Ataukah Dia

3506 Words
"Menjalin kasih, tak sesederhana seperti pengucapannya. Butuh rasa kepercayaan, cinta dan simpati yang kuat di dalamnya." -Sinta- Bel baru saja berdering, beberapa siswa langsung masuk ke dalam kelas. Tapi tak sedikit juga yang masih ada di lorong kelas, sengaja menunggu pengajar di luar. Berbeda lagi dengan Rama. Rama, Sinta, Naya dan Dewa sudah siap di kursinya masing-masing. Sedang bercanda gurau. Menghabiskan waktu yang sebentar lagi akan diisi oleh pengajar kelas mereka. Sebelum bertempur dengan mata pelajaran, mereka memilih untuk saling bercerita. "Kenapa ya, orang kok maunya punya pacar yang kaya raya," ucap Dewa random. Seperti biasa, Dewa senang sekali melempar pertanyaan-pertanyaan random kepada teman-temannya. "Nggak ada gitu yang mau punya pacar yang kaya saya?" Perkataan Dewa mengundang tangan-tangan jahil dari ketiga temannya. Terdengarlah dengan kompak ketiga tangan itu yang menyentuh sesuatu yang menimbulkan bunyi yang sangat keras. Bahkan Dewa terkejut dengan kekompakan teman-temannya. Plak! Plak! Plak! "Sakit, monyet!" murka Dewa dengan suara yang terdengar keras dan marah. "Tolong ngarepnya dikondisikan," kata Rama membuat Dewa yang sedang mengelus kepalanya mendengus kesal. Pasalnya, Rama ini adalah tipe-tipe laki-laki yang senang sekali menjatuhkan mimpi temannya. Rama tertawa renyah saat melihat Dewa dengan wajah menahan kesalnya. Rama melipat kedua tangannya di depan dadanya. Berdeham singkat menarik atensi ketiga temannya. "Ehem!" deham Rama dengan sengaja untuk kedua kalinya. "Apa iya? Ciuman gunakan lipstik Wardah, ciumannya jadi halal?"tanya Rama dengan wajah yang dibuat sepolos mungkin dengan pertanyaan yang keluar dari bibirnya. Sontak saja ketiga temannya terpengarah setelah mendengarkan pertanyaan itu. Saling melirik memberi kode lewat lirikan mata. Hingga tak berapa lama Naya mengangguk kemudian dia berdiri dari kursinya. Prok! Prok! Prok! Bertepuk tangan beberapa kali untuk menarik atensi dari teman-teman sekelasnya. Dan benar saja, semua teman sekelasnya kompak melihat ke arah Naya dengan pandangan bertanya-tanya. "Ehem, ehem! Minta perhatiannya guys!" seru Naya mendapat decihan dari Rama. "Cih, dasar miskin. Perhatian aja minta-minta," cibir Rama dan hanya dibalas oleh Naya dengan kedua bola matanya yang berputar malas. Naya tak lagi menanggapi Rama. Segera menyapukan pandangannya ke teman sekelasnya. "Ada yang jual otak nggak? Bekas juga nggak papa. Rama butuh satu. Soalnya otaknya udah nggak bisa berfungsi lagi dengan baik. Kalo ada info, boleh kabar-kabar ya. Thank you guys,"ujar Naya lantang membuat teman sekelasnya kompak tertawa dengan menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan tingkah polahnya Naya. Sedangkan Rama menggeram marah, setelah mendengar perkataannya Naya. "Sabar, Ram, sabar, sabar. Ini namanya uco, uji coba. Sabar, sabar," ujar Rama dengan tangan yang mengusap dadanya sendiri. Mengingatkan diri sendiri dan memaklumi sifat yang dimiliki oleh salah satu temannya, Naya. "Nay, lo jatuh dari langit?" tanya Rama setelah berhasil menenangkan dirinya sendiri agar tak meledak saat itu juga. Naya menoleh dengan pandangan bingung. Tapi tak berapa lama kemudian dirinya tersenyum dengan penuh kesombongan. Menyampirkan rambutnya ke belakang, dia pun berkata. "Lo baru sadar? Gue ralat ya, gue bukan jatuh tapi turun. Gue turun dari langit. Soalnya gue kan malai--" "Soalnya setan biasanya gitu," potong Rama dengan cepat diselingi dengan senyum mengejeknya. Membuat Naya tersadar jika sedari awal Rama memang hanya berniat mengejeknya dan memancing dirinya dengan pertanyaan bodohnya. "Rama setan! Sini lo, gue hajar pala lo!" amuk Naya yang berusaha keluar dari kursinya. Namun sebelum itu, saat Naya akan melewati kursinya Dewa yang di belakangnya ada mejanya Rama, dengan sengaja Rama memajukan mejanya. Membuat Naya terjebak di dalamnya. "Bukannya elo setannya? Elo kan tadi ngaku sendiri kalo lo jatuh dari langit. Elo lah setannya," balas Rama tanpa rasa bersalah sedikitpun. "Setan lo! Rama setan!" teriak Naya penuh murka. Melihat Naya yang memaksakam diri untuk keluar dari tempatnya, dengan segera Rama berdiri dari kursinya dan berlari menghindari amukan dari Naya. Sedangkan Sinta dan Dewa hanya menggelengkan kepalanya memaklumi sifat kedua temannya. Tak berapa lama, Naya kembali ke temapat duduknya dengan napas yang tersenggal-senggal. Setelah itu diikuti oleh Rama yang duduk di kursinya dengan senyum penuh kemenangannya. "Cih lemah!" ujar Rama yang berhasil memancing emosinya Naya lagi. "Kayak gue dong. Disambar petir sembilan kali pun gue nggak mati," kata Rama selanjutnya. Membuat Dewa terkagum dengan perkataanya. "Wih keren tuh. Apa rahasianya, Ram?" tanya Dewa dengan pandangan yang sangat penasaran. Mungkin dirinya juga ingin mencoba rahasia dari seorang Rama yang tidak mati meskipun disambar petir sebanyak sembilan kali. "Asal nggak kena. Hahahaha...." balas Rama penuh rasa senang karena berhasil mengerjai teman-temannya itu. Dengan kesal, Dewa melempar sebungkus permen karet dari mejanya Rama dan dengan penuh rasa dendma melemparnya ke arah Rama dan tepat mengenai jidatnya Rama. Naya pun juga sama. Dirinya ikut tersulut emosi lagi. Naya sangat ingin menjambak rambutnya Rama dan memberinya pelajaran. Namun terlebih dulu Sinta menahan lengannya Naya agar tak menanggapi perkataan tak berfaedahnya Rama. Kini giliran Sinta yang membalas perkataannya Rama. "Namanya juga cewek, staminanya emang beda dari cowok. Kalo lo bisa jadi cewek, lo bakal ngerasain gimananya susahnya jadi seorang cewek," balas Sinta dengan pandangan yang seriusnya. "But, ada enaknya juga jadi cewek. Karena ada pepatah Islam yang bilang kalo surga ada di telapak kaki ibu." "Cih, sok alim lo," decih Rama dengan nada mengejek. Sinta menarik napasnya berulang-ulang kali sebelum dirinya berkata. "Harus aku akui, kau membuatku menjadi lebih religius. Aku jadi sering nyebut saat melihat kelakuanmu," ujar Sinta dramatis yang sukses membuat Naya dan Dewa tertawa terbahak-bahak melihat raut wajahnya Rama yang menelan rasa kekesalannya setelah mendengar sindiran halus dari Sinta. "Gue heran deh sama Nakula, dia kok betah ya baca buku tiap saat," kata Naya kemudian menunjuk Nakula yang duduk di barisan paling depan. Tepat di depan mejanya guru. Dan merupakan salah satu meja yang sangat dihibdari oleh kebanyakan siswa. Ketiga pasang mata kini bersamaan menyorot ke arah si Nakula yang sedang duduk diam didepan sembari membaca sebuah buku paket. "Dia itu, tipe cowok cool ya? Kok gue belum pernah lihat dia senyum?" ujar Sinta terheran. Perkataan Sinta membuat Rama menoleh cepat ke arahnya. "Naksir lo sama Nakula?" tanya Rama. "Eng-" "Nakula, nih si Sinta nak--" Segera Sinta membekap mulutnya Rama dengan telapak tangannya. "Bisa diem nggak?!" Rama hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi Sinta tak yakin jika melepaskan bekapannya, Sinta yakin Rama akan bicara tak berfaedah lagi. Maka dari itu Sinta masih membekap mulutnya Rama. "Heem heem," erang Rama sembari berusaha melepaskan telapak tangannya Sinta. Sedangkan Sinta hanya melotot saja. Tiba-tiba Sinta merasakan sensasi dingin di telapak tangannya yang dia gunakan untuk membekap mulutnya Rama. Dengan cepat Sinta melespaskan bekapaannya. "RAMA JOROK!" seru Sinta kemudian mengusapkan telapak tangannya bekas jilatan Rama ke seragam milik Rama. "Lo sendiri nggak mau lepasin. Salah sendiri wlek," ejek Rama kemudian mengambil ponselnya di bawah meja. "Nakula itu tipe cowok yang sekali senyum pabrik gula langsung tutup. Manis banget senyumnya," ujar Naya membayangkan Nakula tersenyum ke arahnya. Tentu saja, pasti banyak gadis yang menyukainya jika Nakula mudah tersenyum. "Kalo Dewa, sekali senyum, malah RSJ langsung buka. Karena kalo dia senyum, bisa nularin virus gilanya," kata Rama mengejek. "Ejek gue aja terus," sindir Dewa kepada Rama, Rama hanya terkekeh menanggapinya. "Ram--" panggil Dewa. "Ape?" tanya Rama malas. Karena tahu pasti Dewa meminta bantuan kepadanya. "Minta hotspot dong," balas Dewa memperlihatkan cengiran lebarnya. "Percuma ponsel baru, kalo nggak modal beli kuota," cibir Rama. Dewa terkekeh, "Masih mending bisa beli ponsel yang up to date." "Wa, syukuri apa yang lo punya. Dan syukuri keadaan elo yang sekarang. Meskipun lo gonta-ganti ponsel berkali-kalipun, percayalah derajat sosial lo masih dibawah gue," ujar Rama kemudian tersenyum miring. "Jleb banget Mas," seru Naya memanas-manasi. "Bodo," balas Dewa cuek, kemudian bermain dengan ponselnya. "Otot kawat, balung wesi, ati krupuk. Dasar baperan lo," kata Rama kesal kemudian dia membuka hotspotnya. "Udah gue buka, kalo masih kekunci, password-nya kayak biasa." Seketika Dewa girang, "Thanks Ramawijaya. Lo baik banget hari ini!" "Gue baik ke elo udah tiap hari woy." "Nggak papa, namanya juga orang cari pahala." "Sikiti-kiti li iji," balas Rama menye-menye. Sejenak Dewa sibuk dengan ponselnya. Namun tak berapa lama, dirinya menggebrak mejanya Rama menarik perhatiannya Rama. Rama mendongak dengan wajah yang malas. "Ape lagi?" tanya Rama merasa kesal dengan gangguan-gangguan dari Dewa. Dewa mengeluarkan cengirannya. Kemudian menggaruk tengkuknya sendiri. "Ram, hotspot lo yang 3x+6y=12 x=? yang itu kan ya?" tanya Dewa dengan wajah yang terlihat terheran. Pasalnya uname wifi milik Rama sangat berbeda dengan terkahir yang Dewa ingat. Karena biasanya Rama akan menamai wifi-nya dengan nama-nama yang narsis. Misal MAS RAMA GANTENG BANGET. Bahkan sampai membuat Dewa merasa ilfill setelah membaca tulisan itu. "Iya, bener yang itu," balas Rama seadanya. "Loh, lo ganti? Kenapa?" tanya Dewa lagi. "Sengaja. Biar lo kelihatan begonya." "Sialan!" Sontak Rama, Sinta dan Naya tertawa terbahak-bahak setelah mendengar u*****n yang meluncur bebas menghiasi udara. "Kalem, kalem weh," koreksi Rama mengingatkan akan u*****n kesalnya Dewa. "Terus ini password-nya apaan?" "Elobego," balas Rama yang memang memberikan password kepada Dewa secara cuma-cuma. Sontak saja, Dewa tersulut emosi karena merasa jika Rama mengejeknya dengan kata tersebut. Pasalnya, Dewa memang lemah di mapel matematika. Apalagi harus mencari sumbu x dan sumbu y. "Elo ngatain gue? Wah ngajak gelut nih anak. Ayo Ram, kita gelut. Gue tantang elo sekarang juga. Mau dimana?" tanya Dewa penuh emosi. "Dasar bocah freak. Makanya lo ketik dulu itu password-nya," balas Rama dengan nada kesalnya. Dewa mengangguk dan segera mengetikan password yang telah Rama sebutkan tadi. Dan benar saja, kata yang Rama ucapkan tadi adalah password-nya. "Hehehe, sorry, Ram. Kirain elo ngatain gue tadi. Nggak tahunya elo ngasih tahu password beneran." "Makanya jangan suka suudzon." "Lagian elo milih password kesannya ngatain orang." "Emang iya," balas Rama seadanya membuat Dewa melototkan kedua matanya. "Awas aja lo, Ram. Lihar aja entar, di persimpangan komplek lo, gue bakal cegat lo." "Oke. Gue tunggu entar," balas Rama kemudian mengacuhkan Dewa. Mengambil ponselnya dan mulai berselancar di Google. Lama kelamaan berteman dengan Rama terlihat seperti berteman dengan musuh. Harus siap mental dan juga menyiapkan kesabaran yang besar. Dewa berpikir untuk memutuskan hubungan pertemannya dengan Rama. Tapi dia urungkan saat mengingat sesuatu. "Rasanya gue pengen unfriend elo, Ram. Tapi baru inget, kalo elo itu my best friend and benefit," kata Dewa kemudian terkekeh senang. Sedangkan Rama hanya mendesis sebagai balasannya. Karena dirinya sedang asyik membaca suatu artikel. Sinta dan Naya sudah kembali ke aktifitas biasanya, gibah. Sedangkan Rama sedang menambah wawasan soal dunia hacking. Dan Dewa sedang menonton sebuah video di youtube. Dewa heboh sendiri, bahkan sampai memukul mejanya. Membuat Rama, Sinta dan Naya menoleh tak senang. Tiba-tiba videonya berhenti berputar, karena Rama mematikan hotspotnya. "Jangankan pacar, minta hotspot ke temen aja, gue sering diputusin," sindir Dewa sembari menoleh ke arah Rama. "Apa lihat-lihat," tanya Rama marah. "Makanya kalo dibaikin sadar diri, lo minta hotspot ke gue sok ngerasa punya kuota sendiri." "Lagian, orang nggak perlu pingsan dulu sebelum sadar diri," sindir Rama lagi. Dewa akan komplain, tapi terhenti saat mendengar papan tulis yang dipukul. "Gue baru inget, Bu Asih tadi bilang, pelajaran kita kali ini nggak di kelas, tapi di lab komputer. Kalian cepet pergi ke lab komputer, sekarang!" perintah sang ketua kelas, Aldo. Membuat decakan kesal dari beberapa teman sekelasnya. Dengan gerutuan dari beberapa murid dan juga teriakan kegirangan, mereka mulai keluar kelas. "Paling males tuh waktu satu pelajaran ini," gerutu Naya yang berjalan bersisihan dengan Sinta. "Emang kenapa?" tanya Sinta penasaran. "Lihat komputer mulu, mata gue jadi pedes." "Loh, kok bisa?" "Kan gue pake softlens." "Ohh." Setelah berjalan tak jauh dari kelas mereka, kini mereka sudah sampai di lab komputer. Didalam lab itu sudah ada seorang guru. "Ayo, ayo masuk kalian. Sudah dari tadi Ibu tunggu disini," kata Bu Asih. "Itu Bu, Aldo yang lupa," kata Paijo. "Aldo," panggil Bu Asih penuh peringatan "Maaf Bu, khilaf hehehe," balas Aldo menyengir lebar. "Cepat, kalian cepat duduk. Duduknya sesusai nomor absennya ya. Ayo cepat, cepat!" perintah Bu Asih. Segera semua mencari tempat duduknya masing-masing. Dan lima menit kemudian, suasana sudah aman terkendali, semua siswa sudah duduk di tempatnya masing-masing. "Lah, ketemu elo lagi?" ucap Sinta saat menoleh ke kurai di samping kanannya. "Kursi gue emang disini," balas Rama sekenanya. "Perhatian anak-anak, Ibu tidak menjelaskan untuk kedua kalinya. Jadi pembelajaran simulais digital kita kali ini adalah membuat sebuah aplikasi yang berguna untuk mendukung edukasi pembelajaran. Misal seperti aplikasi ruang guru, zoom, atau brainly. Tapi ingat, kalian harus membuatnya mulai dari perencanaan. Tugas ini harus selesai sampai jam pembelajaran Ibu selesai. Sudah, sekarang kalian kerjakan," jabar Bu Asih. Untuk para siswa yang paham soal dunia teknologi pasti tak mempersalahkannya, dan untuk siswa yang gaptek atau gagap teknologi, sudah pasti tak merasa senang akan tugas tersebut. Bagi Rama itu adalah tugas yang sangat mudah, tanpa perencanaan, Rama langsung membuat sebuah aplikasi. Rama mengetikan kata demi kata yang menjadikan kuncinya. Setelah selesai mendesain, Rama membuat program aplikasi miliknya. Tiga puluh menit pun berlalu, kini aplikasi buatan Rama sudah selesia. Rama menoleh ke sekelilingnya, belum ada seorang pun yang menyelesaikan pekerjaannya, kecuali dirinya sendiri. Rama bosan, dan memilih untuk bermain game saja. Semua siswa masih sibuk dengan tugasnya masing-masing. Sinta sedikit kesusahan saat membuat programnya. Tanpa sengaja pandangannya melirik ke komputer milik Rama, sedikit terkejut saat melihat Rama yang malah bermain game. Pikirnya jika Rama tak mengerjakan tugasnya dan malah bermain game. Tidak tahu saja Sinta, jika Rama sudah selesia. "Udah selesai?" gumam Sinta yang ternyata terdengar oleh Rama. Rama menoleh, kemudian tersenyum tengil, "Oh ya jelas." "Sombong!" Rama terkekeh saat mendengar seruan dari Sinta. Setelah Sinta berpaling, Rama melanjutkan permainan gamenya. Sinta langsung melanjutkan pekerjaannya. Saat ditengah mengerjakan tugasnya, komputar yang Sinta gunakan tiba-tiba error, dan muncullah garis-garis yang abstrak. "Eh eh, kenapa nih komputer," kata Sinta panik. Rama yang mendengar, segera menoleh ke arah Sinta, melihat komputernya. "Oh, ngehang tuh komputer lo. Kelamaan dipakai, nggak direfresh," kata Rama sesaat setalah melihat komputer milik Sinta. "Minggir, gue benerin dulu," suruh Rama kepada Sinta. "Emang lo bisa?" "Yah, ngeremehin nih anak," kata Rama tak suka. "Makanya minggir dulu, biar gue benerin." Mau tak mau Sinta beranjak dari tempat duduknya. Memberikan ruang untuk Rama agar lebih leluasa memperbaiki komputernya. Rama mengotak-atik tampilan monitornya lewat keyboard. Mengetikkan beberapa kunci di keyboard, seperti Alt+. Setelah Rama berhasil membuat layar monitornya mati total, Rama segera menekan tombol play di CPUnya. Tak berapa lama kemudian, komputernya menyala dalam keadaan baik-baik saja. Aksinya Rama membuat Sinta terkagum-kagum. "Santai aja kali lihatnya. Baru tahu kan kalo gue bisa," kata Rama memamerkan dirinya sendiri. Sinta segera tersadar dari rasa kagumnya, menoleh ke arah Rama dengan pandangan malasnya, "Sombong mulu digedein." "Ya harus!" kekeh Rama. "Biar nggak ngehang lagi, tiap dua puluh sampai tiga puluh menit sekali, itu komputer harus direfresh." Sinta hanya diam saja tak menanggapi perkataannya Rama tadi. Membuat Rama berdecih kesal. "Kalo elo nggak lakuin apa yang gue bilang, gue nggak bakal benerin komputer elo lagi. Denger apa enggak?" "Ck, iya-iya bawel lo ah," balas Sinta berdecak kesal. Mendengar respon dari Sinya, Rama mengangguk puas. Sinta langsung duduk di tempatnya dan segera melanjutkan pekerjaanya, sedangkan Rama sudah kembali bermain game di komputernya. Tiba-tiba pembicaraan soal Hacker Boy teringat dipemikirannya. 'Kok Rama bisa benerin komputer gue yang error? Apa jangan-jangan dia si Hacker Boy?'- batin Sinta kepada dirinya sendiri. Sinta diam-diam menoleh ke arah Rama. Memperhatikan Rama yang heboh saat bermain game. Sikap Rama tak satu pun yang masuk ke dalam daftar ciri-ciri sebagai seorang hacker. Sinta sangat yakin, jika Rama bukanlah si Hacker Boy. 'Nggak mungkin jika dia Hacker Boy. Iya, gue yakin bukan Rama. Sikapnya aja nyebelin gitu'- batin Sinta kemudian memfokuskan dirinya ke tugasnya. Tak berapa lama, sepasang mata yang sedari tadi melihat Sinta yang tengah kebingungan, tersenyum miring mengetahui satu fakta. *** Sore harinya, Rama, Dewa dan Nakula sedang duduk di taman kota. Mereka hanya berniat duduk-duduk saja tanpa melakukam sesuatu hal. Hanya melepas rasa penat setelah seharian belajar di sekolah. Di taman kota ini, suasananya cukup ramai. Apalagi disaat jam seperti ini. Banyak dari kalangan anak kecil, remaja dan orang dewasa berkunjung di taman ini. Taman yang asri dan sejuk meskipun di tengah pusat kota. Karena di taman ini terdapat sangat banyak beragam jenis tanaman dan pepohonan sebagai paru-paru kota. Rama sangat ingat, saat dulu pembangunan taman ini, wali kota disana, sangat menyukai lingkungan yang hijau. Maka dari itu, dia menyumbangkan dana yang sangat besar untuk mendirikan taman ini. Taman kesayangan setuja pengunjung. Dan itu termasuk Rama sendiri. Rama sangat menyukai taman ini. Karena taman ini berbeda dengan taman kebanyakan. "Makasih ya, Mas," ujar Dewa kepada seorang pria yang baru berusia sekitar dua puluh lima tahun, yang baru saja membungkus pesanan pentolnya Dewa. "Iya, Mas. Sama-sama," balas Si Mas penjual pentol. Dewa segera meninggalkan si penjual dan berjalan ke arah kedua temannya yang sedang duduk di salah satu kursi di taman kota itu. "Nih pesanan lo, Ram," kata Dewa menyerahkan satu plastik pentol dengan saus sambal yang sangat banyak. "Sama-sama," ucap Rama dengan seenak hatinya membuat Dewa tersulut emosi. "Lo nggak salah bilang? Gue yang beliin elo. Seharusnya lo bilang terima kasih," ujar Dewa merasa sangat kesal dengan Rama. "Harus bilang apa?" tanya Rama seolah-olah saat tadi dirinya tidak mendengarkan. "Terima kasih," ulang Dewa memberi tahu untuk yang kedua kalinya. "Iya-iya, sama-sama," balas Rama dengan santainya. Dewa mendengus kesal karena sadar jika Rama hanya menjahilinya. Daripada malah emosi karena perlakuannya Rama, lebih baik Dewa memakan pentol gurihnya. Iya, pentol gurih. Karena Dewa memiliki penyakit perut yaitu sakit mag, dirinya tidak berani untuk makan makanan yang terlalu pedas. "Sumpah ya, ini pentol paling enak yang pernah gue makan," ujar Dewa sembari mengunyah pentolnya sendiri. Rama mengangguk membenarkan, memang benar jika pentol yang mereka makan itu adalah pentol terenak yang ada di kota mereka. Rama melirik ke arah Nakula yang hanya diam saja dengan sebuah buku di sebelah tangannya. Sedangkan satu tangannya yang lain sedang sibuk memainkan sebuah rubik tanpa dia lihat. "Lo nggak makan, Na?" tanya Rama setelah menoleh ke arah Nakuka tadi. Tanpa bersusah payah untuk menolehkan kepalanya ke arah Rama ataupun hanya sekedar melirik saja, Nakula langsung menjawab. "Udah tadi." "Makan apaan? Gue nggak lihat lo makan tadi." "Makan bekal dari mama." "Ciah, anak mama. Kayak lagi dipungut aja. Lo emang nggak dibolehin jajan ya, Na?" tanya Dewa penasaran. Pasalnya memang Nakula terlihat tak pernah jajan sekalipun. "Nggak. Gue aja yang males. Duwitnya lebih baik ditabung." "Emang mau buat lo jajan apaan kalo udah kekumpul banyak?" "Jajan mobil. Daripada buat jajan jajanan yang nggak bermutu." "Jleb banget, Mas. Eh gue kasih tahu ke elo ya, Na. Jajanan pentol itu sangat enak. Jajanan surgawi loh." "Iya, bener," timpal Rama karena memang itu yang dia rasakan. Rama tak akan membiarkan Nakula yang merupaka anak mama, dengan seenaknya memandang jelek terhadap jajanan favoritnya. "Gue malah curi sama elo, Na. Dari sekian banyak orang, cuma lo yang nggak doyan makan pentol. Lo orang apa orang-orangan?" tanya Rama dengan niat terselubung. Yaitu menyindir Nakula secara halus. Nakula yang sadar dengan niat terselubungnya Rama, akhirnya hanya memutar kedua bola matanya malas. Tak ingin berdebat lebih panjang lagi dengan Rajanya Pelopor Emosi, yaitu Rama. "Terserah." Rama mendengus kesal karena peluang dia mengganggu Nakula, hanya sampai di sana saja. Seharusnya Rama tahu jika Nakula tidak akan mempan jika dia pancing-pancing dengan ejekan recehanya. Lebih memilih melupakan kegiatan favoritnya yang suka menjahili teman-temannya, Rama kembali menyantap pentol yang tinggal setengahnya. "Ram, gue tadi lihat si Sinta kayak curiga gitu ke elo setelah lo benerin komputernya dia lab komputer," cerita Dewa setelah perdebatan antara Rama dan Nakula berakhir. "Hem, gue juga tahu," balas Rama yang sedang berusaha menuangkan saus sambal pentolnya ke dalam sendoknya. Membuat Dewa menggeleng melihat kelakuannya. "Lo nggak takut gitu?" "Lah takut kenapa?" "Ya, siapa tahu. Sinta tahu dan sadar kalo elo si Hacker Boy yang dia cari-cari." "Dia tahu pun, pasti nggak bakal ada pengaruhnya buat dia," balas Rama dengan gampangnya. Karena Rama memang tidak yakin jika Sinta akan melaporkannya ke polisi jika tahu dirinya adalah si Hacker Boy. "Kan kemarin itu, Sinta kayak dendam banget sama si Hacker Boy gegara kasusnya si Sadewa sama Sari." "Tenang aja. Gue bakal aman. Gue juga nggak bakal ceroboh ninggalin bekas tindakan gue sembarangan. Jadi amanlah." "Kalo Sinta tahu dari orang lain. Apa yang bakal lo lakuin?" tanya Nakula yang ikut penasaran dengan topik yang mereka bicarakan kali ini. Dan menurut Nakula, masalah temannya lebih menarik daripada buku bacaannya. "Macarin dia," balas Rama langsung membuat Dewa dan Nakula kompak melempari Rama dengan bolpoin yang ada di sampingnya Nakula. "Dasar b**o lo," ujar Nakula yang tak pernah habis pikir dengan perkataannya Rama. Rama mendengus kesal sembari mengusap kepalanya bekas terkena lemparan bolpoin tadi. "Jangan halu bos, Sinta bakal ilfill duluan sama lo. Lagian gue yakin banget kalo Sinta nggak bakal mempan sama pesona lo. Yang ada dia tambah marah sama elo setelah tahu kalo lo itu si Hacker Boy," kata Dewa mencetuskan pemikirannya yang ingin dia ucapkan sedari tadi. "Ya bisa aja. Kuncinya harus yakin. Lihat aja besok, Sinta bakal jadi pacar gue," kata Rama penuh dengan keyakinan tingkat tinggi. "Terus? Bakal lo bujuk, kalo sebenarnya Hacker Boy itu enggak jahat?" tebak Nakula. "Good boy. Elo emang cerdas, Na." "Udah biasa," balas Nakula seadaanya tapi di mata Rama dan Dewa, Nakula terlihat seperti sedang memuji dirinya sendiri atau mungkin pamrih. "Bukannya kalo gitu, lo cuma manfaatin dia?" Rama termangu, seakan baru tersadarkan dengan perkataannya Nakula. Dirinya mendongak, menerawang ke atas angkasa. Memikirkan apakah memang benar jika dia hanya memanfaatkan Sinta jika seperti itu caranya? "Nggak tahu, tunggu aja," balas Rama tak mau memikirkan lebih lanjut lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD