Menarik

3637 Words
Jangan mengoleksi kemalasan. Tapi koleksilah keuletan. -Rama- Drrt! Drrttt! Drrtt! Mendengar suara jam weker yang berdendang, Rama secara otomatis menendang jam wekernya sampai terjatuh dari atas nakas. Membuat suara ribut yang mulai menjalar ke seluruh sudut kamarnya. Merentangkan kedua tangannya dan menggigau entah berkata apa. Setelah puas merenggangkan kedua tangannya Rama terdiam lagi. Napasnya mulai teratur lagi, membuat keheningan tercipta di ruang kamarnya. Namun keheningan tak berlaku lama, tiba-tiba suara benda terjatuh mulai terdengar. Bruak! "Arrghh, kasur sialan!" maki Rama yang sontak membuka kedua matanya. Mengusap punggungnya yang jatuh menghantam lantainya. Berdiri dengan bibirnya berdecak penuh kekesalahan. Mengangkat kakinya kemudian dia tendang ke arah kasurnya dengan kekuatan yang sangat kuat. "Mamam, mamam tuh! Rasain!" katanya penuh dendam. Kemudian mengusap punggungnya lagi. "Sakit weh punggung gue! Dasar kasur laknat. Nggak ada sopan-sopannya sama majikan sendiri," omelnya terus berlanjut dengan decakan kesal setiap detiknya. Rama melirik ke arah jam wekernya lagi, tak berapa lama kedua matanya membulat dengan sempurna saat melihat deretan angka disana. Bergegas ke kamar mandi dengan sebelah tangannya yang menyambar handuk dari balik pintu. Menutup pintunya dengan sangat keras membuat pajangan furnitur di belakang pintu terjatuh ke lantai. Setelah mandi kilat hanya lima menit dan persiapan lainnya tiga menit, Rama segera berlari menuruni anak tangga. Decakan penuh rasa kesal dari dasar hatinya terdengar lagi saat indra penglihatannya tak menemukan satu orangpun dibawah sana. Terutama mamanya. "Ma! Mama, Anakonda sudah bangun nih! Siapain sarapan dong!" teriak Rama setelah sampai di lantai dasar. Pandangannya menelisir semua sudut rumahnya. Hingga tak berapa lama, kedua netranya melihat ke arah meja makan. Alisnya mengernyit saat melihat sebuah benda yang tak asing baginya. Rama pun segera mendekat. "Ck, kebiasaan. Ngedate nggak ajak anaknya," dengus Rama setelah membaca benda yang tergeletak di atas meja makan yang ternyata adalah secarik kertas bertulisan catatan yang ditulis oleh mamanya. 'Rama, papa sama mama mau ke kantornya papa. Ada acara penting disana. Kalau kamu mau sarapan, itu diatas meja udah mama siapin sarapan buat kamu.' Begitulah kalimat yang tertulis di secarik kertas note itu. Dengan kesal Rama meletakkan kembali kertas di tempatnya. Duduk dengan sengaja dia hentakan keras membuat bunyi yang memekikan telingan. Baru satu suapan, Rama baru teringat sesuatu. "Gue telat! Dasar b**o!" teriaknya kemudian berlari meninggalkan meja makan. Baru tiba di ruang tengah, Rama teringat sesuatu. Dengan terburu-buru Rama kembali ke meja makan. Meraba-raba meja makan tapi tak menemukan apa yang dia cari. "MAMA! UANG JAJAN RAMA MANA?!" teriaknya kesal dengan kepala terdongak ke atas. Merasa jika semua adalah sia-sia, dengan lesu Rama berjalan keluar dari rumahnya. Membanting pintunya dengan kekutaan yang dasyat. "Rumah gede, tapi lupa ngasih uang jajan ke anaknya," cibir Rama yang mulai mengeluarkan motor merahnya . Brum! Brum! Brum! Dengan rasa kesalnya yang berlipat-lipat, hingga akhirnya Rama pergi berangkat ke sekolah. Melintasi jalan raya yang mulai padat akibat hari semakin siang. Menyalip beberapa kendaraan lain untuk mengejar waktu. Dan ya, akhirnya Rama berhasil tiba di depan gerbang sekolahnya. Mematikan motornya didepan gerbang gedung sekolah. Tepat berada di samping halte bus. Rama baru teringat, jika khusus pagi ini, bel masuk sekolah akan terlambat tiga puluh menit daripada hari-hari sebelumnya, karena ada rapat pagi untuk semua guru dan karyawan. Dengan segera Rama turun dari atas motornya. Mengambil sebungkus permen karet kemudian dia kunyah dan sesekali membuat gelembung-gelembung dari permen karetnya. Setelah itu dirinya berjongkok di samping motornya. Menengadahkan sebelah tangannya ke atas. "Daripada entar istirahat gue nggak bisa makan, ngemis ajalah gue," ujar Rama dengan tampang tanpa dosanya. Melirik di sekitarnya, Rama menyadari jika suasana sudah sepi. Pasti para siswa tidak mengetahui jika pagi ini sedang ada rapat pagi. Hanya Rama yang tahu, karena tadi malam dirinya meretas jadwal milik sekolah, yang para guru dan karyawan jadwalnya mereka simpan di dalam server. Dan tadi malam Rama meretas komputer di perpustakaan. Alasan Rama meretas komputer disana, karena jelas komputer itu milik sekolah bukan personil. "Minta, Dek. Minta uangnya. Itung-itung sedekah buat hari esok," ujar Rama tetap menengadahkan sebelah tangannya dengan kepala seeikit menunduk saat salah seorang anak kecil berseragam merah putih melintas di depannya. "Kak, Kakak beneran nggak punya uang ya?" tanya si anak kecil itu. Dengan tatapan polosnya. "Iya Dek. Kakak nggak punya uang," balas Rama dengan suara yang dibuat-buat sedih. "Kalau Kakak nggak punya uang, kenapa Kakak bisa punya motor gede. Kakak jatuh miskin ya?" Skakmat! Rama melotot terkejut mendengar alasan si anak kecil berseragam merah putih itu. Sontak saja Rama berdiri dari posisi jongkoknya. Menenteng kedua tangannya dipinggang. Menantang si anak kecil. "Heh cil, siapa yang lo bilang jatuh miskin? Gue? Heh denger ya, gue itu anak sultan. Duwit gue ada banyak," ujar Rama dengan percaya dirinya. Namun tak berapa lama dirinya berkata dengan suara yang lirih. "Cuma, bukan punya gue. Tapi punya bokap." "Kalo Kakak, Kakak itu sultan, kenapa Kakak minta-minta? Malu Kak sama Tuhan," nasehat si anak kecil membuat Rama melotot tak terima dinasehati oleh si anak kecil. "Lagian, kalo Kakak udah nggak punya duwit, Kakak bisa jual motornya kok. Motor kayak punha Kakak kalo dijual bisa kok buat buka warung mie ayam." "Heh cil, lo jangan sok tahu ya. Siapa bilang kalo motor gue dijual bisa buat buka warung mie ayam? Gue kasih tahu ya, motor gue kalo dijual itu bisa buat beli tanah satu lapangan," ujar Rama tak mau kalah dengan si anak kecil. Si anak kecil terdiam dengan jari yang memijat dagunya sembari melihat ke arah motornya Rama. Seakan-akan sedang menghitung berapa uang yang didapat jika motornya Rama itu dijual. "Nggak, Kak. Itu nggak dapat. Kalo motor Kakak dijual cuma bisa buat buka warung mie ayam," ujarnya tetap pada pendiriannya. Rama maju satu langkah. Sedikit menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan tinggi si anak kecil itu. Menilai si anak kecil dari ujung atas sampai ujung bawah. "Kenapa lo yakin banget? Kasih gue alasannya." "Karena, bapak aku pembeli barang second, Kak," jawab si anak kecil ceria membuat Rama terlonjak kaget. Dengan buru-buru Rama pamit ke si anak kecik itu. "Kakak pamit masuk sekolah dulu, Dek. Assalammualaikum!" Setelahnya Rama mendorong masuk motornya memasuki gerbang yang belum ditutup. Mungkin karena ada rapat jadi Pak Supri, satpam sekolah belum menutup pintu gerbangnya. "Ternyata gue kalah adu mekanik sama itu bocil," kata Rama mengakui kekalahannya terhadap si anak kecil tadi. Setelah memarkirkan motornya dengan tepat. Rama segera berjalan menyusuri lorong. Tentu saja di lorong ramai oleh para siswa. Jelas saja, karena pembelajaran belum dimulai. Tiba-tiba datang seorang gadis berpita merah dikepalanya yang merupakam adik kelasnya. "Selamat pagi Kak Rama," sapa gadis itu dan Rama hanya berdeham sebagai jawabannya. Gadis itu merengut tapi tak berapa lama dirinya tersenyum ceria kembali. "Kak, Kak Rama mau nggak jadi pacar aku?" "Enggak!" balas Rama tanpa berpikir panjang. "Yah, kenapa Kakak enggak mau?" "Karena lo cerewet." "Ihh, kenapa Kakak nggak mati aja sih?" sungut gadis itu yang sudah berkali-kali menggoda Rama tetapi tidak ditanggapi oleh Rama. Hanya untuk kali ini dan itu bukanlah jawaban yang gadis itu inginkan. "Lo nggak tanya, gue mau hidup bareng sama elo apa enggak?" kata Rama setelahnya membuat si gadis mengurungkan niatnya yang akan pergi meninggalkan Rama sendirian. Ditanya seperti itu sontak saja si adik kelas tersenyum malu-malu. "Emang Kakak mau hidup bareng aku?" Terlihat dari suaranya, si gadis itu terlihat sangat berharap. Berharap jika kali ini Rama akan luluh degan dirinya. "Nggak!" "Ihh, cowok b******k!" Dengan segera si gadis berlari meninggalkan Rama yang sudah tertawa terbahak-bahak dibuatnya. Rama menggelengkan kepalanya. "Sukurin, salah sendiri. Jadi cewek centil amat," seru Rama meneriaki gadis yang sudah berlalu pergi dari hadapannya. Dengan segera Rama melanjutkan jalannya menuju ruang kelas. "Pagiku cerahku, matahari bersinar. Kugendong tas merahku, didengkul-" Nyanyian Rama terhenti saat merasaakan panas dikepala bagian belakang. Plak! "b**o kok dipelihara sendiri, nggak ada niatan dizakatin gitu?" sindir Nakula, seperti biasa. Rama terdiam memikirkan perkataan Nakula barusan. Mengangguk kemudian karena setuju. "Boleh juga tuh usul lo Na. Besok deh gue zakatin." "Bodo!" murka Nakula kemudian berjalan mendahului Rama. Rama segera berlari mengejar Nakula hingga sampai di depan kelas. Pandangannya jatuh kepada best friends-nya, Dewa. Mengernyit heran saat melihat Dewa menyandarkan tubuhnya ke dinding kelas, terlihat lesu. "Kenapa lo?" tanya Rama yang berjalan mendekat, menaruh tasnya di atas mejanya. Dewa menoleh lesu, terlihat seperti zombie yang kekurangan makanan dan asupan gizinya. "Belum sarapan," balasnya lesu. "Ya udah sono makan di kantin. Nggak nafsu makan? Sini biar gue yang makan," ujar Rama ngasal. Tiba - tiba Dewa merubah raut wajahnya seperti orang yang sedang tertimpa musibah. Mengangkat kedua telapak tangannya ke atas. "Ya Allah, semoga kemiskinan ini hanya prank," ujar Dewa. "Amin." Rama hanya mendengus kesal, dia tahu penyebab Dewa tak sarapan. "Nggak punya uang lo?" tanya Rama baik-baik. "Ngeremehin gue lo?!" tanya Dewa ngegas. "Gue tanya baik-baik bagong!" sahut Rama yang ikut ngegas. Nakula berjalan ke arah kedua temannya, "Udahlah, ribut mulu lo pada. Masih pagi juga." Dewa dan Rama saling menolehkan pandangannya berlawanan, mendengus kesal. Keheningan tercipta, Rama dan Dewa masih saling memalingkan wajah. Bahkan Nakula hanya duduk diam sembari membaca buku paketnya, tak menghiraukan kedua temannya. Rama segera bangkit dari tempat duduknya, menepuk bahu Nakula untuk menarik perhatiannya. "Kalo ada yang nyariin gue, bilangin gue lagi pergi," pamit Rama. "Emang lo mau pergi ke mana?" tanya Nakula sembari mengernyitkan alisnya. "Bilang aja gue lagi kumpul sama pare," sahut Rama. "Lagi curhat sama pare tentang pahitnya mencintai namun tersakiti." "Lah?" cengo Nakula tak paham. Rama tetap jalan lurus keluar dari kelas. Tak berapa lama, Sinta dan Naya masuk ke dalam kelas. "Na, temen lo yang satu kemana?" tanya Naya, karena tak biasanya Rama pagi - pagi sudah ngilang. Biasanya juga siang baru menghilang. "Kumpul sama pare," balas Nakula seadanya. "Ngapain?" tanya Naya lagi dan Nakula hanya mengedikkan bahunya. Sinta menoleh ke arah Naya, tersenyum jail ke arah Naya. "Suka lo sama Rama?" tanya Sinta mengusili Naya. "Apaan, orang nyebelin kek gitu, mana bisa gue suka," balas Naya tak suka. "Lagian masih gantengan mantan gue." "Acie, yang galmon. Emang siapa sih mantan lo. Bisa aja kan gue kenal sama orangnya," kata Sinta menanti jawaban. Naya menoleh lesu, "Rahasia, anak kecil nggak boleh tahu." "Yaelah masih aja main secreto," cibir Sinta. "Gue janji dah, nggak bakal gue bocorin ke siapa - siapa." Naya hanya menggeleng, dan Sinta hanya menggembungkan pipinya. Menolehkan wajahnya ke arah lain. "Siapa juga yang bilang gue punya mantan?" tanya Naya yang saat ini terlihat sedikit lebih ceria. Sinta menoleh dengan wajah bingung, "Lah tadi lo bilang-" "Gue cuma bercanda kali," kekeh Naya. Sinta yang kesal segera menggelitiki Naya sampai membuat Naya kegelian. "Nih nih rasain, siapa suruh bohongin gue," masih saja Sinta menggelitiki tubuh Naya. "Hahaha ampun dong Sin, kan gue cuma bercanda. Sinta udah, berhenti geletiki gue. Hahaha, Sinta stop." Naya yang mendapat kesempatan segera berlari menjauhi Sinta. Dan langsung saja Sinta mengejar Naya. Aksi mereka sampai di luar kelas. Saat Naya sedang berlari, tiba - tiba kepalanya menubruk seseorang. Bruk! "Aduh, kepala gue bocor," erang Naya sembari mengusap jidatnya. "Alhamdulillah," sahut seseorang yang ada di depannya Naya. Sontak Naya menegakkan kepalanya. Menoleh ke atas, dan tiba - tiba kedua bola matanya melebar dengan sempurna. "Heh cowok bregedel, kalo ngomong jangan sembarangan dong," ucap Naya sembari menuding Rama dengan jarinya. "Apaan sih, jadi cewek sensian mulu. Gue bilang alhamdulillah karena tadi gue habis sarapan di kantin," sahut Rama dengan melempar tatapan malasnya. "Halah ngeles mulu lo jadi cowok." "Siapa juga yang ngeles, orang gue ngomongin fakta." "Lo itu ya-" "Cie, yang suka berantem. Ujung-ujungnya juga bakal jadian," tanpa rasa malunya, Sinta berteriak mengintrupsi kedua makhluk berbeda kelamin itu. Sontak saja Rama dan Naya menoleh ke arah Sinta dengan tatapan melototnya. Sedangkan Sinta hanya menyengir lebar. Rama tak berkomentar, segera pergi meninggalkan Sinta dan Naya. Setibanya di kelas, Dewa hanya diam dengan memainkan ponselnya, tanpa berucap, Rama memberikan sekantong plastik kresek ke arah Dewa. Dewa yang masih kaget dengan adanya kantong kresek itu hanya melotot saja. Kemudian menoleh ke arah Rama. "Makan aja, gue jamin halal," kata Rama kemudian duduk di bangkunya. Dewa segera membuka kantong kresek itu. Segera mata Dewa berbinar saat melihat beberapa potong gorengan. Ada bakwan goreng, tempe goreng, bakso goreng, dan sebotol air mineral. Segera mencopot gorengannya, Dewa tersenyum senang ke arah Rama. "Thanks ya Ram, lo emang temen paling pengertian." "Lah ngapain? Gue cuma ngambilin doang. Itu elo yang ngutang ke neng Ayu," balas Rama. "Lah, elo nggak beliin buat gue?" "Ya kagaklah." sahut Rama santai. "Jangan lupa dibayar." "Rama!" murka Dewa dan Rama hanya tersenyum manis saja. Bel pun berbunyi, tanda jam pelajaran dimulai. Seorang guru dengan dandanan yang 'wah' memasuki ruang kelas dengan tergesa - gesa. "Beri salam kepada Bu guru," ujar Aldo memberikan aba - aba. "Selamat pagi abu guru!" sapa semua siswa. "Selamat pagi anak-anak. Bagaimana kabar kalian? Tidak usah kalian jawab karena Ibu sudah tahu. Sekarang materi kita adalah Bab Observasi. Sekarang kalian bentuk kelompok lima anak, lima anak. Saya beri waktu lima menit untuk mencari anggotanya setelah itu akan Ibu beri tugas. Waktunya dimulai dari sekarang. Ayo kalian cari anggota kelompoknya," perintah Bu Martiyem kepada seluruh siswa yang ada di dalam kelas. Rama mendengus kesal, "Seperti biasa, to the point sekali," ujar Rama kesal. Sinta menoleh ke arah Rama, bingung juga mau ikut gabung dengan siapa. Bu Martiyem yang melihat Rama masih duduk diam dibangku segera meneriaki. "Rama, jangan bermalasan kamu. Ayo cari anggotanya. Cepat jalan!" Rama hanya memutar kedua bola matanya, dia melihat ke arah depan. Tepatnya ke arah Nakula yang masih duduk diam di tempatnya. Kemudian pandangannya jatuh kepada dua orang yang duduk tepat di depan mejanya. Rama maju, mengulurkan kedua tangannya, menarik kerah baju milik Dewa dan juga Naya. "Lo berdua gabung sama gue," perintah Rama mutlak. "Woy tangan lo!" teriak Dewa dan Naya berbarengan. Tanpa rasa bersalah, Rama melepas kedua cengkeramannya. Menoleh ke arah depan lagi. "Woy Nakula, lo gabung sama gue!" teriak Rama memanggil Nakula. Nakula hanya mengangguk malas. Nakula segera berjalan ke meja Rama. Setelah itu mengambil asal meja dan kursi terdekat. Segera menyusun meja yang akan mereka tempati untuk berkelompok. Setelah beberapa menit, akhirnya kelas mulai tenang. Kini posisi kelompok Rama sudah tertata rapi. Rama berhadapan dengan Sinta. Dewa berhadapan dengan Naya dan Nakula duduk menghadap ke ruangan kosong. "Okey, sekarang semua sudah mendapatkan kelompoknya kan. Tidak usah dijawab, karena Ibu tahu kalian semua sudah mendapatkan kelompok. Okey lanjut saja, Ibu beri tugas ke kalian, kalian harus mencari lima teks observasi. Setelah itu kalian cari struktur dan ciri kebahasaannya. Setelah selesai kumpulkan tugasnya ke ketua kelas. Tugas ini dikerjakan sampai waktu pelajaran Ibu selesai. Ibu ada urusan, jadi Ibu mau keluar dulu. Apa ada pertanyaan?" tanya Bu Martiyem sebelum benar-benar meninggalkan ruang kelas. "Tidak Bu!" jawab semua siswa kompak. Bu Martiyem mengangguk dan langsung saja pergi keluar kelas. "Na, lo kan pinter. Mubazir kali punya otak pinter kalo nggak digunain. Nah mending lo kerjain tuh itu tugas," suruh Rama tanpa rasa bersalah. Nakula mendengus kesal, "Gini nih yang bikin gue mikir dua kali buat gabung satu kelompok sama elo." "Ya elah Na, tugasnya gampang loh. Buat elo mah cuma kecil." Nakula tak menjawab, tapi dia segera meraih sebuh buku tulis. Mulai mengerjakan tugasnya sendirian. Sedangkan Rama segera membuka permen karet yang tadi pagi dia beli di kantin. Dewa segera melanjutkan acara sarapannya. Sinta dan Naya malah asyik bergosib ria. Dua puluh menit kemudian, mereka berlima masih bertahan dengan kegiatannya masing-masing. Bahkan sudah beberapa kali Sinta dan Naya berselfi dengan berbagai gaya. "Eh Sin, lo kenal sama Queensha nggak?" tanya Naya setelah melihat sebuah postingan di i********:. "Enggak, emang siapa dia?" "Dia itu kakak kelas kita. Kelas dua belas, IPS tiga," sahut Naya yang masih fokus di ponselnya. "Beuh dandanannya udah perisi cabe-cabean." Sinta yang kepo hanya melirik ponselnya Naya. Setelah itu hanya memandang Naya dengan pandangan flat. Naya menatapnya dengan pandangan bertanya. "Lo kenapa Sin?" "Ya biasa kali, namanya juga anak IPS. Kalo dandan ya sering gitu," balas Sinta sekenanya. Naya hanya menyengir lebar. Kemudian Naya mengscroll postingan milik Queensha. "Ghibah mulu lo berdua," cibir Rama yang sedari tadi menguping pembicaraan Sinta dengan Naya. Sontak saja Sinta dan Naya hanya mendengus kesal. "Kita itu tidak pernah ghibah. Kita hanya melakukan studi kualitatif mengenai perilaku manusia menggunakan metode focused group discussion," sahut Naya. Rama yang malas mendengarkan ocehan dua gadis didepannya langsung menyumbalkan earphone di kedua telinganya. Naya lanjut mengscroll instagramnya. "Sebenarnya gue insecure Sin," kata Naya sedih. "Kenapa?" "Lihat bodynya dia, bikin gue insecure." Sinta menoleh kemudian menarik kedua bahunya Naya agar Naya menghadap ke arahnya. "Nay, dengerin apa yang gue bilang," kata Sinta. "Lo itu memang nggak sempurna, nggak ada manusia sekali pun yang sempurna. Tapi dibalik itu, lo pasti punya kelebihan. Dan kelebihan lo itu bakal jadi penarik buat cowok yang baik untuk lo. Jadi, jangan insecure lagi yah." Naya mengangguk, dan segera memeluk Sinta, "Gue seneng banget bisa jadi temen lo, Sin." "Gue yang lebih seneng, bisa jadi temen lo. Lo juga temen pertama gue disini," balas Sinta. Hingga akhirnya Sinta dan Naya saling berpelukan. Aksi kedua tak lepas dari pandangan Rama. Tanpa kedua cewek itu sadari, Rama tersenyum diam-diam menyaksikan keduanya. Tiba-tiba Naya menarik diri. Melepaskan pelukannya dengan Sinta. "Oh iya Sin, bye the way lo pindah sekolah karena apa? Nggak mungkin kan karena lo nggak naik kelas." "Ya bukanlah," balas Sinta sewot. "Terus?" "Gue nggak tahu," balas Sinta lesu. "Maksutnya?" tanya Naya, Rama, Dewa dan Nakula kompak. Bahkan Sinta dibuat kaget dengan pertanyaan mereka yang sama. "Ya gue nggak tahu. Tiba-tiba saja papa gue mindahin gue. Padahal gue nggak bikin ulah disana. Papa gue juga nggak ngasih penjelasan yang jelas. Papa gue bilang, gue pindah ke sini supaya aman," cerita Sinta akhirnya. "Tapi gue masih belum tahu alasan yang pasti gue dipindahin." Naya, Rama, Dewa dan Nakula hanya menganggukan kepala. Mereka saling diam, memikirkan kemungkinan alasan Sinta dipindahkan. "Mungkin," kata Rama. "Bokap lo tahu kalau di sini ada jodoh lo." Dewa dan Nakula yang paham maksut Rama hanya menatap flat. Sinta dan Naya malah terheran. "Siapa?" tanya Naya mewakili pertanyaan Sinta. "Gue," balas Rama bangga. "Feeling ortu nggak pernah salah kan?" "Ngarep!" teriak Sinta dan Naya bebarengan. Sinta melirik ke bawah, ke arah sepatunya. Ternyata salah satu tali sepatunya terlepas. Buru-buru Sinta menunduk, membenarkan tali sepatunya. Tak lama kemudian Sinta duduk kembali ke tempat semula. Rama menoleh ke arah Sinta. Memandangkan ke sebuah kalung yang baru pertama kali ini dia lihat. Kalung itu sangat cantik, dengan bandul batu permata warna merah muda yang sangat indah. Terlihat cukup sederhana namun elegan. Menyadari tatapan dari Rama, Sinta akhirnya ikut menoleh. Dengan buru-buru Sinta memasukkan kalungnya ke dalam seragam sekolah lagi. Sinta menoleh lagi ke arah Rama yang terlihat sedang tersenyum manis ke arahnya. "Ngapain lo senyum-senyum nggak jelas gitu?" tanya Sinta. Bukannya menjawab, Rama malah mengagumi kalung milik Sinta. "Menarik." Alis Sinta berkenyit, "Apanya?" "Yang tadi," sahut Rama. "Cantik, sama kayak yang punya." Sinta hanya memutar kedua bolanya malas saat mendengar gombalan dari Rama. *** Saat ini, jam pulang sekolah sudah berbunyi. Rama masih bertahan didalam kelas, karena Rama bosan jika harus pulang awal. Tiba - tiba ada sebuah notifikasi muncul di ponselnya. Alis Rama sedikit mengernyit saat membaca sebuah pesan dari nomor tak dikenal. "Gue butuh bantuan elo, Rama. Kita ketemuan di Cafeku jam tiga sore. Sebelumnya kenalin, gue Dewanata, anak Sekar Arum." From: 0881XXX To: Rama Meskipun bingung dari mana cowok itu mendapatkan nomornya, Rama tetap mengiyakan saja. "Okey, gue ke sana sekarang." From: Rama To: 0881XXX Segera Rama meraih kunci motor yang tergeletak di atas meja. Sekarang sudah pukul tiga lebih empat puluh menit, dengan tergesa - gesa, Rama menuruni anak tangga. Setelah lima menit perjalanan, akhirnya Rama sampai di depan Cafeku. Setelah melepas helm fullfacenya, Rama segera masuk. Baru saja memasuki ruangan, tiba - tiba ada yang memanggilnya. "Rama!" teriak seorang cowok dengan melabaikan tangannya. Rama segera mendekat. "Elo?" tanya Rama. Cowok itu mengangguk. Berdiri dan menyodorkan telapak tangannya. "Kenalin, gue Dewanata panggil aja Nata." Rama memyambut uluran tangan itu, "Ramawijaya, panggil aja Rama." Cowok itu hanya mengangguk dan tersenyum. "Ngomong - ngomong darimana lo dapet nomor gue?" tanya Rama to the point. "Gue dapet nomor lo dari temen gue yang ada di Angkasa Wijaya. Lo kenal Antasena kan? Nah itu sobib gue." Rama mengangguk karena kenal dengan Antasena, si cowok badung beralis tebal. "Terus, kenapa lo nyuruh gue ke sini?" Raut wajah Nata terlihat berubah. "Sebenarnya gue ngalamin suatu peristiwa. Adik gue meninggal akibat tabrak lari. Tapi sampai sekarang, belum ada yang mengetahui pelakunya. Gue tahu disana ada cctv, tapi pihak kepolisian nggak mau memperlihatkan isi rekamannya. Mereka bilang, bahwa yang salah itu adek gue. Tapi gue nggak yakin kalau kecelakaan itu terjadi akibat kesalahan adik gue," cerita Nata. Rama mendengar dengan seksama, kini dia dapat menyimpulkan apa maksud ajakan Nata untuk bertemu. "Jadi, maksud lo gue ngehack cctv milik pemerintah? Yang mana cctv ini adalah rekaman sebuah kecelakaan adik lo?" "Bener, itu yang gue ingin minta tolong ke elo. Lo mau kan nolongin gue?" balas Nata. Rama terdiam sebentar, mungkin aksinya kali ini lebih berbahaya dari aksi - aksi yang sebelumnya. Karena aksi ini harus berhadapan langsung dengan kepolisisan. Tapi Rama cukup tergiur dengan tawaran itu, karena Rama merasa tawaran tersebut cukup menantang baginya. "Okey gue mau," ujar Rama akhirnya. "Nama jalannya?" "Jalan Aster putih nomor dua belas. Tepat di depan toko emas Emasku." Rama mencerna baik informasi yang diberikan oleh Nata. Dia hanya menganggukan kepalanya. Tiba - tiba Nata menyodorkan sebuah amplop. "Nih." Rama bingung, "Buat?" "Kata Anta, siapa yang minta bantuan lo pasti ngasih duwit ke elo," ucap Nata. "Dan ini nggak seberapa, gue harap lo bisa terima." Rama mengambil amplop itu. Meniliknya sebentar kemudian dia masukan ke dalam tasnya. "Thanks banget, seharusnya lo nggak usah gitu. Anggep aja gue nolong demi kebaikan," kata Rama dan Nata hanya tersenyum. "Tapi kalau emang lo maksa, gue bisa apa?" ucap Rama terkekeh sedangkan Nata hanya mendengus kesal dan kemudian ikut terkekeh. Hingga akhirnya Rama dan Nata saling berbincang hingga waktu yang cukup lama. Rama juga sangat friendly dengan orang lain, jadi tak heran jika Rama gampang nyambung saat berbincang dengan orang baru. Misalnya dengan Nata saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD