Retakan yang Tak Disadari

1074 Words
Aruna memandangi bayangannya sendiri di cermin kamar mandi kampus. Mata itu, mata yang selalu berusaha terlihat tegar hari ini tampak terlalu jujur, seolah seluruh perasaan yang ia pendam tiba-tiba memaksa naik ke permukaan. Ia membasuh wajah, berharap dinginnya air bisa meredakan sesuatu yang sejak tadi menyesak. Tapi tidak. Rama dan Dava dua nama yang seharusnya tidak pernah berdampingan di hatinya namun kini seperti dua garis yang nyaris bertemu. Aruna menghela napas. “Aku kenapa sih?” pikirnya aneh. Namun sebelum ia sempat menenangkan diri, pintu kamar mandi digedor perlahan. “Aruna? Kamu di situ?” tanyanya. Itu suara Rama. Aruna buru-buru mengeringkan wajah, membuka pintu, dan mendapati Rama berdiri dengan wajah cemas. “Kamu nggak apa-apa?” tanyanya pelan. Aruna mengangguk. “Cuma pusing sedikit.” Rama tampak ingin menyentuh bahunya, tapi menahan diri. “Kalau masih pusing, kamu bisa pulang dulu biar ku anter.” “Jangan manja-manjain aku mulu, Ram,” ujar Aruna sambil berusaha bercanda. Rama tertawa kecil. “Kalau bukan aku yang manjain, siapa lagi?” tanyanya polos. Dan kalimat itu walau ringan tapi menusuk lembut. Aruna menatap wajah laki-laki itu lebih lama dari seharusnya. Ada sesuatu pada Rama yang selalu membuat hatinya tenang. Tanpa tekanan dan tanpa ada paksaan. Ada kehadiran yang terasa seperti rumah. Namun sebelum pikirannya semakin jauh, ponselnya bergetar. Dava. “Selesai kelas? Aku mau ketemu sebentar.” ucap Dava diseberang sana. Aruna meremas ponsel itu dan Rama membaca ekspresinya. “Dava?” tanya Rama tepat sasaran. Aruna mengangguk pelan. Rama tersenyum kecil, tapi senyum itu tidak penuh. Ada luka yang disembunyikan. “Pergi dulu sana, dia pasti sudah nunggu.” ucap Rama akhirnya. “Ram kamu marah?” tanya Aruna khawatir. “Nggak,” jawabnya cepat. “Kenapa harus marah? Kamu bebas ketemu siapa aja.” Aruna menatap mata Rama. Yang bicara “nggak” tapi jelas-jelas menyimpan banyak hal. “Kalau kamu butuh aku,” lanjut Rama, menahan napas sejenak “aku tetap di sini, Ar.” Dava menunggu di area parkiran fakultas hukum dengan penampilan rapi seperti biasa. Kemeja abu-abu, jam tangan hitam, rambut disisir, semua tampak profesional. Berbeda dengan mahasiswa biasa, ia terlihat seperti seseorang yang sudah terlalu dewasa untuk dunia kampus. Ketika Aruna mendekat, Dava langsung tersenyum. Senyumnya hangat tapi juga mengintimidasi karena terlalu yakin. “Kamu tadi pusing?” tanyanya begitu Aruna berada di depannya. “Kok tau?” tanya Aruna heran. “Ada temenmu yang lihat kamu lari ke kamar mandi.” ucap Dava enteng. Aruna mendecak. “Kok laporan-laporan gitu.” “Aruna,” Dava menatapnya lama. “Aku cuma peduli.” Itu kalimat yang selalu membuat Aruna melemah. Mereka berjalan menuju taman kecil di dekat gedung kampus. Tempat itu sepi siang hari, karena panas. Tapi Dava tidak pernah keberatan panas, dia selalu memilih tempat yang tenang bukan tempat yang nyaman, tapi tempat yang memudahkan ia membaca emosi orang. “Aruna,” kata Dava sambil duduk di bangku taman, “kita bisa ngomong sebentar?” lanjut Dava. Aruna duduk. “Sebentar aja ya, aku harus lanjut gambar di studio.” “Kamu selalu punya alasan buat pergi cepat kalau sama aku.” lirih Dava. Aruna terdiam. “Kenapa?” lanjut Dava. “Aku terlalu serius? Terlalu dewasa? Atau kamu masih belum bisa lepas dari masa lalu?” tanya Dava beruntun. Pernyataan itu seperti pisau kecil. “Dava,” Aruna menelan ludah. “Aku cuma lagi banyak pikiran.” akhirnya Aruna berkata lirih. “Termasuk soal Rama?” tanya Dava tepat sasaran. Aruna menegang. Dava memperhatikan setiap gerakannya, seolah mencoba membaca isi hatinya. “Kamu kira aku nggak sadar? Dari tadi pagi cara kalian saling lihat udah kayak ada sesuatu.” Aruna memijat pelipis. “Kamu mikir terlalu jauh.” ucap Aruna. “Aku melihat, Aruna. Aku bukan buta.” ucap Dava sedikit kesal. Aruna ingin marah. Tapi ia tidak bisa karena Dava tidak salah. Bahkan, Dava selalu benar. “Aku cuma bingung,” ucap Aruna akhirnya. “Bingung sama aku?” Dava mencondongkan tubuh. Aruna mengangguk pelan. Dava menarik napas panjang, menahan sesuatu di dadanya. “Aruna, kalau kamu cuma main-main,” “Aku nggak main-main,” potong Aruna cepat. “Aku nggak pernah main-main soal hati.” “Lalu apa yang kamu mau?” tanya Dava. “Aku juga belum tau.” jawab Aruna jujur. Dan itu adalah jawaban paling jujur yang Aruna punya. Dava menunduk. “Kamu tau kan aku,” ia berhenti sejenak suaranya melembut, “aku sungguh-sungguh.” lanjutnya. Aruna menggenggam tangannya. “Aku tau.” “Tapi kamu belum bisa milih aku.” Pernyataan itu tidak diucapkan sebagai tuduhan, tapi sebagai kesedihan. Aruna menggigit bibir. “Aku nggak siap milih siapa pun, termasuk Rama juga termasuk kamu.” Dava menatapnya dalam, dan untuk pertama kalinya Aruna melihat sisi rapuh dari laki-laki itu. Sisi yang tidak pernah ia tunjukkan ke siapa pun. “Kalau kamu butuh waktu, aku bisa nunggu,” ucap Dava perlahan. “Tapi tolong jangan bikin aku nunggu kalau kamu nggak benar-benar ada rasa.” Aruna merasakan rasa sesak didada. Ada, ada rasa tapi rasa itu juga ada untuk Rama dan itulah sumber dari semua kekacauan ini. “Dava, aku,” Kata-kata itu menggantung tidak selesai. Dava menghela napas. “Kamu nggak perlu jawab sekarang. Aku cuma ingin kamu jujur sama dirimu sendiri.” kata Dava. Aruna memejamkan mata. “Aku berusaha.” Lalu Dava melakukan sesuatu yang tidak ia sangka. Ia menyentuh kepala Aruna, menepuknya pelan gaya sayang yang tidak pernah Dava lakukan ke siapa pun. “Kamu bikin aku gila, Aruna,” gumamnya lirih. “Gila beneran.” Aruna membuka mata. Dava tersenyum kecil, tapi matanya tidak. “Tapi aku tetap nggak bisa mundur.” Aruna berjalan pulang sendiri sore itu. Ia menolak tawaran Dava. Menolak ajakan Rama. Ia ingin memberi waktu pada dirinya. Membersihkan ruang di kepalanya. Angin sore menampar pelan pipinya. Langkahnya pelan tapi dadanya sesak. “Aku kenapa sih!” gumamnya. Ia berhenti di jembatan sungai kecil dekat kampus, tempat ia sering berhenti ketika pikirannya penuh. Air mengalir, langit mulai menguning. Dan di antara cahaya senja yang memudar, Aruna merasakan sesuatu yang menakutkan. Ia mulai jatuh cinta lagi, dua kali pada dua orang yang berbeda sekaligus. Dan itu adalah jenis cinta yang paling berbahaya. Yang paling gila. Yang paling sulit dihentikan. Aruna menatap air di bawahnya, lalu menatap langit. “Kalau ini salah kenapa rasanya seindah ini?” bisiknya. Tapi ia belum tahu keindahan itu sebentar lagi akan berubah menjadi retakan yang membesar tanpa ia sadari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD