Teman Dunia Maya

3310 Words
Kehidupanku berbanding terbalik dengan realita. Aku punya uang banyak, tapi teman-temanku hanya itu-itu saja? -Rama- Semilir angin sore sangat cocok untuk menemani raga yang tengah lelah sehabis beraktifitas seharian. Tak terkecuali untuk laki-laki seusia anak sekolah SMA. Dia adalah Rama. Rama sedang berdiri di atas rooftop sekolah pada jam empat sore. Dirinya belum berniat segera pulang ke rumahnya. Merentangkan kedua tangannya ke samping, dengan perlahan menutup kedua matanya dan terakhir menarik napasnya pelan-pelan. Rama lakukan hal tersebut untuk menenangkan pikirannya. Lagi-lagi bayangan seorang gadis remaja melintas di benaknya. Dia adalah adik perempuannya, yang meninggal dua tahun yang lalu. Benaknya terlempar pada kejadian itu, kejadian suram dihidupnya. Ralat paling suram. -Dua Tahun Silam- Saat itu, sepulang sekolah, Tika seharian itu selalu menghindari Rama, kakaknya. Rama yang merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Tika dengan gencar selalu bertanya ada apa. Tapi Tika sendiri selalu menghindarinya. Biasanya mereka akan berangkat atau pulang sekolah bersama meskipun keduanya mengendarai motornya masing-masing. Ya, Tika memang lebih seneng mengendarai motornya sendiri. Dirinya memang berbeda dari gadis yang lain. Disaat kebanyakan anak gadis lebih suka duduk di jok belakang, Tika lebih memilih untuk duduk di jok depan. Katanya, itu lebih menantang bagi dirinya sendiri. Rama terlihat gusar saat pesan dan telponnya tidak dibalas oleh Tika. Dengan berlari sangat kencang, Rama menjemput si adik di kelasnya. Dan pemandangan di kelas itu, membuat Rama membelalakkan kedua matanya. Disana, Rama melihat Tika sedang dipojokkan ke dinding oleh seorang laki-laki badung adik kelasnya. Saat itu Rama kelas sembilan dan Tika kelas delapan. Tanpa berpikir panjang, Rama segera menghajar Tio, si laki-laki badung itu. "LO APAIN TIKA HAH?! LO MACEM-MACEM SAMA ADEK GUE?", amuk Rama yang sudah gelap mata. Bugh! Bugh! Bugh! "G-gue nggak-" "DIEM LO! DASAR COWOK b******k!" Dengan amarah yang menggebu-gebu, Rama segera menghajar Tio sampai tumbang tergeletak di dasar lantai. Bercak darah keluar dari bibir dan hidungnya. Rama tak takut dengan konsekuensi atas perbuatannya itu. Rama mendongak, menatap khawatir ke arah adiknya. Berjalan dengan bibir bergetar. "Dek, l-lo nggak papa?" tanya Rama dengan bibir yang masih bergetar. Kedua matanya memancarkan kekhawatiran yang tak terkira. Bahkan terlihat di sudut-sudut matanya, aliran air mata yang kapan saja bisa menetes keluar dari persembunyiannya. Brak! Suara gebrakan pintu membuat Rama melototkan kedua matanya, terkejut demgan respon yang diberikan oleh si adik. Baru saja Tika berlari keluar kelas, meninggalkan Rama dan juga Tio yang sudah tak bergerak. Dan juga meninggalkan tanda tanya yang besar dibenaknya Rama. "Dek! Adek! TIKA!" teriak Rama yang berusaha mengejar adiknya. Namun ternyata dirinya tertinggal, Rama tak bisa mengejar Tika. Dengan rasa frustasi, Rama menjambak rambutnya kuat, menyalurkan rasa kegundahan di hatinya. Saat dirinya akan berbalik badan untuk pergi ke parkiran sekolah guna mengambil motornya sendiri, suara deruman motor membuatnya menoleh cepat. Dan kejadian terjadi dengan sangat cepat. Tika baru saja melintas di sampingnya dan hampir saja menabrak tubuhnya Rama. Rama mematung beberapa detik dengan kedua bola mata memandang ke arah adiknya yang pergi meninggalkan sekolah dengan motornya sendiri. Brum! Bruumm! Brrruuuummm!!! "Nggak, nggak mungkin. Nggak mungkin Tika mau nabrak gue. Nggak, itu nggak bener," monolog Rama mencerna kejadian yang baru saja terjadi. Kepalanya menggeleng hebat, tak ingin mengakui jika kesimpulannya itu bisa saja benar. "Ada yang nggak beres. Tika emang lagi nggak baik. Itu bukan Tika," gumamnya yang seharian ini telah memperhatikan Tika yang terlihat sangat berbeda di matanya. Dengan cepat, Rama berlari ke arah parkiran. Setelah sampai, Rama segera menaiki motornya dengan tergesa-gesa membuatnya kehilangan fokusnya. Mengakibatkan dirinya beberapa kali menjatuhkan kunci motornya ke tanah akibat ketidakfokusannya itu. Dengan bibir yang berdecak, Rama akhirnya bisa memasukkan kunci ke dalam lubang yang kunci tepat. Setelahnya, tak perlu menunggu waktu lebih lama lagi, Rama segera menjalankan motornya pergi meninggalkan gedung sekolah SMP-nya. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sepuluh menit, akhirnya Rama bisa menemukan adiknya yang sedang mengendarai motor merahnya dengan kecepatan yang tinggi. Dengan tekad yang kuat, Rama ingin menghentikan adiknya. Karena mengendarai motor dalam keadaan yang tak baik-baik saja itu bisa mengakibatkan kecelakaan. Rama segera menarik gas motornya agar bisa menyeimbangi kecepatan motor adiknya. "TIKA, BERHENTI! BERHENTIIN MOTOR LO TIK!" teriak Rama agar Tika bisa mendengar suaranya. Ya, Tika memang bisa mendengar teriakan kakaknya itu. Namun dirinya tak mau menuruti perkataan sang kakak. Bahkan dengan berani, Tika menambahkan kecepatan motornya. Membuat Rama berdecak kesal. "DEK, BERHENTIIN MOTOR LO! LO BISA KECELAKAAN KALO GINI! CEPAT BERHENTI!" teriak Rama lagi. Kali ini dengan sengaja dirinya menambahkan volume suaranya. Bahkan beberapa kali Rama harus fokus ke depan agar dirinya tak menabrak kendaraan lain di jalan itu. Tika menoleh ke samping, menghadap ke arah Rama, Rama tersenyum agar Tika luluh kepadanya. Namun hal yang tak terduga terjadi. Tika melempar sebuah tas yang sedari tadi dia letakkan didepan ke arah Rama. Dan tas itu mengenai wajahnya Rama membuat Rama terkejut dibuatnya. Brak! Dengan segera Rama menggapai tas itu agar tak menutupi pandangannya. Saat dirinya sudah berhasil menghempaskan tasnya, Rama bernapas lega namun tak lama kemudian terdengar suara yang lain. Tin! Tin!!! "WOY, LO KALO NGGAK BISA PAKE MOTOR NGGAK USAH BELAGAK MAIN MOTOR DI JALAN RAYA!" seru seorang pria tua yang memgendarai sebuah mobil membuat Rama mengerjap sebentar. "Hampir. Nyawa gue hampir melayang," ujar Rama kepada diri sendiri. Dengan kesadarannya yang sudah kembali dari rasa keterkejutannya, Rama segera menarik gas motornya lagi. Meninggalkan segala u*****n dan marahan dari pria bermobil putih tadi. Dengan cepat Rama menembus jalan raya. Hingga tak berapa lama, dirinya berhasil diposisinya lagi, disamping motor milik adiknya. "DEK, LO MAU BUNUH GUE HAH?! GUE HAMPIR MATI TADI!" teriak Rama lagi dan lagi. Dengan sengaja Rama berkata seperti itu agar Tika mau menghentikan motornya. Tapi lagi dan lagi dugaannya salah. Tika hanya mengacungkan ibu jempolnya dan dia arahkan ke bawah, mengejek jika Rama adalah penakut. "WOY, GUE NGGAK TAKUT SAMA LO! TAPI, INI MASALAH NYAWA! KALO MATI NGGAK BAKAL BISA HIDUP LAGI!" Rama tak habis pikir dengan jalan pikiran adiknya. Mengapa seharian ini Tika sangat menyebalkan. Jika biasanya Tika akan berlaku sebagai adik yang lemah lembut dan penurut kepada kakaknya, tapi hari ini Tika berkelakuan sebaliknya. Perlakuan seharian Tika ini sangat terlihat menentang Rama. Tika menoleh ke arahnya lagi, kali ini lebih lama membuat Rama kepalang kabut karena Tika tak fokus ke depan yang mana dirinya saat ini sedang mengendarai motornya sendiri. "DEK, FOKUS KE DEPAN. PERHATIIN JALANNYA!" "APA? LO TAKUT GUE KECELAKAAN? LO TAKUT GUE MATI?" "IYA. GUE TAKUT KEHILANGAN ADIK TERSAYANG GUE!" balas Rama mencurahkan semua suaranya agar Tika tahu jika dirinya memang benar-benar takut kehilangan akan dirinya. "GUE BUKAN ADIK TERSAYANG LO LAGI! GUE UDAH KOTOR! CEWEK KAYAK GUE EMANG PANTES MATI!" Setelah berucap demikian, Rama mematung sejenak. Otaknya mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Tika. Setelah dia paham apa maksud perkataan adiknya, kedua matanya membulat sempurna. "ITU ULAH TIO? TIKA JAWAB! ITU ULAH TIO?" "LO NGGAK PERLU TAHU! LO NGGAK PERLU NGURUSIN MASALAH ITU! KARENA SEBENTAR LAGI, MASALAH ITU NGGAK AKAN DIPERMASALAHKAN LAGI!" teriak Tika membalas perkataan kakaknya dengan kepala tertoleh ke samping membuatnya kehilangan fokusnya. TIINNN!! BRAK!!! Dan saat itu jantung Rama terasa berhenti berdetak saat melihat motor Tika menabrak mobil besar, sangat besar dan jenis mobil itu adalah tronton. Kedua matanya membola besar, Rama melihat Tika terjatuh kemudian terguling dijalanan yang keras. Dengan segera Rama menghentikan motornya. Berlari kencang ke arah Tika yang sudah terbaring tergeletak di tengah jalan. "TIKA!" teriaknya saat melihat darah bercucuran keluar dari bibir, hidung dan kepalanya. Rama merutuki dirinya yang tak gesit mencegah adiknya tadi saat disekolah. Membuat Tika dengan seenaknya tak memakai helmnya. Dan baru saja, kepalanya tak terlindungi helm membuatnya dengan mudah menghantam jalan raya yang sangat keras. "TIKA BANGUN! ADEK!" raung Rama mengguncangkan tubuh adiknya yang mulai terasa kaku. "Mas, yang tabah ya Mas. Adik Mas sudah tidak ada. Denyut nadinya sudah tidak terasa lagi. Akan Saya hubungi ambulan," ujar seorang laki-laki paruh baya yang tadi memeriksa nadinya Tika. Rama menggeleng hebat, tak mempercayai apa yang terjadi saat ini. Dirinya menggeleng semakin hebat berharap jika ini adalah halusinasinya saja. Dirinya sangat berharap jika semua ini tidaklah nyata. Hingga suara ambulan datang, dan mulai menyadarkannya. Jika semua ini bukanlah halusinasinya saja. Melainkan kejadian nyata yang sangat memukul hatinya. Dengan lesu, Rama mengikuti jasad adiknya memasuki ambulan. Berjalan gontai dibelakang petugas kesehatan. Dirinya hampir terjatuh kalau saja tidak dipapah oleh seorang pria paruh baya yang tadi sudah membantu memeriksa Tika. Setelah kematian Tika, Rama menjadi sangat muram. Dirinya terus terbayang oleh perkataan terakhir adiknya. Dirinya masih memikirkan dalang dari pelaku yang Tika bicarakan. Hingga tiga hari kemudian, Rama baru menyadari masalah adiknya. Jika sebenarnya Tika itu dijebak oleh pacarnya yang bernama Tio. Tika digunakan oleh Tio untuk melunasi hutang-hutangnya kepada musuhnya. Yang ternyata, maksud dari pelunasan hutang itu adalah Tika kehilangan kesuciannya. Dan tepat hari itu juga Rama menghajar Tio sampai masuk rumah sakit. Dan mencari pelaku p*********n Tika, yang bernama Andre. Dan malam harinya Rama berhasil menjebloskan Tio dan Andre ke sel tahanan. *** Rama berjongkok, mendekatkan wajahnya ke batu nisan bertuliskan nama adiknya. Menciumnya dengan beribu rasa sedih akan kehilangannya. Bibirnya yang tadi bergetar karena kedinginan, sekarang bertambah dingin karena dengan sengaja Rama mencium batu nisan itu dalam waktu yang lama. Mencengkeram erat batu nisan itu, memyalurkan rasa kemarahannya. Meskipun Tio dan Andre sudah dijebloskan ke dalam penjara namun mereka diloloskan karena masih terlalu kecil untuk di penjara. Rama masih menyimpan dendam yang sangat besar. Dirinya sangat tergiur untuk membinasakan dua laki-laki b******k yang secara tidak langsung telah merengut nyawa adiknya, Tika. "Gue, pengen banget bunuh dua cowok b******k itu, Tik. Tapi mama selalu memperingati gue. Gue sedih, Tik. Hati gue hancur saat lihat mereka nggak dapet ganjaran yang setimpal," lirih Rama diatas batu nisan adiknya. Rama belum berniat untuk menegakkan kepalanya. Dia hanya menyandarkan kepalanya di atas batu nisan. "Gue mau bales perbuatan mereka. Disini, gue yang tersiksa, Tik. Gue yang tersiksa!" Hingga akhirnya isak tangisnya tak bisa Rama sembunyikan lagi. Rama menangis sejadi-jadinya. Menyalurkan rasa sesak didadanya lewat tangisan yang memilukan itu. "Lo cewek baik, Tik. Lewat mama, dua cowok b******k itu bisa bebas dari amukan gue. Lo cewek baik, Tik. Lo bakal dapat balasan yang lebih baik di surga nanti." Rama mendongak, menegakkan tubuhnya lagi. Mengusap batu nisannya lagi saat setetes air hujan mulai berjatuhan dari langit. "Tunggu gue ya, Dek. Gue bakal secepatnya nyusul elo di surga sana. Gue pamit pulang. Bahagia selalu Tika. Kakak sayang padamu." Kecupan terkahir Rama berikan sebelum dirinya benar-benar meninggalkan pemakaman adiknya. Berjalan dengan sangat pelan, seolah merasa enggan untuk meinggalkan makam si adik. Berjalan dengan ditemani guyuran air hujan yang turun dengan sangat deras. *** Malam hari, entah mengapa sedikit berbeda dari malam sebelum-sebelumnya. Rama yang biasanya mendapatkan perintah mutlak dari papanya untuk belajar, bahkan sedari tadi dia belum melihat keberadaan papanya dirumah. Tadi, setelah pulang, dirinya hanya mendapati mamanya di ruang tamu. Mamanya khawatir melihat keadaan Rama yang pulang dengan sekujur tubuh yang sangat basah. Dengan tenang Rama hanya melemparkan senyum menenangkannya. Mengisyaratkan mamanya agar tidak perlu khawatir. Setelah mandi dan berganti pakaian yang kering, Rama segera menutup semua pintu akses masuk ke dalam kamarnya. Saat ini Rama sedang melakukan sebuah hobinya yang lain. Ngomong - ngomong, Rama adalah salah seorang programer yang dapat menciptakan suatu benda elektronik. Misalnya seperti yang sedang Rama kerjakan saat ini. Disebuah meja belajarnya banyak terdapat benda - benda elektronik yang masih terpisah. Seperti berbagai macam kabel, motherboard, CPU, RAM, expansion card, dan lain-lain. Sedangkan disampingnya ada beberapa alat pendukung, seperti obeng, gunting kabel, sekrup, kaca pembesar dan lainnya. Rama sedang merakit sebuah benda kecil yang terbuat dari berbagai elemen expansion card. Dengan telaten Rama tetap merakit dan dibantu dengan kaca pembesar. Lima belas menit kemudian akhirnya Rama menyelesaikan chipnya yang ketiga. Ya, Rama sedang berkutat merakit sebuah chip, bahkan kini sudah hampir malam dan dirinya tak menyadari. "Huh, akhirnya kelar juga." Rama melirik ke sebuah jam weker. Dan ternyata jam sudah menunjukkan ke angka sembilan lebih tiga puluh menit. Rama segera menyelesaikan kegiatannya. Memasukkan chipnya ke dalam sebuah wadah kecil yang mirip dengan wadah USB Drive dalam bentuk flasdisk mini. Fungsi dari chip ini berbeda - beda. Chip dengan tinta merah berfungsi sebagai jembatan untuk server yang akan Rama retas. Chip dengan tinta biru berfungsi untuk memblockir semua aktifitas  alat teknologi. Dan chip dengan tinta kuning sebagai penetralisir virus yang terjangkit di sebuah server. Setelah menyimpan ketiga chipnya, Rama segera menghidupkan laptop kesayangannya. Tapi sudah berkali - kali Rama menekan tombal play, laptop masih belum menyala. Menyadari sebuah hal, Rama menepuk jidatnya. "b**o, kan expansion card-nya laptop, gue ambil buat bikin chip tadi," gumam Rama terhadap diri sendiri merutuki kebodohannya. Rama menutup laptopnya kembali, "Lekas membaik laptopku, aku merindukan salah satu hobiku." Mengedarkan pandangannya, Rama berjalan menuju meja komputer. Ya, Rama memiliki sebuah laptop dan satu set komputer. Tak heran jika Rama memiliki semua, ingatlah jika Rama anak dari direktur di sebuah perusahaan. Duduk di kursi depan komputer, Rama segera menghidupkan komputernya. Setelah itu Rama meraih sebuah toples yang berisi beberapa permen karet. Segera membuka bungkusnya dan dengan cepat Rama kunyah. Menghadap lagi ke komputernya yang sudah menyala. Tiba - tiba alarm ponselnya bergetar, dan muncul sebuah pop up yang bertuliskan jika malam ini, pukul sepuluh akan diadakan sebuah even perlombaan seluruh hacker di Indonesia. Rama mematikan alarm ponselnya, dan segera memfokuskan dirinya ke komputer yang ada didepannya. Membuka sebuah situs website yang berisi sebuah organisasi hacker terbesar di Indonesia. organisasi itu bernama Organisasi Hacker Nasional, atau lebih dikenal dengan singkatan OHN. Rama segera masuk dengan nama akunnya. Rama melihat jumlah peserta yang ikut event malam ini. Dan jumlahnya ternyata sangat banyak, bahkan melampaui satu juta lebih peserta. Rama memundurkan kursinya, melakukan pemanasan pada leher dan kedua tangannya, setelah dirasa cukup, Rama memajukan kursinya lagi. Sebelum event lomba dimulai, akan ada penyambutan oleh ketua OHN, yang mana sambutan itu berisi sebuah video yang ditayangkan secara live. Tak lama kemudian sebuah video berisi seseorang muncul di layar monitor. Video itu adalah seseorang dengan mengenakan sebuah topeng Anonymous. Dalam dunia perhackeran, menutupi identitas pribadi adalah sebuah keharusan. Karena di dunia ini hal yang tak terduga sering terjadi, bahkan pengkhianatan antar hacker pun sudah biasa. Bahkan jika menjadi publick speaking, akan ada efek untuk suaranya agar tak mudah dikenali oleh orang lain. "Selamat malam semua anggota OHN, Saya sebagai ketua Organisasi Hacker Nasional mengucapkan selamat kepada kalian yang sampai saat ini masih tetap bertahan meskipun persaiangan antar hacker bertambah sulit," sapa orang didalam video itu. Rama menyaksikan video itu dengan seksama. Tak ingin melewatkan video itu sedetikpun. "Didalam dunia perhackeran ini, kita dapat menjadi apa yang kita inginkan. Harta, jabatan, martabat? Tentu semua bisa kita raih lewat keahlian yang kita semua miliki. Tapi ingat, hati nurani kalianlah yang tahu, apa yang sebenarnya kalian ingin. Apa yang ingin kalian wujudkan. Apa yang ingin kalian kejar. Dan saya berpesan, keahlian kita ini jangan digunakan untuk sesuatu yang dapat merugikan orang lain. Jadilah hacker yang hebat tanpa merugikan orang lain." Rama tambah bersemangat setelah mendengar motivasi dari ketua OHN. Andrenaline,-nya seakan teruji untuk memberantas black hat hacker. Black hat hacker yaitu hacker yang mempergunakan keahliannya untuk menyerang server milik orang lain guna kepentingannya dan kepuasan dirinya sendiri. "Untuk akhir kata, Saya akan membuka perlombaan ini. Dan inilah perlombaan yang kita semua tunggu-tunggu. Selamat berjuang dan salam hacker." Setelah itu video menghilang dari layar monitor. Diganti dengan sebuah situs website perlombaan khusus hacker. Kedua mata Rama berbinar senang. Dengan semangat Rama meraih keyboard dan mousenya. Menghirup napas dengan perlahan. Dan kini Rama siap untuk mengikuti perlombaan. Di atas situs website itu tertulis stopwatch yang bertanda lomba akan dimulai satu menit lagi. Dengan semangat yang membara Rama menanti lomba segera dimulai. "3." "2." "1." "Go!!!" Setelah menunggu satu menit, lomba pun akhirnya dimulai. Dengan lihai Rama mengetikan beberapa bahasa pemograman atau coding. Beberapa kali Rama mengklik mouse saat memindahkan tampilan monitor. Lomba hacker ini adalah saling mencuri data yang dimiliki oleh para peserta. Dan jika data tercuri, peserta itu akan ketahuan identitas yang sebenarnya dan otomatis dia akan gugur. Ada dua tampilan website dalam lomba ini. Pertama dalam bentuk diagram. Semua peserta bisa melihat skor tertinggi dan skor terendah. Dan kedua bentuk tampilannya dalam bentuk peta Indonesia yang menandakan posisi si pemain. Tampilan peta Indonesia ini diperkuat dengan sebuah garis yang menandakan si pemain ingin mencuri data yang mana. Akun Rama sudah siap ingin meretas ke seseorang dengan foto profil Singa, dengan nama akun @Singer. Sedangkan akun Rama berfoto profil topeng Anonymous dengan simbol huruf 'R' dijidatnya. Dan nama akunnya adalah @Hacker_Boy. Dengan gesit Rama menuliskan kata kuncinya saat meretas server milik orang lain. Saat melakukan aksi peretasan, foto Anonymous dengan simbol huruf 'R' milik Rama memiliki sebuah garis yang lama kelamaan garisnya semakin besar. Menandakan aksi meretasnya berhasil. "Makan tuh Singa!" seru Rama karena berhasil melumpuhkan seorang hacker lain. Rama melihat ke tampilan website yang pertama, kali ini posisi Rama sudah masuk ke dalam lima puluh besar. Karena Rama tadi melumpuhkan hacker yang bisa di bilang cukup profesional. "Hem, mau nyerang yang mana lagi nih?" gumam Rama. "Argh, bingung gue." Ditengah kebingungannya, tanpa sengaja kedua mata Rama melihat ke sebuah akun @Arber dengan foto profil Spongebob hitam, sedang diserang dari berbagai arah terbukti dari berbagai garis yang mengarah ke akun itu. Rama menilik posisi akun @Arber itu. Dan ternyata posisinya berada di urutan ke sembilan puluh sembilan. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Rama menyerang orang lain yang menyerang akun @Arber. "Hem, nyerang yang itu keknya seru." Rama lebih tertarik meretas server dengan nama akun @Danger. Sekitar lima menit kemudian akun @Danger akhirnya tumbang dikalahkan oleh Rama. Dan si akun @Arber memiliki posisi yang lebih meningkat, sekarang dia ada diurutan peringkat enam puluh. Karena telah membantu peserta lain, tentu saja Rama ikut mengalahkan peserta yang lain dan posisi Rama kini meningkat. Dirinya sekarang menduduki posisi ke delapan. "Kasihan juga tuh bocah, diserang sana sini," gumam Rama yang masih mengetikkan beberapa kata kunci. Sekitar lima belas menitan, Rama bisa membebaskan @Arber dari berbagai serangan peserta lain. Kini posisi Rama ada diurutan ketiga dan akun @Arber ada diposisi keempat. Dan waktu perlombaan pun selesai. Rama tetap menduduki posisi ketiga dan @Arber juga masih bertahan di posisi keempatnya. Rama cukup senang karena bisa membantu @Arber agar lolos diperlombaan ini. Rama tersenyum senang. "Yes, akhirnya lolos juga." Rama memundurkan kursinya. Merenggangkan otot tangan dan lehernya. Rama merenggangkan otot lehernya lagi yang terasa kaku akibat terlalu mengarah ke layar monitor. "Capek juga ternyata." Rama melihat website yang bertuliskan selamat karena Rama menduduki posisi ketiga. Setelah puas memandang pesan selamat tersebut, Rama segera berdiri dari duduknya. Berjalan ke arah tempat sampah dan membuang permen karetnya. Tiba-tiba ada suara yang menandakan ada pesan baru di komputernya. Rama segera duduk kembali. Sedikit merasa heran saat melihat akun @Arber mengiriminya sebuah pesan di ruangan khusus chat antar hacker. Tanpa berpikir lebih lama lagi Rama membuka pesan itu. @Arber Thanks bro, lo udah nolongin gue tadi. Jika lo nggak nolongin gue, gue pasti nggak akan lolos di perlombaan ini. Setelah membaca pesan itu Rama segera meraih keyboardnya untuk membalas. @Hacker_Boy Sans aja bro, gue juga seneng bisa bantu lo. Sebenarnya lo juga cukup pro, masalahnya lo cuma dikeroyok tadi. @Arber Btw, lo anak Jkt kan? Pan kapan bisa kolab kita. Dan selamat juga bro, lo bisa raih peringkat ketiga. @Hacker_Boy Hehehe, iya gue anak Jkt. Lo juga kan? Boleh tuh pan kapan kita kolab kalo ada lomba pasangan. Btw thanks bro, lo juga selamat bisa raih posisi keempat. Skor gue sama lo cuma beda tipis. @Arber Bisa aja lo. Bro, bisalah gue jadi friend lo? Sesama anak Jkt dan anak hacker. @Hacker_Boy Boleh boleh, gue malah seneng punya temen kayak elo. @Arber Okey fix kita temenan. @Hacker_Boy Shiapp. Tak ada balasan lagi, setelah itu Rama langsung mematikan komputernya. Menaiki kasur king sizenya dan langsung jatuh tertidur lelap. Karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Menatap langit-langit kamarnya, tersenyum konyol dengan dirinya sendiri. Berpikir jika hanya dengan meretaslah yang bisa menghibur dirinya. Hanya dengan berselancar di dunia perhackeran Rama bisa melupakan dendam dengan dua orang dimasa lalunya dan sejenak melupakan kesedihan akan kepergian adiknya, Tika.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD