Katakan Putus

4906 Words
Jangan membenci seseorang terlalu dalam. Itu akan membuatmu tak bisa berdamai ketika dia sudah menjadi bagian dari masa lalumu. -Naya- Ketegangan sangat terasa disini. Disebuah mobil yang melaju sangat kencang di bawah guyuran air hujan. Berlomba-lomba dengan rintik air yang terus turun ke bumi. Menciptakan suara gemericik saat air hujan menimpa jalan beraspal. Rama, seorang laki-laki yang duduk di balik kursi kemudi, berdecak kesal saat melihat hujan turun semakin deras. Melirik ke samping kirinya, menghela napas berat saat melihat setetes darah mengucur dari tempatnya. Segera memutar kemudinya, untuk menepikan mobil hitam yang dia kendarai.  Setelah mobil terhenti, Rama segera melepaskan sabuk pengaman yang berada di depan tubuhnya dengan posisi melintang. Setelahnya mengulurkan kedua tangannya ke depan, ke arah wajahnya Sinta. Setelah wajahnya Sinta tepat menghadap ke arahnya, Rama segera menyapukan pandangannya ke sekitar dasbor. Berdecak kesal saat tak menemukan apa yang dia cari. Menoleh ke kursi tengah, bernapas lega, ternyata yang dia cari ada disana. Dengan segera Rama meraih benda itu dan mulai membuka tutupnya. Meraih beberapa lembar tisu untuk membersihkan darah yang masih bercucuran di wajahnya Sinta. Merasa tak tega saat melihat luka benturan di pelipisnya Sinta. "Nggak waras tuh cewek, mainnya sampek benturin kepala. Bukannya kalo cewek berantem cuma cakar, jambak, sama pukul-pkuluan?" decak Rama emosi saat melihat darah milik Sinta. Setelah dirasa cukup bersih Rama menjalankan mobilnya kembali. Keluar dari parkiran sekolah menuju apartemennya. Ditengah perjalan menuju apartemen, hujan pun turun semakin deras dan terus bertambah deras, ditambah kemacetan yang terjadi ditengah jalan. Membuat Rama kesal seketika.  Menoleh ke arah Sinta, terkejut saat melihat beberapa tetes darah keluar lagi dari luka di pelipisnya. Segera Rama membersihkannya. Untung saja pelipis yang terluka bagian kanan, jadi mempermudah bagi Rama untuk membersihkan dari kursi kemudi. Setengah jam kemudian, barulah mobil bisa berjalan dengan biasanya. Rama menuju sebuah klinik. Segera turun walau hujan sangat deras. Tak butuh waktu lama, dirinya sudah keluar dari klinik dengan membawa sekantong plastik. Memasuki mobil dan melanjutkan perjalanan. Saat melewati jalan yang senggang, Rama menoleh lagi ke arah Sinta. Bernapas lega saat melihat darah yang keluar hanya sedikit, bahkan tak sampai menetes seperti tadi. "Huhh, untung nggak bocor," gumam Rama, sedetik kemudian dirinya terpaku dengan kalimatnya sendiri. Segera memalingkan wajahnya ke depan, dan fokus menyetir. Lima belas menit kemudian, mereka telah sampai di apartemen. Kini mereka berdua sudah ada didepan pintu apartemen milik Rama. "Ck, pengen ganti pintu juga lama-lama," kata Rama jengkel. Pasalnya, saat ini dirinya sedang membuka akses pintunya dengan memencet beberapa tombol password yang ada di pintu dalam keadaan kedua tangannya yang sedang menggendong Sinta ditambah dengan tangan kirinya yang membawa tasnya Sinta. "Coba aja pintu apartemen gue, akses masuknya pake sensor retina." Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya pintu pun berhasil dibuka. "Ya Allah, maafkanlah Hamba, karena bawa masuk anak perawanan. Janji nggak sampek ngapa-ngapin kok," doa Rama sebelum masuk. "Bismillah." Rama segera berjalan cepat ke arah kasurnya. Meletakkan tubuhnya Sinta dengan pelan-pelan. Segera melepaskan jaket yang masih melekat ditubuhnya Sinta. Setelah itu menyelimutinya dengan selimut tebal miliknya. Menaruh tasnya Sinta di atas nakas. Meletakkan telapak tangannya di dahi Sinta. Cukup panas, mungkin karena kedinginan. Dia segera menghidupkan AC, mengatur suhunya agar panas. Rama pergi ke dapur, mencari air biasa dan air hangat. Serta mencari kain bersih. Setelah menemukan semuanya dia bawa ke arah Sinta berada. "Eh bagong, malah ketinggalan di mobil," umpatnya kemudian berlari pergi ke arah pintu. Tak berapa lama, dirinya masuk lagi dengan membawa kantong plastik yang tadi dia beli di klinik. Mengeluarkan isinya, dan Rama mulai membersihkan luka di wajahnya Sinta dengan hati-hati. "Heran gue, itu cewek psikopat apa gimana? Berani bener jedotin ini kepala." Setelah membersihkan lukanya dan memberinya obat, kini Rama mengompres Sinta bertujuan menurunkan panas di tubuhnya Sinta. Tak berapa lama kemudian Rama selesia. Pergi ke kamar mandi dengan membawa pakaiannya dan handuk. Berniat mengganti pakaiannya didalam kamar mandi saja.  Dikasur, setelah Rama pergi, tak berapa lama Sinta bangun dari siumannya. Dirinya segera meraba sebuah benda yang ada didahinya. Tersadar jika itu adalah sebuah kain basah. Mengambilnya dan Sinta taruh diatas nakas di sampingnya. Sedetik kemudian dia tersadar, jika bukan tempat ini yang dia ingat terakhir kali. Menegakkan tubuhnya, terheran saat melihat ruangan di sekelilingnya. Merasa gundah saat menyadari ada selimut tebal menyelimuti tubuhnya. Segera Sinta buka selimutnya untuk menjawab semua pemikiran negatifnya. Bernapas lega saat melihat pakaiannya masih melekat sempurna di tubuhnya. "Gue dimana iissh...." Sinta melihat ke sekelilingnya, dia menemukan cendela yang besar. Dari tempat Sinta duduk pun dirinya bisa melihat pemandangan diluaran sana. Sinta yakin jika gedung ini adalah sebuah apartemen. Clek! "Arghh..." Teriak Sinta. Setelah sadar siapa orang yang baru saja muncul, Sinta menghentikan teriakannya. "Ngapain lo disini?" tanya Sinta bingung. "Lah ini apartemen gue." Sinta terdiam. Menebak, kenapa Rama lah yang berhasil menemukan dirinya di toilet area kelas dua belas. Padahal dirinya yakin jika tadi sore saat Sinta menemui Queensha, keadaan sekolah sudah sepi, malah sangat sepi. Mengingat nama Queensha membuat Sinta murung lagi. Sedetik kemudian, terbesit di pikirannya Sinta, kenapa Rama bisa menemukan dirinya. "Lo disuruh sama Queensha buat ngehancurin gue kan? Ngaku lo!" tanya Sinta remeh. Mendapat tuduhan yang tak tertuda, membuat Rama memelototkan kedua matanya dengan sempurna. "Ngawur lo," kata Rama jengkel. "Nggak bilang makasih malah nuduh yang enggah-enggak." "Terus, dari mana lo tahu kalo gue ada di toilet kelas dua belas?" "Gue denger suara lo, pas gue mau ke rooftoop," alibi Rama. Memang benar jika ingin ke rooftop pintu masuknya melewati toilet area kelas dua belas. Dan Rama hanya berbohong, dengan beralasan dia ingin pergi ke rooftop. Dia tahu keberadaan Sinta, karena niat awalnya Rama ingin membuntuti Sinta. "Tapi lo--" "Banyak nanya lo kek Dora!" potong Rama kemudian mengambil ponselnya. Mengetikkan beberapa pesan sembari duduk di sebuah sofa panjang. Sinta yang diabaikan oleh Rama, keluar dari dalam selimut, meneliti seragamnya. Ternyata masih sedikit basah. Diam berpikir, mau meminjam pakaian miliknya Rama atau tidak. Rama melirik ke arah Sinta yang sedang kebingungan.  "Bentar, gue ambilin baju punya gue dulu." Tak berapa lama, Rama datang membawa sebuah hoddie abu-abu dan celana traning. Menyerahkan kepada Sinta. "Nggak papa gue pake?" "Santai, pake aja," ujar Rama. "Oh iya gue pergi ke bawah dulu." Dengan buru-buru Rama keluar dari kamar. Dan segera keluar dari ruangan, berjalan turun hendak pergi ke lobby. Sinta segera pergi ke kamar mandi, mengganti pakaiannya. Lima menit kemudian, Sinta keluar dengan memakai hoddie dan celana training milik Rama. Hoddienya terasa kebesaran ditubuhnya. Daripada tidak mengganti pakaiannya, Sinta tak masalah memakai hoddie itu. Tak berapa lama, Rama masuk dengan membawa sebuah palstik . Sinta yang sedang melihat ke luar, menoleh ke arah Rama. "Masih hujan," kata Sinta. "Gue tahu," balas Rama kemudian berjalan mendekat. Meletakkan plastik yang dia bawa dihadapannya Sinta dan mengeluarkan isinya. "Buat angetin badan, gue beli seblak. Lo suka kan?" Sinta menoleh saat mendengar Rama berbicara kepadanya.  "Suka suka aja sih." Rama menyodorkan semangkuk seblak ke arah Sinta."Nih makan." Hingga akhirnya mereka berdua makan dalam diam. Tak butuh waktu yang lama, Rama sudah selesai, dia langsung pergi ke dapur untuk membuat sesuatu. Datang dengan membawa dua mug ditangannya.  "Suka s**u nggak?" "s**u coklat? Suka banget," balas Sinta bersemangat. "Untung aja, gue masih punya s**u coklat." Sinta menerima mug yang berisi s**u coklat panas tersebut. Sinta tempelkan dikedua pipinya, ingin menghangatkannya. Menoleh ke luar saat mendengar suara petir saling menyambar. "Masih hujan," gumam Sinta kemudian melirik ke sebuah jam ditangan kirinya. Kedua bola matanya terkejut saat melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul enam lebih dua puluh menit. Apalagi teringat dengan dirinya yang sekarang tak ada dirumah. Takut jika papa mencarinya. Buru-buru Sinta mengambil ponselnya. "Tidur aja disini," ujar Rama yang mendapat pelototan tajam dari Sinta. "Lagian, masih hujan, badai lagi." Sinta berpikir sejenak, merasa tak enak hati jika harus bermalam di apartementnya Rama. Tapi lebih tak enak hati lagi saat meminta Rama untuk mengantarnya pulang. Sinta mencoba menelpon papanya. Tak berapa lama telponnya diangkat. "Halo Sayang, ada apa?" tanya papanya. "Pa, Sinta boleh nggak tidur di rumahnya temen?" tanya Sinta takut-takut. "Ya udah nggak papa. Papa juga harus lembur dikantor, nggak bisa pulang juga karena hujan diluar. Kamu baik-baik ya disana?" "Okey, Pa," balas Sinta ceria. "Ya udah papa tutup dulu ya." "Iya pa." "Assalammualaikum Sayang." "Waalaikumsalam Papa." Setelah telponnya selesia, Sinta menoleh ke arah Rama yang ternyata sedang bermain ponsel. "Gue tidurnya dimana?" "Dikasur." "Lah, elo?" "Disofa." Sinta merasa tak enak hati, tapi kalau disuruh tidur seranjang dengan Ram, jelas-jelas dirinya tak mau. "Gue aja deh tidur di sofa," putus Sinta akhirnya. "Nurut aja sih sama gue," balas Rama sembari mendelik. Sinta hanya mendengus kesal sebagai responnya.  Rama berjalan ke almari miliknya, mengambil sebuah bantal dan juga selimut. Kemudian dia berjalan menuju sofa berada. Sofa yang hanya panjang dua meter itu memang lebih panjang dari tubuhnya Rama. Tapi tetap saja, rasanya tidak terlalu nyaman untuk alas tidur karena keras. Setelah itu Rama segera merebahkan tubuhnya yang lelah dan terakhir menutupi tubuhnya sendiri dengan selimut. Dengan sengaja, Rama tak mematikan lampu kamarmya. Dirinya tak ingin terjadi sesuatu yang tidak-tidak. Mencoba memaksa kedua matanya untuk tidur namun tetap tidak bisa. Bagaimana Rama bisa tidur nyenyak, jika ada seorang gadis dikamarnya? Tak jauh berbeda dengan Rama, Sinta pun juga sangat sulit untuk tidur. Bahkan hanya untuk sekedar memejamkan kedua kelopak matanya pun terasa sangat sulit. Dirinya hanya memandnag ke atas langit-langit dengan memori tadi sore saat dia diserang oleh Queensha. Dan memori itu terus berputar-putar di otaknya. Membuatnya semakin lama semakin frustasi. Mencoba memiringkan tubuhnya ke kiri, tetapi tidak bisa. Bahkan Sinta telah berpindah-pindah posisi tubuhnya untuk menyamankan dirinya sendiri dan cepat tidur. Namun setelah lima belas menit berlalu, dirinya masih belum bisa. Dengan kesal, Sinta mendudukan dirinya diatas kasur. Melirik ke arah sofa yang ternyata Rama juga terlihat sedang bergerak-gerak guna mencari posisi yang pas dan nyaman untuk tidur. "Rama," panggil Sinta pelan bermaksud menarik perhatiannya Rama. Rama hanya berdeham saja dan fokusnya masih mencari posisi ternyaman. "Lo cowok beneran?" tanya Sinta dengan nada yang tak yakin. Tentu saja pertanyaan spontan dari Sinta membuat Rama sontak mendudukan tubuhnya dan melotot tepat ke arahnya Sinta. "Yang lo lihat dari gue gimana," balas Rama dengan nada yang terdengar kesal setelah beberapa saat terdiam syok setelah mendapatkan pertanyaan tersebut. "Ya, cowok sih," ujar Sinta terlihat menggaruk tengkuknya sendiri. Merasa heran juga dengan dirinya sendiri yang tiba-tiba bertanya seperti itu kepada Rama. "Lo nggak, b******k?" tanya Sinta lagi. Rama menghela napasnya panjang. Kemudian dirinya merubah posisinya menjadi duduk dengan kedua kaki dia angkat dan dia tekuk di depannya. Rama duduk di paling pojok sofanya. Melirik ke arah Sinta yang masih terdiam. "Sini deketan. Kalo lo mau denger cerita gue," kata Rama menepuk sofa disampingnya. Sinta masih terdiam, dirinya hanya melirik ke sofa disampingnya Rama. Menimang sesuatu. Seolah mengerti apa yang Sinta pikirkan, Rama mendengus kesal. "Nggak mau ya udah. Gue mau tidur," ujar Rama membuat Sinta tanpa berpikir lebih lama lagi segera berjalan menunu sofa. Duduk di pojok sofa yang berlawanan dengan Rama. Rama tersenyum hangat, setelah melihat Sinta yang duduk disampingnya. Meskipun terbentang jarak yang lumayan panjang. "Lo tadi mau tanya apa?" tanya Rama ingin Sinta mengulangi pertanyaannya lagi. Pergerakan Sinta tiba-tiba terhenti, seharusnya Sinta sadar jika dia sudah lancang bertanya seperti tadi. Merutuki kebodohannya itu, Sinta berdeham singkat  "E-enggak. Gue nggak jadi--" "Tanya aja, Sinta," balas Rama dengan nada yang sangat lembut. Bahkan Sinta terpengarah ketika mendengar kalimatnya Rama. Untuk kali ini, Rama terlihat sangat-sangat berbeda. Seolah memperlihatkan jika sosok inilah Rama yang sebenarnya. Suara Rama yang lembut dan rendah membuat Sinta merinding. Dengan cepat Sinta menggelengkan kepalanya. Sinta menarik napasnya berulang-ulang kali sebelum berkata. "Lo, cowok b******k?" ujar Sinta pada akhirnya. Rama hanya menoleh sejenak. Masih terdiam dan enggan untuk menjawabnya. Sehingga membuat Sinta merasa bersalah. Berpikir jika Rama tersinggung dengan ucapannya. "Rama gue minta maaf. Maksud gue--" "Kalo gue b******k, bukannya elo udah benci sama gue?" kata Rama pada akhirnya dengan nada yang terdengar sangat tenang membuat Sinta mengerjapkan kedua matanya tak mengerti. "Maksud lo? Gue benci elo? Hah, gimana?" "Ck, siswa yang sok cerdas, sok tertib, sok bener kayak lo ternyata bisa b**o juga ya?" kata Rama dengan nada kesalnya karena melihat Sinta yang tak paham dengan maksud perkataannya tadi. Sinta mengerjap lagi, masih belum mengetahui arti dari perkataannya Rama. Rama menghela napas panjang kemudian dia keluarkan dengan perlahan. "Disini cuma ada gue sama lo. Gue cowok tulen sedangkan elo cewek. Kalo ada satu cowok sama satu cewek berduaan, apalagi ini di kamar, apa yang terjadi kalau bukan itu?" jabar Rama akhirnya. Sinta terperanjat, setelah mencerna perkataannya Rama. Dengan cepat, Sinta menarik selimut yang dia bawa dari kasur sampai menutupi setengah badannya. "Lo nggak mungkin--" "Lo bisa simpulan sendiri," potong Rama cepat. Melihat Sinta yang terdiam seolah berpikir Rama segera menambahi ucapannya. Kali ini dia perjelas perkataannya tadi. "Kalo gue cowok b******k, gue udah berbuat itu ke elo. Secara elo tadi nggak sadarkan diri," terang Rama pada akhirnya. Sinta mengangguk membenarkan tapi masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. "Jadi, dari tadi elo nggak apa-apain gue kan?" tanya Sinta terdengar nada yang khawatir. "Males ah ngomong sama elo. Nggak percayaan mulu sama gue," balas Rama kesal kemudian mendongakan kepalanya ke atas, menatap langit-langit kamarnya. Sinta terkekeh dibuatnya, merasa jika apa yang Rama lakukan seperti sedang merajuk. "Iihh.... lo mah, gue cuma bercanda," ucap Sinta setelah mencubit pelan lengannya Rama. Dan sontak saja Rama terperanjat merasakan nyeri bercampur panas di lengannya. Rama bersungut dengan tangannya yang satu mengusap bekas cubitannya Sinta. Dan sukses membuat Sinta tertawa dibuatnya. "Ah elah, lo mah, gue cuma cubit pelan doang. Sok ngerasa sakit lo," ucap Sinta kemudian tertawa lagi. "Apa lo bilang? Sini kalo lo mau tahu semenyakitkan apa cubitan lo," kata Rama yang bersiap ingin mencubit lengannya Sinta. Namun dengan cepat Sinta hempaskan tangannya Rama dengan cepat. "Canda elah. Nggak usah dendam. Dosa tahu kalo dendam. Dilarang agama, dibenci sama Allah juga," jawab Sinta dengan diselingi tawanya. Rama mendengus kesal karena tak bisa membalas perbuatannya Sinta. Tak berapa lama Sinta terdiam. Dagunya terjatuh di atas lutut yang dia tekuk di depannya. Otaknya sedang memikirkan sesuatu. "Tapi--" "Hem?" tanta Rama karena setelah lama menanti, Sinta tak melanjutkan ucapannya. "Tapi--" "Iya, Sin?" tanya Rama dengan stok kesabarannya yang ada. Dia tak ingin meledak malam itu juga. Selain faktor karena sudah malam, dirinya juga sudah lelah seharian ini. "Tapi--" "GUE AMUK JUGA YA LO LAMA-LAMA!" teriak Rama yang ternyata tidak bisa untuk tidak berteriak. Bukannya takut, Sinta malah terkekeh dibuatnya membuat Rama mendengus kesal saat tahu jika Sinta memang berniat menjahilinya. Berpikir, apakah Sinta sedang membalas dirinya yang kerap kali menjahili Sinta di hari sebelum-sebelumnya? "Tapi, kenapa lo bisa tahu kalo gue ada disana? Gue kira lo disuruh sama Queensha buat ngehancurin gue. Terus lo tadi ke kamar mandi sebelum lo mau nyiksa gue kan. Tapi keburu gue siuman duluan, rencana lo jadi gagal. Lo juga pura-pura nggak berpihak ke Queensha, karena lo teman satu meja sama gue," tebak Sinta mengungkapkan apa yang telah dia risaukan sedari tadi. Tak! Dengan cepat Rama menyentil dahinya Sinta membuat Sinta mengaduh dan dengan segera mengusap dahinya sendiri. Melemparkan sorot mata yang tajam ke arah Rama. "Nggak usah mikir yang aneh-aneh soal gue," balas Rama setelah puas menyentil dahinya Sinta tadi. "Makanya jelasin," kata Sinta tegas karena sangat ingin tahu apa yang telah Rama lakukan tadi. Rama mendongak, mulai menyusun kalimat-kalimat yang akan dia jabarkan melalui bibirnya.  "Lo emang nggak kenal sama Q." "Q?" tanya Sinta dengan alis mengernyit, tak mengerti siapa yang sedang Rama bicarakan. "Ck, Queensha. Gue males nyebutnya makanya gue pakai inisial." "Oh, oke oke. Lanjut." "Lo emang nggak kenal sama Q. Tapi gue tahu gimana sifatnya. Dari kelas sepuluh, gue selalu tahu apa yang Q lakuin. Bullying, clubing, bahkan balapan liar, gue tahu apa yang dia lakuin," cerita Rama mengingat kelakuannya Queensha. "Gila," desis Sinta merinding mengomentari ceritanya Rama. "Maka dari itu, saat gue lihat Q nyuruh elo buat nemuin dia di kelasnya, gue udah curiga. Apalagi dia bilang rahasia-rahasiaan sama elo. Itu cuma kedok doang, buat mancing elo. Tapi nggak tahu juga, Q emang punya rahasia sama elo apa enggak." "Ada," balas Sinta membuat Rama menoleh ke arahnya. Mengangkat alisnya karena Rama penasaran apa ada rahasia antara Queensha dengan Sinta. "Ada rahasia antara gue sama Q. Ini menyangkut pacar gue. Ralat, mantan gue," kata Sinta dengan perasaan pahit diakhirnya setelah menyebutkan kata mantan. Memang Sinta belum mengajak putus dengan Raja secara langsung, akan tetapi dirinya sudah muak dan menganggap jika hubungan mereka sudah putus pada malam ini juga. "Oke, gue bisa nebak. Cuma nggak tahu kalo meleset," kata Rama membuat Sinta tertawa kecut. Mendorong Rama akibat rasa kesalnya. "Terus, gimana lo bisa tahu kalo gue dikunci di toilet kelas dua belas?" tanya Sinta kemudian. "Karena sejak awal, gue selalu awasin elo. Gue sengaja enggak pulang, cuma mau ngawasin elo. Gue punya feeling nggak enak saat lihat lo diseret paksa ke masuk ke dalam toilet." "Terus kenapa lo nggak nyelamatin gue, Bege!" greget Sinta kesal setelah menampar lengannya Rama cukup kuat. Membuat Rama mengaduh dan mengusap lengannya sendiri. "Kalo gue selametin elo, lo nggak bakal tahu rahasia apa yang Q bilang kan?" Sinta terdiam, benar saja apa yang Rama katakan. Jika Rama dengan cepat menolongnya, Sinta tidak akan pernah tahu rahasia yang Queensha miliki menyangkut Raja. Dan diri mungkin tidak akam pernah bisa mengetahuinya dari siapapun. Kalau Raja? Sinta tidak tahu, kalau Raja ternyata hanya berpura-pura mencintainya. Mengingat hal itu hati Sinta menjadi sangat sedih. Melihat raut wajah Sinta yang berubah sendu, Rama tahu jika ada yang tidak beres dengan temannya satu itu. "Sin, lo udah ngerti kisahnya Ramayana kan?" "Udahlah. Kan kemarin diceritaain sama bu guru. Lo juga bantu jelasin jalan ceritanya ke gue. Intinya, Prabu Rama menikah dengan Dewi Sinta dan mereka hidup bahagia. Selesai," cerita Sinta yang hafal bagian akhirnya. Sontak Rama tertawa terbahak-bahak saat tahu jika Sinta hanya mengetahui ending ceritanya saja. Setelah terdiam, Rama menoleh ke arah Sinta dengan tatapan yang berbeda. "Lo mau hidup bahagia seperti Dewi Sinta di cerita Ramayana kan?" tanya Rama. "Ya jelas maulah." "Jadi, lo mau kan?" tanya Rama lagi. "Mau apa?" tanya Sinta tak mengerti dengan pertanyaannya Rama. "Nikah sama gue," balas Rama cepat dengan senyum mempesonanya. Bukannya Sinta terpesona, dirinya merasa ilfill dengan Rama. Dengan cepat Sinta menampar pipinya Rama dengan sangat keras. Plak! "MATI AJA LO SANA!" amuk Sinta diikuti dengan cubitan maut di seluruh tubuhnya Rama. Membuat Rama kualahan dan tak bisa menghindari tangan-tangan kecilnya Sinta yang memberikan cubitan mautnya. "AMPUN SINTA, BERHENTI WOY! GUE BISA MATI!" *** Esok telah tiba. Dan untung saja hujan sudah reda, tidak hujan lebat seperti tadi malam. Kini, Rama dan Sinta sudah bersiap-siap ingin berangkat ke sekolah. Dan tadi malam, mereka akhirnya tidur larut malam karena saling bertukar cerita, mengisi waktu karena mereka tidak bisa tidur disebabkan oleh suara hujan. Hingga hujam berhenti pukul satu dini hari, mereka baru bisa tidur. "Lo bareng gue aja," kata Rama yang sedang meraih kunci mobil dari atas nakas. Sinta hanya mengangguk. Rama segera keluar setelah memberikan lirikan yang tajam ke arah Sinta. Tentu saja disambut dengan senyum manis dari Sinta. Karena Rama masih dendam akibat cubitannya Sinta disekujur tubuhnya tadi malam. Kemudian mereka langsung pergi dari apartement. Turun ke bawah untuk pergi ke parkiran. Masuk ke dalam mobil dan pergi ke sekolah. Tiga puluh menit diperjalanan, kini mereka telah sampai di sekolah Angkasa Wijaya. Rama menoleh ke Sinta, saat Sinta sedang mengusap kedua telapak tangannya, Rama mengernyit heran saat melihat bibir Sinya yang sedikit pucat. "Lo sakit?" tanya Rama, kemudian maju mendekati Sinta. Menaruh telapak tangannya didahinya Sinta. Sinta terhenyak saat merasakan sesuatu yang hangat didahinya. Dia mendongak, tepat didepan wajahnya, ada wajah Rama yang tanpa ekspresi. Buru-buru menjauhkan telapak tangannya Rama. "Gue nggak papa," balasnya sedikit lemah. Rama berdecak, dia meraih sebuah hoddie berwarna hitam. yang ada dikursi belakang. Kemudian melemparnya ke arah Sinta, tepat diatas lututnya. "Pake," perintah Rama. "Nggak--" "Gue nggak bakal bukain pintunya kalo lo nggak mau pake," ancam Rama. Buru-buru Sinta memakai hoddie hitam itu yang kebesaran untuk ukuran tubuhnya. Setelah itu Rama keluar dari mobil disusul oleh Sinta. Mereka berdua berjalan bersisian menuju kelas mereka berdua, sebelas IPA satu. Mereka berdua masuk ke kelas, membuat beberapa murid menoleh heran ke arah keduanya, terutama Naya dan Dewa. "Lo ngapain pake hoddie? Lo sakit? Lo juga berangkat bareng Rama?" tanya Naya beruntun. Sinta hanya mengangguk lesu. "Lo demam?" tanya Naya yang melihat bibir Sinta sedikit lebih pucat. "Dahi lo kenapa? Kejedot pintu? Jatuh dari tangga? Apa nyungsruk dijalanan?" "Entar gue ceritain." Tak berapa lama bel tanda masuk pun berbunyi. Bertanda kegiatan belajar mengajar dimulai. Seorang guru masuk dan semua murid belajar dengan sungguh-sungguh. *** Teng! Teng! Teng! Setelah tiga jam belajar, jam istirahat pun tiba. Semua murid keluar dari kelas, kecuali Sinta Naya. Karena Sinta sudah berjanji akan menceritakan apa yang terjadi kemarin kepada Naya. "Ada apa?" tanya Naya meminta penjelasan. Pertanyaan dari Naya membuat Sinta menangis saat teringat kejadian sehari yang lalu. Tanpa Sinta tahan, air matanya keluar dengan sendirinya. "Loh, kenapa nangis. Shhtt, tenang ya jangan nangis. Cerita aja pelan-pelan. Gue bakal dengerin kok," ucap Naya menenangkan. Sinta menghapus air matanya. Menghirup kuat-kuat udara disekitarnya. "Gue nggak tahu, kalau gue cuma dijadiin selingkuhan sama Raja," cerita Sinta pelan. "Apa?! Lo nggak bercanda kan? Raja, anak Sekar Arum yang jadi pacar lo itu?" Pertanyaan dari Naya hanya mendapat anggukan dari Sinta. "Wait, kenapa lo bisa simpulan kayak gitu? Darimana lo tahu, jika dia cuma jadiin lo selingkuhannya?" "Kemarin, Queensha ngasih tahu gue kebenarannya." Naya membulatkan kedua matanya saat mendengar nama Queensha. "Tunggu dulu, jadi yang ngasih tahu elo si maklampir itu?" tanya Naya dan lagi-lagi Sinta hanya mengangguk lesu. "Dan dia yang dalang penyebab lo demam  sama dahi lo terluka?!" teriak Naya. "Shtt, jangan kenceng-kenceng," ucap Sinta sembari melirik keadaan sekitar, untung saja sepi. "Ups, sorry," kata Naya. "Gimana ceritanya?"  "Dia kasih tahu gue, kalau selama ini Raja cuma main-main sama gue. Queensha tahu alasan Raja mau pacaran sama gue. Dia marah, karena lusa kemarin, gue nelpon Raja malem-malem, waktu dia ngilang dan bilang kalo ponsel dia rusak. Ternyata selama ini Raja bohong sama gue, Nay," cerita Sinta kemudian tangisannya pecah lagi. Naya mendekat ke arah Sinta. Memeluk Sinta hangat, menengakannya. "Shhtt, nangis aja, jangan lo tahan," ujar Naya. Sinta menangis dipelukannya Naya. Naya tak menyuruh Sinta untuk bercerita lebih, karena Naya mengerti bagaimana perasaannya Sinta saat tahu perasaannya dibuat mainan oleh laki-laki lain. Karena Naya juga sudah pernah mengalaminya. Lima menit berlalu, kini tangisan Sinta sudah mereda. Sinta menegakkan tubuhnya kembali. "Gue mau putus sama Raja," ujar Sinta pelan. "Jika itu pilihan lo, gue dukung. Gue rasa itu pilihan terbaik." Sinta mengangguk setelah mendengar pendapat dari Naya. "Mau gue temenin?" tawar Naya. Bukan bermaksud apa-apa. Naya hanya khawatir dengan kondisinya Sinta yang sedang demam. Bukan ingin melihat wajah mantannya, si Raja. Bahkan mendengar kelakuan Raja yang telah menyakiti hati teman terbaiknya, rasanya Naya ingin menghajar cowok itu. Sinta menggeleng lemah, "Nggak usah, gue sendirian aja." "Tapi, lo--" "Gue nggak papa Naya," ujar Sinta kemudian tersenyum, yang terlihat dimatanya Naya adalah senyum keterpaksaan. "Kalo ada apa-apa, lo bisa nelpon gue," ujar Naya sembari menggenggam kedua tangan milik Sinta.Sinta mengangguk dan kini dirinya tersenyum tulus. Sinta meraih ponselnya, mengetikkan beberapa pesan ke nomornya Raja. Temuin gue di Permata Mall. Ada yang mau gue bicarain sama lo. From: Sinta To: Raja Setelah mengirimkan pesannya, segera Sinta menghapus nomornya Raja. Tak ambil pusing jika chatnya tidak dibalas. Kini Sinta ingin cepat-cepat putus dari Raja. Dirinya sudah muak jika berhubungan dengan Raja lagi. Apalagi hanya sekedar menyimpan nomornya, Sinta tidak sudi. *** Sore hari, jam tiga lebih empat puluh menit. Masih dengan memakai hoddie milik Rama, Sinta duduk di sebuah cafe, sembari meminum kopi Lattenya. Dirinya sedang menunggu Raja. "Ada apa?" tanya seorang cowok didepannya. Sinta mendongak, melihat Raja yang kini berdiri didepannya dengan ekspresi dingin. Tak ada lagi sapaan manis yang keluar dari bibirnya Raja. Tak ada senyum hangat yang terbit diwajahnya Raja. Kini semua telah berubah. Sinta ikut menatap Raja dengn pandangan dingin. "Gue mau kita putus!" "Oke," balas Raja sekenanya kemudian membalikkan tubuhnya, hendak pergi meninggalkan Sinta. "Kenapa lo begitu ke gue?" tanya Sinta. Sungguh, Sinta sangat penasaran dengan alasan Raja mendekatinya. Raja berbalik, tersenyum miring saat melihat wajah sendu milik Sinta. "Gue mau deketin lo, cuma karena harta lo," cerita Raja kemudian tersenyum sinis. Sinta terkejut dengan pengakuan Raja. Tak pernah terbayangkan sekalipun, jika hanya karena hartalah alasan dibalik dari sifat Raja yang mau menjadikan Sinta sebagai pacarnya. "Gue tahu, lo anak dari pemilik sebuah bank. Dan tentu saja, harta milik papa lo pasti sangat banyak. Gue sebenarnya risih sama semua tingkah lo. Gue selama ini tahan karena gue harus deketin lo, agar gue bisa rebut harta lo. Tapi lo udah buat Queensha marah, dan buat gue muak." Sinta hanya diam saja. "Dan gue sekarang baru mikir, cara rebut harta lewat lo, sangat menyebalkan. Dan gue punya rencana lain buat rebut harta papa lo." Sinta marah, sangat marah. Kemudian Sinta berdiri dan menampar pipinya Raja. "Dasar cowok b******k!" maki Sinta setelah menampar Raja. Sinta akan berbalik pergi untuk pulang. Tapi sebelum itu tangan kanannya dicekal oleh Raja. Raja mengangkat tangan kanannya, hendak menampar Sinta. "Beraninya lo--"  Bugh!  Sontak cekalan tangan Raja terlepas dari tangannya Sinta. Sinta mendongak, terkejut saat melihat Rama didepannya. Ya, Rama menolong dirinya. "Jangan macem-macem sama cewek," bisik Rama dingin didepan wajahnya Raja. Segera berbalik dan menggenggam tangan kanan milik Sinta. Membawa Sinta keluar dari cafe.  Ditengah perjalanan, didalam mobil, Sinta tak bisa menahan rasa sakit dihatinya. Dia menangis sejadi-jadinya. Rama hanya diam saja. Saat melewati Alfamart, Rama turun. Sinta tak sadar saat Rama turun meninggalkan dirinya sendiri. Tak berapa lama, Rama masuk dengan membawa sekantong plastik penuh cokelat sedikit lebih besar yang banyak. Menjalankan mobilnya ke suatu tempat. Dan kini mereka berdua telah sampai disebuah danau mini yang terlihat sepi. Rama menyodorkan cokelat yang tadi dia beli. "Makan. Gue pikir, lebih tenang setelah lo makan ini. Karena gue denger, cokelat bisa ciptain hormon bahagia," ujar Rama. Sinta menerima sekantong plastik penuh cokelat itu. Memakannya, dan kadang-kadang air matanya masih luruh, turun membasahi pipinya. Rama menghela napasnya. 'Apa semenyakitkan itu patah hati?'- batin Rama. Sinta masih berusaha menghabiskan cokelatnya. Kini dirinya sudah merasa sedikit tenang. Rama masih diam saja, tak meminta Sinta untuk bercerita. "Thanks," ujar Sinta tiba-tiba. Rama menoleh, kemudian mengangguk. Kini mereka berdua hanya duduk diam didalam mobil. Sinta tak berselera untuk berjalan dipinggiran danau, meskipun itu tampak menyenangkan. Dan Rama tak mau keluar, karena dirinya tak mau meningglkan Sinta sendirian. "Lo nangis karena cowok tadi?" tanya Rama. Meskipun tahu alasan Sinta menangis, Rama tetap bertanya. "Iya," sahut Sinta diikuti oleh anggukan kepalanya. Rama menghela napasnya, "Air mata lo terlalu berharga buat nangisin cowok b******k macam dia." "Lo nggak tahu, semenyakitkannya hati lo, saat lo sadar jika lo cuma mainan untuk seseorang yang sangat lo cintai," gumam Sinta. Rama yang hanya mendengarnya hanya diam saja. Sebenanrnya Rama juga pernah menyukai seseorang. Hanya menyukai, tapi tidak mencintai. "Dan juga, dia adalah cinta pertama gue," lanjut Sinta bergumam. Rama diam berpikir, tak berapa lama, dia menarik tubuh Sinta agar menghadap ke arahnya. "Udah ya, jangan lo inget cowok itu lagi. Sekarang disini ada gue. Gue nggak mau lihat lo sedih lagi," kata Rama lembut membuat Sinta sedikit terhibur. Sinta kemudian tersenyum. "Jangan sedih ya?" ujar Rama kemudian mengusap rambut Sinta, membuat Sinta mendengus kesal karena rambutnya berantakan. "Ihh, udah ah. Anterin gue pulang," kata Sinta setelah menepis tangannya Rama. Rama tersenyum miring. "Nggak mau nginep lagi di apartement gue?" kata Rama kemudian menarik-turunkan alisnya. "Heh, inget dosa lo udah banyak!" seru Sinta kemudian meninju bahunya Rama. "Sialan lo!" ucap Rama kesal. Raut kesalnya Rama membuat Sinta tertawa senang. Dan tawanya Sinta membuat Rama menghela napas lega, saat melihat Sinta tak sedih lagi. "Anterin sampai mana?" tanya Rama kemudian menyalakan mobilnya. "Ya rumahlah," balas Sinta ketus. "Oh, gue kira sampai pelaminan," balas Rama kemudian tersenyum tengil. "Ogah!" seru Sinta kemudian melempar tinjunya lagi ke Rama. Membuat Rama hanya terkekeh karena berhasil mengerjai Sinta. Mesin mobil pun sudah menyala, akan tetapi Rama mengurungkan niatnya yang akan mengendarai mobilnya saat mendengar perkataannya Sinta. "Ram, ketika lo jatuh cinta, dunia seakan penuh warna. Menjalani hari-hari dengan semangat yang membara. Tubuh seakan terasa ringan saat bergandengan tangan dengan pasangan," ujar Sinta tiba-tiba dengan puitis mengenang kisah percintaannya dengan Raja. Rama maju segera menutup kedua kelopak matanya Sinta. Sinta hanya diam saja dan entah mengapa tidak memberontak. Rama memajukan tubuhnya ke arahnya Sinta. "Mimpi buruk lo udah berakhir. Itu semua cuma mimpi buruk lo. Lo harus bangun, dan buat kisah yang lebih indah lagi daripada mimpi buruk lo itu. Setelah gue hitung sampai tiga, lo akan merasa jauh lebih baik daripada sekarang. Dan lo harus yakin dengan perkataan gue ini," kata Rama yang masih menutup kedua kelopak matanya Sinta dengan satu tangannya. "Satu, dua, tiga," hitung Rama pelan kemudian melepaskan tangannya dari wajahnya Sinta. Sinta mengerjapkan kedua matanya. Dan menoleh ke arahnya Rama dengan senyum manisnya. Mengangguk senang dengan perkataannya Rama tadi. "Lo benar, gue cuma mimpi buruk. Gue harus bangun kisah cinta gue yang lebih indah," ujar Sinta dan masih menyunggingkan senyum manisnya. "Dan kisah cinta lo cuma sama gue. Rama dan Sinta, hidup bahagia berdua hingga akhir hayat. Selesai," kata Rama dengan penuh penghayatan dengan kedua mata menyorot dengan pandangan yang berbeda. Membuat Sinta terdiam dibuatnya. Berpikir apa maksud perkataannya Rama. Namun Rama sekaan tak ingin menjelaskan, apakah dirinya sedang bercanda atau tidak. Segera menyalakan mobilnya dan Rama segera mengantarkan Sinta pulang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD