Perkenalkan Aku Rama

3391 Words
Didunia, kita semua hidup dibawah pengendalian. Ya, pengendalian diri. -Rama- Ditaman belakang, ada tiga gadis masih duduk berdiam diri sejak dua puluh menit yang lalu. Tak ada satupun yang berbicara, seolah mereka sepakat untuk tak membuka obrolan. Sari, korban dari tindakan tak baik yang baru saja dilakukan oleh Sadewa, hanya menghembuskan napasnya berulang kali. Memikirkan bagaimana sikap kedepannya jika dia bertemu dengan Sadewa. Apalagi mereka berdua merupakan seorang siswa dengan gedung sekolah yang sama. Sinta melirik ke arah Sari beberapa kali, kemudian menggulirkan matanya ke arah Naya. Dan Naya hanya mengedikkan bahunya tak tahu harus berbuat apa. Tak betapa lama bel berbunyi tanda istirahat telah selesai. Dengan terburu-buru Sari pamit kepada Sinta dan Naya. Kemudian Sinta dan Naya pergi menuju kelas mereka. "Ahh, udah bel. Aku pamit ke kelas dulu ya. Terima kasih banyak atas bantuan kalian berdua," ujat Sari dengan diikuti senyum ramahnya. Sinta dan Naya sontak mengangguk dengan senyum merekah sempurna. Mengisyaratkan jika bantuan mereka memanglah tak seberapa. Membuat Sari memanjatkan terima kasih kepada Tuhan karena masih dipertemukan dengan orang-orang baik seperti dua gadis yang ada didepannya seperti saat ini. "Iya, sama-sama. Lo hati-hati ya kalo ketemu sama dia lagi. Kalo perlu, lo langsung kabur aja," saran dari Sinta yang sebenarnya merasa kasihan dengan Sari. Karena Sinta tahu tipikal laki-laki seperti Sadewa. Hanya dengan melihat perilakunya tadi, Sinta sudah bisa menebaknya. "Iya," balas Sari seadanya kemudian berbalik badan meninggalkan Sinta dan Naya. Sinta segera menarik Naya untuk dia ajak kembali ke kelas. Mereka berjalan beriringan menuju ruang kelas. Sesekali Naya menjelaskan nama-nama ruangan yang mereka lalui di koridor. Sinta hanya memgangguk dan menyimpan semua informasi yang Naya berikan. Bahkan ada beberapa siswa yang menyapa keduanya. Dengan sigap Naya memperkenalkan teman-temannya itu. Sinta bersyukur karena sejak kepindahanya kemarin, dirinya tak memiliki masalah dengan para siswa di sekolah ini. Membuat Sinta diam-diam menghela napas lega. "Asli tuh orang, bikin gue kesel aja," kata Sinta sembari mengepalkan telapak tangannya. Entah mengapa masalah Sari terlebih masalah si Hacker Boy sangat mengganggu pikirannya. Sudah berkali-kali Sinta mencoba melupakan masalah ini, tetapi tidak bisa. Dirinya sangat ingin memberikan pelajaran kepada seseorang dibalik nama Hacker Boy itu. Naya yang berjalan disampingnya menoleh heran. Pasalnya dia terheran dengan perupahan raut yang terpatri di wajah cantiknya Sinta. Baru kali ini Naya melihat wajah kesalnya Sinta yang penuh dendma. "Lo kesel sama siapa?" "Ya siapa lagi kalau bukan itu hacker. Lo tahu nggak, secara nggak langsung dia udah nerobos privasi milik orang lain. Dan itu termasuk tindak kejahatan teknologi," cerita Sinta dengan kilatan amarah yang terlancar jelas dari kedua mata coklatnya. Bahkan secara tidak sengaja, dia berjakan dengan menghentak-hentakkan kedua kakinya dilantai mengundang tatapan heran dari orang-orang yang mereka lalui. "Bener lo Sin. Secara logika emang gitu sih," imbuh Naya sembari menggangguk-anggukan kepalanya menyetujui perkataannya Sinta. Namun dirinya sebenarnya tidak terlalu memahami soal dunia peretasan. Dan Naya hanya mengangguk saja untuk merespon perkataannya Sinta. "Gue pengen banget nemuin orang dibalik nama Hacker Boy," ujar Sinta yang masih terlihat kesal. Membuat Naya yang berdiri disampingnya memiringkan kepalanya ke arahnya. Sedikit merasa tidak yakin dengan perkataannya temannya satu itu. "Emang kalau lo udah nemu, mau lo apain?" tanya Naya dengan gamblangnya dan tetap berjalan ke depan dengan wajah menatap lurus di depan sana. Sinta menoleh sekilas ke arah Naya. Seperti baru saja menyadari sesuatu. Sinta menghela napasnya, menoleh ke arah Naya lagi kali ini lebih lama dari yang tadi. "Mau gue laporin ke polisi lah. Biar dipenjara tuh orang. Kalau nggak gitu, bakal meresahkan seluruh sekolah." Naya hanya mengnganguk-nganggukan kepalanya lagi. Penjelasan dari Sinta sudah membuatnya paham, hanya sedikit. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju kelas. Tak berapa lama, akhirnya mereka sampai didepan kelas. Masih banyak siswa yang berhamburan di luar kelas. Pantas saja banyak siswa yang belum masuk ke kelas, ternyata guru yang mengajar belum masuk. "Hei Nay, sini ikut ngumpul. Kita ghibah bareng!" teriak Dinda yang sudah duduk melingkar bersama teman-temannya. Dinda adalah salah satu penghuni kelas ini yang suka berbaur dengan orang lain. Membuatnya terkenal akibat sikap baiknya yang suka membantu teman-temannya. Naya menoleh, matanya berbinar senang. Jika masalah ghibah, Naya itu adalah jagonya. Tapi seketika dia teringat sesuatu, ada sebuah teka-teki yang harus dia bicarakan dengan Sinta soal siapa pemilik Hacker Boy yang sebenarnya. Membuatnya harus merelakan kesempatan untuk berbincang dengan Dinda membahas hal yang sebenarnya tak perlu mereka bicarakan. Naya mengangkat kedua tangannya kemudian dia posisikan didwpan wajahnya. Mulai metapalkan sebuah doa. "Tuhan, tolong lindungi hamba dari godaan ghibah yang enak banget astaga." "Heh, kalau doa yang bener," peringat Sinta setelah memberikan pelototan mautnya ke arah Naya. Naya menoleh kemudian melemparkan cengirannya yang lebar. Melontarkan kata maaf tanpa suara. "Jadi gimana, mau gabung nggak nih?" tanya Dinda masih menunggu partner-nya yang satu itu. Naya menoleh lagi, kali ini tangannya terangkat dan dia kibas-kibasnya di depan. "Nggak deh Din, gue mau tobat dulu," sahut Naya dengan senyum puasnya. Membuat Dinda melempar cibirannya dan memutar bola matanya malas. "Sok-sokan bilang tobat, biasanya lo duluan yang ngajak ghibah," sinis Dinda dan Naya hanya mengangkat jempolnya sembari tersenyum manis. Memberikan apresiasi kepada Dinda karena apa yang diucapkan oleh Dinda merupakan fakta yang terbukti kebenarannya. Naya dan Sinta langsung duduk dibangkunya masing-masing. Dengan segera Naya memutar duduknya ke belakang, menghadap ke arah Sinta agar dirinya lebih nyaman saat berunding dengan Sinta. "Menurut lo, siapa pemilik nama Hacker Boy yang sebenarnya?" Naya membuka percakapan. Sesekali dirinya menoleh ke arah Sinta yang sedang mengeluarkan beberapa peralatan tulisnya dari dalam tas maroo yang dia gantungkan disamping mejanya. Sinta mengernyitkan alisnya. Mencerna pertanyaannya Naya sebentar kemudian memandang kesal ke arah Naya. "Ya mana gue tahu, gue kan baru pindah kemarin. Gue juga belum hapal nama anak-anak sini." "Oh iya ya," Naya meringis sebentar karena baru menyadari jika Sinta adalah murid pindahan yang baru datang kemarin. Naya menggaruk tengkuknya terlebih dahulu sebelum melempat pertanyaan ke arah Sinta "Emang ciri-ciri hacker tuh gimana?" Sinta berpikir sejenak. Sebenarnya dirinya juga belum bertemu dengan seorang hacker di dunia ini. Sinta hanya suka menonton film-film action luar negeri bertema hacker dan dunia peretasan. Tiba-tiba dirinya teringat dengan sebuah film action dan thriller yang pernah dia tonton dulu. Itu adalah salah satu film favoritnya. "Menurut gue, dia itu orangnya yang dingin, nggak gampang bergaul, kalo dilihat dari segi akademis pasti nilainya sangat memuaskan," kata Sinta mengusulkan. "Menurut lo, disini ada yang kek gitu nggak?" Naya megerjapkan kedua matanya saat mengetahu informasi yang seperti itu. Baru setelahnya Naya mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas. Memikirkan ciri pertama yang tadi Sinta sebutkan. Berkali-kali Naya mengedarkan pandangannya tapi sepertinya tak menemukan sosok yang tepat. Karena memang rata-rata siswa yang ada dikelasnya itu memiliki sikap yang ramah tamah. Atau karena mereka sudah berteman hampir tiga bulan? "Anak-anak sini nggak ada yang seperti ciri pertama yang lo sebutin. Nggak ada murid yang dingin disini, mayoritas semua murid pada b****k," keluh Naya ketika tak sengaja melihat seorang laki-laki yang tengah menjahili teman perempuan yang lainnya. "Ya udah berarti bukan anak sini," cetus Sinta santai. Dirinya juga tak berharap bisa menemukan si hacker itu. Kalau Sinta memang bisa bertemu akan Sinta pastikan dirinya kalap menghabisi si hacker. Tiba-tiba tiga orang laki-laki berjalan memasuki ruang kelas mengundang atensi Sinta kepada mereka bertiga. Mereka adalah Rama, Dewa dan Nakula. Mereka berjalan bersama dengan diselingi tawa canda. Tapi yang lebih mencolok adalah Rama, karena Rama tertawa dengan sangat keras membuat Sinta mencibir sinis kearahnya namun tak disadari oleh Rama sendiri. Pandangan Sinta jatuh pada seorang Nakula yang terlihat cuek dengan sekitar. Bahkan saat Rama mengganggunya, Nakula hanya diam saja. Membuat alis Sinta mengernyit dibuatnya. Merasa aneh dengan sikapnya Nakula. Sinta menarik lengannya Naya meminta perhatiannya. "Nay, cowok yang itu menurut lo dingin?" tanya Sinta yang menunjuk ke arah Nakula dengan tangannya. Naya menoleh, kemudian mengernyit heran, sedikit tak yakin dengan pertanyaannya Sinta. "Maksud lo Nakula? Ya elah, lo ketipu sama tampangnya. Dia kadang-kadang juga b****k. Iya sih Nakula itu kadang-kadang dingin, nilainya juga bagus-bagus. Tapi dia itu anak baik-baik. Gue nggak yakin kalau Nakula orangnya." Sinta sebenarnya juga tak yakin dengan idenya itu. Sinta memperhatikan Nakula lagi. Nakula adalah tipe cowok yang baik-baik. Terlihat dari perlakuannya dan gaya pakaian yang Nakula kenakan. Seragamnya komplit, dasi, ikat pinggang hitam, dan sepatu hitam. Sangat teladan. Tapi tak berapa lama benaknya teringat dengan film hacker yang lain. Bukankah seorang hacker juga merupakan seorang yang manipulatif? Mengubah penampilannya untuk menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya. "Argh, bikin kesel aja tuh orang," erang Sinta karena belum menemukan siapa dalang dibalik nama Hacker Boy. Sepertinya jika Sinta berhasil menemukan orangnya, Sinta akan membinasakannya agar tak menganggu pikirannya lagi. Rama dan Dewa mendekat ke arah Sinta dan Naya. Karena memang tempat duduk mereka bersebelahan dengan Sinta dan Naya. Tak lupa Rama melempar senyum menggoda ke arah Sinta, membuat Sinta mencibir lagi. Kemudian Sinta memgembalikan atensinya lagi ke arah Naya. "Asli, kesel banget gue. Masa gue dikira maling coba. Kan niat gue mau bantu," cerocos Dewa disamping Rama. Menceritakan nasip malangnya kemarin malam. Rama langasung tergelak, menepuk pundak Dewa berkali-kali. Menyalurkan rasa simpati yang terlihat seperti sedang mengejek Dewa. "Terima nasib ajalah Wa." Kemudian Rama tergelak lagi. Tertawa terbahak-bahak sampai memekikkan telinganya Sinta dan Naya. Membuat dua gadis itu menggetam kesal karena ulahnya. Sinta berdeham sebentar sebelum berkata. "Bisa kali, kalo ketawa dikondisikan," sindir Sinta sembari memutar bola matanya malas. Langsung saja Rama menghentikan tawanya, menoleh ke arah Sinta. Menyeringai ke arah Sinta dan memajukan tubuhnya sedikit ke arah Sinta. "Iri bilang bos?" "Siapa juga yang iri, orang ketawanya lo ganggu orang lain, tahu nggak!" kata Sinta dengan nada yang kesal. Ya bagaimana tidak kesal, ternyata Rama tak sadar diri akan sikapnya sendiri. Rama segera duduk di bangkunya. Tak lupa dengan sengaja Rama menyenggol lengannya Sinta membuat Sinta langsung menjauhkan tempat duduknya menghindari Rama. "Singkat saja, semua akan salah dimata orang iri." "Gue bilangin gue nggak iri ya. Bisa bengek gue kalau ketawa kaya lo," sanggah Sinta dengan kepercayaan diri yang tinggi. Rama hanya memutar bola matanya, kemudian menoleh ke arah Dewa. Yak lagi mrnanggapi perkataannya Sinta yang menurutnya sangat menyebalkan. "Terus lo gimana Wa? Nggak digebukin warga kan?" Dewa yang dipanggil segera memutar tubuhnya ke belakang, memghadap Rama. Mengangguk-anggukan kepalanya sebelum berkata. "Untung aja enggak. Kan gue nggak terbukti bersalah," balas Dewa dan Rama hanya mengangguk saja. Sinta langsung menarik Naya untuk kembali ke topik yang semula, membahas soal Hacker Boy. Naya mengangkat alisnya saat dirasakan lengannya ditarik lagi oleh Sinta. Menunggu perkataan yang keluar dari bibir tipis milik Sinta. "Terus, menurut lo ada nggak anak dari kelas lain yang agak mirip gitu sama ciri yang pertama?" tanya Sinta kepada Naya. Naya terdiam sebentar sebelum berkata. "Mungkin ada ya, entar deh gue pikir-pikir lagi." Rama yang sedikit mendengarkan pembicaran dua gadis yang ada disampingnya segera menoleh ke arah Sinta dan Naya. "Lagi ghibah lo berdua? Ckckck maksiat mulu lo Nay bisanya. "Apaan sih, nyahut-nyahut aja," gerutu Naya tak suka. Jika Rama yang bermulut pedas dihadapkan dengan Naya yang berego tinggi, dua-duanya akan beradu mulut tak membiarkan diantara mereka menang sebelum dilerai oleh orang lain. Naya mengetuk-etukkan jarinya di atas mejanya Sinta. Berpikir siapa orang yang cocok yang patut mereka jadikan tersangka sebagai hacker. Setelah sekian lama berpikir, akhirnya Naya tak menemukan sosok yang tepat. Naya melirik ke arah Dewa yang ikut menonton dirinya. "Lo tahu nggak Wa, anak Angkasa Wijaya yang dingin gitu. Yang suka diem, nggak gampang bergaul. Ada nggak?" tanya Naya kepada Dewa yang baru saja menyuap ciki terkahirnya ke dalam mulut. Dewa berpikir sejenak, kemudian menggeleng. "Enggak, emang kenapa?" Saat Naya akan berkata, Sinta lebih dulu memotong. Dengan semangat membara Sinta menceritakan semua yang dia ketahui tentang masalahnya Sari. "Lo tahu nggak, ternyata yang nyebabin masalah antara Sari sama si cowok bresek itu adalah si Hacker Boy. Emang dapet duwit berapa sih sampek mau aja disuruh buat ngehack hpnya Sari." Sinta bercerita dengan kekesalan yang sangat ketara. Rama dan Dewa saling melirik. Mereka berdua hanya diam saja. Karena tahu, siapa yang Sinta dan Naya cari sekarang. Ya, sebenarnya orang yang Sinta dan Naya cari adalah Rama. "Enggak, gue nggak tahu sama si Hacker Boy itu. Lagian gue juga baru tahu ini. Emang lo sendiri tahu dari mana?" ujar Dewa dengan dibubuhi sandiwara terkejutnya. Mana berani dia mengungkapkan jati diri temannya itu. Bisa-bisa dirinya tidak ditraktir lagi oleh Rama sepulang sekolah nanti. "Tadi, Sari cerita sendiri. Dan satu lagi, kata Sari si Hacker Boy ini sekolah di Angkasa Wijaya juga. Huh, awas aja tuh orang, kalo sampai ketemu sama gue, gue laporin tuh ke polisi," putus Sinta dengan suara yang mantap. Rama yang melihat raut wajah Sinta yang emosi dan sedikit terlugat dendam, malah tergoda untuk mengusiknya. Dirinya berpikir, tak apa jika menganggu Sinta, mengajak berdebat dengan keberadaan si Hacker Boy. Hitung-hitung menguji kesabarannya Sinta. "Ya namanya juga hacker, tugasnya cuma di dunia teknologi doang. Ya sah aja kalau dia nggak bertanggung jawab soal permasalahan yang terjadi di dunia nyata," kata Rama santai menyunggingkan senyum sinisnya ke arah Sinta membuat Sinta melirik kesal. "Seharusnya dia ikut andil akibat aksi ngehacknya. Secara logika si hacker juga nerobos privasi orang lain. Dan itu nggak dibolehin," masih saja Sinta menyalahkan si hacker ini. "Hacker pasti tahu batasan privasi milik orang. Dia ngehack juga sesuai perintah dari orang lain," balas Rama tak mau kalah. Diam-diam dia menikmati raut wajah tak terima dari Sinta. "Mana ada hacker yang ijin dulu ke orang yang mau dihack. Orang yang nggak ijin, namanya penyusup, melanggar hak privasi orang lain." "Meskipun melanggar hak privasi orang lain, hacker juga tetap bisa bedain mana yang bener dan mana yang nggak bener," tetep keukeuh Rama menggusik Sinta dengan segala ucapannya. "Yang namanya hacker mana ada yang bener. Mereka semua pasti tergolong orang jahat," ucap Sinta yang semakin emosi. "Eh tunggu, kenapa lo sekaan membela si hacker?" Sontak saja Naya juga menaruh curiga ke Rama. Memicing tajam ke arah Rama. Membuat Rama menatapnya malas. Dirinya baru saja diam-diam tersenyum setelah melihat raut wajahnya Sinta yang penuh emosi. "Lo berdua nuduh gue hackernya?" tanya Rama sembari menoleh bergantian ke arah Sinta dan Naya. Menunjuk dirinya sendiri dengan tampang polosnya. "Dari tadi lo ngomong, seakan lo berpihak pada si hacker," sela Naya mengusulkan keganjalannya itu yang diangguki mantap oleh Sinta. "Ya nggak salah dong, gue sama Sinta jadi curiga ke elo." "Ya elah, kalo gue jadi hackernya, mending nggak usah sekolah. Ngehack aja bank gede, bakal jadi sultan terus sampai tua. Ngapain juga repot-repot sekolah, kalau curi uang dalam jumlah besar juga bisa?" Rama memberi pendapatnya. Terkekeh saat melihat dua gadis yabg sempat menuduhnya tadi, dengan kompak terdiam. Singa dan Naya saling melirik. Tak lama kemudian Naya mengangguk. "Hem, bener juga sih. Gue juga sebenarnya nggak yakin kalau hackernya itu elo. Lo kan cowok ngeselin, lo juga pasti nggak tahu bahasa pemograman." Rama hanya memutar bola matanya malas. Tiba-tiba seorang guru, yang terlihat memakai konde datang memasuki ruang kelas. Namanya Bu Surtiyem. Anak-anak suka memanggilnya Bu Sur. "Kula nuwun," sapa Bu Sur. [Permisi] "Monggo Bu!" balas semua murid kompak. [Silahkan] Mereka, para siswa sangat suka saat mendapatkan guru satu itu sebagai salah satu pengajar di kelas mereka. Karena pembawaan guru itu yang lucu membuat para siswa tak bosan saat diajarkan suatu materi olehnya. Alis Sinta berkenyit, Rama yang melihatnya hanya tertawa. Pasalnya Rama tahu arti dibalik tatapan heran yang ditampilkan oleh Sinta. "Sekarang pelajaran Bahasa Jawa, kalau lo nggak ngerti, berarti lo salah masuk sekolah," kata Rama yang masih sedikit tertawa, menertawakan raut wajahnya Sinta yang menurutnya lucu itu. Sinta hanya mendengus kesal. Dan pembelajaran pun dimulai. Bu Sur, menerangkan bab pelajaran kali ini tentang Pewayangan, yaitu Pandawa. Setelah membacakan sebuah teks bacaan, Bu Sur menyuruh semua siswa untuk menuliskan mana kata-kata yang belum dimengerti. Sebenarnya banyak bacaan yang belum Sinta mengerti. Saat dirinya sedang memainkan bolpoinnya, tiba-tiba bolpoinnya jatuh tepat dibawah mejanya Rama. Sinta tak bisa mengambilnya, takut jika Rama nanti salah paham. "Duh, malah jatuh lagi tuh bolpoin," gerutu Sinta yang gelisah. Melirik ke arah Rama yang sedang asyik menulis sesuatu dibukunya sendiri. Rama yang mendengar hanya meliriknya sebentar. Kemudian melirik ke arah bawah mejanya. Tak lama Rama tersenyum miring. "Nggak diambil tuh?" tanya Rama dengan senyum tengilnya. "Apa?" "Bolpoin lo," balas Rama sembari melirik ke bolpoin Sinta yang ada dibawah mejanya. "Ogah!" Sinta kemudian menepuk pundak Naya yang ada didepannya sekali. Menarik perhatiannya Naya. Tak berapa lama Naya menoleh ke belakang, ke arahnya. "Nay, Naya gue pinjem bolpoin satu dong," pinta Sinta sembari berbisik ke arah depan, takut jika ketahuan berbicara oleh Bu Sur saat jam pelajaran berlangsung. Padahal Bu Sur juga tak akan menghukumnya. Beliau bukan tipikal guru galak yang suka memberikan siswanya sebuah hukuman jika melakukan seuatu kesalahan. Mungkin sebagai ganjarannya si siswa aka diberi tugas untuk menghafal suatu materi. Atau bahkan disuruh menghafal huruf-huruf Jawa yang jika dilihat sekilas semua huruf terlihat sama. Naya menoleh ke belakang, "Waduh, gue cuma punya satu nih Sin. Ini juga gue malak dari temen lain." "Ya udah deh, nggak jadi." Sinta kembali gelisah, semua murid sedang tertib menulis hanya dirinya sendiri yang hanya berdiam diri. Rama menoleh ke arahnya. Tersenyum melihat kegelisahan Sinta. "Gue bantu ambil tapi ada satu syaratnya," ujar Rama. "Apaan?" "Main kertas batu gunting dulu sama gue," Rama memberikan syaratnya. "Kelamaan, keburu gue haji dulu kalo gitu," Sinta menyahut malas yang sebenarnya gengsi jika meminta tolong kepada Rama. Rama berpikir sejenak, "Ya udah kenalan aja. Kan dari kemarin kita belum kenalan secara resmi." Sinta menoleh ke arah Rama sepenuhnya. Meneliti Rama dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan yang menilai. Rama yang melihatnya hanya mendengus kesal. "Jangan lihat gue dari luarnya. Lihatlah gue dari dalam hati," kata Rama tersenyum. "Kalo udah lihat kan bisa mampir, kali aja nyaman." Sinta yang mendengarnya, hanya memutar bola matanya malas. Rasanya Sinta ingin menggeplak kepalanya Rama yang sudah terlalu percaya diri itu. Tak lama kemudian Rama mengulurkan telapak tangan kanannya di depannya Sinta membuat Sinta menghela napasnya sejenak. Karena ingin segera mendapatkan bolpoinnya, tanpa berpikir panjang, Singa langsung membalas uluran tangannya Rama. "Sinta." "Kenalin gue Rama. Suami lo," balas Rama dengan senyum jailnya. "s***p lo!" sembur Sinta kemudian melepas pautan tangannya dengan Rama. "Dibilangin ngenyel, bentar, kalo lo emang nggak percaya," kata Rama dan Sinta hanya mengernyit bingung. Tiba-tiba Rama mengangkat tangannya ke atas. "Bu Sur, bener nggak kalau dalam pewayangan Rama sama Sinta itu sepasang suami istri?" Bu Sur segera menoleh ke arah Rama, mengernyit heran. "Lah yo benar to, kan minggu lalu sudah kita bahas. dalan cerita Ramayana Rama dan Sinta adalah sepasang suami istri." Bu Sur menoleh lagi ke arah Rama. "Kenapa kamu tanya lagi? Kamu belum paham?" "Bukan Saya Bu, ini Sinta yang nggak paham," kata Rama sembari menunjuk ke arah Sinta yang ada di sampingnya. Bu Sur melepas kaca matanya, memperhatikan Sinta. Mengernyit saat mendapati pemandangan yang tak biasa. Tersenyum senang melihat ke arah Sinta. "Owalah, ada siswa baru to. Ayo nduk kenalan dulu," kata Bu Sur. "Ibu malah baru tahu kalau ada murid baru." Mau tak mau Sinta berdiri kemudian memperkenalkan dirinya sekali lagi, tetap di tempat duduknya. Dirinya jadi tak perlu bersusah payah menyuruh Rama untuk menggeser tempat duduknya. "Perkenalkan nama saya Sinta Kartika Priscanara, panggil Saya Sinta saja." Bu Sur terkejut. Bu Sur menoleh bergantian ke arah Rama dan Sinta, dirinya bahkan bertepuk tangan. "Wah wah wah, emejing. Ibu kira hanya ada di pewayangan saja, ternyata sepasang manusia yang bernama Rama dan Sinta ada di dunia nyata." "Lah kok sepasang bu?" tanya Naya penasaran. "Lah Sinta sama Rama bener sepasang to? Sejoli gitu bahasa anak mudanya," kekeh Bu Sur. "Eh bukan Bu, Saya bukan pasangannya Rama," protes Sinta tak terima jika dipasangkan dengan Rama. "Yo kamu jangan menyalahkan takdir nduk. Rama itu pasangannya dengan Sinta. Ibu dukung sama hubungan kalian, Ibu doain bisa sampai janur kuning melengkung ya." Rama terkekeh senang sembari mengangkat jempolnya, "Amin Bu, doain aja bisa sampai janur kuning melengkung." Semua murid yang mendengarnya langsung heboh. Bahkan Naya juga ikut-ikutan menggoda Sinta. Sinta segera duduk kembali ke tempatnya. "Asek nih, tema pernikahannya jadi pewayangan," seru Dewa heboh. Dan seluruh siswa pun tertawa lagi bahkan Bu Sur juga ikut tertawa bersama. Hingga pada akhirnya sisa waktu pada pelajaran itu dihabiskan dengan Bu Sur yang kembali menceritakan sebuah kisah legenda dari Pulau Jawa. Yang mana kisah ini sangat terkenal diantara cerita pewayangan yang lainnya. Di kisah pewayangan Jawa, sebenarnya kisah satu dengan yang lainnya sangatlah berkaitan erat. Tapi terkhusus waktu ini Bu Sur hanya bercerita sebuah kisah pewayangan yang menceritakan sepasang suami istri yang hidup bahagia. Mereka menyebutnya kisah Ramayana. Mengisahkan seorang raja yang bernama Rama yang hidup bersama istrinya bernama Sinta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD