Raja Berubah

4999 Words
Belajar giatlah, karena itu untuk masa depanmu sendiri. Jangan sampai menyesal di kemudian hari dan berharap waktu bisa berputar. Karenanya itu mustahil untuk terjadi. -Nakula- Waktu saat ini sudah malam hari tiba. Di sebuah perumahan khusus untuk orang-orang kaya, yang biasa disebut perumahan elit, disana ada sebuah kamar yang masih menyala lampunya, tepat di ruangan di lantai dua. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Kamar itu milik Sinta. Sedati tadi yang Sinta lakukan hanyalah mengecek ponselnya, berkali-kali menunggu balasan dari pacarnya, Raja. Karena sudah hampir seminggu ini, Sinta dan Raja tak pernah lagi jaoan bareng ataupun sekedar bertelponan untuk memberi kabar. Bahkan puluhan chat dari Sinta pun tak terbalaskan. Meskipun hanya satu pesan saja. Ingat, pacar yang tempo hari bertemu dimall, itu adalah waktu terakhir Sinta mengobrol dengannya. Dan Sinta tak sedikitpun tahu, mengapa pacarnya bisa seperti itu. Awal mula Sinta berpacaran dengan Raja, saat dirinya masih duduk di bangku kelas sepuluh saat Sinta masih sekolah di SMA Sekar Arum, itupun secara backstreet. Sebab, Sinta dilarang oleh papanya untuk menjalin sebuah asmara dengan laki-laki manapun. Tapi Sinta tetap melanggarnya karena alasan klise kalau Sinta suka pada Raja. Dan Raja adalah cinta pandangan pertamanya. Maka dari itu sampai sekarang Sinta dan Raja masih backstreet. "Duh, dimana sih si Raja. Dari kemarin nggak ada kabar mulu," ujar Sinta gelisah menimang-nimang ponsel yang ada di tangan kirinya. Sinta bangkit dari duduknya kemudian berjalan mondar-mandir kesana kemari, berharap semoga cepat-cepat Raja segera membalas pesannya. Bagaimanapun juga, Raja adalah cinta pertamanya selama delapan belas tahun dirinya hidup. Cinta pertama yang sulit untuk dilupakan. Kata orang  cinta pertama bisa membuat kehidupan seseorang terbalik. Dan itulah yang Sinta alami setelah menjalin hubungan dengan Raja. Tak ayal, benaknya memutar sebuah memori setahun silam. Saat dirinya baru pertama kali menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Dan beruntungnya dia, Sinta bisa menjalin hubungan dengan Raja, cinta pertamanya. -Satu Tahun Silam- Saat itu, Sinta sedang berlangsung pelajaran olahraga. Dan pelajaran olahraga kali ini adalah bermain basket. Sebelum seorang guru memerintahkan anak-anaknya untuk berkumpul dan mengambil nilai parktik, terlebih dahulu semua siswa disuruh untuk latihan. "Sin, bentar Sin, lo aktif banget sih. Cuma latihan ini," ujar seorang gadis bernama Aerin. Seorang gadis yang merupakan satu-satunya sahabatnya Sinta sejak pertama kali masuk SMA. Anaknya ramah, memiliki rasa solidaritas yang tinggi dengan teman yang lainnya, penyayang dan kadang juga sedikit cerewet. Mungkin sedikit mirip dengan sifatnya Naya, Citrawati Lintang Nayaka. Sinta menoleh dan tersenyum dengan senang, berjalan ke arah Aerin yang sedang duduk dengan berselonjoran kedua kakinya ke depan. Menetralkan napasnya yang tersenggal-senggal sehabis latihan tadi dengan Sinta. "Ayo, latihan lagi," ajak Sinta dengan semangatnya. Namun mendapat gelengan dari Aerin. "Nggak deh, Sin, gue udah nggak sanggup," balas Aerin yang sedang mengibas-ibaskan kedua tangannya di depan wajahnya untuk menghalau rasa gerah. "Lo sanggup, Rin. Lo pasti sanggup. Ayolah latihan. Lo sanggup, titik. Ingat itu," kata Sinta memberikan semangatnya namun Aerin masih diam di tempatnya. Aerin mendongak ke atas di barisan ruangan di lantai dua. Pandangnnya menyapu ke sekelilingnya. Ternyata ada satu kelas yang ternyata sedang free class. Terlihat dari beberapa anak-anak laki-laki sedang berdiri di pinggir dinding pembatas yang hanya setinggi sepinggang itu. Mendengus kesal saat melihat seorang laki-laki yang menatap lurus ke bawah, tepatnya di lapangan outdoor yang dipakai oleh kelasnya Sinta untuk latihan basket. "Pantes aja lo semangat, Sin. Support system lo lagi ngawasin elo tuh," kata Aerin menunjuk ke arah atas, tepatnya di lantai dua dengan dagunya.  Sontak saja Sinta termangu. Terdiam sejenak membuat pergerakan tangannya yang tadi sedang mendribel bola ikut terhenti. Membuat bolanya menggelinding jauh dari tempatnya berpijak. "Ye, ini anak malah diam lagi. Noh lo diawasin sama si doi," kata Aerin lagi kemudian menahan tawanya karena melihat gestur Sinta yang tiba-tiba berubah menjadi kaku, seperti sebuah boneka kayu. "Hah?" tanya Sinta dengan wajah cengonya. Sontak Aerin tertawa terbahak-bahak melihat temannya yang satu itu. Memang seperti itulah Sinta, jika melihat seseorang yang dia sukai sedang memperhatikannya, Sinta otomatis akan berubah menjadi canggung dan kaku. Mendengar tawa Aerin yang bertambah kencang, Sinta segera berjalan menuju temannya itu. Duduk di samping Aerin dengan kepala yang menunduk dalam. Tak berani menatap ke arah seseorang yang katanya Aerin sedang mengawasinya. Aerin terkekeh senang saat tahu Sinta memutuskan untuk berhenti dari latihan basketnya. "Nggak lanjut latihan nih?" tanya Aerin menaik turunkan kedua alisnya bermaksud menggoda Sinta. Sinta yang kesal pun akhirnya menghadiahi Aerin dengan senggolan sikut di lengannya. Membuat Aerin terbahak dibuatnya. "Cie, yang salting diawasin sama Mas doi. Acieee, Sinta cieee," goda Aerin ternyata masih berlanjut. Sinta menoleh dan memberinya tatapan yang sangat tajam. "Diam, Rin. Entar gue ketahuan," bisik Sinta pelan agar tak terdengar oleh teman-temannya. "Iya deh, gue diam," putus Aerin pada akhirnya. Sinta menatap ke arah Aerin dengan tatapan yang sangsi. Tak percaya jika Aerin akan diam begitu saja menuruti perintahnya. Melihat wajah Aerin yang terkekeh sudah beberapa detik, Sinta memutuskan untuk memalingkan wajahnya dari Aerin. Menguatkan hatinya, agar tetap stabil meskipun diam-diam ada seseorang yang sedang memperhatikannya. "RAJA, TEMEN GUE ADA YANG NAKSIR ELO! DIA---" teriakan yang tiba-tiba dari mulut toanya Aerin membuat Sinta terkejut dengan kedua bola matanya melebar dengan sempurna. Buru-buru Sinta menutup mulutnya Aerin agar tak berbicara sembarangan lagi. Sinta kalang kabut saat mendongak menatap ke atas, melihat Raja yang mengangguk-anggukan kepalanya dengan wajah yang terlihat sedang berpikir. Aerin berusaha melepaskan tangannya Sinta dari mulutnya. Namun matanya tetap mengerling dengan tatapan yang terlihat jahil dan puas telah membuat Sinta malu. Teman-teman gadisnya yang penasaran pun mendekat ke arah Sinta dan Aerin. Ingin mengetahui siapa orang yang telah menyukai Raja itu. Karena Raja adalah laki-laki paling tampan satu sekolah dan katanya sangat sulit untuk menjalin hubungan kasih dengannya. Entah karena apa, tapi ada beberapa sumber yang mengatakan jika Raja sudah memiliki kekasih tapi sebagiannya lagi bilang jika Raja belum memiliki kekasih. Maka dari itu, Sinta hanya bisa memendam perasaannya kepada Raja. Dan dirinya tak pernah menyangka bisa menjadi kekasihnya dari seorang Raja. "Rin, siapa, Rin. Siapa yang suka sama Raja?" tanya seorang gadis dengan rambut coklat pendek yang terurai. Namanya adalah Berlin. "Gue tebak dia pasti cantik," sahut temannya yang lain bernama Nasha. "Gile, gue juga fansnya Raja garis keras, jadi pengen. Gue juga mau dong jadi pacarnya Raja. Jadi yang kedua juga nggak papa," sambar teman gadisnya yang lain. Yang ini namanya Bita. "Enak aja. Gue yang sampein rasa sukanya dia ke Raja. Ya harus temen gue yang jadian sama Raja," balas Aerin cepat. Karena dia berani menanggung malu akibat perbuatannya tadi yang berteriak ke Raja, yang penting Sinta bisa menjadi kekasihnya Raja. Tapi Aerin lupa, apakah Raja juga menyukai Sinta? Sinta menunduk semakin dalam saat mendengar perdebatan antara Aerin dengan teman-temannya yang lain. Saling memperebutkan seorang Raja. Mereka tidak tahu saja, siapa yang akan dipilih Raja nantinya. "Oi!" terikan singkat itu menarik atensi sekumpulan gadis yang sedang berdebat itu. Tak lupa juga dengan Sinta. Dengan kompak mereka semua mendongak ke arah atas, tepatnya ke arah seorang laki-laki yang bernama Nagaraja, Raja. Seorang laki-laki yang dicintai oleh Sinta secara diam-diam. "BILANGIN KE TEMEN LO, KALO GUE JUGA NAKSIR SAMA DIA. ENTAR BAKAL GUE TEMBAK!" teriak Raja lagi kemudian berbalik masuk ke dalam ruang kelasnya sendiri. Memang dirinya tidak tersenyum atau bahkan melempar flying kiss-nya tapi tetap saja membuat beberapa gadis terpekik mendengar teriakannya Raja tadi. Aerin terkekeh melihat beberapa teman gadisnya yang masih heboh akibat ulah dari Raja. Kemudian Aerin menoleh di samping kanannya, ke arah Sinta yang hanya duduk terdiam. Mendekatkan wajahnya ke telinganya Sinta, agar teman-temannya yang lain tak mendengarkan kalimat yang akan dia ucapkan. "Tuh dengerin, Raja juga naksir sama lo. Gue kenal sama Raja, dia emang nggak pernah bohong sama ucapannya. Jadi, lo cuma nunggu waktunya tiba," bisik Aerin kemudian tertawa lebar ketika melihat semburat rona pipi yang ada di kedua pipi putihnya Sinta. "Sumpah, gue butuh tabung oksigen dua," ceplos Sinta tanpa berpikir membuat Aerin tergelak mendengar kalimatnya. Lima menit berlalu, Sinta masih menetralkan detak jantungnya sedangkan Aerin masih setia tertawa menertai gelagatnya Sinta. Hingga tak berapa lama Pak Samsul, guru olahraga datang dari arah ruang guru dengan membawa sebuah buku daftar nama siswanya. Mengambil sebuah peluit yang dia kalungkan di sekitaran lehernya. Setelahnya meniupkan dengan sangat kencang untuk memberi kode kepada semua siswanya untuk berkumpul. Tanpa menunggu perintah dua kali, semua siswa segera berbaris rapi di depannya Pak Samsul. "Oke anak-anak, kalian sudah siap untuk pengambilan nilai praktik pada hari ini?" tanya Pak Samsul seperti biasa bertanya apakah para siswanya sudah siap apa belum. Jika belum siap, biasanya akan diberi waktu tambahan untuk latihan. Dan semua anak-anak sangat senang ketika diajar oleh Pak Samsul. Karena menurut mereka Pak Samsul adalah tipe guru yang sangat baik. Apalagi saat ulangan pengambilan nilai pengetahuan, mereka semua diperbolehkan untuk menyontek tapi dengan satu syarat yaitu tidak boleh berisik. Dan setelah itu Pak Samsul akan keluar sebentar dari kelas. Kalau seperti itu siapa juga yang tidak menyukai guru seperti Pak Samsul? Sudah dipastikan semua siswa seluruh sekolah menyukai Pak Samsul. "Belum, Pak!"  "Sudah Pak!" balas semua siswa kompak tetapi dengan jawaban yang berbeda. Karena tadi beberapa dari mereka diam-diam sepakat mengundurkan hari untuk pengambilan nilai praktik. Mereka ingin mengundurkan hari sampai minggu depan agar memiliki persiapan yang matang. Sinta memilih untuk diam saja. Karena sejujurnya dia sudah menguasai teknik-teknik basket yang akan diambil nilai praktiknya. Namun dirinya juga tak masalah jika pengambilan nilainya harus diundur menjadi minggu depan. Mendengar dua jawaban yang berbeda, Pak Samsul mengangguk-angguk dengan sebelah tangannya yang memijat dagunya. Mengerti dengan kedua jawaban dari para siswa yang kini sedang dia ajar. "Karena ada dua jawaban, lebih baik kita voting saja. Jawaban yang paling banyak yang akan dipilih. Sekarang, yang memilih buat pengambilan nilai hari ini angkat tangannya!" perintah Pak Samsul yang langsung diangguki oleh semua siswanya. Beberapa siswa sudah mengangkat tangannya. Namun terlihat sebagian siswa yang lain tidak mengangkat tangannya. Sinta akan mengangkat tangannya ke atas, namun segera ditahan oleh Aerin. "Jangan sekarang deh, Sin. Gue belum siap," ujar Aerin membuat Sinta menghela napasnya. Terpaksa menuruti kemauannya Aerin, jika tidak Aerin akan marah dan akan berlanjut selama berhari-hari.  "Iya-iya, gue nggak jadi sekarang," balas Sinta akhirnya. "Sip. Gitu dong." "Sekarang, siapa yang memilih buat diundur?" tanya Pak Samsul. Segera Sinta dan Aerin mengangkat tangannya dan juga siswa yang lainnya. Pak Samsul terlihat sedang menghitung. Tak berapa lama dirinya selesai menghitung. "Baik, dari voting kita kali ini ternyata banyak yang memilih untuk diundur. Jadi Bapak putuskan untuk pengambilan nilai praktik diundur menjadi minggu depan," putus Pak Samsul membuat siswa-siswa yang memilih untuk diundur berseru heboh sedangkan sisanya mendesah kesal. "Tapi, setelah ini kalian harus tetap latihan basket agar minggu depan nilai praktik kalian bagus. Bapak tinggal dulu. Dan Aldo, jangan lupa nanti bolanya dikembalikan di gudang olahraga." "Siap, Pak!" balas Aldo mantap. Setelah memastikan para siswanya, Pak Samsul segera pergi dari lapangan. Semua siswa sibuk latihan lagi. Begitupun dengan Sinta. Meskipun Aerin sudah mengajaknya untuk duduk saja dan memperhatikan siswa laki-laki, Sinta menolaknya. Dirinya ingin nilai parktik basketnya bisa sempurna, kalau bisa mencapai angka sembilan puluh. Meninggalkan Aerin yang duduk santai dibawah pohon, Sinta segera memungut satu bola basket yang berada dekat dengan kakinya. Setelahnya dia ingin berlatih memasukkan bolanya ke dalam keranjang basket. Duk! Duk! Duk! Sinta sedang mendribel bola basketnya. Mengambil ancang-ancang sebelum memasukkan bolanya ke dalam keranjang bakset. Meskipun keringat sudah bercucuran disekitar pelipisnya, Sinta tetap pantang menyerah. Setelah dirasa tepat, Sinta segera melempar bola basketnya. Berharap-harap cemas agar bopanya masuk.  Dueng!  Dan suara dari bola yang terjatuh membuat bahunya merosot. Bolanya memang jatuh tapi tidak masuk ke dalam keranjang. Seperti yang diucapkan tadi, Sinta tetap pantang menyerah. Berlari untuk mengambil bolanya. Setelahnya Sinta mendribel lagi dan mengabaikan seruan heboh dari teman-temannya. Fokusnya hanya tertuju kepada bola basketnya. Saat Sinta akan maju ke depan tiang basket, seseorang merebut bola basket dari tangannya. "Eh bolanya," seru Sinta yang belum menyadari siapa dalang yang telah merebut bolanya itu.  "Apa?" tanya orang itu dengan suara berat membuat Sinta terpengarah saat mengetahui siapa dia. Ya dia adalah Raja. Pergerakannya Sinta kaku, karena terpesona dengan cara bermainnya Raja. Menambah napasnya saat melihat Raja melirik ke arahnya dengan senyum miringnya yang bisa membuat Sinta merinding. Saat akan berbalik badan meninggalkan Raja, Sinta terhenti. "Katanya lo naksir gue? Kenapa gue ditinggal?" tanya Raja dengan nada yang dingin. Ya, Raja memang cowok cool paling cool disekolah Sekar Arum.  "Eh, eng... i-itu anu?" "Anu?" tanya Raja dengan wajah yang bingung. Sinta diam-diam berdesis merutuki tingkah bodohnya. "Kan elo yang mau main," balas Sinta akhirnya. "Maen bareng, mau?" tawar Raja membuat Sinta terpengarah. Raja ikut terdiam, menghentikan aksi driblenya. Maju selangkah mendekat ke arah Sinta. Tiba-tiba dirinya berlutut di depannya Sinta. "Mungkin gue nggak seromantis yang elo bayangkan. Tapi, apa lo mau jadi pacar gue, Sinta?" tembak Raja setelah terdiam beberapa saat. Pernyataan cintanya Raja membuat semua gadis berteriak heboh. Yang membuat Sinta malu adalah saat Raja menarik tangannya dengan lembut. Dengan malu-malu Sinta mengangguk dengan senyum yang tertahan. Tak berapa lama Raja menarik tangannya dan mengecup singkat punggung tangannya itu. "AKHIRNYA, TEMEN GUE NGGAK JOMBLO LAGI!" teriak Aerin kencang membuat Sinta tersenyum malu. *** Sinta mengerjap setelah mengenang memori terdahulunya. Yang paling penting untuk saat ini dirinya harus mengetahui kabarnya Raja. Karena dirinya masih merasa belum tenang jika belum mendengar suaranya Raja. Saat ditengah rasa gelisahnya, tiba-tiba aksi disaat Rama membenarkan komputernya tadi siang disekolah, muncul dibenaknya. Sebenarnya Sinta sangat kagum akan kemampuan yang Rama miliki. Sinta tak habis pikir, laki-laki setengil Rama bisa menguasai teknologi. Sinta masih berjalan mondar-mandir yang kini malah terpikirkan oleh seorang Rama dan malah bukan Raja. Lama kelamaan, Sinta teringat dengan keberadaan Hacker Boy di sekolahnya. Sinta merasa heran, mengapa sampai sekarang, si Hacker Boy tak menghebohkan sekolahnya lagi? Jika sudah heboh, tentu Sinta akan mengetahui siapa orang dibalik nama Hacker Boy. Jangan-jangan si Hacker Boy adalah seseorang yang sangat-sangat jenius, bahkan bisa menutupi identitas aslinya, pikir Sinta. "Tapi nggak mungkin kalo si Hacker Boy itu Rama. Rama kan cowok paling nyebeli, usil, suka sombong. Pokoknya gue yakin, bukan Rama hackernya," gumam Sinta. Teringat sesuatu, Sinta menepuk jidatnya sendiri. "Kenapa gue malah mikirin Rama, Kenapa bukan Raja. Inget Sinta, pacar lo itu Raja, bukan Rama si cowok super nyebelin itu," gumam Sinta lagi. Setelah tak kuasa membendung perasaannya, segera Sinta menyambar ponselnya. Mencari kontak seseorang dan langsung dia melponnya. Dering pertama, belum ada balasan. Hanya balasan dari operator yang menandakan jika nomor yang dituju sedang sibuk. Dengan semangat yang membara dan juga dorongan dari perasaan gelisah, Sinta menelpon Raja lagi. Tapi tetap saja, deringan kedua belum juga diangkat. "Ihh, kenapa juga nggak angkat telpon gue. Biasanya juga langsung bales," risau Sinta. Sinta lansung menelpon lagi untuk ketiga kalinya. Dan beruntungnya, kali ini ada balasan. "Raja, kenapa kamu baru bales sekarang. Aku udah dari tadi nungguin balesan dari kamu. Dan satu lagi, dari kemarin kenapa ngilang?" tanya Sinta beruntut. "Aduh, maaf ya Sayang. Dari kemarin ponsel aku tuh rusak. Oh iya kenapa Kamu belum tidur, ini udah malem loh. Tidur ya, besok kan sekolah. Aku juga udah ngantuk mau tidur," balas Raja diseberang sana. "Tapi--" "Aku tutup ya. Selamat malam, mimpi indah Sayang. Love you," kata Raja akhirnya. "Say--" Tut! Tut! Tut! Dan telpon pun berakhir karena Raja sudah memutuskan sambungannya. Sinta melihat foto profil dirinya bersama Raja. Didalam foto itu, mereka berdua tampak serasi. Sinta sangat menyayangi Raja, karena Raja adalah cinta pertamanya.  Bahkan Sinta yakin, jika Raja juga menyayangi dirinya, seperti dirinya menyanyai Raja. Sinta berharap, hubungannya dengan Raja bisa sampai ke jenjang yang lebih serius. Apalagi alasannya kalau Sinta sudah sangat menyanyangi Raja? Dengan lesu Sinta menaiki kasurnya. Merebahkan badannya yang penat, melihat ke langit-langit kamarnya. "Selamat malam juga Raja. Mimpi indah ya, oh iya aku harap kamu jangan berubah ya. Love you too," gumama Sinta kemudian memejamkan kedua matanya. *** Esok harinya, disekolah saat jam istirah pertama, Sinta menceritakan soal acara teleponannya dengan kekasihnya kepada Naya. Naya juga tahu jika Sinta sudah memiliki seorang kekasih. Hanya Naya saja yang tahu. Tapi entahlah, mungkin ada orang lain lainnya yang mengetahuinya. "Jadi gitu Nay, gue cuma takut aja kalau Raja berubah. Dan gue lebih takut lagi, kalau dia ninggalin gue," kata Sinta terlihat sedih. "Lo jangan nethink gitu dong. Bisa jadi, apa yang pacar lo bilang itu bener kalau ponsel pacar lo sedang rusak. Pokoknya, sekarang lo jangan mikir yang aneh-aneh," nasehat Naya. "Tapi Nay, gue ngerasa dia itu semakin ngejauh dari gue. Gue juga ngerasa-" "Sshhtt, semua cewek itu sama Sinta. Selalu berpikir negatif saat jauh dari pacarnya. Dan satu lagi, jangan biarin perasaan khawatir lo memmbuat hubungan lo renggang. Perasaan khawatir yang berlebihan justru nggak baik buat sebuah hubungan." Sinta menarik napasnya, merilex kan pikirannya. "Lo bener, gue nggak boleh mikir yang enggak-enggak," putus Sinta. Naya merangkul bahu Sinta, "Nah gini dong, jangan galau mulu." Rama yang sedari tadi hanya diam saja dibelakang kedua gadis itu, hanya menguping curhatan Sinta kemudian tergelak tertawa. "Hahaha...." Sontan Sinta dan Naya menoleh ke belakang. "Ngapain lo?" tanya Sinta. "Lo, hahaha, diputusin pacar lo kan. Yang kemarin ketemu di mall. Hahaha.... sukurin," ujar Rama yang masih saja tertawa. "Nggak, mereka nggak putus. Ponsel pacarnya lagi rusak aja," Naya membalas perkataan Rama. Mendengar balasan dari Naya yang terlihat biasa saja membuat Rama mengernyit heran. "Jadi lo, milih buat ikh-" "Shttt, bisa diem nggak sih!" potong Naya dengan mendelik, takut jika Sinta mendengarnya. Rama pun menghentikan tawaannya, diam-diam tersenyum saat menyadari jika Naya sudah mengikhlaskan mantannya untuk temannya, yaitu Sinta. Dengan ide jahilnya, Rama berkata, "Wah, menurut gue nih ya Sin, cowok lo udah masuk ke siaga lima." "Maksutnya?" tanya Sinta bingung. "Iya, maksutnya itu, pacar lo dalam fase putus segan lanjut tak mau," ucap Rama dengan diakhiri cekikikan andalannya yang membuat Sinta langsung merasa sedih seketika. "Ahh, Naaayyyaaaa…." rengek Sinta tak mau apa yang Rama katakan terjadi di dalam hubungannya dengan Raja. Naya melotot marah ke arah Rama, "RAMA! PERGI LO SEKARANG JUGA!" Setelah mendengar Naya berteriak kencang, segera Rama berlari pergi meninggalkan kedua gadis itu. "Ampun Mbak jago, hahaha...." *** Hari ini banyak jam kosong, entah karena apa. Sinta dan Naya pergi ke kantin tepat jam istirahat tiba. Mereka memesan makanan dan memilih tempat duduk. Setelah itu memulai memakan pesanannya. "Seblak Pak Djodjo emang paling enak," kata Naya yang masih mengunyah seblak di dalam mulutnya. "Bener banget lo Nay, gue setuju," balas Sinta. Mereka terus makan, sampai akhirnya Rama, Dewa dan Nakula mendatangi meja mereka. Tanpa berucap mereka bertiga segera duduk di mejanya Sinta dan Naya berada. "Ngapain?" tanya Naya mengernyitkan alisnya. "Duduklah," balas Rama sekenanya. "Kenapa disini?" kali ini Sinta yang bertanya. "Ya suka-suka kitalah," sahut Dewa. "Bodo!" ujar Sinta dan Naya bebarengan kemudian melanjutkan acara makannya tanpa mempedulikan tiga tamu tak diundang. "Wa, mana pesenan gue? Udah laper nih," tanya Rama sembari mengambil sebuah kerupuk di depannya. "Lah lupa, gue belum pesen," ujar Dewa yang membuat Rama ingin memakan Dewa hidup-hidup. "Gue aja yang pesen." Nakula menawarkan dirinya, Rama hanya mengangguk saja. Sinta yang melihat kebaikan Nakula, pun berkata. "Nakula itu idaman banget ya. Udah ganteng, cool, suka nolong. Pokoknya copyannya Bang Wisnu di DMS," kata Sinta. "Apaan tuh DMS?" sewot Rama. "Dia Milik Semua?" "Ihh bukan. Au ah, keliatan banget nggak pernah main youtube," balas Sinta cuek. "Gue kasih tahu ya, kalo lo naksir sama Nakula--" "Gue nggak nak--" "Shhtt dengerin dulu. Ini soal kisah percintaannya dia. Kalo lo naksir Nakula, gue jamin lo nggak bakal bisa dapetin dia. Yang deketin dia itu banyak. Apalagi tante-tante juga ada. Pokoknya lo kalah sanginan deh. Dan juga Nakula itu--" "Ngapain ngomongin gue?" tanya Nakula yang tiba-tiba sudah duduk ditempatnya. "Hehehe enggak, Mas Nakula itu orangnya nggak baik hati, suka sombong, nggak rajin menabung, pokoknya Mas Nakula itu orang terwah," balas Rama cengengesan. Nakula jengah, dia hanya memutar bola matanya saja. Menarik segelas jus wortel ke arahnya. Lebih baik minum jusnya dan segera pergi dari kantin daripada mendengar celotehan Rama yang bisa membuat emosi. Suasana hening hikmad, tiba-tiba sekelompok gadis mendatangi mejanya mereka. Dia Queensha and the geng. "Elo yang namanya Sinta?" tanya Queensha sembari menunjuk ke arah Sinta. Sinta mengernyit heran, tak mengenal siapa cewek yang menunjuknya tadi. Sinta melirik ke badge kelasnya, baru paham kalau Queensha adalah kakak kelasnya. "Iya kak. Ada apa ya?" tanya Sinta sopan. "Gue mau ngomong sesuatu ke elo, entar setelah pulang sekolah. Lo harus  dateng ke kelas gue, dua belas IPS empat. Ini rahasia, cukup kita berdua saja. Cuman itu yang mau gue omongin sekarang." Meskipun merasa penasaran, akhirnya Sinta menyanggupi. "Okey kak." Setelah mendengar balasan dari Sinta, Queensha and the geng segera pergi dari kantin. Sedangkan Naya malah heboh sendiri. "Lo kenal sama kak Queensha? Sedekat apa hubungan lo sama dia? Dia itu banyak banget fansnya karena wajahnya yang cantik dan bodynya yang wah. Eh dia juga nyebelin sih, suka bully orang. Jadi sejak kapan lo kenal sama kak Queensha?" cerocos Naya sembari mengguncang-guncangkan bahunya Sinta. "Apaan sih Nay, gue nggak kenal sama dia. Tahu namanya juga baru tadi," balas Sinta kesal. "Kok dia tahu nama lo." "Nggak tahu." Jawaban dari Sinta membuat keempat temannya mengernyitkan alisnya bersamaan. "Lo nggak punya masalah kan sama dia?" tanya Naya khawatir. "Mungkin," kata Sinta. "Perasaan enggak deh." Naya hanya mendengus, pasalnya kali ini Sinta terlihat biasa saja. Mereka melanjutkan acara makannya yang tertunda. Setelah itu, mereka berlima kembali ke kelas. Sinta dan Naya berjalan didepan, sedangkan Rama, Dewa dan Nakula berjalan dibelakang. Ya, Sinta dan Naya merasa memiliki prajurit. "Nay, gue jadi takut nemuin dia sendirian. Temenin gue ya," ujar sinta dengan puppy eyesnya. Naya langsung menggaruk kepala belakangnya. "Aduh, sorry Sin, nanti sore gue ada acara keluarga di rumah oma gue." "Yaahhh..." Tentu saja Sinta merasa khawatir dengan dirinya sendiri. Semenjak mendengar perkataan Naya yang bilang jika Queensha adalah Ratu Bullying, dirinya semakin ketakutan. Tapi, seingatnya Sinta tak pernah memiliki masalah dengan seseorang. Apalagi gadis bernama Queensha itu. Naya yang melihat raut gelisahnya Sinta pun menenangkannya. "Tenang, gue jamin dia nggak bakal bully lo selama lo nggak punya masalah sama dia," kata Naya menenangkan. "Iya sih, gue nggak punya masalah sama dia. Tapi heran aja gue, kenapa dia mau ngomong sesuatu yang katanya rahasia ke gue?" Sinta berkata sembari berbisik ke arah Naya. Takut jika ada orang lain yang mendengarnya. Naya menggelengkan kepalanya, "Tapi lo tetep nemuin dia kan?" "Ya gimana lagi. Mau nggak mau gue harus ketemu sama dia kan." "Semangat yah. Moga aja nggak terjadi hal buruk." Sinta tersenyum, "Thanks Nay." Sedari tadi seorang laki-laki dibelakang dua cewek itu mendengarkan perkataannya Sinta secara diam-diam. Menyorot ke arah Sinta yang tepat berada di depannya dengan pandangan yang sangat sulit untuk diartikan. Teng! Teng! Teng! "Gue duluan ya, udah ditunggu mama gue dibawah," kata Naya sembari mengambil tasnya dari kursi. Sinta mengangguk lesu, "Hati-hati dijalan." Naya menoleh kemudian tertawa kecil, "Elo yang lebih hati-hati, okey? Udah ya, gue pulang dulu. Bye." Sinta melambaikan tangannya saat Naya melemparkan kiss flynya. Terkekeh melihat kelakuannya Naya. Dikelas ini sudah kosong, hanya tinggal dirinya sendiri yang sengaja menunggu sepi. Dua puluh menit kemudian, saat Sinta merasa sekolah sudah sangat sepi, dia memutuskan untuk beranjak ke kelasnya Queensha. Sinta menaiki lantai tiga, dimana tepat diujung lorong atas, adalah kelasnya Queensha. Kata Naya, lantai atas sangat sepi, apalagi kelas dua belas IPS empat, karena kelas itu paling jauh dari tangga. Dengan perasaan yang gelisah, Sinta tetap menaiki anak tangga. Tak berapa lama kemudian, Sinta sudah berada di lorong lantai tiga. Berjalan pelan ke arah kelasnya Queensha. Tok! Tok! Tok! "Permisi," ujar Sinta sopan setelah mengetuk pintunya. Memang pintunya tak terkunci, demi menjaga sopan santun, Sinta memilih tetap mengetuk pintunya. Tapi tak ada sahutan. Sinta mengetuk pintu lagi. Dan tetap tidak ada sahutan. Sinta menengok ke dalam kelas, ternyata sepi tak ada orang.  Tiba-tiba dari arah belakangnya, ada seseorang yang  menarik tasnya. Sinta tak bisa melihat orang itu, karena posisi Sinta berjalan mundur. Tak berapa lama, alis Sinta mengernyit saat dirinya ditarik masuk ke dalam sebuh toilet yang tak jauh dari kelasnya Queensha.  Sinta teringat lagi  perkataan Naya, yang berkata jika toilet area kelas dua belas jarang ditempati, karena toiletnya yang tak pernah terurus, jadi para siswa lebih memilih toilet yang ada  di area kelas sepuluh atau kelas sebelas. Brak! Tanpa aba-aba, Sinta dihempaskan ke lantai toilet yang dingin. Sinta mendongak, dan mengetahui siapa pelakunya, dia Queensha. "Ma-maaf Kak, ada apa ya. Kok Kakak kelihatan marah sama Saya," tanya Sinta takut-takut meminta penjelasan atas tindakannya Queensha barusan. "Lo tahu Nagaraja, Raja. Anak Sekar Arum?" Bukannya menjawab pertanyaan yang Sinta berikan, Queensha malah melempar pertanyaan balik ke Sinta. Sinta terbungkam, kenapa Queensha bisa kenal dengan Raja, pacarnya? Sebenarnya ada apa dengan pacarnya? "Jawab b**o, gue bawa kesini bukan buat lo jadi bisu!" murka Queensha. "I-iya. Dia pacar Aku, Kak." "Pacar?" remeh si Queensha. "Gue pacarnya yang asli dan elo itu cuma mainannya!" Jleb! Sinta kaget dan terbungkam. Apa katanya? Dirinya hanya mainannya? Sinta hanya mainannya RAJA? Beribu-ribu kali rasa sakit ditubuhnya, tak akan pernah semenyakitkan luka di hatinya. Sinta tak pernah percaya, jika Raja seperti itu. Menganggap dirinya hanya sebatas mainan. Tapi tunggu dulu, Raja itu tampan. Jadi wajar saja jika banyak yang ingin menjadi pacarnya. Karena perasaan iri, seseorang bisa melakukan suatu kebohongan, ya seperti Queensha ini. Melihat pandang Sinta yang kosong, membuat Queensha terkekeh. "Kasihan banget gue sama elo." Sinta mendongak kemudian menatap tajam ke arah Queensha. "Lo pasti bohong!" Tak memedulikan kesopannya, Sinta membalas ucapannya Queensha. Queensha yang tadi memandanginya remeh, sekarang menatapnya marah. Maju ke arah Sinta, kemudian menjambak rambutnya dengan brutal. "Dasar bit*h, lo emang ngeselin!" murka Queensha. "Aaakh... lepasin rambut gue," erang Sinta kesakitan. Dengan refleks Queensha melepaskan tangannya dari rambutnya Sinta. Sinta bernapas sedikit lega. Plak! Bukannya menyudahinya, Queensha malah menampar pipi kirinya Sinta dan langsung memar kebiruan. "Lo-" Plak! "Nggak pantes sama Raja!" Kemudian Queensha menarik rambutnya Sinta lagi. "Aaaakhh... gue bilang lepasin rambut gue!" teriak Sinta murka. "Mau marah lo?" tanya Queensha. "Seharusnya gue yang marah, sebelum lo jadian sama Raja, gue udah pacaran sama dia. Selama ini gue diem aja, karena Raja udah jelasin rencananya. Rencana dia yang mau pacaran sama elo. Tapi kemarin malam, lo ganggu acara ngedate gue sama dia!" Queensha terlihat sangat murka. Dia langsung menjambak rambut Sinta dengan kuat. Bahkan Sinta yakin ada beberapa helai rambutnya yang rontok. Karena rasa sakit dikepalanya sangat terasa. "Lepasin tangan kotor lo," ujar Sinta dingin. "Mau apa lo?" tanya Queensha. "Oh masih nggak percaya lo? Sebenarnya gue nggak mau kasih buktinya, takut elonya jadi gila. Tapi kalau lo maksa, ya udah gue turutin." Queensha mengambil ponselnya, mencari sesuatu. Setelah ketemu dia memperlihatkan sebuah foto ke hadapannya Sinta. Sinta terkejut setelah mencermati foto itu. Di dalam foto itu, ada Raja dan Queensha sedang duduk di sebuah diskotik. Yang menjadi permasalahannya adalah Queensha duduk di pangkuannya Raja dan mereka terlihat saling berciuman. Segera Sinta memalingkan wajahnya dari foto itu. Merasa sangat sakit hatinya saat melihat Raja duduk dengan cewek lain. "Baru percaya lo?" Sinta terdiam, sebagian dari dirinya sadar jika orang didalam foto itu adalah Raja tapi sebagian dirinya lagi menyangkal. Sinta mendongak, melihat ke arah Queensha dengan tatapan dingin. "Lo pasti bohong. Dan lo juga yang edit foto itu, supaya gue mau mutusin Raja kan? Hahaha basi!" balas Sinta kemudian berdiri Balasan dari Sinta membuat Queensha terkejut. Saat Sinta hendak keluar, dengan cepat Queensha menarik Sinta. Kemudian menghempaskannya ke dinding toilet yang keras. Karena perlakuan Queensha yang sangat cepat, akhirnya Sinta tak bisa menghindari dinding yang akan menghatamnya. Dan akhirnya hal yang tak diinginkan pun terjadi. Kepala Sinta membentur dinding dengan sangat keras. Membuat pelipisnya mengeluarkan darah. Pandangan Sinta menjadi mengabur setelah kepalanya menghantam dinding.  Melihat Sinta yang hanya diam saja sembari menyandar ke dinding, Queensha segera menyeret tubuh Sinta yang lemas masuk ke salah satu bilik toilet. Setelah itu menghempaskan lagi tubuh Sinta didalam bilik itu. Queensha pergi mencari sesuatu. Sinta meraba pelipisnya, darahnya lumayan banyak. "Aaakhh iiisshh..." erang Sinta kesakitan. Sinta berniat berdiri, tapi Queensha sudah datang. Posisi Sinta yang menunduk, tak bisa melihat sesuatu yang Queensha bawa. Byur! Tiba-tiba tubuh Sinta diguyur dengan air dingin. "Pantes aja Raja mau mutusin elo. Sekarang gue tahu, semenyebelinnya elo," ujar Queensha bengis. Queensha maju mendekati Sinta yang kini sudah terkapar tak berdaya. Maju mendekati telinganya Sinta. "Dan ini, sebagai hukaman buat elo yang ganggu acara ngedate gue," bisik Queensha. Plak!  Tamparan terakhir Queensha berikan di pipinya Sinta sebelah kanan. Setelah itu Queensha keluar dari bilik. Tak lupa menguncinya dan menghalangi pintu dengan alat pel. Queensha keluar dari toilet, tak lupa juga dirinya menutup pintu toilet dari luar. "Rasain lo!" setelah berkata demikian itu Queensha pergi.  Kepergian Queensha ternyata diperhatikan oleh seseorang. Tentu saja orang itu tersenyum senang, karena kepergian Queensha adalah kode baik baginya. Sedangkan didalam toilet, Sinta dengan kesusahn mencoba berdiri. Tapi tidak bisa karena tubuh Sinta yang menggigil ditambah lagi dengan adanya luka dipelipisnya. Sinta meringkuk duduk dipojokan. "T-tolong," ujar Sinta lirih bahkan dari luar toilet pun tak terdengar. "Tolong." Sinta sudah merasa tak kuat. Pandangannya semakin mengabur. Dan disaat waktu terakhir dirinya masih sadar, dia melihat sepasang sepatu yang kini ada dihadapannya. Itu adalah bayangan terakhir yang Sinta lihat karena setelah itu Sinta jatuh tak sadarkan diri. Rama yang baru saja berhasil membukakan pintu bilik yang dia yakini ada Sinta didalamnya, terkejut saat melihat Sinta yang sudah tak sadarkan diri di pojok bilik. Rama segera mendekati Sinta. Menepuk-menepuk pipi Sinta, mencoba membangunkannya. "Sin, Sinta. Bangun Sin," ujar Rama khawatir. Rama meraih kepalanya Sinta. Rama pun tambah terkejut saat melihat cucuran darah dipelipis kanannya. "Kurang ajar!" murka Rama. Rama memegang kedua bahunya Sinta. Terkejut lagi saat merasakan seragamnya Sinta yang basah. Segera Rama melepaskan jaket bomernya dan memakaikan ke tubuhnya Sinta. Rama segera meletakkan tangan kanannya dibawah lutut dan tangan kirinya dibawah tengkuk. Segera membopong tubuh Sinta yang sudah sangat dingin.  Rama keluar dari toilet dengan tergesa-tegas. Rama berniat membawa Sinta ke apartementnya yang dia sewa secara diam-diam. Untung saja tadi pagi Rama berangkat dengan menggunakan mobilnya. Jadi tak khawatir saat membawa Sinta dengan keadaan seperti ini. "Gue kira lo kuat, Sin. Gue emang nggak mau ikut campur sama masalah lo. Tapi, kalo ada orang yang macem-macem sama lo. Inget, Sin, gue ada di garda terdepan buat lindungin elo," ujar Rama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD