Marahnya Rama

3285 Words
Hidup memang membutuhkan cinta. Tapi jangan sampai kamu diperbudak cinta. -Dewa- Seorang laki-laki sedang mengawasi sebuah rumah megah berlantai dua itu dari seberang jalan. Kadang menarik napasnya panjang-panjang. Kedua bola matanya melirik dengan liar kesana kemari. Memperhatikan rumah itu yang terlihat sepi seperti tak berpenghuni. Laki-laki yang sedang duduk di belakang kursi kemudi itu adalah Rama. Rama merogoh ponsel di saku celananya. Mencari nomor seseorang dengan sangat cepat. Setelah menemukannya, tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Rama segera menelpon nomor itu. Suara dering telepon memecah suasana yang sepi senyap di dalam mobil. Berharap-harap cemas, jika prediksinya benar. Sebelum sampai di tempat ini, Rama memperkirakan jika salah satu pemilik rumah itu sedang pergi. Dan untuk mengeceknya, Rama harus menelpon seseorang. Di deringan pertama, telepon tidak terjawab. Tak putus asa, Rama segera menekan tombol telepon lagi. Dering kedua di ponselnya terdengar lagi. Bernapas lega saat tahu jika teleponnya dibalas. "Halo, Mas Rama?" sapa seseorang diujung telepon. Rama mendesah lega saat mendengar suara di seberang sana. Memajukan tubuhnya sesekali melirik rumah mewah yang dia incar tadi. "Halo, Mang. Eumm.... papa ada dirumah apa pergi?" tanya Rama takut-takut. Merasa takut jika dirinya ketahuan oleh papanya karena pulang terlambat. Apalagi saat ini sudah pukul setengah tujuh malam. Tentu hari sudah gelap. Rama terlambat pulang karena tadi dirinya mengantarkan Sinta pulang terlebih dahulu, namun ternyata Sinta memilih untuk menghentikan dirinya di sebuah halte yang asing bagi Rama. Mereka pun akhirnya berdebat panjang. Rama memilih untuk mengantarkan Sinta sampai rumah tapi Sinta meminta untuk diturunkan di halte bus saja. Dan perdebatan mereka terhenti karena Rama yang mau mengalah karena sudah lelah. Tak terdengar balasan dari seberang membuat Rama berdesis kesal. "Mang Jono!" panggil Rama sedikit menaikan nadanya. "Ah, iya, Mas. Eh maksud Saya, Tuan pergi. Sedari tadi Saya tidak lihat Tuan, Mas Rama," balas si penelpon  yang ternyata bernama Mang Jono. Rama mendesah lega saat mengetahui fakta yang satu itu.  "Bukan gerbangnya, Mang. Rama udah didepan," kata Rama lagi. "Eh, Mas Rama--" Tanpa menunggu balasan dari Mang Jono, dengan segera Rama mematikan telponnya. Memasukannya ponselnya kembali ke dalam saku celana sekolahnya. Kemudian Rama menjalankan mobilnya menuju pintu gerbang rumahnya. Setelah menekan klakson satu kali, pintu gerbang pun dibuka oleh Mang Jono. Memakirkan mobilnya di garansi. Rama tersenyum merekah saat melihat Mang Jono yang menunduk seperti sedang gusar. "Makasih, Mang. Sekarang boleh kembali ke kamar," ucap Rama setelah menepuk bahunya Mang Jono sebagai ucapan terima kasih sedangkan Mang Jono hanya mengangguk kaku. Berjalan dengan siulan andalannya, Rama memasuki perkarangan rumahnya. Tanpa mengetuk pintu, Rama segera membuka pintu dan masuk diikuti oleh Mang Jono. Tersenyum penuh kemenangan saat melihat lampu-lampu dirumahnya yang sudah mati. Pikirnya mamanya sudah tidur, sedangkan papanya sedang pergi. Jadi tak akan ada yang memarahinya karena dia pulang terlambat. "Sebenarnya, Mas--" Perkataannya Mang Jono terhenti saat lampu-lampu di rumahnya menyala dengan serentak. Membuat Rama terkejut diikuti oleh Mang Jono. Rama segera menoleh ke sekeliling sudut rumahnya, ingin mencari tahu siapa dalang yang telah menyalakan lampu di rumahnya dan membuat suasana hatinya Rama berubah drastis.  "S-setan ya, Mang Jon?" tanya Rama ketakutan saat tak melihat orang lain yang menjadi tersangka yang telah menekan saklar lampu. "Mungkin saja, Mas Rama," balas Mang Jono yang ternyata juga merasa ketakutan. Ketakutan mereka ternyara tak berhenti sampai disitu saja. Saat mereka sedang sibuk menatap ke sekeliling, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang menggema di ruangan yang sunyi. Rama dan Mang Jono segera mencari sumber suara itu. Dengan berjalan mengendap-endap, Rama dan Mas Jono saling dorong-dorongan untuk berjalan lebih dulu.  "Mang Jono, jalan duluan sana," suruh Rama kemudian bersembunyi di belakang tubuhnya Mang Jono. Mang Jono menoleh ke arah Rama. Segera memutar posisi menjadi Rama yang ada di depan. "Mas Rama aja yang di depan. Cepat jalan Mas," sahut Mang Jono. Tak memiliki pilihan lain, Rama segera berjalan maju dengan mengendap-endap. Dan suara langkah kaki itu semakin terdengar jelas dan menggema membuat Rama yakin jika dirinya hampir sampai. Saat Rama akan berbelok ke arah tangga, Rama dibuat terkejut oleh teriakan seseorang. "Dari mana saja Kamu! Jam segini baru pulang?!" teriak papanya Rama yang sedang berdiri di tengah anak tangga. Rama menoleh, dan sontak berteriak ketakutan. "SETAN! MANG JON, ADA SETAN!" teriak Rama diikuti Mang Jono yang berteriak. Sontak saja, papanya Rama menarik napas panjang karena ulah anaknya itu. "Heh, siapa yang kamu bilang setan hah?!" amuk papa. Rama terdiam saat mendengar suara papanya. Kemudian mendongak ke atas tangga. Mengeluarkan cengiran lebarnya saat kedua matanya melihat papanya yang menatapnya garang. "Eh Papa. Kenapa di rumah Pa?" tanya Rama refleks karena setahunya papanya sedang pergi dan otomatis papanya tidak ada di rumah. Rama melirik sinis ke arah Mang Jono yang hanya menundukan kepalanya. Rama baru sadar jika Mang Jono sedang menipu dirinya jika papanya sedang pergi. Faktanta papanya itu sedang menunggu dirinya dan memberikan kejutan untuk Rama. "RAMA!" "EH MAKSUD RAMA ITU--" "Dari mana saja Kamu?" tanya  papanya dengan wajag yang garang dan kedua matanya melotot tajam. "Main--" "Kamu itu main saja. Ingat, nilai Kamu turun gara-gara kebanyakan main sama--" "Sama Nakula," lanjut Rama saat tadi ucapnnya langsung dipotong oleh papanya. Papa terdiam, saat Rama bilang jika dirinya main dengan Nakula, si anak pintar. Tentu saja Rama diperbolehkan jika pergi dengan Nakula. Papanya akan merasa lega karena tahu Rama akan belajar bersama Nakula. Tidak tahu saja papanya itu, jika Rama tak pernah belajar ketika bermain dengan Nakula. "Ya sudah sana masuk ke kamar. Belajar yang benar, besok ada ulangan harian kan," perintah papa. Rama mendengus, kemudian berjalan menuju kamarnya. Saat ditengah tangga, dirinya tersenyum saat sadar, membawa nama Nakuka sebagai alasannya, agar dirinya tak dimarahi oleh papanya. 'Sorry Na, nama lo gue pinjem'- batin Rama kemudian terkekeh sendiri. Rama tahu, jika papanya ingin dirinya lulus dengan hasil yang sempurna. Dan Rama tahu jika papanya mengetahui jika Nakula adalah anak yang pintar. Jadi papanya tidak akan marah jika Rama bermain dengan Nakula. Mengetahui hal tersebut, nama Nakula adalah tameng terbaik untuk dirinya saat ini jika dirinya pulang terlambat lagi. Dan tentu saja Rama tidak akan dimarahi dan mendapat pelajaran dari papanya. Seperti biasa, setelah selesai mandi Rama duduk di depan komputernya. Menyalakan komputernya dan mengambil asal sebuh buku paket dan membukanya. Rama meraih sebungkus permen karet dan dia kunyah dengan perlahan. Memutar kursinya dengan bosan. Setelah komputernya menyala, segera Rama mengetikkan passwordnya. Setelah itu, Rama langsung membuka situs perkumpulan hacker nasional. Tak ada satu pun notifikasi yang muncul di layar, bahkan dari hacker pemilik akun @Arber tak mengiriminya pesan. Mungkin sibuk, pikir Rama. Rama teringat dengan cerita Sinta tadi sore. Teringat dengan raut wajah sedihnya Sinta saat menangisi mantannya. Teringat dengan suaranya, yang terlihat sangat sedih dan putus asa. Menjadikan Rama prihatin dan merasa tak tega dengan kondisinya Sinta. "Eh bentar, kok gue ngerasa pernah lihat tuh orang," gumam Rama. Rama terhenyak, seperti pernah melihat mantannya Sinta disuatu tempat. Dia mencoba mengingat ulang, mengingat-ingat dimana dia pernah bertemu dengan Raja. Dan akhirnya ketemu,  Dan ternyata Rama dan Raja memang belum pernah bertemu secara langsung. Rama ingat, saat dirinya mengingat aksinya meretas sebuah cctv milik pemerintah atas permintaan dari Nata seminggu lalu. Dan Rama mengingat lagi wajah seseorang di rekaman video cctv itu, dan ternyata sama persis. Rajalah pelaku pembunuhan tabrak lari adiknya Nata. Seketika Rama geram, tapi tetap saja dirinya tak memiliki hak ikut campur urusannya Nata. Tapi Rama merasa heran, kenapa sampai sekarang Nata tak melaporkan Raja ke polisi? Daripada marah dengan orang yang tak ada sangkut pautnya, Rama lebih marah karena ulah Queensha, Sinta jadi sedih dan demam tadi siang. Tiba-tiba, terlintas sebuah ide dibenaknya. "Gue hack ah," seru Rama kemudian menyambar keyboard komputer. Mengetikkan beberapa nama, untuk mencari sebuah situs khusus untuk meretas suatu server. Ingat saat Rama meretas ponsel milik Sari, pacarnya Sadewa. Nah, kini metode yang Rama gunakan sama, yaitu metode Brute Force Attack. Hanya perlu meretas password dengan semua kemungkinan beberapa kata yang muncul di layar monitor. Bahkan untuk meretas kali ini, Rama tak sampai membutuhkan waktu setengah jam. Hanya dua puluh tiga menit saja. Dan dugaan Rama benar, jika passwordnya tak akan meleset jauh dari kata 'Raja'. Dan passwordnya terbuka setelah Rama mengetikkan kata RajaNagaraja. "Mata gue teracuni!" seru Rama sembari menutp kedua matanya setelah melihat wallpaper di ponsel miliknya Queensha. "Ah sialan, itu cewek, segala pake majang foto alay," gumamnya dan langsung beralih ke aplikasi galeri. "Hem, enaknya ngapain ya." Rama bingung, sebab saat membuka galeri, langsung disajikan beribu-ribu foto. Dan tentu saja fotonya Queensha dengan Raja. "Jadi bener, kalo Queensha itu pacarnya Raja?" Rama melihat-lihat beberapa foto. Dan kedua matanya tiba-tiba kedua matanya membola saat melihat sebuah foto yang cukup menjijikan. "Emang b******k tuh cowok!" seru Rama kesal. Rama menekan foto itu dan seketika tampilan foto berubah menjadi besar. Seorang cewek dengan pakaian mini dress berwarna merah menyala dan seorang cowok dengan pakaian kemeja pastel dan celana jeans hitam. Mereka adalah Raja yang sedang memangku Queensha dikedua pahanya. Mereka terlihat sedang duduk di sebuah diskotik. Dan satu lagi yang membuat Rama membelalakan matanya, pose mereka foto memang candid, di ambil dari arah depan. Queensha dan Raja saling berciumam bibir. Seolah tak memedulikan orang yang telah mengambil gambarnya. "Murahan banget jadi cewek." Akibat dorongan dari rasa muaknya, Rama menggeser slide gambar. Dan kini tampilannya berganti, menampilkan sebuah rekaman video kegiatan tak senonoh yang sebelumnya Rama lihat difoto slide sebelumnya. "Ehem, enak banget, baru aja ngehack langsung dapet bukti aja. Bikin ulah ah." Rama menekan tombol copy pada foto dan video itu. Memindahkan kedua file itu ke dalam memori card ponselnya. Tersenyum, menunggu pembalasan untuk Queensha. Setelah selesai Rama segera mematikan komputernya. Hanya beberapa jam lagi, untuk membalas perbuatan Queensha terhadap Sinta. *** Esok harinya, Rama berangkat dengan senang hati, tak sabar untuk berulah. Rama berjalan dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana dan bersiul entah bernada apa. Bahkan dia juga melambaikan tangannya, membalas sapaan dari Antasena, si pentolan SMA Angkasa Wijaya. "Ngapain lo? Kayak seneng gitu. Menang lotre lo?" tanya Dewa yang tiba-tiba datang dengan membawa sebungkus ciki-ciki. Rama mengabaikan, karena suasana hatinya sedang baik, tak sampai hati untuk mengejudge Dewa. Dewa yang merasa keheranan, hanya diam disebelah Rama. Berjalan bersisian tanpa berkata lagi. "Pagi Rama," sapa seorang cewek berambut panjang, bergelombang. Berjalan mendekat dengan langkah kecilnya. Rama menoleh, tersenyum miring saat melihat cewek yang menyapanya pagi ini, sudah bergelayut manja dilengan kanannya. Rama kenal dengan cewek ini, dia salah satu fans fanatiknya Rama. Dan juga dia kelas dua belas, kakak kelasnya. "Mau nggak lo jadi matahari buat gue?" tanya Rama sembari menundukkan wajahnya, melihat wajah si cewek. "Maauuuu!!..." "Menjauhlah seratus empat puluh sembilan koma enam juta kilo meter dari gue," balasnya flat. Rama menghembaskan kedua tangan cewek itu dari lengannya. Kemudian meninggalkan si cewek yang masih terdiam ditempatnya, membuat Dewa tertawa terbahak-bahak sampai-sampai terbatuk karena ciki-cikinya. "Hahaha.... Dosa lo Ram, bikin anak orang insecure. Noh lihat si Cindy, setelah lo suruh menjauh dia kelihatan sedih gitu. Tapi gokil sih. Hahaha...." Rama hanya memutar bola matanya. Buru-buru Rama masuk ke dalam kelas dan langsung disuguhi oleh pemandangan kelas yang membuat dirinya tak bisa berkata-kata. Beberapa cewek seperti Nadya sudah duduk berkelompok bergosip ria. Bahkan dari tempat Rama berdiri, suara gosipnya pun sampai kedengaran. Didepan kelas ada Aldo dan dua temannya sedang bernyanyi dengan memangku sebuah gitar. Dan kursi depan, ada seorang Nakula yang sedang duduk anteng sembari membaca sebuah buku paket. "Wow, primitif. Seperti kehidupan di dunia laut," gumam Rama setelah berhasil mengembalikan kesadarannya. "Yo Rama. Apa kabar bro?" sapa seorang laki-laki paling badung di kelasnya, dia Satrio. Tapi dia tak pernah meminta bantuan Rama untuk mencuri kunci jawaban. Karena di kelasnya ini hanya ada dua temannya yang mengetahui jika Rama adalah seorang hacker. Mereka adalah Dewa dan Nakula. "Semua terlihat baik-baik saja, sebelum ada sebuah pertanyaan yang mempertanyakan kabar gue," sahut Rama dengan senyum miringnya. Satrio terpana, kemudian dirinya memiting leher Rama. Rama marah, karena rambutnya berantakan. Dirinya menyugar rambutnya ke belakang, membuat beberapa teman ceweknya memekik kegirangan. "Tenang tenang, pangeran idaman mau lewat," seru Rama sembari melembar flying kissnya dan aksinya membuat kaum hawa semakin heboh. "Dasar tukang narsis," cibir Naya yang duduk ditempatnya sembari bermain ponsel. Rama menoleh kemudian tersenyum tengil. "Ehem, gue punya pantun buat elo Nay." Naya tak menyahut, dirinya hanya mengangkat sebelah alisnya. "Makan boba sama setan. Lo merana, dibuang mantan!"  "Lo setannya! Ramaaa…. kesini lo kalo berani!" teriak Naya langsung mengejar Rama yang sudah berlari sembari tertawa ngakak, karena berhasil menjaili Naya. Dan aksi kejar-kejaran pun terjadi di dalam ruang kelas. Lima menit pun berlalu, Naya masih mengejar Rama. Kemudian dirinya kelelahan karena berlari-lari mengelilingi ruang kelas. "Bodo ah, capek gue. Huh.... Huh..." kata Naya kemudian mendudukan tubuhnya dibangku miliknya sendiri. "Lemah lo!" ejek Rama yang kini sudah ada didepannya. "Setan ngomong, gue nggak denger!" sahut Naya tak peduli. Rama terkekeh saat mendengar sahutan dari Naya. Dia segera berjalan ke mejanya. Mengernyit heran saat melihat bangku di sebelahnya masih kosong tak berpenghuni. Menjawil bahunya Naya, ingin bertanya. "Nay, Naya!" panggil Rama "Apa sih pegang-pegang?!" "Sinta kemana?" Naya masih tak menoleh, dirinya bahkan sibuk bermain dengan ponselnya. "Naya woy, lo b***k apa gimana?!" seru Rama kesal sembari berteriak ke telinganya Naya. Naya kesal langsung menggeplak kepalanya Rama. "Sakit b**o, telinga gue," ucap Naya kemudian mengarahkan sebuah chatnya dengan seseorang, yaitu Sinta. Rama membaca chat itu, dan terakhir ada pesan dari Sinta yang berisikan voice note. Rama menekan pesan itu. "Sorry ya Nay, gue hari ini nggak bisa berangkat sekolah. Gue demam ringan. Mungkin cuma sebentar, besok gue udah balik sekolah lagi kok." Rama sedikit terhenyak, setelah mendengar pesan dari Sinta terdengar begitu lemah. Kedua tangan Rama mengepal, ingin rasanya dirinya cepat-cepat membalas perbuatan Queensha. Tapi dirinya sadar, hanya butuh beberapa saat waktu yang tepat datang untuk membalas perbuatannya Queensha. "Oh, jadi dia demam." Teng! Teng! Teng! Bel tanda masuk pun berbunyi. Tiba-tiba seorang guru laki-laki datang memasuki ruang kelas. Guru itu adalah guru pembimbing konseling. Namanya Pak Sukijan, panggilannya Pak Suki. "Selamat pagi anak-anak," sapa Pak Sukijan ramah. "Selamat pagi juga Pak Suki!"  "Sekarang kita masuk materinya, absennya nanti saja. Sekarang Bapak ingin memberikan sebuah materi tentang hal yang sangat anak-anak tahu, yaitu kenakalan remaja. Apakah disini ada anak-anakku yang suka main tawuran? Ada?!" tanya Pak Suki sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang kelas. Tiba-tiba seseorang mengangkat tangannya, dia Jino. Dia mengangkat tangannya tapi menunjuk seseorang yang ada di depannya. "Kamu ya Jino?" tanya Pak Suki. "Bukan Saya, Pak. Tapi Satrio," ujar Jino santai mengundang Satrio untuk mengumpat pelan. "Satrio," panggil Pak Suki terlihat geram. "Hadir, Pak," cicit Satrio. "Nanti istirahat pertama, Kamu ke ruang bimbingan konseling. Bapak tunggu disana." Satrio kesal, segera menoleh ke arah belakang, menatap Jino tajam. "Awas lo entar pulang sekolah," ancam Satrio dengan telunjuk kanannya seolah-olah mengiris lehernya. Jino yang diancam hanya memandangnya datar. "Pak, Pak kalo diputusin namanya kenakalan remaja tidak? Kan ada korbannya tuh pak. Dan menyebabkan psikologis seseorang terganggu," tanya Nadya mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat Pak Suki terdiam berpikir. Krik! Krik! Cukup lumayan lama, Pak Suki terdiam karena tak menemukan jawaban yang cocok. Sedangkan semua siswa hanya memperhatikan dengan wajah penasaran menunggu jawaban. "Nanti Bapak tanyakan ke dosen Bapak. Untuk kali ini Bapak tidak bisa memberikan jawaban. Sekarang kita lanjutkan saja materinya." Balasan dari Pak Suki membuat para siswa mendesah kecewa. Rama tak ambil pusing. Dirinya kira, sekarang adalah waktu yang tepat untuk membalaskan dendamnya kepada Queensha. Rama mengambil ponselnya kemudian Rama taruh dibawah meja, mengetikkan passwordnya dan langsung masuk ke g Google. Mencari sebuah situs yang berfungsi untuk meretas dan mengambil alih kerja suatu sistem. Selama lima belas menit, akhirnya Rama selesai meretas induk televisi disekolahnya. Induk televisi ini adalah sebuah server utama yang terletak diruang kepala sekolah. Informasi untuk kalian semua, di sekolah Angkasa Wijaya difasilitasi sebuah televisi yang membantu sistem belajar mengajar di setiap ruang kelasnya.  Rama merubah setelan pengaturan, agar ponselnyalah yang menjadi server utama. Rama menekan tombol On pada semua televisi yang tersebar diseluruh kelas. Dan otomatis semua televisi menyala dalam waktu yang bersamaan. "Kenapa tuh televisi?" kata Naya terheran. Rama mendongak, melihat tampilan televisi yang masih berwarna abu-abu. Rama menunduk, segera mencari foto yang tadi malam dia copy dari ponsel milik Queensha. Kemudian menampilkan foto itu di seluruh televisi yang menyala. Namun sebelumnya, Rama memberi aba-aba. Terputar angka yang berhitung mundur. "3." "2." "1." Dan semua pasang mata terkejut saat melihat sebuah foto yang berisikan seorang perempuan dan laki-laki yang saling beradu mulut. Mereka adalah Queensha dan Raja. Aksinya Rama membuat heboh teman satu kelasnya, bahkan suara heboh dari kelas tetangga juga terdengar di pendengarannya Rama. Rama tersenyum miring saat mendengar beberapa orang mengumpat, tanda terkejut dengan foto itu. "Sialan, murahan banget jadi cewek," pekik Dewa heboh sendiri. "Nggak pantes tuh sekolah di Angkasa Wijaya!" seru Naya kesal sembari menunjuk foto Queensha yang masih terlihat di televisi. Rama menoleh ke ponselnya lagi, kini dia ingin memperlihatkan sebuah video. Ya benar, video yang tadi malam dia curi bersamaan dengan foto itu. Tapi sebelum itu, Rama mengetikkan beberapa kalimat di ponselnya, dan otomatis muncul di seluruh televisi yang menyala. 'MENJIJIKAN BUKAN? DAN SAYA AKAN MEMPERLIHATAKN YANG LEBIH MENJIJIKAN DARI INI.' Rama menulis kata itu, dan sontak teman-temannya membaca secera bersamaan. Rama menekan tombol play pada video itu  dan langsung mendapat respon menghebohkan bagi setiap siswa yang melihatnya. "Anjir, cip*kan guys!" "Bikin pengen aja." "Mata gue udah nggak suci lagi!" "Kumenangis...." "Astaghfirullah tontonan maksiat, tapi geratis hehehe." Dan masih banyak luapan-luapan emosi heboh saat melihat isi video yang terputar ditelevisi. Rama tersenyum miring lagi, saat melihat respon dari teman-temannya. Mengetikkan beberapa kata lagi. 'APAKAH ORANG SEPERTI INI MASIH BISA DITERIMA DISEKOLAH ANGKASA WIJAYA?' Dengan kompak semua murid berkata, "TIDAK!" Rama mengetikkan sebuah kalimat lagi. 'APAKAH KALIAN SETUJU, JIKA ORANG SEPERTI INI DIKELUARKAN DARI SEKOLAH KITA?' Dan lagi-lagi semua murid kompak menjawab, "SETUJU!" 'CUKUP, HANYA ITU YANG INGIN SAYA TUNJUKAN KEPADA KALIAN SEMUA. SALAM  DARI HACKER BOY.' Dan tiba-tiba televisi pun mati tak menyala lagi. Membuat suara ribut dari seluruh siswa yang menyaksikannya. Tak terkecuali dengan Naya yang duduk di depannya Rama. "Woy, untuk pertama kalinya Hacker Boy muncul secara publik guys! Amazing!" teriak Naya sembari bertepuk tangan. Nadya menyahut perkataannya Naya. "Anak Angkasa Wijaya kan, pasti ganteng tuh orangnya. Siapa ya, cowok yang jadi si Hacker Boy ini. Duh jadi ngefans banget gue sama si Hacker Boy. Aksinya kereeeennn banget." "a***y bener, asli gue nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Pokoknya keren, keren!" teriak Aldo. "Gue udah nyari dari dulu, tapi nggak pernah ketemu sama orangnya. Gue juga mau minta bantuan buat ningkatin nilai ulangan harian gue. Eh baru sekarang nongolnya. Tapi siapa orang dibalik nama Hacker Boy itu. Anjir gue sampek frustasi mikirnya!" seru Satrio yang terlihat benar-benar frustasi.Rama terkekeh saat melihat wajah Satrio.  'Rasain lo!- batin Rama penuh dendam kepada Satrio. Dewa dan Nakula menoleh ke belakang, tepatnya ke arah Rama. Sedangkan Rama yang ditatap hanya memperlihatkan senyum lebar dengan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.  Tak berapa lama ada suara pemberitahuan di speaker seluruh penjuru sekolah. "HARAP YANG BERNAMA QUEENSHA ISABELLA DIMINTA UNTUK SEGERA DATANG KE RUANG KEPALA SEKOLAH. SEKIAN DAN TERIMA KASIH." Semua murid langsung heboh, pemikiran semuanya sama. Tak berapa lama, ponsel Pak Suki berbunyi. "Halo... Iya Pak... Iya Saya akan ke ruang kepala sekolah... Saya sedang mengajar.... Baik Pak, Saya akan segera kesana," balas Pak Suki terdengar terburu-buru. "Anak-anak, sampai disini dulu materi kita hari ini. Bapak ijin karena ada urusan. Assalammualaikum." "Waalaikumsalam," balas semua siswa yang beragama Islam. Tiba-tiba, suasana kelas heboh lagi.   "Wah kasus tuh." "Positif dikeluarin nih kalo gini." "Bener, gue juga mikir gitu." Rama tersenyum senang, karena berhasil membalas perbuatannya Queensha. Sudah Rama bilang bukan, jika dia berada di garda terdepan jika Sinta mengalami bahaya dan dirinya akan maju melindungi Sinta. Dan cara Rama membalas dendam adalah seperti ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD