Rama Dalam Bahaya

4110 Words
Cinta yang muncul dalam sebuah persahabatan, bisa membuat kehancuran pada hubungan itu. Lantas, cara yang tepat untuk menyikapinya adalah dengan memilih salah satu diantara keduanya. Memilih cinta atau persahabatan. -Sinta- Empat remaja sedang duduk di tempatnya masing-masing. Empat remaja itu terdiri dari dua remaja laki-laki dan sisinya adalah remaja perempuan. Duduk melingkar saling berhadap-hadapan. Ketegangan menyelimuti keempatnya. Mereka adalah Rama, Sinta, Naya dan Dewa yang sedang mabar game online. Sedangkan Nakula sudah pulang sedari tadi karena ada suatu urusan. Empat remaja itu saling memencet layar ponselnya masing-masing dengan ambisi yang menggebu. "Wa, maju Wa. Dewa bagong lo! Maju, Wa! Jangan cupu loh, dari tadi ngumpet mulu. Ini banyak musuhnya!" seru Rama heboh mengumpati karakter game miliknya Dewa yang hanya bersembunyi, tak melawan. "Gue tuh sayang sama hero gue. Takut entar mati," balas Dewa yang sedang kesulitan menghindar serangan dari lawannya. Bahkan beberapa kali terlihat karakter gamenya Dewa berlindung di balik karakter gamenya Sinta dan Naya. "CUPU!" umpat ketiga temannya kesal. Dewa mendengus tak berapa lama kedua bola matanya melotot saat melihat heronya kalah dikeroyok lawan. "Yah, yah, jangan mati dong! Weh beneran headshoot," lirih Dewa lesu melihat karakter gamenya mati dan kini tertera tulisan you loss di layar ponselnya. Meninggalkan rasa kesal yang teramat dalam karena dirinya sudah bersusah payah melindungi segala bentuk serangan dari lawannya. Dan kini perjuangannya itu tetap berakhir sia-sia. Tak lama kemudian, Naya juga berseru panik, karena kini karakter gamenya yang diserang. Bahkan hampir setengah dari musuhnya saling bahu membahu untuk merobohkan karakter game milik Naya. "Anak konda! Hero gue juga mati!" seru Naya kesal saat melihat tulisan kekalahan di layar ponselnya diikuti dengan suara kekalahan yang terdengar sangat memuakkan di telinga pemain. "Sukurin," sahut Dewa membuat Naya mencibirkan bibirnya dengan kesal. Naya melempar ponselnya ke meja kemudian melipat kedua tangannya di depan d**a. Moodnya sudah sangat buruk setelah dirinya kalah dalam permainan tersebut. Melirik ke arah Rama dan juga Sinta yang masih asyik memencet layar ponselnya masing-masing, bertanda jika mereka berdua belum kalah dalam permainan. "Sin, lo jangan jauh-jauh elah," perintah Rama kepada Sinta. Sinta melirik ke arah Rama dengan lirikan yang sangat tajam dan kesal, karena dirinya tak merasa menjauh dari posisinya Rama saat ini. "Gue nggak kemana-mana. Daritadi gue duduk disamping elo gini," balas Sinta seadanya. "Astaghfirullah, Say! Maksud gue bukan gitu--" Plak! Terdengarlah suara benturan benda yang sangat keras. Sontak saja Naya dan Dewa menoleh ke sumber suara. Menahan tawa saat melihat jika pipinya Rama yang baru saja ditampar dengan sangat keras oleh tangannya Sinta. Bahkan meninggalkan jejak telapak jari berwarna merah di pipinya Rama. "Lo ngapain bampar pipi gue?" protes Rama yang tatapannya masih tertuju di layar ponselnya. Namun sebelah tangannya mengelusi pipinya bekas tamparan dari tangannya Sinta. "Lo ngapain manggil gue say? Sayang kan maksut elo? Ngaku lo!" amuk Sinta kesal. Pasalnya, dirinya masih merasa ilfill jika dipanggil dengan nama itu oleh orang lain, terutama oleh remaja laki-laki seusianya. Karena itu akan mengingatkan dirinya dengan kenangan mantannya, yaitu adalah Raja. "Ye geer lo," balas Rama dengan diakhiri cibiran mautnya. Tak berapa lama terdengar suara kekalahan dari kedua ponsel miliknya Rama dan Sinta, karena ketidakfokusan kedua pemain dalam bermain game. Dan mereka berdua malah memperdebatakan sesuatu yang tidak bermutu. Membuat mereka berempat saling melirik dengan lesu. Dan yah, mereka adalah tim yang kalah. Tak ada satupun pemain yang menang dalam pertandingan game online tersebut.. Rama kini menoleh ke arah Sinta. "Jangan geer ya. Gue manggil lo say, bukan berarti sayang. Yang gue maksud itu saython!" terang Rama memberikan penjelasan singkat atas apa yang dia ucapkan tadi kepada Sinta. Sontak saja Sinta merasa marah saat dikatai dengan perkataan tadi. Tanpa sepengetahuannya Rama, Sinta mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi siap untuk menghantam kepalanya Rama yang selalu besar kepalam Bug! Bug! Bug! "Lo bikin gue emosi. Nih makan nih pukulan gue," kata Sinta dengan pukulan yang sangat keras ketika menghantam kepalanya Rama sampai-sampai Rama kualahan menghindari serangan itu. Naya dan Dewa yang melihat kebengisan Sinta hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak menyangka dengan kekuatan miliknya Sinta. Terkejut saat setelahnya melihat Rama yang sudah terkapar dengan kepalanya yang dia taruh diatas meja, bertanda jika Rama kalah menghadapi serangan dari Sinta. Dengan kompak, bak dua anak kembar yang sudah terlatih, Naya dan Dewa bertepuk tangan heboh. "Headshoot yang sebenarnya!" pekik keduanya senang. Sinta menyibak rambutnya ke belakang, tersenyum dengan penuh kemenangan. Bergaya dengan gerakan kemenangan atas kekalahan dari Rama. Tak berapa lama terdengar suara dering telponnya. Mengambil ponsel dari bawa laci meja dan segera mengangkat telpon itu. Merasa takut jika itu telpon penting yang mendesak. "Assalammualaikum, Pa." "Kamu masih di sekolah?" tanya si penelpon. "Iya, Pa. Ini Sinta masih di kelas kok. Tadi baru habis main sama temen. Iya Sinta mau pulang. Ini Sinta lagi beres-beres dulu." "Ya udah. Papa tungguin di depan." "Siap Pa." Setelahnya Sinta memasukkan ponselnya ke saku rok setelah telepon dimatikan sepihak oleh papanya. Menggendong tasnya, berpamitan kepada semua temannya. Tak lupa menampar pelan lengannya Rama. Berpamitan dengan cara yang sadis khusus untuk Rama. "Bestie, gue pulang dulu ya. Udah ditungguin sama papa gue," pamit Sinta berjalan keluar kelas. Dengan kedua tangan yang sibuk memakai tas punggung warna maroon. Tas kesukaannya karena itu adalah tas pemberian dari papa tersayangnya. "Sin, katanya lo mau dinner sama gue entar malem? Pulang sama gue aja," seloroh Rama seenaknya. Tidak! Jangan percaya dengan perkataannya Rama. Dirinya hanya membual persoalan dengan dirinya yang mau mengajak dinner Sinta. Sinta yang baru saja mengalami masalah patah hati, tentu tak akan mau menerima undangan dinner tersebut. Mungkin jika lain waktu? Entahlah, Sinta hanya bisa mengikuti alur hidupnya. Sinta membalikkan tubuhnya, mengernyit heran. "Gue? Pulang sama lo? Ngimpi!" Dewa tertawa terbahak-bahak mendengar balasan dari Sinta. Seakan merasa puas dengan jawaban dari Sinta, Dewa mengacungkan dua ibu jarinya ke arah Sinta yang dibalas dengan senyuman bangga ala Sinta. Setelahnya Sinta pergi keluar kelas. Naya juga sudah bersaip-siap ingin pulang juga, terlihat tasnya yang sudah bertengger si belakang punggungnya. Dirinya merasa khawatir dengan keadaan mamanya jika Naya pulang terlammbat. Bahkan tadi Naya belum mengabari mamanya. "Gue juga mau pulang deh. Takut dicariin mama. Gue pulang dulu ya," pamit Naya dengan tangan yang sibuk mengetikkan benerapa pesan ke nomor mamanya. Karena merasa takut, jika mamanya itu mengabari papanya dan melaporkan jika Naya menghilang. Memang itulah kebiasaan mamanya Naya jika anak gadis semata wayangnya itu terlambat pulang dan tidak ada satupun kabar dari Naya. "Hati-hati, Nay. Kalo lo ketemu preman, inget, jangan nelpon gue. Nelpon polisi aja!" seru Dewa memberikan cengiran leba ala Dewa. Membuat Naya memutar bola matanya melihat tingkahnya Dewa. "Ya iyalah, nelpon lo, keburu gue diculik duluan," cibir Naya kesal. Kemudian tanpa perlu berpamitan kepada Rama, Naya segera berlari keluar dari kelas dengan kecepatan semaksimal mungkin. Agar dirinya juga sampai tiba di parkiran sekolah dengan waktu yang sebentar. Setelah kepergiannya Naya, Dewa menggaruk kepalanya karena merasa bingung mau berbuat apa. Sedangkan Rama sudah mengotak-atik ponsel miliknya sendiri. Entah sedang melakukan apa. Dewa pun tak tahu. "Ram, lo lagi ngapain?" "Nggak tahu. Coba aja cari di brai*ly," balas Rama dengan cuek tak menoleh ke arah Dewa. Membuat Dewa menahan rasa kesalnya yang sudah bertumpuk-tumpuk jika berhadapan dengan manusia yang satu ini, Rama. "Ye, gue tanyain serius juga." Rama hanya diam saja membuat Dewa bertambah bingung, tak tahu ingin melakukan apa. Karena memang tak ada sesuatu yang ingin dia lakukan sekarang. Ingin pulang juga nanti bosan saat sudah tiba dirumah. Karena tak ada teman sebaya yang bisa dia ajak bicara. Namun rasanya juga sama saja jika dirinya hanya duduk bengong disampingnya Rama. "Lagi nggak ada job lo?" "Ada," balas Rama sekenanya. Fokusnya masih tertuju di dalam ponselnya. Katanya tidak sedang berbuat apa-apa. Tapi tangannya sibuk menekan-nekan layar ponselnya. Membuat Dewa mendengus kesal, menebak jika Rama sedang menyelesaikan pekerjaan dari hobinya tersebut. "Bolehlah kita nyebat lagi. Tapi lo traktir gue hehehehe." "Nggak ada!" balas Rama cepat. Membuat Dewa terkejut akibat balasan dari Rama yang keras. Bahkan kedua matanya melotot ke arah Rama dengan sempurna. "Lah?" "Gue tolak semua." "Lo mah dodol, Ram. Ada rejeki malah ditolak. Kalo lo kualat jatuh miskin, entar gue ketawa sampai pagi." "Gua jamin, gue nggak bakal kayak gitu," balas Rama menyenderkan kepalanya. "Gue cuma mau jaga diri aja, Wa. Bener yang diomongin sama Nakula. Kita nggak boleh ngerokok. Lo nggak mau kan besok tua lo penyakitan? Terus mati secara perlahan-lahan." "Ya, gue nggak mau." "Nah itu. Berhubung kita belum jadi perokok berat, lebih baik kita hentikan nyebat. Kalo ada duwit buat beli nasi padang aja. Udah bergizi itu, ngenyangin lagi." Nasehat Rama mencuplik dari nasehat Nakula lusa kemarinnya. Karena hanya Nakulalah yang berani untuk menasehati dua teman nakalnya ini. Kadang beberapa temannya merasa terheran saat melihat Nakula yang masih bertahan berteman dengan Rama dan Dewa yang terlihat berbeda. Karena Nakula adalah remaja yang pintar dan suka belajar, sedangkan Rama dan Dewa tidak. "Oke. Gue juga berhenti dah. Nggak mau nyebat lagi. Kalo sekali-kali lo kedapatan gue nyebat, itu namanya khilaf," kekeh Dewa merasa konyol dengan perkataannya sendiri. "Heh, jangan setengah-setengah kalo mau insaf," peringar Rama dengan bijaknya. "Iya iya, gue tobat beneran dah. Nggak akan nyebat-nyebat dan segala sesuatu yang bersangkutan dengan barang yang namanya rokok," ucap Dewa setelahnya. "Nah gitu. Baru temen gue." Tiba-tiba Dewa mendapat satu panggilan di ponselnya. Dengan cepat membuka telponnya. Membuat Rama mengernyitkan alisnya merasa tak biasa dengan sikapnya Dewa. Karena biasanya Dewa aakn terlambat untuk membalas telepon dari seseorang. "Halo, Wul?" tanya Dewa kepada adik perempuannya, Wulan. Alis Rama semakin berkerut saat Dewa menyebut nama adiknya itu. Ya, Rama sudah kenal dengan adik satu-satunya yang Dewa miliki. Dan Dewa hanya hidup bersama ibu dan juga adiknya. Ayahnya sudah meninggal sejak dirinya duduk di kelas sepuluh. "Ibu nyariin Abang," balas Wulan dari seberang telepon. "Ya udah gue pulang sekarang. Bilangin ke ibu, gue pulang." "Iya, Bang." Setelah mematikan telponnya buru-buru Dewa mengemasi barang-barangnya. Rama berdeham singkat, karena pasalnya Rama tak mengetahui apa ada hal yang snagat penting untuk Dewa kerjaan saat ini sampai ingin cepat-cepat pulang? Apakah ada sesuatu hal yang menimpa ibunya Dewa? Ingatlah, meskipun mereka berdua sudah berteman selama dua tahun, tapi Dewa tak pernah menceritakan kisah hidupnya kepada Rama dam juga Nakula. Yang Rama dan Nakula tahu adalah Dewa hanya hidup bersama ibu dan adiknya, Wulan. "Ram, gue pulang dulu." "Nggak entar--" "Nggak, gue buru-buru." "Oke. Hati-hati lo." "Sip." Setelah kepergiannya Dewa, kelas menjadi semakin kosong. Hanya dihuni oleh Rama, yang entah mengapa merasa bosan jika sendirian. Padahal masih ada sesuatu hal yang harus Rama lakukan bersangkutan dengan hobinya itu. Rama mengedarkan pandangannya ke luar kelas. Ternyata memang sudah sepi. Dari tempat duduknya Rama bisa melihat sebuah lapangan bola yang sudah kosong tak berpenghuni. Itu tandanya ekskul sepak bola sudah selesai. Melihat ke arah jamnya, ternyata sudah pukul lima sore bahkan lebih. Rama segera membereskan barang-barangnya. Setelahnya berjalan keluar kelas, berniat akan pulang ke rumahnya. "Naik-naik ke puncak monas, tinggi-tinggi sekali. Kiri kanan kulihat saja, banyak orang pacaran!" Nyanyian Rama menggema disetiap langkahnya. Melangkah pelan dengan satu tangannya tenggelam di saku celana. Sedangkan tangannya yang lain melempar kunci motornya ke atas kemudian dia tangkap lagi. Nyanyiannya masih berlanjut berulang-ulang sampai dirinya tiba disebuah lorong di lantai dasar. Rama membelokan jaoannya ke arah kanan ingin menuju ke tempat parkiran berada. Namun seketika langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang sangat dia kenal. Rama berjalan mengendap-endap mengikuti kemana saja perginya orang itu. "Udah kayak bandar n*****a aja gue, ngendap-ngendap gini takut ketahuan," monolog Rama mengomentari tingkahnya sediri kemudian menggelengkan kepalanya pelan. Kernyitan di dahinya tampak jelas saat melihat orang itu berjalan cepat ke arah toilet. Dan saat melihat orang itu melangkah memasuki toilet, Rama semakin mempercepat langkahnya, hingga sampai di depan toilet, Rama dibuat bimbang. "Masuk, enggak? Enggak apa masuk? Ya udah nggak masuk aja," gumam Rama setelah memutuskan pilihannya kemudian menyenderkan kepalanya di dinding. Mempertajam pendengarannya saat mendengar seseorang yang sedang muntah-muntah. Rama yakin jika orang yang sedang muntah-muntah itu adalah orang yang tadi dia ikuti. Kedua matanya memejam saat merasakan sebuah rasa familiar di hatinya. Rasa yang dulu pernah singgah jika berhubungan dengan seseorang yang ada di toilet. Rasa sakit hati, kekecewaan dan rasa tak dibutuhkan "Dia lagi sakit?" tanya Rama entah kepada siapa pertanyaan itu dia tujukan. Kepalanya menerawang pada masa lalunya, tepatnya setahun silam. Dirinya sebenarnya pernah memiliki sebuah hubungan dengan orang yang tadi dia ikuti. Namanya Laras. Orangnya anggun seperti namanya. Entah bagaimana, Rama bisa merasakan rasa senang jika disampingnya Laras. Namun, hubungan mereka tak berubah menjadi sepasang kekasih karena sutau hal. Hingga saat kelas sebelas ini, Laras tiba-tiba menjauh darinya. Membuat Rama sering bertanya-tanya apa salahnya. Dulu, mereka berdua memang satu kelas. Dan kini mereka menepati kelas yang berbeda. Tak ingin terlalu tenggelam dengan masa lalunya itu, Rama segera pergi beranjak dari tempatnya berdiri saat mendengar suara air mengalir. Harapannya kini berganti. Yang semula dia berharap bisa menjadi masa depannya Laras suatu hari nanti, berganti menjadi harapan semoga Laras hidup dengan bahagia tanpa sosok darinya. "Freak banget gue. Bisa-bisanya wisata masa lalu saat gue sedang kayak gini," gumam Rama segera pergi menjauh dari toilet takut ketahuan oleh Laras. Untuk mengalihkan fokusnya, Rama bersiul di sepanjang jalan menuju motornya. Takjub saat melihat parkiran yang kosong dan hanya terisi oleh motornya saja. "Kosong banget dah. Kayak hati gue." Rama memasukkan terlebih dahulu kunci motornya ke dalam lubang kunci, setelah itu menaiki motornya dengan sangat santai. Saat sudah duduk diatas motornya, dirinya terdiam saat teringat sesuatu. "Nah kan, b**o. Jadi lupa kan."bRama kemudian turun dari atas motornya. Mengangkat kedua tangannya kemudian berdoa. "Untuk memulai perjalanan pulang kali ini, gue harus doa dulu. Berdoa dimulai. Bismillahirrohmannirohim." Setelahnya, dengan khusyuk Rama berdoa membaca surah Al-Fatihah sampai selesai. "Amiin..." Acara berdoanya pun selesai. Rama bersiap akan menaiki motornya lagi. Namun tepukan di bahunya menunda niatnya. "Ada apa--" Bugh! Tatapannya langsung buram, setelah seseorang memukul tengkuknya yang menyebabkan Rama pingsan ditempat. Membuat tiga orang yang lain datang dengan sebuah mobil. Dan saat itu juga Rama tak sadarkan diri dikelilinhi oleh tiga orang misterius. "Dosa banget lo, Van. Anak orang loh, lo gebukin," ujar Kenzo setelah keluar dari pintu kemudi. "Kalo nggak gue gebukin. Dia nggak bakal mau. Udah cepet masukin dia ke mobil. Gue pake motor dia," komando Vano membuat ketiga temannya mengangguk. *** Beberapa menit setelah aksi penculikan tersebut, Rama sudah berada di sebuah markas milik salah seorang gengster. Saat ini kondisi Rama masih pingsan dengan posisi duduk di sebuah kursi kayu. Kedua tangannya terikat ke belakang. Tangan Rama bergerak menandakan jika dia sudah siuman. "Arghh..." Kedua matanya mengerjap, meneliti ruangan yang dia tempati itu. Mengernyit saat melihat sebuah bendera dengan lambang tengkorak hitam. Semakin bingung saat membaca tulisan kecil di bawa gambar itu yang bertuliskan bother us you die. Tak salah lagi, Rama mengenal siapa pemilik markas ini. Suara decitan pintu membuat Rama menoleh ke arahnya. Dari sanalah muncul lima cowok dengan jaket kulit dan logo yang sama dengan bendera yang Rama temui tadi. "Wohoo, ternyata udah bangun lo," kata Vano berjalan mendekat dengan sebuah kayu balok. Rama hanya menatap malas ke arah kumpulan orang-orang yang telah menculiknya itu. "Lo tahu nggak, kenapa gue culik lo ke sini?" Masih saja Vano berjalan dengan pelan menuju ke arah Rama. Devano Matteo Adhitama namanya. Panggilannya Vano. Ketua dari gengster The Draks. Kisahnya menyebar luas setelah kematian Gilang, ketua dari gengster The Kingzer. Gilang meninggal bukan karena perang dengan Vano. Tapi karena suatu hal yang lain. "Ck, drama," cetus Rama malas. "Ckckck, lo berani juga ternyata," kata Vano menodongkan kayu balok ke arah kepalanya Rama. "Cepetan. Keburu malem, entar gue dimarahin bokap!" teriak Rama yang sudah muak dengan drama yang dibuat oleh Vano. Vano menjatuhkan kayu baloknya. Bertepuk tangan riang dan segera duduk di depannya Rama. Mengeluarkan sebuah ponsel dari saku jaketnya. "Gini nih, gue suka sama orang yang to the point." Rama hanya mendengus kesal saat mendengarnya "Bukan orang yang kebanyaakn drama," sambung Vano. "Elo yang kebanyakan drama," cetus Rama kesal. "Udah buru cepet lepasin ikatannya." Vano terkekeh kemudian melepaskan tali yang melilit kedua tangannya Rama. Bergaya membersihkan seragamnya Rama. Setelahnya mengulurkan ponsel. "BAGONG LO! KALO GUE AMNESIA SIAPA YANG MAU JADI HACKER BOY HAH?! LO NGGAK NGOTAK!" teriak Rama setelah dilepaskan dari tali yang melilit tangannya. "S-santai, Ram. E-entar gue bayar lebih kok," jawab Vano yang terkejut melihat Rama yang marah. "Oke. Satu juta," putus Rama tetap mengambil kesempatan di dalam kesempitan. Mata Vano membulat, tak percaya. "Ngggak enak aja. Temen lo, lo kasih gopek doang. Kenapa gue--" "Siapa suruh pake acara nyulik gue!" "Y-ya itu, biar lo mau aja." "Ck, pokoknya gue minta satu juta." "Nggak bisa lo kurangin? Tujuh ratus ribu aja deh." "Dua juta," pinta Rama semakin meningkat. "Nggak, delapan ratus-" "Tiga juta." "Iya iya, satu juta," putus Vano akhirnya. "Nah sip. Gitu dong. Biaya kerugiannya udah gue itung juga itu,"ujar Rama tersenyum penuh kemenangan. "Biaya kerugian apaan?" "Inget, siapa yang udah nyulik gue ke sini?" tekan Rama. "Iya gue inget. Cepetan nih." Rama menerima ponsel itu. Membolak balikkan ponselnya, mengernyit saat melihat kondisi ponselnya yang masih baru. "Mau diapaain? Ponselnya masih baru gini?" tanya Rama terheran. "Nah itu dia. Ponsel gue kemarin kena sadap sama orang lain. Dia berhasil masuk ke akun gue. Gue emosilah, terus gue banting ponsel gue yang itu. Habis itu gue beli lagi yang baru. Ya itu ponselnya. Gue mau lo beri perlindungan ke ponsel gue, biar nggak bisa di sadap orang lain lagi," terang Vano dan Rama hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Setelahnya Rama mulai mengeluarkan sebuah kotak yang merupakan tempat penyimpanan chipnya. Mulai mengerjakan apa yang Vano minta. Karena bagaimana pun juga, Vano adalah temannya. "Beliin gue makan. Sekalian permen karet juga. Gue nggak bisa kerja kalo nggak ada permen karet," suruh Rama. "Siapa lo? Berani nyuruh gue?" tantang Vano. Bagaimana juga dia adalah ketua The Draks yang tak pernah disuruh-suruh seperti ini. "Ya udah, nggak gue amanin ponsel lo--" "Iya iya. Gue beliin dulu. Cak--" "Nggak! Harus lo yang beli sendiri. Nggak boleh nyuruh Cakra." "Emang monyet lo!" umpat Vano kesal membuat tawa dari teman-temannya meledak. "Emang cuma Vani sama Rama yang bisa jinakin Vano," ucap Cakra kemudian tertawa kencang. "Gue kok dilawan," balas Rama membanggakan diri sendiri. Jadi sebenarnya Rama dengan Vano itu berteman baik. Berteman saat mereka tak sengaja bertemu di sebuah arena balap liar. Saat itu Cakra, temannya Vano kesal melihat ponselnya ngebug. Dengan percaya diri bak hero sang penyelamat, Rama maju dan menawarkan bantuannya. Sejak saat itulah Rama menjalin pertemanan yang erat dengan anak-anak The Draks. Jadi rencan penculikan Rama itu adalah ide dari sang ketua The Draks, yaitu Vano. -1 JAM SEBELUMNYA- Sebuah gedung yang terlihat tua dari luarnya namun terlihat megah didalamnya, dan gedung itu dijadikan sebuah markas oleh Gengster Draks. Sebuah wadah perkumpulan para remaja yang ingin mengenal arti dari kekeluargaan, solidaritas dan kebahagian. Sebuah wadah untuk dijadikan tempat mencurahkan hati disetiap suasana. Dan gengster itu dipimpin oleh seorang remaja laki-laki berusia delapan belas tahun bernama Devano Matteo Adhitama. Panggilannya adalah Vano. Seorang ketua geng yang sangat disegani oleh semua anggotanya. Saat itu Vano baru saja mendapatkan sebuah masalah di dalam perkumpulannya. Bahkan masalah itu menyangkut dengan seorang pujaan hatinya. Maka dari itu, Vano berniat menghubungi seseorang yang bisa untuk memberikan perlindungan pada ponselnya. "Arrgghh... Steve sialan!" erang Vano setelah menendang sebuah kursi kayu yang langsung patah saat itu juga. Keempat temannya yang melihatnya hanya saling melirik satu sama lain. Tak berani untuk mengomentari perbuatan sang ketua. Tak berapa lama Kenzo, wakil ketua dari Geng Draks berdeham pelan sebelum berkata. "Udahlah, Van. Lo perketat aja penjagaan pada Vani. Buat persiapan kalo si Steve ngancem Vani," usul Kenzo yang mendapat anggukan dari teman-temannya yang lain. "Buat perketat penjaagan di Vani gue emang nggak masalah. Bahkan gue siap buat jagain Vani dua puluh empat jam nonstop," balas Vano yang terlihat frustasi. Bahkan dirinya semakin terlihat sedang sangat frustasi saat kedua tangannya meremas rambutnya kuat-kuat. Membuat beberapa temannya merinding melihat beberapa helai rambut yang tersangkut di sela-sela jarinya. "Itu sih mau lo. Kalo Vani mah ogah!" ceplos Galih yang langsung mendapat pelototan tajam dari Vano. Sontak saja Galih memperlihatkan cengirannya dengan kedua jari terangkat. Bermaksud mengajak damai. "Jadi, mau lo gimana nih? Langsung perang?" tanya Kenzo yang membuat binar kesenangan di sorot teman-temannya menyala dengan sangat terang. Namun berbeda dengan Vano, dirinya malah mendengus kesal mendengar pertanyaan dari Kenzo. "Jangan. Kita bukan pengecut yang nyerang musuh duluan," jawab Vano mendapat persetujuan dari teman-temannya setelah berpikir cukup lama. Vano berjalan menuju sebuah sofa yang ada di ruangan itu. Meraih sebuah kotak ponsel yang masih tersegel. "Wih, ponsel baru nih," ujar Cakra heboh memecah keheningan diruangan itu. Dengan santainya dirinya duduk di sampingnya Vano. "Ponsel baru nih, senggol dong," goda Galuh ikut-ikutan heboh seperti Cakra. Galih memilih untuk duduk di samping kirinya Vano sedangkan Cakra duduk di samping kanannya Vano. Saat ini Vano yang masih duduk terdiam saat kotak ponselnya diraba-raba oleh Cakra. Saat Cakra berniat ingin merebut kotak ponsel itu terlebih dahulu Vano menepis keras tangannya Cakra. Plak! "Heh, jaga tuh tangan. Mau gue potong?" tanya Vano tajam membuat nyali Cakra menciut saat itu juga. Dengan segera Cakra duduk menjauhi Vano dengan kedua tangan yang dia sembunyikan di belakang tubuhnya. Seolah sedang menyembunyikannya dari Vano. "Van, asyik ya main ke Jawa Tengah. Kemana itu, ke Candi Borobudur?" tanya Galih tiba-tiba. Jadi, sebelum mendapat masalah pada ponselnya Vano kalau ponselnya itu telah diretas oleh seseorang, waktu minggu kemarin Vano tengah berlibur ke Jawa Tengah dan mengunjungi Candi Borobudur. "Heem, lo bakal nyesel kalo nggak main ke sana," balas Vano dengan raut senang karena disana dia memiliki kenangan-kenangan indah bersama Vani, gadis pujaan hatinya. Bahkan dirinya juga memiliki foto kenangan-kenangan bersama Vani. "Ah lo mah, bisanya cuma bikin gue iri. Ngajak juga kagak!" sewot Galih kesal kemudian dia merentangkan kedua tangannya dibelakang kepalanya. Dan kepalanya menyandar di kepala sofa. Mencoba membayangkan bagaimana keindahan pemandangan alam di sekitar Candi Borobudur. "Heh, nggak usah lo bayangin. Lo nggak bakal ngerti," instrupsi Vano membuat Galih mendengus kesal. "Bahkan, haluanku pun tak sampai ekspetasi," gumam Galih sedih kemudian melirik ke arah Cakra yang sedang sibuk mengotak-atik ponsel miliknya sendiri. "Argghh, lama-lama gue ganti ponsel juga nih," teriak Cakra frustasi karena sedari tadi apa yang dia lakukan tak membuahkan hasil, satupun tak ada. "Emang lo lagi ngapain sih, Cak?" tanya Kenzo yang sedari tadi hanya duduk menyimak di sebuah kursi rotan dengan tangannya yang tersalip sebuah permen. "Lagi nanam toge. Ya lagi benerin ponsel gue lah. Apalagi?" tanya Cakra sewot. Pasalnya dirinya terheran dengan keberaadaan otak para teman-temannya. Kenzo yang langsung mendapat semburan kalimat tersebut hanya mendengus kesal kemudian melanjutkan menyesap permen miliknya. "Aargghhh.... kesel gue. Dari tadi nggak bisa mulu. Mau bawa ke Hacker Boy aja dah," ujar Cakra setelah melempar ponselnya ke samping karena dirinya merasa kesal tak bisa membenarkan ponselnya sendiri. "Hacker Boy?" gumam Vano bertanya seolah merasa asing dengan nama tersebut. "Siapa itu Hacker Boy?" "Serius, lo nggak tahu?" tanya Cakra tak mempercayai perkataannya Vano dengan jari telunjuk yang mengacung di depan wajahnya Vano. Saat melihat jari telunjuknya Cakra yang dengan beraninya mengacung di depan wajah tampannya, sontak saja Vano marah besar. Meraih jari itu dan memelintirnya pelan. Sangat pelan tapi mampu membuat Cakra, si pemilik jari mengaduh kesakitan. "Ampun, Van. Ampun. Lepasin jari gue weh. Jari gue bisa patah," adu Cakra merasakan rasa sakit di jari telunjuknya yang teramat sangat. "Makanya, nggak usah berani-beraninya nunjuk-nunjuk wajah gue dengan jari lo," peringat Vano marah dan itu langsung Cakra catat di otaknya agar tak mengulangi perbuatan yang sama. "Kasih tahu gue, siapa si Hacker Boy itu," tanya Vano setelah keheningan terjadi di ruangan itu. "Itu, si Rama. Ramawijaya Aksa Aryasatya. Seorang siswa dari sekolah SMA Angkasa Wijaya," terang Galih memberikan informasi kepada Vano. "Maksud lo, Rama yang--" "Iya. Rama yang kemarin ketemu sama kita di sirkuit pertandingannya balap motor antara lo sama Steve. Rama yang udah benerin ponsel gue yang sempet ngehang," tambah Cakra memberikam informasi selanjutnya. Dan hal itu membuat Vano senang. Raut wajahnya yang semula terlihat marah kini berubah menjadi sangat ceria dan terlihat sangat senang. Bahkan siulan ringan terdengar dari bibirnya. Semua pasang mata menoleh ke arahnya dengan tatapan yang heran. "Lo, kenapa Van? Kelihatan seneng gitu?" ucap Cakra yang tak bisa menyembunyikan pertanyaan yang terbayang di otaknya. "Gue tahu, apa yang harus kita lakuin selanjutnya agar ponsel gue aman dan nggak kena retas lagi," balas Vano senang kemudian menyambar sebuah kunci dari atas meja. "Lakuin apa?" kompak keempat temannya yang tak mengerti. Vano hanya melirik ke arah temannya sebentar. Kemudian melanjutkan perjalanannya menuju pintu keluar. Sebelum Vano membuka pintunya, dirinya membalikan tubuhnya terlebih dahulu. Memberikan seringaian mengerikan kepada teman-temannya. "Nyulik Rama!" teriak Vano ringan kemudian membanting pintu yang ada disana. Sontak saja teriakan dari Vano membuat keempat temannya gusar. "WOY VANO, JANGAN ANEH-ANEH NYULIK ANAK ORANG WEH! LO KITA RAMA ITU TUYUL APA, SEGALA PAKE ACARA LO CULIK!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD