Hotnews

3248 Words
Kekecawaan anak terhadap orang tuanya bisa menjadi salah satu penyebab kenakalan remaja. -Rama- Kenakalan remaja. Memang terdengar tak asing untuk kita semua, terutama untuk usia remaja dan orang tua. Kenakalan remaja bisa membahayakan diri sendiri ataupun orang lain. Tapi ingatlah, kenalakan remaja terjadi bukan hanya karena kehendak dari diri sendiri tapi bisa disebabkan oleh faktor lingkungan sekitar. Ya, lingkungan bisa menjadi faktor pemicu munculnya kenakalan remaja. Dan kenakalan remaja identik dilakukan oleh remaja-remaja yang sedikit nakal. Jadi, apakah Rama termasuk remaja yang nakal? Tidak! Rama bukan termasuk remaja yang nakal. Dia hanya sedikit lebih pembangkang. Ya, Rama adalah remaja yang pembangkang. Bukan membangkang untuk segala hal, hanya beberapa hal yang Rama langgar. Misalnya melanggar yang berkaitan dengan kegiatan favoritnya. Ya, meretas. Hobinya itu bermula sejak dirinya masih berumur sembilan tahun.  -11 TAHUN YANG LALU- Saat itu, saat suasana cerah tepatnya pada hari Minggu, keluarganya Rama sedang mengunjungi sebuah pameran elektronik. Ada bermacam-macam peralatan elektronik yang dipamerkan di event tersebut. Membuat takjub semua penonton yang melihatnya. Begitupun dengan Rama. Dia bahkan tak berkedip saat menyaksikan sebuah stan berisi seseorang dengan sebuah komputer canggih miliknya.  "Kakak, jangan bengong dong. Entar kemasukan lalat tuh," ujar Tika menyadarkan Rama. Rama segera menutup mulutnya, melirik kesal ke arah Tika yang sudah tertawa kecil. "Udah-udah, ayo jalan," ajak sang mama. Dengan segera Rama dan Tika melanjutkan perjalanan mereka. Keduanya saling bergandengan tangan. Sedangkan kedua orang tua mereka yang ada di belakangnya, mengikuti dengan pelan.  "Pa, Ma, habis ini makan dulu ya? Ya ya ya ya?" tanya Tika setelah membalikkan badannya ke arah kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya pun tersenyum kemudian mengangguk ringan. "Adek, maunya makan dimana?" tanya mama dengan suara keibuan. "Ehm, di--" "Peternakan," balas Rama cepat membuat Tika mendengus kesal sembari melempar lirikan tajam ke arah kakaknya. Sontak Rama tertawa puas melihat raut tak mengenakan dari wajah adiknya. "Iihh…. Adek nggak ngomong sama Kakak ya," balas Tika masih menatap tajam. Segera menghadap ke arah mamanya lagi. "Ke? Ehmm…. Adek ikut aja deh." "Ya udah. Nanti terserah papa mau makan dimana aja. Yang penting, kita selesaikan dulu acara hari ini," balas mama membuat Tika bersorak heboh. Keluarga sederhana yang terlihat harmonis itupun melanjutkan perjalanan berkekeling melihat-lihat pameran. Rama bahkan sempat tertinggal beberapa kali karena dirinya terlalu fokus memperhatikan suatu pameran elektronik. Dan itu juga terjadi pada kali ini. Saat ini Rama sedang memperhatikan sebuah pameran yang memperlihatkan seorang pria tua dengan sebuah komputer canggih dengan layar monitor yang besar sedang mengetik sesuatu di atas keyboardnya dengan sangat cepat. Rama mendongak, menatap papan yang ada di atasnya. Matanya menyorot tulisan dengan tinta putih dipapan itu. "Dunia Perhackeran? Wah dunia perhackeran? Eits, emang ada dunia kayak gitu?" gumam Rama pelan. Dirinya masih terpaku pada tulisan dipapan itu membuatnya tak menyadari jika mamanya sudah berteriak memanggilnya sedari tadi. "KAKAK!" teriak mama membuat Rama tersadar. Menoleh ke arah keluarganya yang berada tak jauh dari tempatnya berpijak. Rama mengangguk pelan saat melihat Tika melambaikan tangan ke arahnya. Dengan segera Rama berlari menuju keluarganya berada. Setibanya disana, Rama pun bertanya. "Pa, Ma, dunia perhackeran itu apa?" tanya Rama terheranan. Pasalnya di sekolahnya, Rama tak menemukan pelajaran dengan tema tersebut. "Dunia perhackeran itu dunia peretasan yang dilakukan dengan menggunakan sebuah server yang tersambung dengan listrik dan juga jaringan. Apapun bisa dilakukan dengan cara meretas. Misal, pencurian data negara. Pencurian data negara bisa diretas melalui server yang dihubungankan secara sengaja oleh si hacker. Tapi nggak tahulah, Papa nggak ngerti," balas papa kemudian mengendikkan bahunya. Meskipun Rama tak paham dengan penjelasan papanya, tapi dirinya tetap merasa kagum dengan penjelasan tersebut. Melihat binar takjub di kedua matanya Rama, mamanya pun bertanya. "Emang Kakak mau jadi hacker?"  "MAAUUU…." "Nggak boleh. Kakak harus jadi direktur. Kakak harus jadi penerus perusahaannya Papa. Ingat, harus jadi penerusnya Papa," kata papa membuat binar kebahagiaan di kedua matanya Rama hilang seketika.  Rama hanya bisa mengangguk dengan lesu. Impiannya yang baru saja dia inginkan, harus dia pendam sebelum dia memulai untuk menggapainya. Tapi karena papanya yang melarang, membuat Rama semakin curiga. Dan dengan tekad dan kesabaran yang besar, pada akhirnya Rama bisa menguasai dunia peretasan pada usianya yang ketiga belas tahun. Dan selama lima tahun ini Rama selalu menutupi kemampuannya tersebut, agar dirinya tak mendapat tentangan dari papanya lagi. *** Pagi hari, udara sangat segar. Cuaca cerah tak mendung tapi berawan. Sinta berangkat ke sekolah diantar oleh papanya. Setelah sehari dirinya tidak bisa sekolah karena demam kemarin, dirinya sudah merasa kangen dengan temannya. Ya Naya teman terbaiknya. "Udah sampai," kata papanya Sinta kemudian menghentikan mobil tepat di depan pintu gerbang SMA Angkasa Wijaya. Sinta melepaskan sealtbeltnya, mengambil tas yang dia letakkan di kursi belakang. Menoleh ke arah papanya dan menyalami tangan papanya. "Sinta belajar dulu ya, Pa," pamit Sinta setelah menyalami tangan papa. "Iya, kamu belajar yang bener ya, Sayang. Papa berangkat dulu. Dadah...." Sinta melambaikan tangannya sembari tersenyum. Setelah itu dirinya membalikkan tubuhnya dan berjalan memasuki sekolahan. Berjalan memasuki lorong-lorong kelas, Sinta mendengar beberapa siswa yang sedang bergosip. Bahkan mereka terlihat sangat asyik bergosip. "Kemarin itu loh, aksi paling kereenn.... yang pernah gue lihat," ujar seorang gadis yang memakai penjepit rambut merah sedang duduk ditemani oleh seorang gadis berambut panjang. "Iya, setuju gue. Heroik banget nggak, sih?!" seru si gadis berambut pendek. "Wah, gue jadi kepo, siapa cowok yang jadi si Hacker Boy ini?" "Gue juga, gue juga. Kalau sampai ketemu, bakal gue ajak fotbar sesuka gue. Terus gue post deh di i********:, biar dikira gue pacarnya," ujar si gadisberjepit rambut merah. Plak! "Heh, sadar lo, si Hacker Boy itu pacar gue tahu!" "Idih, siapa lo. Orang gembel gitu!" kata si gadis berjepit rambut merah kemudian menarik rambut si gadis berambut panjang. "Argghh…. Meri nyebelin banget sih lo!" teriak si rambut pendek saat merasakan sakit di kepalanya. Hingga akhirnya dua gadis itu saling menjambak rambut si lawannya. Bahkan Sinta yang melihatnya sampai merinding. Sinta lebih baik melanjutkan perjalanannya menuju kelas. 'Hem, Hacker Boy? Apa yang terjadi kemarin selagi gue nggak berangkat sekolah?' batin Sinta bertanya-tanya. Sinta terus berjalan, dan masih tetap sama, semua siswa hampir bergosip dengan tema yang sama. Hingga kemudian, Sinta mendengar tiga orang cowok yang bergosip soal seorang kakak kelasnya. "Parah banget njing, langsung maen grepe-grepe tuh," ujar laki-laki berambut cepak. "Iya woy, gue nggak nyangka kalo Queensha seberani itu orangnya. Tapi ya nggak kaget juga gue, lihat kelakuannya yang kayak gitu," sahut temannya yang lain, kali ini laki-laki dengan seragam yang tak dimasukan ke dalam celana. "Gegara kemarin, si Queensha pasti dikeluarin nih. Mantaplah si Hacker Boy ini," cerita teman yang satunya. Sinta terdiam, batinnya terus bertanya. Dengan kaki yang masih melangkah, Sinta terus bertanya-tanya didalam batinnya. 'Sebenarnya ada apa? Kenapa orang-orang heboh ngomongin Si Hacker Boy? Dan apa kaitannya sama si Queensha?' batin Sinta yang tanpa dia sadari dirinya sudah sampai didepan kelasnya. Buru-buru Sinta masuk dan langsung mengedarkan pandangannya mencari Naya. Dan syukurlah Naya sudah datang, kini dia sedang duduk santai dikursinya sembari bermain ponsel. Sinta melangkah cepat ke arah kursinya berada. "Naya!" panggil Sinta. Naya mendongak, kemudian tersenyum lebar menyambut Sinta. "Ahh bestie gue!" Setelahnya Naya memeluk Sinta dengan pelukan yang sangat erat. Tak berapa lama sebuah tepukan di tangannya membuatnya menoleh. "Apa sih lo?" tanya Naya emosi menatap tajam ke arah Rama yang baru saja datang. "Lo berniat mau bunuh temen lo? Sinta nggak bisa napas b**o!" tekan Rama. Naya tersentak buru-buru melepaskan pelukannya. Dan tertawa canggung ke arah Sinta. Rama yang melihatnya hanya memutar bola matanya. Menepuk bahunya Dewa sekali. "Wa, Neng Ayu-an yok." "Hah? Apaan?" tanya Dewa menoleh ke Rama, yang ternyata sedang mendengarkan lagu dengan sebuah earphone. "Neng Ayu-an," ulang Rama. "Yoklah, gas!" balas Dewa bersemangat. "Neng, Ayu-an?" gumam Sinta tak mengerti. "Itu, maksudnya mau ke kantin," terang Naya kemudian meneliti seluruh badannya Sinta. "Udah nggak demam?" Sinta hanya mengangguk saja. Kemudian dia meletakan tasnya dibangku. Sinta terdiam sebentar, kemudian mengembalikkan atensinya ke arah Naya. "Nay, kemarin ada apa? Kok siswa lain pada heboh ngomongin Hacker Boy sama Queensha? Ada masalah ya?" tanya Sinta dengan pandangan yang serius. Naya menepuk jidatnya, kemudian duduk dengan tegak. "Lo ketinggalan hotnews di Angaksa Wijaya. Ini tuh berita paling hot selama dua tahun gue sekolah disini." "Apaan dah, emang cabe? Pake hot hot-an segala," kekeh Sinta namun tak lama Naya menggeleng. "Serriuss... syuumpah.... gue gak bohong." "Ada apa sih emang, heboh bener kayaknya." "Kemarin, waktu pelajaran Pak Suki, itu televisi aneh. Tiba-tiba nyala sendiri gitu. Gue juga sempet nanya ke temen gue yang beda kelas, katanya semua televisi diseluruh ruangan sama, nyala sediri." "Gangguan setan berjamaah?" tebak Sinta dengan wajah serius.  Naya menggeleng kencang membuat Sinta mengerutkan dahinya. "Bukan karna gangguan setan bestie. Tapi karena dihack. Dihack sama Hacker Boy." "Hah? Hacker Boy lagi?!" seru Sinta tak percaya namun Naya tetap mengangguk mantap. "Terus kalo Queensha kasusnya apaan?" "Bentar-bentar, ini bakal panjang. Gue mau ambil napas dulu." Naya mengambil napasnya panjang kemudian dia keluarkan dengan ekspresi aneh yang membuat Sinta mengerutkan alisnya. Naya mengabaikan ekspresinya Sinta dan tetap melakukan hal yang sama. "Cepetan dah, keburu bel entar," kata Sinta yang sudah tak sabar ingin mendengar kasus yang berhubungan dengan rivalnya itu, Queensha. "Ini lanjut yang tadi ya. Di televisi itu, ngasih tahu seberapa murahannya seorang Queensha. Televisi itu nayangin sebuah foto Queensha lagi ciuman sama Raja." "R-Raja? Mantan gue?" tanya Sinta yang sebenarnya sudah muak mendengar nama itu. Naya hanya mengangguk saja. 'Mantan gue juga,' batin Naya membalas. "Lebih parahnya lagi, ada videonya Queensha sama Raja lagi anuan itu. Ditayangin lagi. Emang parah banget itu dua orang. Lo tahu nggak, pas mereka ngelakuin itu dimana?" "Dimana emang?" "Di diskotik! Parah banget. Nggak punya malu apa? Kalo gue sih ogahlah." "Kalo lo, lo diajak ke diskotik aja nggak mau," tebak Sinta, Naya terkekeh menanggapi. "Ya udahlah. Biarin aja. Emang urat malu itu dua orang udah putus dari lama," ujar Sinta akhirnya yang mendapat anggukan dari Naya. "Tapi kan itu di tempat umum." "Mau ditempat umum, di tempat sepi, kalo emang nggak punya pendirian ya bakal tetep dilakuin," komentar Sinta gamblang. "Terus itu gimana? Kok semua yakin banget kalo yang ngehack televisi si Hacker Boy?" "Ya iyalah. Karna sehabis penanyangan video nggak bermutu itu, ada tulisan salam dari Hacker Boy, gitu. Tapi sebelum itu, si Hacker Boy itu kasih pertanyaan. Bilang gini, apakah siswa seperti ini pantas sekolah di Angkasa Wijaya? Apakah kalian setuju jika siswa seperti ini dikeluarkan dari Angkasa Wijaya? Cuma itu sih?" beber Naya kemudian menyeruput air mineral dari botolnya setelah menceritakan hotnews yang terjadi pada hari sebelumnya. Sinta terdiam. Dirinya tak merasa senang, tak juga merasa sedih. Dia hanya bingung saja, bagaimana kejadian itu bisa terjadi secara kebetulan. Kebetulan juga karena dirinya baru saja memiliki masalah dengan Queensha. Sinta menoleh lagi ke Naya. "Terus gimana lanjutannya, Nay?" "Semua siswa kompak bilang setuju kalo Queensha dikeluarin dari sekolah. Lo tahu, sehabis aksinya si Hacker Boy itu, ada pengumuman dari ruang osis yang ngundang si Queensha buat menghadap kepala sekolah. Fix sih ini, Queensha di D.O. dari Angkasa Wijaya. Akhirnya itu ulet bulu, dikeluarin juga dari AW. Seharusnya gue lihat gimana wajah songongnya waktu menghadap kepala sekolah." "Beneran di D.O?" tanya Sinta memastikan. "Bener. Tadi pagi gue juga lihat orang tuanya Queensha. Udah fix, di D.O. Pasti malu tujuh turunan itu cewek kalo sampai beritanya nyebar ke luar sekolah." "Emang bakal kesebar kan?" "Enggak semudah itu, bestei." "Kenapa bisa? Alasannya?" "Orang tuanya dia itu pembisnis yang sukses. Bakal mau ngeluarin uangnya buat nyogok beberapa wartawan buat nyembunyiin kebenarannya." "Nyeremin ya. Kasian banget tuh orang tuanya. Jujur aja Queensha emang cantik loh." "Sama aja dia cantik, kalo udah rusak luar dalam," usul Naya membuat Sinta tertegun sebentar. Tak berapa lama Sinta mengangguk setuju. "Gue setuju sama lo, Nay." "Nah," balas Naya menjentikkan jarinya. Setelahnya Naya membuka i********: mulai heboh saat beberapa kali menemukan foto-foto cogan ber-roti sobek. Menghentakkan kakinya ke lantai saat merasa gemas dengan foto para cogannya. Sedangkan Sinta duduk termenung dibelakangnya merasa tak terganggu. Pikirannya kini tertuju dengan satu nama, Hacker Boy. 'Kok bisa kebetulan gini? Kenapa bisa? Apa jangan-jangan si Hacker Boy itu orang yang tahu menahu soal masalah gue sama Queensha? Tapi siapa? Apa jangan-jangan Naya? Gue kan cuma cerita sama Naya,' batin Sinta dengan berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya. Sinta menoleh ke depan, tepat ke arah Naya yang masih heboh melihat foto di Instagramnya. Tak lama kepalanya menggeleng lemah. 'Nggak mungkin Naya. Kalo emang bener si Hacker Boy itu Naya, seharusnya nama hacker itu bukan gitu. Tapi Hacker Girl kan? Atau nama itu cuma jebakan doang, biar orang-orang terkecoh sama namanya aja?' Sinta masih berpikir keras mencari tahu siapa hacker sebenarnya yang bersembunyi dibalik nama Hacker Boy. Hingga tak berapa lama, telinganya mendengar terikan seseorang yang familiar. "Woy, Wa. Lempar sini sepatunya!" teriak Rama dari luar kelas. Tak berapa lama Rama masuk dengan membawa sebuah sepatu hitam putih milik seseorang. Kedua mata Sinta membulat, saat teringat sesuatu. 'Jangan-jangan si Hacker Boy itu-' "Nggak usah ngalamun pagi-pagi lo! Kerasukan mbak kunti yang suka sama gue baru tahu rasa lo," kata Rama yang sudah berdiri di depannya Sinta. 'Nggak mungkin. Orang Rama nyebelin kayak gini. Fix, bukan Rama orangnya,' batin Sinta tak menanggapi ucapannya Rama. "Woi!" teriak Rama mengagetkan Sinta yang masih duduk terdiam. Sinta mengerjab, kemudian melempar salah satu bukunya ke arah Rama. Plak! "Wah pelenggaran lo. Muka ganteng kayak gini, sembarangan lo lemparin buku. Anda dikenakan pasal undang-undang ya. Pasal tentang mendzolimi cowok berwajah tampan." "Nggak waras lo. Mana ada undang-undang kayak gitu," protes Sinta yang kesal dengan sikap menyebalkannya Rama. "Ada, gue yang buat. Barusan," kekeh Rama yang kemudian mendapat decakan dari Sinta. "Lagian, lo aneh. Pagi-pagi gini, bukannya doa malah ngalamun. Apa jangan-jangan lo emang beneran suka sama gue? Hayo lo ngaku, entar bakal gue kasih nilai A+" ujar Rama dengan kedipan mata bermaksud menggoda Sinta. "Lo tahu Bahasa Jawa-nya depan? Ngarep!" [Mengharapkan] "Bagong lo!" umpat Rama kesal saat memahami maksud dari perkataannya Sinta. Sinta hanya mencibir kesal ke arah Rama. Tak berapa lama, Dewa datang dengan keringat mengucur di dahinya. Menggeplak kepala Rama membuat Rama menoleh dengan tatapan protes. "Maksud lo apa, gong?" kesal Rama. "Lo, emang kambing ya, Ram. Lo nggak bertanggung jawab. Kasian tuh si Ucup. Sepatunya nggak lo balikin. Siniin sepatunya," gertak Dewa galak dan Rama menyengir lebar. "Hehehe, gue lupa. Tadi gue lihat bidadari sih, jadi lupa dunia," balas Rama kemudian tertawa lebar. "Mana?" "Nih, disamping gue," balas Rama melirik ke arah Sinta yang sedang membuka sebuah buku. Sontak saja Sinta dan Dewa menoleh bersamaan ke arah Rama. "NGAREP!" kompak keduanya membuat gendang telinganya Rama bergetar. "Bisa ae lo berdua, kompakan gitu. Gue doain lo berdua jodoh baru tahu rasa," ucap Rama mengusap telinganya yang berdenging. "Eh nggak jadi. Entar gue malah nggak dapet jodoh," kata Rama setelahnya. "Tolong dong, munduran. Ngarepmu kelewatan," balas Dewa mengejek, meniru perkataannya Rama beberapa hari yang lalu. Setelahnya Dewa keluar membawa sebelah sepatu sekolah dari orang yang bernama Ucup. Tak berapa lama Dewa kembali dan duduk di kursinya sendiri. "Hei guys, pada tahu nggak? Masa tadi waktu gue lihat di i********:, ada cewek cowok lagi cekcok. Katanya si cewek dibohongin gitu. Si cewek bilang, kalo pacarnya mau beliin cincin emas. Tapi cuma bohong," cerita Naya setelah tadi melihat sebuah postingan di i********:. Rama mengangguk-anggukan kepalanya membuat ketiga temannya menoleh ke arahnya.  "Si cowok ketipu filter, si cewek ketipu janji. Dunia emang adil," ujar Rama mantap. Sedangkan Naya berdecak kesal. "Jangan ngomongin keadilan deh, kalo masih banyak jomblo yang belum kebagian cinta," ungkap Naya sengsara. "Ya itu urusan lo," balas Rama kilat. "Dih nggak nyadar. Lo kan juga jomblo. Ngaca dong!" "Siapa bilang? Nih cewek gue," kata Rama menunjuk Sinta yang langsung melempar tatapan mematikan. Sinta segera meraih ponselnya, berakting menelpon seseorang.  "Halo, presiden. Salah satu rakyatmu sudah terlalu lama menjomblo yang mengakibatkan dia stres kuadrat. Apa boleh Saya binasakan?" Sontak saja Rama tertawa keras melihat tingkah konyol Sinta yang membuatnya tak bisa menghentikan tawa membahananya itu. Membuat tiga pasang mata yang melihatnya mendesis kesal. "Dasar gila." *** Setelah mandi pada sore hari, Sinta keluar dari kamar mandi dengan pakaian santainya dan tak lupa sebuah handuk berada di atas kepalanya. Sinta mengusap handuk itu untuk mengeringkan rambutnya sendiri. Berjalan pelan ke arah meja belajarnya. Duduk disana sembari termenung dengan kejadian hari ini. Benaknya mengingat lagi perkataannya Naya. "Terus siapa dong, orang dibalik nama Hacker Boy ini?" gumama Sinta yang kali ini sudah duduk manis dengan kedua kaki dia angkat di atas kursi belajarnya. Sembari tangannya bertumpu di meja agar kursinya berputar. "Rama? Iya kali, cowok kayak dia bisa ngehack?" "Tapi, kalau bener Rama bisa ngehack, jadi Rama si Hacker Boy dong. Kok gue ngerasa nggak yakin gini ya?" Sinta masih menebak-nebak siapa sebenarnya si Hacker Boy ini. Seorang hacker yang telah menghebohkan seluruh siswa di sekolahnya karena aksinya yang menyebar luaskan perbuatan buruknya Queensha. Dan sebab dirinyalah, Queensha dikeluarkan dari sekolah. Memikirkan Queensha secara otomatis Sinta terpikirkan oleh Raja, mantannya. Tanpa Sinta sadari, tangannya sudah merogoh laci dibawah meja dan mengangkat sekotak beludru berwarna merah terang. Sinta mulai membukanya. "Indah, tapi menyakitkan kalo dikenang," ujar Sinta menatap kotak itu yang masih dalam keadaan tertutup. Didalam kotak itu terdapat kalung yang sangat indah. Itu dulu, saat Sinta masih menjadi kekasih dari seorang Raja. Tapi kini tidak lagi. Sinta melihat kalung itu tak lagi merasa takjub akan tetapi menjadi muak. Dengan segera Sinta melempar kotak beludru dengan kalungnya ke dalam tempat sampah yang ada di pojok kamarnya. Dan ternyata kotak itu masuk tepat di dalam tempat sampah. "Hah, sayang banget. Kalungnya emas. Kalau berlian mah bisa gue simpen meskipun itu dari mantan," kata Sinta kemudian berdiri dari duduknya. Saat sudah berdiri tanpa sengaja kedua matanya Sinta menatap sebuah foto polaroid kecil-kecil yang ada di dinding kamarnya. Menghela napas dengan keras saat tahu siapa orang yang ada di dalam foto itu. Dengan segera Sinta memungut foto-foto yang tertempel di dinding. "Hah, heran gue. Kenapa gue dulunya bisa sebucin itu sama Raja. Sekarang nyesel sendiri gue." Sinta melanjutkan kegiatannya. Tak berapa lama dirinya tersenyum puas saat melihat dinding yang sudah kosong dari foto-foto polaroid. Dia memasukkannya ke dalam satu kardus. Saat dirinya akan berbalik, Sinta tak sengaja menjatuhkan sebuah figura yang ada di pojok mejanya. Meletakkan kardusnya terlebih dahulu, kemudian Sinta mulai membalik figura tersebut. "Arrgghh… terlalu banyak kenang-kenangan dari mantan. Bisa gue bakar satu kamar," erang Sinta karena merasa muak saat melihat sekeliling jika hampir semua barang-barang favoritnya adalah pemberian dari Raja.  Sinta segera melepaskan foto dari bingkainya. Tak hanya satu figura, bahkan ada lima figura yang ada di dalam kamarnya dan itupun ada fotonya Raja. Setelah itu Sinta mengeluarkan kotak dari atas lemarinya. Disana terdapat banyak sekali barang-barang pemberian dari Raja. Mulai dari buku diary, gelang, cincin, baju couple bahkan boneka beruang. Memasukkannya menjadi satu di kardus besar. Kemudian Sinta membawanya ke arah halaman belakang. Tak lupa dirinya tadi mengambil pematik api di dapur.  Meletakkan kardus besar itu di atas rumput yang dingin, kemudian dirinya mundur selangkah. Menyalakan pematik apinya dengan cepat. Sebelum melemparkannya ke kardus itu, Sinta menatap lama untuk terakhir kalinya dengan sorot mata yang marah. Tak menunggu waktu lebih lama lagi, dengan segera Sinta melempar pematik apinya tepat berada di atas kardusnya. Dan secepat itulah kobaran api membara di dalam kardus. Menatap dengan senyum lebar ke afah kobaran api. Sekarang Sinta siap untuk melupakan masa lalunya. Masa lalu yang menyakitkan. Dan masa lalunya adalah Raja. "Bye bye masa lalu," gumam Sinta kemudian segera berjalan pergi meninggalkan kobaran api yang semakin membesar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD