengan tebakannya itu. "Namanya juga kenangan. Diciptakan untuk mengenang seseorang bukan malah untuk dilupakan. Kalo lo emang pernah punya kenangan sama seseorang, lo harus simpan baik-baik kenangan itu di lubuk hati yang terdalam," nasehat Nata namun tak mendapat respon dari Rama. Setelah terdiam, Rama baru teringat sesuatu. Melirik ke arah Nata untuk menimang apakah dia harus bertanya atau tidak. Hingga pada akhirnya Rama memilih untuk bertanya saja. "Nat, lo kenal Sinta?" "Istrinya Rama kan? Hem, gue tahu kisah itu," balas Nata seadanya karena memang kisah Ramawijaya itu sangatlah melegenda. Jadi jarang ada orang yang tak mengetahui kisah mereka. "Bukan," balas Rama merasa kesal dengan jawaban Nata yang asal. Nata menoleh bingung, bertambah bingung saat melihat raut wajahnya Rama yang memerah menahan rasa kesalnya. "Terus, siapa sih? Gue nggak punya kenalan cewek yang namanya-" Tiba-tiba Nata terhenti. Ketika dia akan menyebut nama Sinta dengan lidahnya sendiri, secara tiba-tiba otaknya terpikirkan oleh seseorang yang dulu pernah menjadi teman satu sekolah dengannya, di sekolah SMA Sekar Arum. "Maksud lo Sinta Kartika Priscanara? "Iya, itu yang gue maksud," balas Rama tak terlihat kesal lagi. "Ya kenallah. Orang Sinta salah satu cecans di sekolah gue. Tapi itu dulu, sekarang udah enggak. Dia keluar. Gue heran sama bokapnya, kenapa mindahin Sinta di pertengahan semester gini?" Rama mengangguk membenarkan saja. Dan dia juga tahu Sinta pindah ke sekolah mana. "Gue tahu sekarang Sinta sekolah dimana." "Dimana?" "Aw. Sekolah gue, Angkasa Wijaya," balas Rama sembari menyeruput kopi pahitnya. Ya, Rama sangat menyukai kopi hitam yang pahit. Dengan begitu dia bisa merasakan rasa kopi yang khas dari asalnya. "Serius? Cuma dipindahin di sekolah lo?" "Iya," jawab Rama singkat. Teringat sesuatu lagi dan ingin kembali ke rencananya awalnya bertanya tentang Sinta, Rama memajukan kursinya agar lebih dekat dengan Nata. "Lo tahu siapa pacar, mantan, atau gebetannya dulu?" "Kenapa? Lo suka sama Sinta?" tanya Nata memandang remeh ke arah Rama membuat Rama mendengus kesal. Apa masalahnya jika Rama bertanya mengenai Sinta ke Nata? "Nggak. Gue cuma nanya. Dia sekarang duduk semeja sama gue. Heran aja, siapa cowok yang mau-mau aja ngejar cewek modelan kayak gitu." "Nggak mungkin dia semeja sama lo. Lo yang minta ya?" "Enak aja. Wali kelas gue yang nyuruh. Gue kesel ya tiap hari debat sama cewek batu macam dia." "Iihiirrr, bakalan ada bibit-bibit cinta nih," goda Nata bersiul riang. "Amit-amit gue jadian sama dia. Kecuali kalo dia kaya tujuh turunan. Gue bakal mau ngejar dia," kata Rama dengan entengnya yang mana perkataannya itu hanyalah bualannya saja. "Sinta emang kaya cuy. Anak sultan beneran itu cewek," kata Nata membuat Rama seketika terdiam memikirkan perkataannya Nata. Pikirannya mukai berkelana ke sosok yang bernama Sinta. Tapi, selama menjadi teman semejanya Sinta, Rama tak menemukan ciri-ciri kalau Sinta merupakan anak dari orang kaya. Informasi dari Nata membuat Rama berpikir ulang untuk membina hubungan baik dengan Sinta. Tapi pertanyaannya, apakah Rama bisa? *** Malam hari, Rama pulang saat jam menunjukkan pukul enam lebih sepuluh menit. Setelah memakirkan motor sportnya digarasi, Rama segera melangkah masuk ke rumah dengan perasaan yang senang, karena tak sabar menanti melakukan aksinya nanti. Baru saja masuk, langkahnya tiba-tiba berhenti saat mendengar teriakan seseorang yang memanggilnya dari ruang keluarga. "Rama, kesini kamu!" teriak papanya. Dengan langkah malas, Rama mendatangi papanya yang sedang duduk sembari menggenggam sebuah ponsel. Setelah sampai didepannya, Rama hanya mengernyitkan alisnya, meminta penjelasan. "Tadi papa sudah tanya ke wali kelasmu," kata papanya dan Rama tahu alasan kenapa papanya memanggilnya. "Kenapa nilaimu masih saja seperti kemarin? Selama ini kamu belajar atau tidur? Nilai delapan tidak bisa membuatmu masuk ke universitas favorit. Mulai sekarang kamu harus belajar sungguh-sungguh," jabar papanya. Rama hanya memutar bola matanya sebagai respon. Langsung membalikkan badannya meninggalkan sang papa, menuju ke kamarnya. "Rama mau ke mana kamu? Papa belum selesai bicara!" Rama membalikkan tubuhnya lagi, "Katanya disuruh belajar tadi." "Ya sudah, sana belajar," kata papanya. Rama melanjutkan perjalanannya menuju ke kamarnya yang ada di atas. "Sekali lagi, sampai nilaimu tak sempurna, mulai minggu depan, kamu tidak boleh keluar setelah pulang sekolah. Papa akan menyuruh seseorang untuk mematai-mataimu," ucap papanya yang tentu saja membuat Rama kaget kemudian mengepalkan kedua telapak tangannya. Rama tak suka jika harus diikuti oleh orang dari papanya. Dirinya tak merasa leluasa, apalagi tak boleh keluar setelah jam sekolah selesai. Rama hanya diam saja, kemudian dia melanjutkan perjalannya. Sesampainya di kamarnya, Rama segera membanting tasnya tak lupa untuk mengunci pintunya. Mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Tak berapa lama kemudian, kini Rama terlihat lebih segar. Setelah memakai pakaiannya, Rama segera duduk di meja komputernya, mulai menyalakannya. Setelah Komputer dalam mode ready, Rama meraih toples permen karetnya, seperti biasa Rama akan mengunyah permen karet sembari melakukan aksi meretasnya. "Andai gue bisa kabur dari ini rumah," gumam Rama kemudian membuka situs website di salah satu platform google, mencari sebuah situs yang sudah dia hapal. Setelah menemukannya, Rama segera menuliskan kolom pencaharian dengan aksi meretasnya, yaitu meretas cctv. Tak lama kemudian Rama menekan tombol enter. Setelah proses loading selesai, Rama mengernyitkan alisnya. "Gue butuh info lebih banyak lagi," kata Rama kemudian mengambil ponselnya. Mencari kontak yang ingin dia tuju, Rama akan menelponnya. "Halo?" "Halo Nat, gue butuh info lebih banyak lagi. Jangan tutup telponnya sebelum gue suruh," sahut Rama yang kini sudah siap mengetikkan infonya ke dalam beberapa kolom pencaharian. "Okey," balas Nata diseberang sana. "Cctv yang akan dituju?" Rama membaca perintahnya. "Cctv milik pemerintah, enter." "Letak tempat cctv yang akan dituju?" ujar Rama. "Dimana Nat, lebih tepatnya?" "Jalan aster putih nomor dua belas, Salam Indah, Suka Maju, Solo," balas Nata. Rama segera mengetikkan apa yang Nata sebutkan. Setelah menekan tombol enter, ada lima cctv yang tersebar tepat di alamat yang Nata sebutkan. Rama diam sebentar, "Posisi cctv yang bisa merekam jelas kejadian, bagian mana? Disini ada lima cctv yang tersebar." Tak ada balasan dari Nata, menandakan Nata sedang berpikir."Cctv diatas lampu lalu lintas, yang ada didepannya toko emas Emasku." Rama mencari cctv yang Nata maksud. Tak berapa lama senyumnya mengembang. "Ketemu," ujar Raam senang. "Waktu kejadian?" "Bentar gue inget-inget dulu," ucap Nata membuat Rama memutar bola matanya. "Hari minggu, tanggal lima Maret kemarin, pukul lima belas sampai enam belas perkiraan kejadiannya." Rama hanya mengangguk saja, Rama mengetikkan informasi yang Nata berikan setelah itu tampilan website berganti. Kini tampilannya, sudah masuk di dalam rekaman cctv dan Rama hanya memantau kejadian yang terjadi dari pukul tiga sore sampai empat sore, dan itu membutuhkan waktu yang lama. Saat sedang melihat isi rekaman, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya. Tok! Tok! Tok! "Anjir," umpat Rama kesal. "Kenapa? Lo ketahuan sama polisi?" tanya Nata yang mendengar umpatannya Rama. "Bukan," ujar Rama kemudian mengganti tampilan komputer dengan sebuah mata pelajaran dengan sangat cepat, karena Rama menggunakan bot. Segera Rama mengambil bukunya asal, dan dia buka tepat didepannya. "Rama buka pintunya!" teriak papanya. "Bentar!" balas Rama kemudian merogoh tasnya, mencari bolpoin. "Gue matiin dulu telponnya. Kalau udah nemu gue kirim ke elo," ujar Rama sembari berbisik di telepon. "Okey." Tiba-tiba terdengar gedoran pintu yang sangat keras. "Rama, sekarang!" "Iya, iya!" Dengan segera Rama membuka pintunya, didepan pintu ada papanya yang berdiri dengan raut wajah menahan emosi. Rama hanya menyengir saja. Papanya masuk, menilik konputer milik Rama. "Sedang apa kamu?" "Lah, tadi katanya disuruh belajar," ujar Rama malas. Papanya mengelilingi kamar Rama, kemudian melihat tampilan komputer lagi setelah itu melihat isi bukunya Rama. "Kamu belajar beneran kan?" tanya papanya lagi yang terlihat tak yakin. "He em," balas Rama sekenanya. "Ya sudah kamu lanjutkan belajarnya. Jangan ngelakuin hal yang aneh-aneh." Setelah berucap demikian, papanya segera keluar dari kamar Rama. Rama hanya menghela napas lega. Langsung Rama mengunci pintunya lagi. Duduk di depan komputernya, melanjutkan aksi meretasnya. Rama menekan bot lagi, sehingga dengan sekali tekan, tampilannya sudah kembali ke rekaman cctv tadi. Lima belas menit memantau isi rekaman, kini kedua matanya membelalak. Seperti ucapannya Nata, memang kecelakaan itu terjadi dengan disengaja. Rama melambatkan isi rekamannya. Sebuah mobil Sedan putih melaju dengan kecepatan yang standar, tak berapa lama, sebuah mobil Jeep, melaju disampingnya. Ada aksi seperti saling menghimpit, karena posisi mobil Sedan berada tepat disebelah pembatas jalan, membuatnya tak leluasa melepaskan himpitan dari mobil Jeep. Dengan kecepatan yang sedikit bertambah, pada akhirnya mobil Jeep menghimpit mobil Sedan dengan sangat keras, sehingga membuat mobil Sedan menabrak pembatas jalan dan kap mobil seketika hancur dan mobil Sedan mengeluarkan asap. "Bagong!" umpat Rama merinding. Tak berapa lama, seseorang dari dalam mobil Jeep keluar. Masih belum terlihat wajahnya, namun tak berapa lama, si pelaku penabrakan terlihat di kamera cctv. Si pelaku masih terlihat muda, seperti seusi dengan Rama. Dia memakai seragam yang sama persis digunakan oleh Nata tadi. Rama tak tahu siapa namanya, yang Rama tahu si pelaku adalah anak Sekar Arum. Rama merekam ulang kejadian yang ada di rekaman cctv. Setelah kurang lebih delapan menit Rama merekam, Rama segera meninggalkan situs website peretasan. Memindah rekamannya ke ponselnya. Meng-log out akunnya, tak berapa lama Rama meng-close tampilan websitenya. Menekan tombol shut down, dan segera komputernya mati. Rama segera naik ke kasurnya, mulai mengirim rekaman soft copyannya. Setelah selesia mengirimnya ke Nata lewat w******p, Rama mengetikkan beberapa kata. Nata SA Rama|| Itu rekaman yang lo minta. Seperti dugaan elo, pelakunya dari anak Sekar Arum. Tugas gue selesai, jika lo butuh bantuan lo bisa hubungi gue lagi. Nata|| Sekali lagi thanks ya Ram, elo udah mau bantu gue. Dan ini udah ngebantu banget. Rama|| Santai aja kali sama gue. Nata|| Siap bos. Rama hanya membaca pesan dari Nata kemudian dirinya terkekeh menanggapinya. Mulai mematikan lampunya, dan tak mengindahkan ucapannya tadi kepada papa yang bilang jika dia sedang belajar. Rama bersikap bodo amat, yang ingin dia lakukan sekarang adalah cepat-cepat tidur karena seluruh badannya terasa lelah tak bertenaga. *** Kini di sekolah Angkasa Wijaya sedang berlangsung jam istirahat. Sedari tadi, kegiatan Rama hanyalah menjaili Sinta. Sampai membuat Naya dan Dewa yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya saja. Menyerah atas tingkahnya Rama. "Jadi pacar gue ya, gue bisa beliin lo istina boneka loh," ujar Rama sembari menjawil bahunya Sinta. Dengan segera Sinta menepis tangan Rama dengan keras membuat suara yabg terdengar keras. "Ogah, pacar gue malah bisa beliin gue Disneyland." "Gue bisa buatin elo candi Prambanan persis bentuknya sama yang asli," ujar Rama lagi. "Tapi lo harus mau jadi pacar gue dulu." "Pacar gue bisa buatin gue patung Liberty," Sinta masih membela pacarnya. "Gue bisa ngajak lo ngedate ke Bali." "Pacar gue bisa ngajak gue ngedate ke Paris." "Gue bisa-" "Stop! Udah napa, pusing gue denger depatan lo berdua," lerai Naya yang sudah merasa muak mendengar perdebatan kedua temannya itu. Tiba-tiba ponselnya Sinta berbunyi, dan itu membuat Sinta tersenyum senang. "Ngapain lo senyum- senyum kayak maklampir gitu? Kerasukan lo?" sindir Rama dengan tatapan sinis. "Iri bro? Gini nih, yang nggak pernah ngerasain yang namanya pacaran," sindir Sinta balik. Rama paham, apa alasan Sinta tiba-tiba tersenyum, tak berapa lama Rama hanya memutar bola matanya mendengar sapaan Sinta ditelepon. "Halo Yang, ada apa?" tanya Sinta yang merubah gaya bicaranya sedikit lebih halus. Rama mencibirkan bibirnya, mengikuti perkataan yang diucapkan oleh Sinta tanpa suara. Naya dan Dewa yang melihatnya malah menatap bingung. "Kenapa lo?" tanya Dewa ke arah Rama. "Cemburu lo?" tebak Naya. "Nggak, gue cuma risih aja denger orang yang pacaran ALAY kayak gitu!" kata Rama sembari mengeraskan kata 'alay' berniat menyindir Sinta. Sinta yang merasa tersindir hanya meliriknya malas. Kemudian Sinta melanjutkan percakapannya dengan sang pacar. "Ya udah, kamu jangan malem-malem ya main sama temennya. Oh iya jangan lupa makan juga," nasehat Sinta kepada sang pacar. Mulut Rama gatal ingin menghujat, "Percuma nyuruh pacar makan. Yang kenyang juga bukan elo." Naya dan Dewa dibuat tertawa karena cibiran Rama sedangkan Sinta meliriknya kesal. Rama melempar tatapan mengejeknya yang berhasil membuat Sinta bertambah kesal tiada tara. "Makannya yang banyak, Aku nggak mau ya Kamu jatuh sakit," ujar Sinta lagi. "Maksudnya apa coba, nyuruh pacar makan tapi nggak nyuruh minum. Mau pacarnya mati keselek?" dan lagi, Rama mencibir. Sontak Sinta mencambak rambut Rama dengan bruntal, membuat Rama mengaduh kesakitan. Sedangkan Naya dan Dewa hanya tertawa ngakak terpingkal-pingkal. "Ya udah, aku tutup dulu. See you Sayang," Sinta menutup telponnya langsung mencambak rambut Rama dengan tangan yang satunya. "Aarrgh! Woy, Sin udah woy! Sakit nih kepala gue," adu Rama. "Biarin, elonya nyebelin. Wlek," ucap Sinta kemudian melepaskan kedua tangannya. "Oops, banyak yang rontok nih," kata Sinta kemudian memperlihatkan kedua tangannya. "Arggh, rambut gue," Rama menangisi rambut rontaknya. Sinta, Naya dan Dewa kini tertawa bersama. Sedangkan Rama sedang mengumpulkan rambutnya yang rontok ke atas meja. Merabanya dengan gangan yang bergetar sukses membuar Sinta, Naya dan Dewa tertawa terpingkal-pingkal. "Makanya Ram, kalau sampoan pake sampo yang botolan," ujar Sinta. "Jangan yang rentengan," lanjut Naya. "Yang botolan tentu harganya lebih mahal," tambah Dewa. Melihat tampang Rama yang menahan emosi, berhasil membuat Sinta, Naya dan Dewa tertawa lagi. Sampai-sampai Dewa tak kuat menahan air matanya yang akan keluar sebentar lagi "Awas lo bertiga," intimidasi Rama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD